PANCASILA DAN ‘LAMPU GAS’

PANCASILA DAN ‘LAMPU GAS’

Di saat hari Pancasila seperti ini, saya ingat akan sebuah cerita. Cerita yang datang dari kampung saya, Lerek – Lembata. Sebuah kampung yang berada di selatan sebuah pulau kecil di NTT. Saya tidak tahu tepatnya tahun berapa cerita ini saya dengar, tetapi kalau saya masih ingat cerita itu maka diperkirakan ketika saya kelas 3 SD, sekitar tahun 1977-1978.

Saat itu ada acara 17 Agustus, dan ayah saya, Pius Kedang Tolok yang adalah Kepala Desa, membawakan sambutan sebagai Pembina Upacara. Ia mengumpamakan Pancasila dengan lampu gas atau bagi kebanyakan orang disebut lampu pompa atau lampu tekan. Ia juga disebut lampu Petromax, sebuah gabungan antara petrolium (minyak tanah) dan nama penemunya Max Graetz, yang adalah penemu lampu gas pada tahun 1900.

Tentang cara kerjanya cukup menarik. Saya mengingatnya dengan baik karena saat lampu itu dinyalakan, kami anak-anak selalu berkumpul mengelilingi lampu itu sambil memperhatikan bagaimana lampu itu dinyalakan.

Awalnya, kaos lampu dipanaskan dengan menggunakan spiritus yang terletak di bagian bawa kaos lampu.  Lalu tangki tertutup yang berisi minyak tanah,- sebagai bahan bakar- harus dipompa agar menghasilkan tekanan yang cukup. Panas dari kaos lampu berfungsi untuk menguapkan minyak tanah. Tekanan udara hasil pemompaan inilah yang digunakan “meniupkan” uap minyak tanah ke arah kaos lampu agar terus berpijar.

Lalu mengapa Pius yang jebolan ambachtsschool di Larantuka itu membandingkan dengan Pancasila? Jawabannya karena lampu gas itu cukup dikenal oleh masyarakat. Meskipun di kampung tidak semua orang dapat membeli lampu gas, tetapi semua orang sangat membutuhkan saat ada acara. Juga pada saat ada perayaan keagamaan, seperti Malam Natal atau Malam Paskah, peran lampu gas itu sangat penting.

Menurut Kepala Kedang, demikian masyarakat menyapanya, pada lampu gas ada 5 bagian penting yang mewakili 5 sila Pancasila. Ada wadah dasar penyimpan minyak tanah, alat untuk menambah gas (dipompa), ada alat untuk menyetel lampunya agar bisa menghasilkan terang, ada bagian pusat kaos lampu yang menjadi pembawa  terang, dan kap penutup lampu agar terangnya terfokus ke bawah dan bukan terbagi keluar.

Pada bagian dasar lampu gas terdapat tempat minyak. Minyak itu, demikian tafsir Pius adalah simbol dari kekayaan alam Indonesia. Kekayaan yang tak terhingga. Kita tidur di atas bumi, air, dan kekayaan lainnya yang sangat berlimpah.

Itu adalah tanda kemurahan Tuhan. Tuhan menempatkan kita di daerah khatulistiwa, berada di antara dua benua, dua lautan. Sebuah posisi yang sangat strategis. Kelimpahan itu menandakan bahwa Tuhan menganugerahkan dan menyediakan semuanya untuk Indonesia.Bila dibandingkan dengan sila Pancasila, ia mewakili Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan mengagumi sumber daya alam, sumber daya manusia, kita tengah memuji kemahakuasaan Allah. (Saat mempelajarai teologi, saya sadari bahwa konsep Bapa (Tuhan) sebagai Pencipta. Ia menciptakan alam semesta dan segala isinya. Itulah makna dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebuah konsep yang sangat penting. Artinya, yang diimani adalah ‘Tuhan’ bukan agama. Tuhan melampaui semua agama. Itulah makna di balik Ketuhanan yang Maha Esa.

Bagian Lampu gas memiliki satu alat untuk menambah kekuatan yang biasa digunakan untuk memompa. Meski ada minyak yang banyak tetapi tanpa bantuan dari pompa, maka kerap lampu mengalami gangguan. Fungsi memopa bisa digambarkan untuk memompa minyak tanah agar mempunyai tekanan yang cukup untuk dapat menghasilkan cahaya pada kaos lampu tersebut.

Inilah simbol dari nilai kemanusiaan. Begitu banyaknya kekayaan alam, tetapi tidak didasarkan pada nilai kemanusiaan yang adil dan beradab maka semuanya sia-sia saja. Di sini dimaknai juga dengan kecerdasan yang harus dimiliki bangsa ini agar dapat memanfaatkan kekayaan alam itu secara bijaksana dan membaginya kepada seluruh masyarakat secara adil dan beradab.

Pius Kedang Tolok, penggagas “Pancasila dan Lampu Gas”

Nilai kemanusiaan inilah yang menjadi pembeda sekaligus pengendali. Dengan nilai kemanusiaan, akan ada sikap adil. Adil memperlakukan alam agar tidak saja digunakan secara serakah tetapi secara bijaksana. Adil juga terhadap sesama manusia. Tanpa keadilan maka kekayaan akan menjadi sumber konflik, pusat ketamakan, dan akan menjadi pemicu terjadinya perselisihan dan pertengkaran. Nilai kemanusiaan itu harus terus ‘dipompa’. Menghidupkan kembali kenangan akan Hari lahirnya Pancasila tidak saja mengingat tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai itu.

Pada bagian tengah terdapat kaos lampu. Apabila kaos itu dibakar, dengan bantuan spirituas yang diletakkan di bawahnya, maka akan menghasilkan cahaya. Cahaya yang apabila muncul dan menerangi maka akan memersatukan banyak orang. Untuk ukuran di kampungnya, adanya lampu gas tanda bahwa ada kegiatan penting. Orang-orang pun berdatangan. Cahaya lampu sungguh memersatukan.

Terang itu menandakan sila Persatuan Indonesia. Di bawah terang, ada persatuan dan kesatuan. Hanya satu yang mempersatukan yakni cahaya. Di bawah cahaya itu semua orang menyadari dirinya sama. Di sana ada tawa ria karena cahaya itu bisa memungkinkan semua orang berkumpul bersama.

Pada bagian lain dari lampu terdapat alat untuk menyetel terangnya lampu. Untuk mengaturnya dibutuhkan ketelitian. Kerap lampu kelihatan mati. Padahal kedipan itu justru menghasilkan cahaya baru. Di sini orang harus telaten menyetelnya, tidak boleh terburu-buru.

Ia bisa menyimbolkan sila kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksaanan dalam permusyawaratan perwakilan. Lampu gas bisa menghasilkan terang kalau disetel dengan baik. Para penyetel adalah pemimpin bangsa ini. Berkat hikmat dan kebijaksanaan yang dimiliki, mereka dapat mengatur agar semua. Inilah makna dari Kerakyatan yang dipimpin oleh khikmat kebijaksanaan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Kaos yang panas akan menguapkan lampu lampu gas terdapat sebuah tempat kecil yang biasa digunakan untuk menampung spiritus yang selanjutnya digunakan untuk ‘membakar’ kaos lampu gas. Wadah itu sangat kecil tetapi menjadi sangat sentral. Ia seakan menjadi pemersatu semua elemen lampu gas karena berada di pusat / tengah-tengah.

Dengan membakarnya, maka proses penyalaan lampu gas befungsi. Ia akan merangsang kaos lampu untuk bisa melewati proses peralihan dari sekedar sebuah kain biasa berubah menjadi sebuah terang. Inilah peran pemimpin yang didambakan.

Sebuah kebijaksanaan yang sangat dirindukan di negeri ini (saat ini). Pemimpin yang tidak membeda-bedakan melainkan menyatukan semua yang berbeda-beda untuk menghasilkan terang yang sama. Pemimpin yang bukan demi kepentingan sesaat dan sesat rela mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.

Di atas segalanya ada simbol keadilan sosial yang bisa direpresentasikan oleh kap lampu. Kap itu menata semuanya agar bisa dinikmati dan tidak terhambur. Peran kap lampu sangat penting. Ia bisa menjaga agar segala yang ada bisa terjamin dengan baik. Selain kap, juga ada kaca. Ada kaca yang berupa kumpulan kaca atau kaca polos. Semuanya seperti kap lampu berusaha melindungi.

Inilah makna dari Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan yang terjamin dan terlindungi berkat pemimpin yang bijaksana dan adil. Keadilan adalah benteng dan pertahanan akhir. Ketika ada keadilan, maka nilai persatuan akan semakin teguh. Tetapi ketika keadilan itu terwujud, maka persatuan itu bisa menjadi rapuh.

Hasilkan Terang

Di tengah tarik ulur dan upaya menjadikan nilai-nilai utuh kepada sektarianisme, maka nilai yang dimaknai oleh seorang kepala desa kampung hadir mencolok mata. Ia akan menertawakan upaya sektarianisme yang membeda-bedakan sila pancasila ke dalam kepentingan berbeda.

Melalui analogi Pancasila kita diingatkan bahwa Pancasila adalah kesatuan: satu kesatuan. Ia punya lima bagian yang harus berada bersama demi menghasilkan terang. Adalah sebuah kekeliruan besar yang bisa disebut mortal kalau rumah Pancasila ingin diobrak-abrik.

Tetapi dari semuanya, inti yang mestinya jadi acuan adalah dihasilkannya terang. Imbas terutama dari lampu gas adalah menerangi banyak orang. Dengan demikian bukan ditanyakan atau dipertanyakan lagi bagian-bagian berbeda, tetapi nilai persatuan dan kesatuan yang apabila dilaksanakan dalam kesatuan maka akan menghasilkan terang bagi banyak orang.

Sebaliknya usaha membeda-bedakan dan masuk dalam sekitarianisme tidak saja membahayakan persatuan tetapi mengancam kebersamaan dan keutuhan bersama. Indonesia akan tercabik dan kenyamanan, keadilan, dan kesejahteraan yang diimpi-impikan akan menjauh dan berbalik menjadi sebuah ancaman yang membahayakan kebersamaan kita.

Analogi Lampu Gas yang diungkapkan seorang dari kampung, dari sebuah sudut anonim di negeri ini hanya mau menyadarkan bahwa nilai NKRI dan Pancasila adalah harga mati. Di sudut itu mereka tidak pernah merumitkan hal yang sudah menjadi warisan. Mereka tidak mempertanyakan tetapi terpanggil untuk mewujudkan Pancasila. Hari ini mereka mau sampaikan bahwa nilai itu terlalu kuat untuk kita obrak-abrik. Nilai itu terlalu abadi yang membawa terang yang percuma kalau kita utak-atik sekedar mencapai kekuasaan individual. Kita terpanggil untuk menghasilkan terang dari perbedaan peran yang kita buat.

Salam Pancasila. Robert Bala (robertobala@yahoo.com), Hari Lahirnya pancasila 01 Juni 2017