NARASI EMAS SMP LEREK

NARASI EMAS SMP LEREK
(Dari Lerek untuk Lembata)

Kamis – Jumat, 2 – 3 Juli 2015 telah lewat. Sebuah kegiatan memperingati 50 Tahun SMP Lerek telah selesai. Aneka kegiatan telah dilaksanakan mulai dari persiapan hingga pelaksanaanterutama di hari pucaknya. Semuanya tentu saja merupakan buah dari kerja keras semua pihak. Semua orang dengan caranya sendiri telah mengambil bagian.LOGO EMAS SMP LEREKBerikut catatan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan dan evaluasi kini. Pada akhir tulisan ini, terdapat 5 tekad (mewakili 50 tahun Emas) yang diharapkan dapat menjadi tindak lanjut dan kesepakatan bersama.

Persiapan Setahun

Ide memperingati 50 Tahun SMP Lerek sebenarnya sudah digulirkan setahun sebelumnya tepatnya tahun 2014. Inisiator sebenarnya adalah ‘tuan rumah’, SMP Negeri 2 Atadei. Melalui kontak personal, Panitia mengajak dan menghendaki adanya kegiatan berupa pelatihan guru yang dirasa lebih berkenan daripaa sekedar ‘pesta hura-hura’.SERTIFIKAT3Ide itu begitu cepat ditanggapi oleh alumni terutama yang berdomisili di luar Lembata. Panitia Jakarta segera bergerak pada bulan Desember 2014. Alumni dan simpatisan di Jakarta mulai mengadakan pertemuan dengan menggagas tujuan kegiatan. Pelbagai lobby juga mulai dilaksanakan. Semuanya hanya punya tekad agar Pesta Emas menjadi sebuah momen yang berkesan dan memiliki makna tidak saja bagi para guru tetapi juga bagi masyarakat. EMAS LEREK 41Thomas Ataladjar, sejarawan Jakarta, giat melobby dan mencari informasi tentang SMP Lerek. Foto: tengah lobby dengan Direktur Pendidikan Dasar Kemendikbud: Dr Hamid Muhammad

Thomas Ataladjar, sejarawan Jakarta langsung merangkaikan peristiwa historis dalam beberala slides yang dengan segera dipresentasikan pada pertemuan awal. Panitia Jakarta beruntung, dalam kepanitiaan, hadir Paulus Gabriel Koban yang merupakan guru Ilmu Pasti pada tahun pertama pembukaan SMP Lerek.EMAS LEREK 38Paulus Gabriel Koban (kedua dari kiri), guru EKSAKTA Pertama SMP Tanjung Kelapa. Mengajar tahun 1965 – 1966. Saat itu Victor Nimo Wutun mengajar bidang non eksakta sekaligus sebagai Kepala Sekolah.

Tim Jakarta juga beruntung karena sejak awal terdapat beberapa orang yang secara konsisten hadir dalam pertemuan dan tidak mundur selangkah pun. Mereka itu adalah: Bernard Boli Rebong, Damianus Dai Koban, Damianus Lewar Koban, Kristina Tere Pukay, Agnes Kenupang Luon, Matias Ledjab, Gabriel Kia Tolok, Thomas Ataladjar, Yosef Banin, Nona Tuto Waleng, dan Robert Bala.

Yang lainnya, karena kesibukan dan lain-lain tidak bisa menghadiri semua pertemuan. Tetapi dukungan mereka tidak kurang.

EMAS LEREK 39Team inti yang mengadakan tidak kurang dari 12 pertemuan untuk mempersiapkan kegiatan. Kadang seminggu bisa bertemu 2 sampai tiga kali.

Setelah beberapa kali pertemuan (yang dilaksanakan secara rutin sebulan sekali,), Panitia Jakarta akhirnya berkesimpulan bahwa masalah yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan motivasi siswa untuk dapat belajar di SMP Negeri 2 Atadei yang merupakan lanjutan dari SMP Tanjung Kelapa Lerek. Semangat belajar siswa perlu ditingkatkan lagi.

Itu berarti, bagaimana menyelenggarakan kegiatan yang dapat membangkitkan motivasi siswa. Terpikir bagaimana menyelenggarakan pentas seni antar SD separoki Lerek. Untuk hal ini panitia Jakarta akan mengalokasikan dana untuk para juara: lomba bidang studi dan lomba seni. (Karena liburan maka lomba seni hanya terjadi untuk SDK Lrek, SDI Lerek, dan SDK Lamanuna. Sementara itu motivasi siswa tetapi dilaksanakan oleh Pak boli Rebong dan P. Lamber Lalung, SVD).

Namun ada hal yang lebih mendasar. Pendidikan akan sangat bergantung pada kinerja guru. Karena itu, kualitas pendidik perlu diperhatikan. Pelatihan guru diharapkan dapat menjadi titik awal yang memberikan wadah. Kualitas guru jugalah yang menjadi kecemasan dalam 8 tahun setelah menjadi sekolah negeri. Karena itu perubahan kualitas pendidikan mesti bertolak pada perbaikan kualitas guru. EMAS LEREK 45Di selah akhir kegiatan, Panitia mengambil gambar bersama. Tampak dalam foto: Panitia Jakarta, Panitia Lerek, dan Panitia Lewoleba. Hadir juga Rm Pius dan Rm Firminus Dai Koban.

Meski demikian kegiatan ini tidak mudah diwujudkan. Pro dan kontra masih saja ada. Hal itu terutama berkaitan dengan status sekolah yang kini telah menjadi negeri. Pertanyaan penting adalah: apakah pantas mengadakan sebuah kegiatan di sebuah sekolah negeri yang nota bene menjadi tanggungjawab pemerintah? Atau, apakah penting membuat sesuatu di sekolah yang kini sudah milik negara. Itu kan urusan negara, sebuah asumsi yang tentu saja tidak salah.

Semua akhirnya sepakat bahwa terlepas dari negeri dan swasta. Yang terpenting bahwa sekolah itu ada di Lerek. Berkatnya juga untuk semua anak di Lerek. Karena itu keterlibatan semua pihak sangat penting. Peran masyarakat dalam mengontrol Pendidikan di Lerek sangat penting. Hanya dengan demikian berkah langsung dapat terus diterima di Lerek.EMAS LEREK 24Manajer Erlangga “Pak Dominggus” mempertanyakan urgensi mengadakan kegiatan untuk sebuah sekolah negeri.

Ide yang ada segera dikomunikasikan dengan tim Lewoleba. Karena berbagai kesibukan, tanggapan dari Lewoleba baru secara positif hadir pada bulan April melalui pertemuan bersama. Karel Koban, guru senior yang bersemangat muda sangat proaktif mendekati alumni meyakinkan tentang pentingnya kolaborasi bersama. EMAS LEREK 54Tekla Bola Pukay dan Elisabet Gelole Wutun, Panitia Lewoleba. Berperan dalam konsolidasi kegiatan di Lewoleba dan Lerek.

Dari Lewoleba, kita syukur punya orang seperti:  Piter Cupertino Ladjar, Marsel Lidun, Karel Koban, Simeon Raja, Elisabeth Gelole Wutun dan Tekla Bola Pukay, sekedar menyebut beberapa nama, proses komunikasi dan pesiapan mulai dilaksanakan. Aneka pendekatan di Lewoleba menjadi tanggungjawab Panitia Lewoleba. Sementara persiapan kegiatan lainnya ditangani Panitia Jakarta.EMAS LEREK 30Pertemuan panitia inti Lewoleba. Pelbagai pendekatan mulai dilaksanakan mulai dengan kehadiran Bupati dan marching Band SMANSA Nubatukan

Lalu Lerek? Sang inisiator, semenjak menggagas, ternyata ‘terdiam’. Nyaris ada kegiatan bersama. Pada bulan Mei 2015 malah belum ada pertemuan serius. Ada tarik menarik. Lebih lagi karena saat-saat yang sangat penting ini, terjadi pergantian Kepala Sekolah.

Di satu pihak dilihat positif. Kepala Sekolah sebelumnya nyaris ada di tempat, lebih banyak di luar SMP Lerek. Konsolidasi pun sangat kurang. Singkatnya, nyaris ada persiapan, padahal kegiatan tinggal sebulan lagi.Sementara itu kepala sekolah baru, masih harus membenahi sekolah. Dana juga tidak ada sama sekali.

Untung saja inisiatif dari Ketua, Stanis Pelea Lajar dan Ketua Pelaksana Sius Watun memberi harap. Mereka dengan cekatan mulai membongkar kantor lama, apalagi setelah ada lampu hijau dari Jakarta bahwa Panitia Jakarta siap membantu Rp 5.000.000 untuk pembayaran alat berat. Proses berjalan begitu cepat. Orang tua murid dengan cepat membantu. Tak kurang masyarakat Lerek membantu dengan senang hati. EMAS LEREK 55EMAS LEREK 56Stanis Pelea Lajar dan Rm Pius (Pastor Paroki), sangat berperan dalam mobilisasi dan pelaksanaan Pesta Emas SMP Lerek.

Tetapi itu belum cukup. Ada permasalahan yang lebih krusial di Lerek, hal mana mendorong Panitia Lewoleba untuk segera ‘turun tangan’ (pada minggu 21 Juni 2015) mencairkan situasi dan halitu berimbas positif terhadap pelaksanaan kegiatan. Pertanyaan penting waktu itu: ‘bagaimana bisa melaksanakan sebuah kegiatan sementara di desa sendiri tidak kondusif?’ Intinya suasana harus cair.

YBAI LEREK 32Ketua Pelaksana “Sius Watun” aktif mengadkan kontak dan persiapan demi perayaan Emas SMP Lerek.

Dengan tertatih-tatih dan dalam kondisi yang belum maksimal, beberapa pendekatan personal terus dilaksanakan. Dan seperti biasa, kalau bergerak di ‘menit terakhir’, biasanya sangat sensitif terhadap ‘bahasa-bahasa’. Tetapi dengan kesabaran, proses diplomasi dan pendekatan perlahan melerai suasana.EMAS LEREK 47Kesuksesan acara karena “Kepala Desa” (Yohanes Laba Koban), dan Ketua Panitia (Stanis Pelea Lajar) dapat ‘duduk semeja. Kebersamaan disaksikan oleh Bernard Boli Rebong dan Gabriel Kia Tolok, tepat dua hari sebelum kegiatan berlangsung (Selasa 30 Juni 2015 di Kantor Desa Lerek).

Permasalahan yang dihadapi belum cukup kalau tidak dikaitkan dengan peristiwa hilangnya sesepuh dan pendiri SMP Tanjung Kelapa Lerek, Leo Lado Watun. Menjelang acara kegiatan, susah mendapatkan foto dari sang pendekar. “Untung’ dengan ‘kehilangannya’, segera beberapa foto beliau muncul. (Ada rencaan panitia waktu itu bahwa pada hari ‘H’, bapak Leo Lado akan ditanggul, dipikul dan diarak. Tetapi karena kondisi kesehatan yang menurun maka ide itu tidak dilaksanakan). EMAS LEREK 32Dari keseluruhan persiapan, hal yang paling mendasar adalah biaya. Bagaimana memperoleh biaya? Panitia Jakarta yang sudah bergerak konsisten setengah tahun sebelumnya kian mengonsolidasi aneka kontribusi. Pendekatan ke alumni maupun donatur yang diharapkan bisa bekerjasama.KONTRIBUSI SMP LEREK 01KONTIBUSI SMP LEREK 02KONTRIBUSI SMP LEREK 03KONTRIBUSI SMP LEREK 04 FINALDaftar sumbangan untuk kegiatan. Luar biasa antusiasme alumni dan simpatisan oleh keyakinan bahwa kegiatan ini sangat penting demi meningkatkan mutu pendidikan di Paroki Lerek. Daftar ini belum termasuk sumbangan yang sempat masuk ke Panitia Lewoleba dan Lerek.

Dari berbagai daerah muncul berbagai tanggapan. Dari Malaysia ada Blasius Ponung Pukay, Loppy Tolok. Dari Kalimantan Marianus Boli, Yohanes Pera, dan Patris Patal Wutun. Dari Makassar ada Fradj Ledjab. Dari Kupang Nela Tolok dan Onci Ladjar. Dari Luar Negeri ada Petronela Pulo Henakin (Amerika Serikat), Marc Boenders (Belanda, keponakan P. Beeker, SVD), P. Yoseph Mapang, SVD dan Pater Felix Weka Koban, SVD; dari Filipina P. John Bala Tolok, SVD. Dari Singapura ada Ani Nuban, Marni Karang, dan Banin Ella. Dari Papua ada Agus Gereda Tukan dan Bertinus Kia Tukan. Dari Sumatera ada Andre Muhu Pukay, Dari Nigeria ada Sr Reineldis Ladjar, CP. EMAS LEREK 26Kontak panitia dengan Arifin Panigoro, “Bos Sepak Bola Indonesia”.

Dari dalam negeri keterlibatan nama-nama seperti: P. John Laba Tolok, SDB; P. Hendrik Mado, SDB; P. Alo Baha Geromang, SVD. Nama lain yang tidak bisa dilupakan dari Jakarta: Maria Kewa, Penny Ledjab, Rafael Lajar, Wilem Lojor, Lukas Koban, Ayung Nalibur Benediktus, Elisabeth Purba, Pete Witin, Mikhael Watun, Lukas Koban, Alex Ata, dan masih begitu banyak nama lain yang bisa dibacara lebih rinci dari data di atas.

Beberapa kemungkinan dijajaki termasuk ke Penerbit Erlangga, Yayasan Bina Anak Indonesai (YBAI), Dirjen Bimas Katolik. Pernah juga dijajagi kerjasama dengan Dirjen Pendidikan Dasar dan Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Semuanya bertujuan agar kegiatan itu benar-benar punya gaung.EMAS LEREK 28Panitia Jakarta bertemu Dr Rizal Sikumbang, Ketua Yayasan Bina Anak Indonesia. YBAI punya komitmen menghadirkan perpustakaan berkualitas di Lerek.EMAS LEREK 27Dukungan dari Prof Dr Subroto untuk kegiatan di Lerek.Arahan dan bimbingan supaya pendidikan dapat menyentuh masyarakat bawah.

Panitia Lewoleba bergerak secara khusus di luar Kecamatan Atadei. Dengan pendekatan dan relasi yang ada di Lewoleba, Panitia Lewoleba mulai bergerak. Tanggapan tentu saja awalnya tidak telalu antusias. Sang Humas, Karel Koban sedikit mengelu: “Te tade partisipasi di Jakarta, teu kreuitehe” (kita malu dengan antusiasme panitia Jakarta). Tetapi dengan semangat, Karel yang tinggal setahun pensiun tidak lelah menghubuhungi anak-anak muda untuk bisa mengambil bagian.EMAS LEREK 31Karel Koban (Humas Panitia) menjelang usia pensiun tetapi punya semangat muda menghubungi anak-anak muda untuk aktif dalam kegiatan Emas SMP Lerek.

Ketua Pantia, Cupertino Ladjar pun tidak tinggal diam. Ia selalu mendorong panitia Lewoleba untuk terus bekerja: “Mi wage kie ke mek mi nangolem, nepo go turun tangan”. Dengan relasi yang ada, minimal dengan telepon, maka dana bisa diperoleh.

Selain itu Panitia Lewoleba bertugas meyakinkan Bupati dan jajarannya untuk terlibat dalam pembukaan acara. Proses itu tidak mudah. Kepastian biasanya diperoleh pada saat-saat akhir. Namun dengan relasi yang ada, proses itu terus dilaksanakan.YBAI LEREK 2Panitia Lewoleba sukses ‘menghadirkan’ Bupati Lembata dan Jajaran sekaligus membuka kegiatan Pelatihan Guru. Lobby ke level pemerintah berkat kerja keras Yoseph Cupertino Ladjar dan tim di Lewoleba.

Tidak hanya itu. Panitia Lewoleba juga bertugas memfasilitasi air dan beras. Air menjadi masalah di Lerek karena hampi semua ‘bak penampung’, kosong. Jalan keluar adalah melalui Dinas Penanggulangan Bencana Alam. Hasilnya ada jawaban meskipun sempat ‘dag-dig-dug’ karena sampai hari terakhir air belum datang juga. Untung, malam sebelum kegiatan akhirnya datang kepastian bahwa air itu sudah ada. Beberapa bak penampung dipenuhkan.EMAS LEREK 13EMAS LEREK 12Kepala SMP Lerek, Simon Emi, S.Pd aktif mendorong siswa untuk mempersiapkan kegiatan.

Lalu Panitia Lerek? Yang menjadi tekad panitia Jakarta dan Lewoleba pada saat terakhir melihat kondisi yang belum maksimal adalah bagaimana agar Lerek tetap jadi tuan rumah yang baik. Dana yang dikumpulkan pun ‘pas-pasan’. Lebih lagi ada kesan bahwa ‘kegiatan ini adalah milik alumni’. Selain itu panitia Lerek merasa bahwa ruang gerak mereka terbatas. Gerakan ke Lewoleba sudah dibatasi karena itu sudah masuk ‘kapling’ Panitia Lewoleba. Gerakan dana hanya sebatas dari rumah ke rumah: ada yang Rp 5.000, Rp 10.000, itu sudah cukup.EMAS LEREK 53EMAS LEREK 59Mama Homi salah seorang narasumber. EMAS LEREK 6Rakyat Lerek memberi lebih banyak dari panitia yang lainnya. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan segalanya untuk kesuksesan acara Emas.

Terkumpul dana sedikit tetapi yang membesarkan hati, masyarakat Lerek ingin ambil bagian. Dengan tenaga dan apa yang dimiliki mereka tetap menjadi ‘pemain utama’. Mereka tidak mau sekedar jadi penonton. Itu yang akhirnya bisa dilihat dan disaksikan pada saat-saat akhir.EMAS LEREK 8Masyarakat dan Umat Lerek memberi lebih banyak dari siapapun. Mereka membawa segala yang dimiliki untk kesuksesan pesta Emas.

Persiapan Akhir

Setelah melewati persiapan “Jarak Jauh”, maka kin tiba waktunya untuk konsolidasi ‘muka ke muka’. Atas geak cepat dari HUMAS Lewoleba, Karel Koban, maka pada hari Kamis, 25 Juni 2015 diadakan pertemuan bersama. Bertempat di rumah Bpk Max Laga Wathun di Walangkeam Lewoleba, Panitia Lerek, Jakarta, dan Lewoleba bergabung untuk membahas kegiatan ini secara lebih terinci.EMAS LEREK 22Kegiatan yang ‘molor’ dua jam dan baru dimulai pukul 19.00 (dari rencana pukul 17.00) mulai membacakan program yang sudah dilaksanakan. Lerek sebagai tuan rumah menggambarkan kegiatan pembenahan fisik dan tempat kegiatan yang sudah dilaksanakan. Yang positif, panitia Lerek (didampingi Pak Donatus Ladjar, camata Atadei) meyakinkan kontribusi masyarakat. Mereka siap bekerja.

Panitia Lewoleba meyakinkan bebeapa hal lanjutan yang sudah dijajaki dengan Dinas Kabupaten. Jaminan air, beras, dan beberapa hal lain seperti tanggungan untuk konsumsi ditampilkan. Hal itu kemudian dilengkapi dengan panitia Jakarta. Damianus Dai, Kris Tere, dan Agnes Kenupang yang duduk ‘di sudut’ khusus mulai ‘kasak-kusuk’ tentang persiapan kegiatan. Akhirnya semua pihak sepakat bahwa kegiatan yang ada sudah acukup baik tetapi belum benar-benar ‘mendarat’ dalam kegiatan konkrit.

Panitia bersama sepakat bahwa perlu ada pertemuan konsolidasi bersama pada hari Selasa tanggal 30 Juni perlu ada pertemuan lanjutan di Lerek. Di sana berbagai tugas perlu diperjelas dan dibahas lebih lanjut.

Hal itu terwujud pada pertemuan di Balai Desa, 30 Juni. Hadir Kepala Desa, Yohanes Laba dan beberapa aprat desa. Hadir juga Kepala SMPN 2 Atadei, Simon Emi dan bebeapa guru SMPN 2 Atadei. Sebagian besar ada ketua basis Gereja yang hadir denga semangat mereka untuk sukseskan acara. Pertemuan yang dihadiri juga oleh Bernard Boli Rebong mulai membicarakan hal-hal teknis. .EMAS LEREK 28Panitia meyakinkan Ketua Yayasan YBAI, Dr Rizal Sikumbang bahwa kegiatan di Lerekpenting untuk YBAI dan untuk masyarakat Lembata.

Beberapa hal teknis mulai lebih jelas. Penerimaan tamu, rumah tempat tinggal tamu, dan tempat nginap untuk siswa-siswi SMA Negeri 1 Nubatukan yang akan menempati dua ruang kelas di SDK Lerek. Bidang konsumsi yang dinahdokadi oleh ibu Dionisia Dike Tolok pun terlihat mulai tertata secara rapi.EMAS LEREK 11Ibu Dionisia Dike Tolok aktif meyakinkan peserta akan konsumsi. Hasil kegiatan terasa bahwa selama kegiatan benar-benar terurus dengan baik.

Persiapan kegiatan terasa belum cukup kalau tidak menyebut lomba siswa pada Rabu 1 Juli 2015. Pada malam hari, dengan bantuan sound system dari SMANSA, para siswa SD punya kesempatan untuk menunjukkan bakanya. Mereka menyanyikan himne Tanjung Kelapa dan lagu bebas. Sangat terlibat bakat alamiah.

Tak kurang siswa SMPN 2 Atadei menunjukkan kebolehannya. Mereka juga tampilkan tarian menarik. Malam yang dingin tidak terasa oleh suara anak-anak yang sangat menggoda. YBAI LEREK 22Acara ini sebenarnya didisain untuk level lomba separoki Lerek. Namun karena suasana liburan, peserta dari sekolah lain tidak bisa mengikuti lomba dimaksud. Lomba bidang studi pun menjadi tidak terwujud. Padahal panitia sudah mengalokasikan sedikit penghargaan untuk peserta lomba. Harapannya, ke depan masih ada kesempatan untuk lomba bidang studi antarsiswa separoki Lerek. Masih ada kesempatan.

Ide Gila

Nuansa pesta mulai terasa pada Rabu 1 Juli 2015. Saat para siswa SMANSA tiba di Lamaheku dan dalam perarakan marching band ke Lerek, suasana pesta itu mulai terasa. Panggilan ketua Panitia Lerek, Stanis Pelea Ladjar melalui microphone desa disertai gemuruh drum band menjadi tanda bahwa pesta itu akan segera dimulai. Lerek jadi riuh-redah, semua masyarakat merasa bahwa momen yang ditunggu yang tadinya penuh gejolak kini sudah mulai dilaksanakan. Semua mulai ambil bagian untuk memberi kesan bahwa Lerek dapat jadi pusat inspirasi.EMAS LEREK 49Marching Band pada Rabu 1 Juli dari Lamaheku sampai Lerek. Untuk pertama kali orang-orang tua saksikan yang namanya Drum Band. YBAI LEREK 15YBAI LEREK 12

Hari Kamis 2 Juli 2015, Marching Band berarak dari lapangan bola / depan Gereja Lerek menuju aula pelatihan guru di SDK Lerek.

Di malam harinya, Panitia Lerek, Jakarta, dan Lewoleba, kembali bertemu. Di aula pertemuan SDK Lerek, semuanya merancang kembali kegiatan termasuk membagi tugas lebih rinci. Sebuah pertanyaan alot yang mestinya tidak perlu dibahas adalah kecemasan tentang kedatangan bupati tepat waktu atau tidak karena ternyata ketika tiba saatnya, rombongan bupati mendahului persiapan Panitia.YBAI LEREK 11YBAI LEREK 17Pengalungan tiga ‘petinggi’: Bupati Lembata, Yantji Sunur, Kadis PPO, Drs Zakharias Paun, dan Manajer Erlangga, Pak Sahala.

Rombongan bupati tiba di Lerek pukul 07.30, setengah jam sebelum kegiatan dimulai. Panitia ternyata tidak membayangkan setepat waktu itu pula. Dalam kondisi itu, beberapa persiapan awal dipesingkat. Marching Band (dan sedianya tarian perahu Tena Lagadoni) bergegas ke gedung pertemuan. Rombongan bupati setelah minum ringan pagi, langsung ke aula kegiatan untuk membuka kegiatan itu.

Robert Bala, sebagai yang didaulat untuk mewakili semua Panitia (Jakarta, Lerek, dan Lewoleba) menggambarkan bahwa kegiatan ini adalah hasil pemikiran dari orang-orang gila. Dengan caranya sendiri semua bergerak untuk menjadikan momen ini benar-benar ‘gila’.EMAS LEREK 9Kegilaan itu bisa terlihat dari mentalitas ‘proyek’ yang jauh dari kesan pelaksanaan kegiatan ini. Pelatihan guru dilaksanakan dengan persiapan yang biayanya ditanggung seluruhnya oleh Panitia tanpa ‘meminta-minta’ pada pemerintah. Keseriusan juga terlihat dari materi kegiatan yang disusun secara profesional karena Panitia yakin bahwa para guru kita layak untuk mendapatkan pelayanan seperti itu.EMAS LEREK 5

EMAS LEREK 51EMAS LEREK 50Beberapa contoh pelayanan bisa terlihat dari paket buku untuk tiap peserta, foto copy materi, dan CD kegiatan yang dibagikan secara ‘cuma-cuma’ kepada semua peserta. Hal itu belum terhitung kedermawanan warga Lerek untuk memberikan tempat tidurnya bagi tamu dan menyediakan makan pagi bagi para tamu. Itulah contoh konkrit dari ide gila untuk memberikan sesuatu yang berarti untuk para guru kita.YBAI LEREK 6YBAI LEREK 9Bupati Lembata, Yantji Sunur (didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Drs Zakharis Paun, dan Camat Atadei, Drs Donatus Ladjar) memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ide-ide gila itu menurut bupati (yang menurutnya orang juga menilai dirinya gila) perlu banyak dilaksanakan karena dapat memberikan masukan yang positif untuk pengembangan Lembata ke arah yang lebih baik.EMAS LEREK 16EMAS LEREK 49Pada kesempatan itu, Yantji juga meluncurkan buku Lame Lusi Lako yang digunakan sebagai bahan pelatiahan para guru. Sunur mengapresiasi karya putera paroki Lerek, Thomas Ataladjar yang telah menyajikan sebuah karya spektakuler yang bisa dikembangkan sebagai materi muatan lokal.SMP LEREKSunur juga secara khusus mengucapkan terimakasih atas peran serta penerbit Erlangga yang rela datang ke Lembata untuk dapat mendukung kegiatan ini. Sunur sepakat bahwa buku bebobot sangat dibutuhkan untuk pengembangan Pendidikan.EMAS LEREK 29Sunur juga memberikan apresiasi kepada Yayasan Bina Anak Indonesia dengan pembinanya Prof Dr Subroto dan Ketuanya Dr Rizal Sikumbang. Diharapkan bahwa ke depan, YBAI dapat menjadi salah satu penyokong dalam peningkatkan mutu Pendidikan di Lembata.ATAWOLO 6Buku “Lame Lusi Lako” menjadi sumber dan acuan dalam kegiatan pelatihan guru.

Mengasah Otak

Setelah gegap-gempita acara pembukaan yang diriuh-redahkan oleh marching Band Smansa, kegiatan pelatihan pun dimulai dengan materi pembelajaran mengikuti kemaun otak.DSC_0080????????????????????????????????????

Robert Bala, sebagai narasumber menekankan perlunya mempelajari kemauan otak dan menyesuaikan pembelajaran mengikuti kemauan otak. Dalam kenyataan, pengajaran kadang bertentangan. Otak misalnya sangat membutuhkan oksigen untuk mendukung penyerapan materi.Dalam kenyataan, banyak guru yang menggunakan kekerasan untuk ‘mendiamkan’ anak sehingga tidak banyak bergerak dalam pembelajaran.YBAI LEREK 4Kerja kelompok membahas outline serta menyusun materi ajar dengan “Mind Map”

Pada sisi lain, mekanisme dan cara kerja otak yang selalu merangkai-mengembang mestinya diikuti dalam proses pembelajaran. Seorang guru, kata Robert yang juga pemenang lomba menulis guru dan dosen tingkat nasional, perlu meringkas mater ajarnya hanya dalam selembar dalam bentuk ‘mind mapping’. Dengan itu guru dapat melihat kesinambungan materi ajar dengan bidang lainnya.YBAI LEREK 3Sebagai bentuk pelatihan, pada bagian ini para peserta diminta meringkas buku dengan menggunakan mind mapping. Beberapa peserta diminta untuk mengungkapkan model mind mappingnya. Meski ‘tertatih-tatih’, tetapi beberapa peserta bisa mengungkapkannya secara ringkas sebagai hasil pemahaman atas kisah yang diberikan.EMAS LEREK 44Tampak panitia Jakarta lagi berbicara dengan Dirjen Pendidikan Dasar Dr Hamid. Dalam sambutannya, Dirjen menyinggung khusus tentang Lembata. Peluang sudah dibuka, menunggu realisasi lebih lanjut.

Pada bagian ini sebenarnya ada latihan per kelompok untuk menjadikan kisah pelatihan lebih berkenan. Namun karena masalah waktu, kegiatan per kelompok diperpendek. Presentasi tiap kelompok yang seharusnya menjadi hal menaik tidak dilaksanakan. Hanya beberapa peserta yang diminta terlibat membacakan ‘min mapping’nya.YBAI LEREK 13Metode yang sama digunakan dalam menulis hal mana dibahas lebih lanjut pada bagian materi kedua. Dengan berbasis pada buku Lame Lusi Lako, Robert Bala kembali mendampingi para guru untuk memahami proses penulis menggunakan narasi lokal.EMAS LEREK 34Panitia Jakarta sempat ‘menagkap’ Kadis Pendidikan Prov NTT, Simon Petrus Manuk yang rencana awalnya akan hadir di Lerek.

Bagi Robert, setiap guru sudah memiliki kisah yang diambil dari kisah tutur (tutu-mari). Dengan kisah itu para peserta dapat mengembangkannya lebih jauh dengan mencari tahu lebih dalam tentang peristiwa yang ditampilkan. Dengan demikian kisah yang tadinya dikisahkan sebagai dongeng dapat dicari tahu asal-usulnya lebih jauh.EMAS LEREK 18Theo Uheng Koban, M.Pd, membagi pengalaman meneliti bahasa Lerek.

Buku Lame Lusi Lako, bagi Robert Bala yang juga penulis opini pada Harian Kompas menjadi sebuah model penting yang dapat dijadikan contoh. Hanya dengan demikian para guru dapat terpacu untuk dapat menulis dan meneliti dan akhirnya menghasilkan sebuah karya yang berguna tidak saja bagi orang lain tetapi juga untuk guru itu sendiri dalam karirnya.DSC_0149

Theo Uheng Koban, M.Pd, menggariskan juga pentingnya menulis. Uheng mengambil pengalalamannya bagaimana meneliti bahasa dan dialek di paroki Lerek dalam perbandingan dengan bahasa Lamaholot. Para guru menjadi tercengang karena ternyata banyak sekali ide yang bisa dikembangkan lebih lanjut dari bahasa lokalnya.YBAI LEREK 8

Bahasa Lerek misalnya dalam banyak hal memendekkan apa yang ada dalam bahasa Laam Holot. “Kame gute wato” (Lamaholot) dalam praksisnya di Lerek dan sekitarnya disingkat menjadi “Kam gut wat” yang nota bene kedengaran seperti bahasa Inggris. Hal-hal dasar seperti ini bisa dicaritahu dan dikembangkan dan dapat menjadi bahan tulisan.YBAI LEREK 10Domi Dolet Unaradjan, M.A membagi pengalaman tentang penelitian sederhana.

Pada sesi sore, Domi Dolet Unaradjan, M.A, dekan pada FIA Atmajaya menampilkan beberapa metode praktis dalam meneliti dan mengembangkan penelitian sehingga menjadi hasil karya ilmiah. Dengan pengalaman melatih guru di berbagai tempat di nusantara, Dolet yang juga alumnus di SMP Lerek menekankan perlunya mencari tahu dan mendalami penelitian yang nota bene sudah dimiliki.EMAS LEREK 19YBAI LEREK 3

Peserta dibagi dalam 10 kelompok untuk membuat outline kegiatan.

Rangkaian kegiatan akhirnya ‘membumi’ dan kegiatan kelompok. Di sore hari, semua peserta dibagi dalam 10 kelompok. Masing-masing kelompok diminta membahas salah satu bagian dari buku Lame Lusi Lako dan menyusun outline sementara. Dari 10 peserta, akhirnya terpilih tiga karya terbaik sebagai wujudnya. Terlihat bahwa meski dalam waktu yang sangat singkat tetapi para guru dipaksakan untuk dapat menyusun sebuah outline yang bisa jadi inspirasi untuk sebuah penelitian lebih lanjut.

“Temu Kangen”

Saat itu, beberapa peserta diminta untuk membagikan pengalaman dan kesannya tentang SMP Lerek. Masing-masing dengan pengalamannya menggambarkan kesannya. Semua sepakat bahwa kualitas pengorbanan para guru ‘tempo doeloe’ sangat menonjol. Aneka kegiatan ekstra kurikuler sangat menonjol hal mana mendorong para siswa dari berbagai kampung untuk datang ke Lerek. Pada sebuah periode pertengahan-akhir 80an, siswa bahkan mencapai 4 kelas paralel, padahal guru yang ada semuanya lulusan SMA.GABRIEL PITO TUKANEMAS LEREK 52Mama “Bale Roning” aktif mendengar kesaksian para alumni tentang pengalaman belajar di SMP Tanjung Kelapa.Ada sebuah dedikasi yang sangat kuat. Atas dasar ini maka para guru perlu meningatkan kembali kualitas dan pengorbanannya. Pelatihan yang dilaksanakan merupakan salah satu wujud kepedulian untuk meningkatkan kualitas Pendidikan. Bernard Boli Rebong, salah satu alumnus mengusulkan agar ke depan, perlu diinventarisir agar semua alumni bisa berkesempatan membagi pengalaman kepada siswa.YBAI LEREK 28Para guru di Lembata dengan latar belakang pendidikannya sebenarnya bisa mengambil waktu untuk ‘mengajar’. Ide “Indoensia Mengajar” harusnya bisa jadi “SMP Lerek Mengajar”. Kalau dalah periode tertentu para guru bisa datang ke Lerek untuk membagi pengalaman maka kualitas yang diharapkan bisa terjadi.

Masih dalam rangkaian kegiatan “Temu Kangen”, Panitia berkesempatan memberikan penghargaan kepada 11 tokoh yang berjasah dalam pendirian dan pengembangan SMP Lerek. Tokoh awal seperti: Leo Lado Watun, Victor Nimo Wutun (alm), Piet Lidun Lein BA (alm), Blasius Lalung Koban (alm), dan Agus Leyong Tolok (alm) merupakan tokoh peletak dasar.SPANDUK 50 TAHUN PENDIDIKAN LEREK copy

Pada era pengembangan terdpat Pius Kedang Tolok (alm) sebagai Ketua Yayasan terlama, Bartolomeus Gafeor dan Maria Kidi Tolok (guru pada masa krisis), dan Gabriel Pito Tukan serta Paulina Barek Ladjar sebagai guru terlama. Tak terlupakan Max Laga Wathun sebagai guru pada periode awal dan juga kepala sekolah pada dua lembaga yakni SMP Tanjung Kelapa dan SMP Negeri 2 Atadei. Panita menyadari, sesungguhnya masih lebih banyak orang lagi yang dapat memperoleh penghargaan.

Acara yang berlangsung hingga larut malam ini memberi kesan tersendiri. Di tengah kedinginan malam, tetapi warga Lerek maupun alumni tetap antusias karena Trio Destone menyegarkan malam dengan lagu-lagu merdu. Peserta bahkan ikut goyang badan karena merdunya suara Trio. Tidak kalah hebat, para siswa SMANSA juga hadir dengan lagu-lagu merdu yang membuat suasana tambah berkesan.SERTIFIKT

Pada bagian akhir, sertifikat peserta dibagikan. Beberapa anggota mewakili peserta lainnya untuk menerima sertifikat langsung dari Camat Atadei, Donatus Ladjar dan Kepala UPTD Atadei, Yance Lamak. Semua peserta merasakan bahwa sertifikat yang diperoleh melalui kerja keras. Di tengah dinginnya malam mereka masih bertahan karena tahu bahwa kelelahan mereka dihargai.

Acara Puncak

Hari Jumat 3 Juli, kegiatan puncak dengan perayaan misa. Rm Pius dalam homilinya menekankan pentingnya Pendidikan dalam kehidupan. Jalan Pendidikan dapat mengubah dunia.YBAI LEREK 21YBAI LEREK 22Acara ‘dadakan’. Dalam waktu singkat 10 anak mendapatkan hadiah masing-masing-masing Rp 50.000 setelah menyanyikan himne Tanjung Kelapa. Terimakasih pada para donatur: Kandidus Latan Tolok, Kundradus Laba Tolok, dan Gabriel Kia Tolok.

Misa yang diiringi koor Stasi Lerek sangat meriah. Suara lagu dan himne Tanjung Kelapa pada perayaan itu menjadikan suasana dalam Gereja menjadi sangat berkesan mendalam. Tak kurang, misa juga dirayakan dalam konselebrasi bersama Rm Firminus Dai Koban, PR yang adalah alumnus SMP Tanjung Kelapa (meski hanya setahun).YBAI LEREK 29

Lamber Nama Puor (panitia Lomba) dan Robert Bala, teman sekelas yang turut membantu menyukseskan kegiatan Pesta Emas.

Kegiatan selanjutnya adalah ramah tamah bersama. Para warga Lerek dibagi dalam tiap basis membawa makanan lokal dan menyajikannya dalam acara resepsi bersama. Terasa kelimpahan makanan yang menadikan acara itu penuh kekelurgaan.EMAS LEREK 6EMAS LEREK 7

Menjelang siang, para ibu mulai menjunjung makanan. Mereka perlahan berarak menuju SMPN 2 Atadei. Ada “Uta hrani, putu wokol, blawar, mud” yang menjadikan acara siang itu begitu menarik. Para undangan pun hanya mengambil makanan di meja utama. Mereka kemudian berarak ke setiap meja untuk ‘tambah’.YBAI LEREK 30Siswa-siswi SMANSA masih tetap segar mengikuti kegiatan meski kecewa karena tidak bisa menari oleh karena ada kematian Bapa Yosep Benolo Meran Koban.

Selama acara itu, band SMANSA pun terus bergema. Meski ‘volume’ agak ‘diperkecil’ karena ada kematian bapak Yosep Benolo Meran Koban, tetapi hal itu tidak menurunkan semangat semua peserta. Kematian Bapak Benolo Meran memang sempat menjadikan acara itu punya nuansa lain. Tetapi atas desakan dan harapan keluarga, acara tetap dilaksanakan.

Pada bagian acara spontan, tidak terlupakan ‘lomba himne Tanjung Kelapa”. Panitia Jakarta dalam improvisasi mengundang para siswa untuk dapat menyanyikan himne Tanjung Kelapa. Terpilih 10 siswa yang selanjutnya mendapatkan hadiah masing-masing Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah) dari para alumni yang hadir.

Acara sehari itu akhirnya ditutup dengan foto bersama. Para alumni dari berbagai generasi mengabadikan momen itu dengan berada bersama.

Mer Pur

burung-puyuh2Pesta Emas SMP Lerek sudah berakhir. Persiapan yang melelahkan dalamnya kadang terjadi perbedaan pendapat malah lebih dari itu, ternyata mengantar kita pada terwujudnya kegiatan kita pada tanggal 2 – 3 Juli 2015.

Semuanya ini tercapai karena kita semua, meski hanya tesentuh oleh media sosial seperti Facebook, tetapi langsung ambil bagian. Kita merasa bahwa inilah saat terbaik di mana kita bisa buat sesuatu untuk lewotanah kita. Hal itu bisa dilihat dari aneka sumbangan yang masuk. Juga keterlibatan team / panitia di Lewoleba serta ina-ama di Lerek yang rela menyiapkan makan minum ringan, menjamu tamu, menyiapkan tempat tidur untuk tamu dan sebagainya. punyu 4Model keterlibatan dan campur tangan ini berbeda dengan ‘puror’ atau burung puyu. Orang Lerek yang jago ciptakan istilah gunakan istilah ini untuk ‘kemedi’ orang yang suka minum tuak bahkan sampai mabuk-mabukan tetapi tidak tahu panjat pohon tuak. Mereka hanya ‘kemebau’, dari ‘oring-ke oring’, tetapi tidak bisa panjat.

Istilah ini untuk orang yang hanya bicara, bahkan berapi-api seperti pemabuk tetapi tidak mau terlibat ketika ada kerja. Yang terjadi, waktu pesta emas ini, kita bukan lagi sebagai puror (tite tek ter pur hi) karena kita semua terlibat sehingga acara ini bisa dikatakan berhasil dan sukses. PUYU 2

(Tite tek ter pur hi)

 Dari Lerek untuk Lembata

Apa yang bisa dipetik dari kegiatan panjang ini? Apa yang jadi tindak lanjut? Inilah pertanyaan terpenting. Setelah pelaksanaan kegiatan, ada beberapa ide yang akan ditindaklanjuti lebih jauh sebagai buah dari hasil pertemuan. Intinya, dari kegiatan di Lerek, perlu hadir buah pemikiran untuk tidak saja kemajuan Lerek tetapi juga untuk Lembata.SMP LEREK2Pertama, perlu meningatkan motivasi siswa di Paroki Lerek untuk dapat belajar di SMP Lerek. Motivasi itu bisa diberikan oleh semua almuni di Paroki Lerek untuk ‘mengajar’ dan memberikan motivasi kepada para siswa. Setiap alumni yang berlibur perlu menyisihkan waktu untuk dapat membagi ilmu. SMPN 2 Atadei perlu membuka ruang sementara alumni perlu ‘menawarkan’ diri untuk membagi pengalaman. Proses itu dapat memotivasi siswa agar mereka lebih giat lagi belajar terutama dari sharing pengalaman para alumni tentang susah-senang belajar dan perlu belajar di SMP Lerek.YBAI LEREK 9

Kedua, perlu menignatkan kualitas pelayanan Pendidikan para guru. Keberhasilan Pendidikan ada pada para guru. Keberhasilan Pendidikan SMP Lerek pada waktu lalu adalah bukti dedikasi para guru. Hal itu mendorong agar para guru kini perlu lebih berdedikasi. Untuk SMPN 2 Atadei disadari bahwa selama hampir 8 tahun, dedikasi itu memudar. Pelayanan menjadi pudar dan karena itu setelah 50 tahun, para guru dikomandoi oleh Kepala Sekolah perlu meningkatkan kembali kinerja lewat disiplin guru, pengorbanan untuk ada bersama (tinggal bersama siswa), merupakan hal yang perlu diperhatikan.

Ketiga, mewadahai ‘asrama’ sebagai tempat tinggal para siswa. Sesungguhnya asrama yang ada lebih merupakan sebuah ‘kos’ karena siswa ‘tinggal sendiri’ tanpa pengawasan. Ke depan, pemerintah setempat perlu mengupayakan rumah tinggal siswa dan guru untuk menjadi tempat lebih layak. Hanya dengan demikian siswa dari luar desa Lerek dapat bersekolah dengan nyaman di Lerek.EMAS LEREK 14Untuk proses ini, terlebih dahulu akan diupayakan pembebasan lahan di samping asrama. Pendekatan personal telah dilaksanakan dengan pemilik lahan yang kelihatannya tidak akan berkeberatan kalau ide itu bisa diwujudkan.

Keempat, perlu peningatkan lembaga pendukung. Panitia Lewoleba dan Jakarta sepakat bahwa kepanitiaan saja tidak cukup. Karena itu ke depan perlu ada lembaga hukum untuk menjadi wadah pemikiran peningkatan kualitas pendidikan. Lembaga itu akan menjadi sebuah kekuatan karena panitia Lewoleba dan Jakarta akan mematenkan dan melibatkan semua pihak yang berkemauan baik untuk dapat mengambil bagian dalam pengembangan pendidikan di Paroki Lerek.

Kelima, nama “Tanjung Kelapa” tidak mesti hilang. Melalui panitia baku, dapat terpikir bahwa sebuah lembaga serupa dapat hadir (entah di Lerek atau Lewoleba) yang menjadi wujud nyata dari perayaan 50 Tahun SMP Lerek. Apakah itu berupa sekolah atau lembaga, tetapi yang terpenting sebuah lembaga yang bisa mengingatkan bahwa lembaga ini harus benar-benar ada.YBAI LEREK 17Sekolah yang dimaksud dapat berupa Sekolah Menengah Kejuruan. Terpikir, mengapa tidak, dengan jalur relasi yang ada dalam bidang olahraga seperti: Wilem Lodjor, maka dapat dibuat SMK Olahraga dengan konsentrasi menghasilkan atlit olahraga. Hal itu menjadi sebuah alternatif pemikiran yang akan terus dikembangkan.EMAS LEREK 25YBAI LEREK 16EMAS LEREK 60

Anak Lerek akan ‘tersenyum’ bila pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik.

Bila kelima hal di atas dapat dipikirkan dan digagas lebih jauh maka perayaan 50 Tahun SMP Lerek ini tidak akan sia-sia. Ia akan jadi awal sehingga kemudian akan muncul pengakuan bahwa memang dari kegiatan perayaan kali ini di Lerek, terlahir ‘ide-ide gila’ untuk Lembata dan mengapa tidak, untuk Indonesia ke depan.

 

EVALUASI KEGIATAN

Setelah pelaksanaan kegiatan, Panitia Jakarta telah mengadakan Rapat Evaluasi pada tanggal 14 Oktober 2015 sebagai laporan atas pelaksanaan kegiatan. EVALUASI SMP LEREK8Rapat Evaluasi 14 Oktober 2015.  Dilaporkan bahwa telah dilaksanakan tiga kegiatan penting sebagaimana tertera berikut ini:

EVALUASI SMP LEREK1Panitia juga melaporkan tentang dana yang masuk. Target untuk Rp 50 juta, dalam kenyataannya melampaui target, dengan keterangan umum pengeluaran sebagai berikut: EVALUASI SMP LEREK9Laporan keuangan oleh bendahara: Kristina Tere Pukay

EVALUASI SMP LEREK2Di akhir rapat, panitia juga mencantumkan rencana tindak lanjut. EVALUASI SMP LEREK6EVALUASI SMP LEREK3

One Response to NARASI EMAS SMP LEREK

  1. anis pera says:

    mantaap….membaca ulasan dan uraian ini seolah-olah sedang terlibat dalam apa yang diuraikan, dan menimbulkan rasa senang… bangga menjadi orang lerek.. terharu…bahkan buluh badan berdiri… dan air mata menetes… pingin pulang kampung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s