Mudah Kalahkan Ahok(!/?)

Mudah Kalahkan Ahok(!/?)

Di ‘last minute’ akhirnya pasangan yang akan bertaruh di Pilkada Jakarta diketahui publik. Hal itu menandakan proses alot. Tarik menarik kepentingan tentu saja terjadi. Sudah bisa terbaca bahwa posisi ‘tawar-menawar’ begitu kentara.

Meski demikian, akhirnya Jakarta punya pilihan. Selain Ahok-Jarot yang lebih dahulu mendaftar (meskipun juga setelah proses alot), ada juga Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)– Silvyana Murni (SM). Pada visper menjelang penutupan, baru Anies Baswedan (AB) dan Sandiago Uno (SU) diumumkan.ahok3

Pertanyaan yang muncul: siapa yang jadi gubernur pada periode 2017-2022 nanti? Berbeda dengan Ahok-Jarot yang sudah merasakannya, pasangan lain tentu punya kerinduan yang jauh lebih besar. Apakah para ‘penantang’ bisa merebut kursi itu dari Ahok-Jarot?

Kelemahan Lawan

Bagi pasangan penantang, mestinya yang dipelajari adalah kelemahan lawan dalam hal ini Ahok-Jarot. Yang dimaksud, apa yang ada dalam benak pemilih tentang figur tersebut?

Untuk masyarakat DKI yang cukup matang dalam berpolitik dan nyaris memiliki pengaruh unsur pinggiran seperti suku, sas, agama, atau golongan, maka kelemahan Ahok sangat mungkin dikonsentrasikan pada ‘etika’. Ahok sangat kasar. Kata-katanya sangat panas.

Dalam arti ini kehadiran figur yang lebih santun akan menjadi alternatif yang dengan cepat menarik perhatian pemilih. Sebut saja AB dan AHY hadir secara tepat mengisi kevakukuman. Figur mereka yang sopan, apalagi AB yang sempat didepak dari kabinet atau AHY yang meskipun sukses meniti karir dengan tingkatan kecerdasan cemerlang akan menjadi perhatian khusus. Pada level ini bisa dipastikan bahwa Ahok-Jarot akan mudah dikalahkan.ahok-jarot

Tetapi pertimbangan ‘etika’ mestinya masih berada di level dasar. Warga ibu kota yang cukup kritis dengan tingkatan kecerdasan di atas rata-rata tentu menjadikan program sebagai ukuran. ‘Etika’ yang didengung-dengungkan, kerap disalahgunakan. Memang hal itu tidak menjadi alasan untuk menggeneralisir tentang pejabat yang kelihatannya alim tetapi justeru terjerumus dalam tindak korupsi.

Pada level yang lebih jauh terdapat rekam jejak. Ahok-Jarot memang memberikan warna perubahan yang cukup signifikan di Jakarta. Ada banyak gebrakan yang dilakukan. Tetapi kasus seperti Sumber Waras dan Reklamasi menjadi isu santer yang selama ini didengungkan. Dengan mudah isu itu dikatkan dengan ‘perlindungan’ terhadap Ahok. Ada kesan dugaan itu didiamkan begitu saja.

Namun mengamati proses yang terjadi, rasanya dugaan itu bila sesuai proses alamiah, maka nyaris menjadi isu yang menyudutkan. Malah, bila suatu saat hal itu terbukti, yang masih disanjung adalah keberanian mengambil sebuah tindakan demi rakyat. Dalam ‘deal-deal’ dengan para pengusaha, sangat mudah dideteksi bahwa Ahok selalu mengedepankan kepentingan rakyat. Kalaupun ada kesalahan, hal itu semata ditempatkan dalam konteks memperjuangkan rakyat. Secara pribadi, Ahok-Jarot tidak berusaha mengambil sesuatu untuk dirinya.anis-baswedan-sandiago

Dalam perspektif ini, maka apabila Ahok-Jarot dilawan hingga dikalahkan maka tidak saja pada kondisi ‘tidak bersalah’ (dengan meloloskan diri dari dugaan) tetapi juga disertai keberanian untuk bertindak. Seorang pemimpin harus mengambil resiko. Inilah poin yang mestinya dicermati. Sejauh mana pasangan AB-SU dan AHY-SM dapat menghadirkan sebuah keberanian tidak saja secara keluar mengeritik orang lain tetapi juga rela menelanjangi diri untuk menyibak kesalahan yang dilakukan secara internal dalam birokrat.

Sesungguhanya ketika perdebatan masuk ke ranah ini, tentu pertarungan menjadi sulit, meski sengit kalau bisa digoalkan. Pasangan AB-SU dan AHY-SM mesti berani mengadakan terobosan. Minimal dengan treck – record itu, nilai jual mereka lebih positif hal mana akan memudahkan untuk mengalahkan petahana Ahok-Jarat.

‘Common Enemy’

Meski permainan elok dalam pertautan ide dan penampakkan keberhasilan dan keberanian diri dalam tugas, tetapi yang kita sayangkan ketika dalam proses seperti ini akan mudah dikotorkan oleh godaan untuk ‘bermain kasar’.

Melalui sebuah group, menampilkan masalah ‘aqidah’ sebagai inti seruan agar terdapat dukungan sesama seagama dalam mendukung pasangan tertentu atau minimal ‘asal bukan Ahok’. Pada level ini, terjadi sebuah identifikasi menyesatkan. Pertautan ide dan kesaksian hidup dipinggirkan demi sekedar menempatkan orang karena kemiripan kepercayaan. Di sana kepercayaan seseorang yang berbeda dianggap sebagai ‘common enemy’ atau mush bersama dari orang yang merasa diri seiman.

Pada sisi ini tentu kita sayangkan bahwa usaha saling mengalahkan dalam pertarungan telah diangkat secara sangat sederhana. Realitas sosial yang mestinya menjadi bidikan bersama dipinggirkan. Padahal hampir dalam semua agama besar, hadirnya para nabi yang hingga kini diakui sebagai pangkal perubahan justeru hadir pada masanya sebagai pembela kebenaran dan keadilan.

Nabi Muhammad SAW hadir di tengah ketakadilan. Ia menawarkan perubahan sosial dan mengundang untuk terjadinya perubahan. Yesus dari Nazareth hadir membela kaum lemah, miskin, wanita. Para nabi tersebut dikenang hingga kini dan ditempatkan sebagai nabi bukan karena ia menerima wahyu atau ajaran. Bila sampai di situ, agama menjadi mandek.agus-silvina

Wahyu yang diterima justeru disertai imepratif untuk mengadakan perubahan sosial. Dari gebrakan itulah maka para nabi itu masih diimani kini. Mereka tidak sekedar memiliki kedekatan ilahi dengan sang Pencipta tetapi juga secara mendalam mengakar dalam relasi sosial, malah mengundang kepada sebuah transformasi sosial nyata.

Itu berarti ‘common enemy’ yang mestinya dikedepankan dalam pilkada Jakarta seperti sekarang bukan sekedar pada rasa berpihak kepada mereka yang lemah tetapi mengadakan gebrakan sosial untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Keadilan ditegakkan tetapi ditempatkan dalam konteks mewujudkan kemakmuran itu sendiri. Tataran itu mestinya menciptakan kematangan politik yang akhirnya membuat masyarakat memilih pemimpin yang berani mewujudkan keadilan dan menerima resiko apapun akibatnya.ahok1

Pada titik ini kita spakat bahwa upaya mewujudkan keadilan sosial itu bukan hanya miliki Ahok-Jarot. Sebagai petahan memang mereka lebih mudah melitanikan keberhasilan sebagai bagian darinya. Tetapi hal ini mestinya menjadi pertimbangan dan target pasangan AB-SU dan AHY-SM. Yang ada dalam pergulatan mereka adalah program apa yang akan dikedepankan disertai strategi jitu.

Bila semua kandidat sampai pada kesadaran ini, maka persaingan akan menjadi ketat menduduki kursi DKI-1. Siapapun dari ketiganya berpeluang menggeserkan Ahok-Jarot dan mengambil estafet untuk 5 tahun ke depan. Ahok-Jarot pun mudah dikalahkan(!).

Tetapi bila waktu yang ada para penantang lebih berkutat pada isu pinggiran, maka kemenangan itu akan sulit dicapai dan menajdi sebuah pertanyaan (?) tak berjawaban. Malah hanya akan merelakannya kembali ke Ahok-Jarot untuk kembali menjadi pemimin di Ibu kota negara ini.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian Universidad Complutense de Madrid Spanyol.