MENDOMBAKAN GEMBALA!

MENDOMBAKAN GEMBALA?

Kisah protes umat terhadap para gembala (uskup) menjadi hal yang tentu saja tidak diinginkan. Sebagai otoritas moral-keagamaan dan tradisi kesaksian hidup menakjubkan, informasi yang menyudutkan pejabat agama, terutama kepada uskup tentu sangat tidak diharapkan.Namun mengingat kisah itu terjadi secara beruntun terjadi di Gereja Nusa Tenggara, Uskup Kupang (tamparan ‘kecil’ atas imam yang tidak mencium cincin uskup), Ruteng (kisah ‘anak angkat’), dan kini Atambua (penjualan tanah) maka hal itu tentu saja menjadi sebuah catatan.

Terlepas dar benar-tidaknya, kita perlumengadakan refleksi kritis. Sajian refleksi itu tentu tidak mudah dilakukan. Pilihan menjadi emas oleh diam mestinya dirasa sebagai pilihan bijak. Tetapi sebuah keberanian menggugat diri, apalagi di tengah media sosial yang bisa menerobos melampaui sekat pribadi tentu tidak bisa disalahkan sama sekali.

Domba ‘Jinak’

Sebuah institusi ‘nakal’ seperti Instituto Superior de Pastoral Madrid selalu dilihat dengan sebelah mata oleh pejabat Gereja lokal Madrid. Beberapa teolog kritis lahir dari institusi yang terkenal cemerlang dalam kritik sosial. Mereka itu seperti Casiano Floristan (teolog yang terlibat dalam Konsili Vatikan II), Luis Maldonado (teolog pastoral yang ide briliannya kini cukup berpengaruh pada ensiklik Paus Franciscus), Felicisimo Martinez (teolog moral yang menggugat kekuasaan gereja yang kerap disalahgunakan) atau Jesus Burgaleta (liturgis yang tidak suka bersembunyi di balik sakralitas demi menghindari jawaban manusiawi atas masalah manusia).GEMBALA DOMBA1Keberadaan para teolog seperti ini banyak kali membuat pejabat gereaj tidak ‘nyaman’ oleh kritik pedas. Tetapi pikiran mereka melalui buku-buku penuh otrokritik, refleksi mereka kerap menghadirkan antusiasme luar bisa umat awam. Dalam ‘colloquium’ yang diselenggarakan secara periodik membahas tema-tema aktual dalam kehidupan menggereja, kehadiran umat berjubel membuktikan bahwa apa yang disampaikan para ‘nabi’ itu bukan ‘asal omong’. Mereka punya rasa cinta yang besar terhadap Gerejanya.USKUP RUTENGFoto perayaan  nikah dengan selebran Uskup Ruteng, yang kelihatan tanpa umat (dari foto) menjadi bahan pertanyaan yang nyaris mendapatkan jawaban.

Rasa cinta bagi mereka tentu berbeda dengan respek banyak orang kristiani lainnya yang memilih ‘diam’ dan berdoa dalam sunyi memohon terang Roh Kudus. Cara seperti itu tentu saja lebih bijak. Memilih menjadi emas karena diam adalah pilihan yang oleh banyak orang merupakan hal terbaik. Lebih lagi ketika kesaksian hidup pribadi pengkritik kerap kali jauh dari orang yang dikiritik. Seorang sahabat bahkan pernah mengatakan bahwa ketika seseorang juga adalah bagian dari masalah (bukan solusi), maka semestinya ia diam.USKUP RUTENG1

Butir penjelasan Vikjen Keuskupan Ruteng mengklarifikasi antara lain bahwa Uskup Ruteng memiliki anak angkat yang telah disahkan upacara adat di Taga. 

Tetapi di tengah media massa yang kian terbuka ditambah media sosial yang menggerogoti hingga hal-hal pribadi, maka pilihan untuk membuat refleksi kritis membuka luka juga mesti dilihat sebagai tuntutan zaman. Hal ini tentu saja menyakitkan. Kepincangan pribadi dibuka untuk dilihat orang lain. Rasa malu tentu saja oleh ada. Tetapi keberanian mengakui kekeliruan, adalah hal manusiawi. Kata Seneca cukup jelas mengingatkan: errare humanum est, persevere diabolicum: melakukan kesalahan adalah manusiawi, tetapi bertahan dalam kesalahan adalah perbuatan iblis.USKUP KUPANG2Uskup Turang menampar ‘sedikit’ Romo Subhani yang tidak mencium cicin uskup.

Sikap kritis para teolog cerdas-beriman yang didasarkan pada rasa cinta utuh pada Gereja (institusi gereja) mendorong penulis, suatu saat, mengajukan pertanyaan reflektif. Yang dimaksud, melihat kondisi Gereja Eropa yang lagi mengalami masa ‘sepi’ di satu pihak dan geliat kehidupan menggereja di Asia yang justeru berbeda, penulis mengajukan apa yang mestinya dilakukan? Felicisimo Martinez membuka kesadaran Baginya, Gereja Asia tidak mesti harus ditunggu hingga mengalami kondisi seperti Eropa (runtuh) baru kemudian mengadkan perubahan. Pengalaman terlambat membaharui diri yang dialami Eropa kini perlu jadi pelarajan. Pembaharuan harus diadakan sebelumnya.USKUP KUPANG4Banyak umat yang merasa sangat prihatin dengan hal ini. Reaksi Uskup menampar imam (meski dalam arti seorang ayah ‘mengingatkan’ anaknya, tetapi hal itu susah dipahami oleh tidak sedikit umat.

Bagi teolog moral dari Ordo Santu Dominikas (OP) itu, sebuah pembaharuan bahkan harus dilakukan di tengah sanjungan. Kondisi keemasan yang dialami Gereja Asia yang ditandai oleh hadirnya domba-domba yang sangat jinak (umat yang sangat taat menggereja) mesti diikuti oleh sebuah otokritik diri. Hanya dengan itu, masa emas itu bertahan lebih lama.

Pada sisi lain, menunda autokritik, belum ditambah perlakuan yang masih menganggap umat sekedar ‘awam’ (sebuah term menjebak. Umat bisa saja ‘awam’ dalam pengetahuan tentang gereja dan sakramen tetapi mereka adalah profesional dalam bidangnya), lambat tapi pasti akan menghadirkan aneka protes. Keberanian umat mengungkap kepincangan yang dengan segera diikuti ungkapan yang sama mengakui kepincangan (seperti yang terjadi di Keuskupan Atambua, Kupang, dan Ruteng beberapa waktu lalu) menyadarkan bahwa kekecewaan itu tengah terakumulasi.

Jadi Pendengar

Kesadaran akan kepincangan adalah sebuah jalan bijak. Tetapi lebih dari itu, menggagas pembelajaran sebagai tindak lanjut. Pertama, terhadap aneka keluhan yang tentu tidak sedikitnya juga sekedar berbicara tanpa dasar (juga tanpa respek pada hirarki), mestinya dicermati. Artinya, tidak ada salahnya ketika semua yang mencintai gereja memilih untuk mendengarkan.GEMBALA DOMBA1

Hal ini tentu saja tidak mudah. Gereja sebagai institusi, ‘terbiasa’ menjadi ‘ecclesia docens’ (gereja yang mengajar). Darinya selalu keluar petuah moral yang diajukan kepada kaum awam yang dianggap minim pengetahuan dan rendah praksis moral. Hal itu memang benar. Tetapi di tengah reaksi yang mengemuka, maka pilihan bijak mesti terjadi. Gereja mesti jadi ‘ecclesia audiens’, gereja yang mendengarkan.

Hal yang didengarkan bisa saja tidak benar adanya. Informasi yang mengemuka di media sosial bisa saja sebagian besarnya salah. Tetapi keangkuhan menganggap bahwa semuanya salah lebih lagi diikuti tindakan ‘sistematis’ membungkam suara yang mengemuka tentu saja juga bukan hal yang patut dicontohi. Kesediaan mendengarkan itu bisa jadi bagian dari solusi. Para pengkritik akan luluh oleh kesediaan mendengarkan para gembala.

SONY DSC

Kedua, upaya para gembala belajar menjadi ‘domba’ tidak berarti membalikan peran di mana domba (umat) jadi gembala dan gembala jadi domba. Tentu tidak sesederhana itu. Hal minimal yang penting adalah kesediaan untuk belajar dari pendahulu. Gereja Nusa Tenggara telah dibasahi darah para martir dan misionaris, pastor yang begitu dekat dengan domba. Praksis hidupnya (meski berasal dari negara kaya) tetapi sanggup merendahkan diri. Pelayana itulah yang membuat mereka dihargai hingga kini.GEREJA QUO VADISAneka peristiwa yang terjadi tidak bisa dimaknai oleh rendahnya praksis hidup para gembala. Tetapi bisa juga membenarkan bahwa para gembala kini hanya menyamakan para pendahulu dalam melakukan perayaan sakramen. Pada saat bersamaan, para gembala kini meminta respek yang harus dierikan, seperti apa yang sudah diberikan kepada para gembala ‘asing’ saat itu. Memang umat saat itu begitu menghargai. Kehadiran mereka ke daerah terpencil bahkan diarak dan ditandu bak raja.

Yang terlupakan, apresiasi itu bukan diberikan atas ‘jabatan’ (sebagai pastor atau uskup) atau imamat yang diterima, tetapi terutama atas kesaksian hidup dan teladan. Dengan demikian hormat hanya bisa diterima merupakan bukti pengakuan atas praksis.Hormat diterima karena para gembala selalu hadir menemani mereka. Kini, respek itu bisa bergeser. Tendensi segelintir gembala yang lebih dekat dengan kaum ‘berduit’, meski dilakuakn dalam rangka ‘pastoral’, tetapi hal itu bisa jadi objek perbincangan.USKUPATAMBUA2

Tanah milik misi (keuskupan) jiga dijual maka bisa melukai sejarah gereja itu sendiri.

Ketiga, panggilan jadi domba adalah seruan untuk menjadi pelayan dalam arti sebenarnya. Dunai dewasa ini kian menempatkan kualitas diri pada pelayanan. Lebih lagi dengan berperinsip: first come, first serve (yang datang pertama, yang pertama melayani) maka Gereja menjadi yang pertama datang mengajarkan tentang pelayanan dan dia pula yang harus yang pertama melakukannya dalam arti sebenarnya.GEMBALA DOMBA

Yesus, ‘dombakanlah gembala-gembalamu’ agar mereka sanggup menggembalakn doma-dombanya.

Bila pelayanan ini jadi Kunci utama, maka rasa cinta umat pada Gereja (institusi) tidak akan semakin besar. Tetapi umat yang menerima pelayanan akan terinspirasi oleh teladan menggugah, hal mana sangat dinantikan kini. Panggilan untuk kembali kepada pelayanan inilah yang bisa saja menjadi sebuah target di masa Prapaskah seperti ini.

Robert Bala. Pemerhati Budaya. Tinggal di Jakarta.