PASKAH SEBUAH PERTEMUAN (HOMILI VIGILI PASKAH)

Paskah, Sebuah Perjumpaan

(Homili Vigili Paskah)

Liturgi api, liturgi Sabda, dan Liturgi Babtis, sebagai tiga bagian penting dalam perayaan Vigili Paskah, selalu menjadi sebuah peristiwa yang riil dialami. Kehidupan di kampung dengan segala dinamikanya, kerap memunculkan masalah termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Kerap komunikasi itu menjadi mandek oleh karena masing-masing pasangan mempertahankan egonya sendiri.

Tetapi apa yang terjadi ketika dinginnya malam begitu kuat? Apa yang terjadi bila bahkan selimut penghangat tubuh pun tidak sanggup melerai dinginnya malam? Satu-satunya harapan adalah api. Hanya di dekat api, kehangatan tubuh itu akan terasa. Memang sumber kehangatan itu ada pada kaki. Masing-masing orang merasa sudah cukup kalau kaki sudah merasa hangat. Api dengan kehangatanya telah menjadi tanda awal menuju kepada sebuah pertemuan. Itulah maka liturgi api menjadi pembuka dalam vigili Paskah.

Keberanian mendekati api tidak bisa tidak menjadi langkah awal. Keberanian mendekati api diharapkan akan membuka kata-kata yang selama itu tidak sanggup diungkapkan. Di dekat api, ada upaya berdialog, saling mendengarkan, saling mengingatkan terjadi. Itulah yang bisa dipahami dengan liturgi sabda. Aneka bacaan yang cukup banyak pada vigili paskah adalah sebuah proses berkisah, berdialog, mengingatkan dan menyadarkan kembali.

Baru di sana ada upaya menyegarkan kembali komitmen. Ada kesadaran untuk merancang kehidupan yang lebih baik di masa depan. Ada upaya berjanji kembali agar kisah serupa tidak terjadi lagi.

Di sini Paskah dengan liturginya benar-benar menjadi sebuah perjumpaan. Pertemuan di dekat api, yang kemudian diikuti proses berbincang dengan mendengarkan Sabda Tuhan. Proses pertemuan itu diharapkan menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Ada janji lewat pengulangan janji babtis untuk menjaga kembali komitmen.

Inisiator

Siapa yang menjadi inisiator perjumpaan ini? Dalam kisah Kebangkitan Yesus (Mat 28, 3 – 11), bisa terkesan bahwa inisiatif itu datang dari para wanita: Maria Magdalena dan Maria yang lainnya.

Tetapi inisiatif itu lebih didasarkan pada keinginan untuk menengok kubur Yesus, membawa rempah-rempah untuk meminyaki jasad Yesus (Mrk 16,1). Malaikat Tuhan yang turun dari langit dan menggulingkan batu pun tahu bahwa maksud mereka adalah ‘mencari Yesus yang disalibkan’ (Mat 28,5). Mereka ingin meminyaki Yesus yang sudah mati.

Kehadiran para wanita di kubur Yesus itu mengungkapkan sebuah model beragama. Model di mana orang mengira, segala inisiatif masuk surga dan mengalami kehidupan kekal berada dalam diri manusia. Mereka melakukan sejumlah ritus sesuai aturan yang diberikan.

Dari sana terpikir bahwa keselamatan itu akan hadir sebagai buah dari usaha manusia. Tidak selesai di situ. Yang menarik, kisah tentang kebangkitan telah melahirkan juga sebuah antusiasme untuk mencari Yesus yang bangkit setelah hal itu disampaikan. Injil Mateus menggambarkan: “Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yagn besar dan berlari cepat-cepat memberitahukan kepada murid-murid Yesus” (Mat 28,8).

 Inilah model keagamaan yang juga kerap hadir. Pengalaman tersentuh, tersapa oleh peristiwa iman, kerap mudah bergerak pada tataran emosional. Mereka begitu antusias. Kisah pengalaman mistik, pengalaman menerima wahyu, atau pengalaman rohaniah, seperti dialami gerakan pembaharuan seperti karismatik memberi kesan bahwa perubahan menjadi lebih taat beragama adalah sebuah jalan masuk memperoleh keselamatan. Di sini sekali lagi inisiatif itu masih berasal dari manusia.

Kalau kita sedikit keluar, pengalaman seperti itu kerap juga dialami kaum fundamentalis, radikalis, yang dengan antusias melaksanakan sebuah ajaran agama. Mereka mengira, pelaksanaan sejumlah aturan akan memberi mereka berkat dan jaminan gratis masuk Surga. Sesuatu yang tentu saja tidak benar.

Pengalaman kebangkitan justru memberi hal lain. Saat mereka begitu antusias mencari Yesus, Ia justru mendekat dan bertemu dengan mereka. Inisiatif di sini jelas berasal dari Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu” (Mat28,9). Insiatif pertemuan dengan jelas berasal dari Yesus. Yesus bertemu dengan mereka (bukan mereka bertemu dengan Yesus).

Bahwa kemudian ada ajakan agar mereka ke Galilea dan dan di sana mereka bertemu Yesus, tetapi digambarkan secara sangat implisit: “Di sana mereka akan melihat Aku”. Artinya ketika mereka ke sana, yang ada adalah melihat Yesus yang tentu saja sudah ada. Melihat Yesus juga tidak dimaksud sekadar melihat tubuhNya yang baru, tetapi lebih pada hasil karya yang sudah dilaksanakan. Di sana pertemuan itu berbicara tidak saja melalui kata-kata tetapi terbukti melalui perbuatan.

Makna Paskah

Merayakan Paskah tidak berarti mengobarkan sebuah ritus sebagai sarana untuk bertemu dengan Tuhan. Paskah tidak terletak pada pelaksanaan ritus sebagai prasyarat telah menunaikan perayaan Paskah.

Paskah adalah memungkinkan sebuah pertemuan. Pertemuan yang terjadi karena Tuhan selalu mencari manusia, tetapi manusia oleh kepentingan diri dan egoismenya kerap mengingkari pertemuan itu. Mereka lebih memilih jalan sendiri yang dianggapnya lebih baik meski ketika disadari justru merugikan diri.

Paskah adalah sebuah pertemuan yang membawa optimisme secara individual. Pengalaman dan pergumulan hidup sudah diketahui sangat berat. Di sana dosa akan berulang kali dilakukan. Tetapi janji itu tetap utuh: Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu  domba (Yesaya 1, 18).

Perjumpaan itu juga mesti terjadi dalam kehidupan sosial. Dinamika kehidupan bermasyarakat dengan perbedaan yang terus ada tidak akan terbebaskan dari aneka gesekan yang terjadi. Konflik akan terus terjadi seirama waktu yang terjadi.

Paskah karena itu merupakan sebuah pertemuan komunitaria, antara Yesus dan jemaatnya. Ibarat suami adakah kepala atas istri maka Yesus adalah kepala (suami) atas jemaatnya yang dalam hal ini diidentikkan bak seorang istri.

Dengan demikian perayaan Paskah yang diawali dengan pertemuan APP bertujuan agar Gereja dapat mewujudkan komitmen sosialnya. Ia harus membaharui kembali komitmen sosialnya agar dapat menjadi tanda dan simbol di tengah dunia.

Yang tidak kalah penting adalah komitmen kemasyarakatan yang lebih luas. Paskah harus menjadi sebuah momen politis di mana Gereja perlu mengambil peran sosial politiknya secara bijaksana. Ia tidak bisa memilih ‘netral’ dengan berpijak pada asumsi bahwa Gereja tidak boleh berpolitik.

Politik disadari sebagai seni mengatur kesejahteraan bersama. Dengan demikian Gereja tidak boleh memilih diam karena menjadi netral adalah sebuah pilihan untuk membiarkan kepincangan sosial itu terus ada.

Tiga pertemuan inilah yang menjadikan Paskah sebuah perayaan penuh makna. Sebuah upaya memaknai kembali keterlibatan baik secara individual, sosial, maupun politik belajar dari keberpihakan Yesus. Ia telah hadir memberi inspirasi untuk sebuah pembaharuan. Selamat Paskah.

Dinamika poltik yang terjadi seputar Pilkada DKI bisa menjadi sebuah momen refleksi tak henti. Dinamika politik yang terus terjadi mengundang bahwa pilihan setiap warga negara mesti mengarah kepada perjumpaan. Sebuah pertemuan yang tidak begerak pada tataran individual atau ikatan sosial tetapi menuju kepada sebuah sistem sosial politik yang lebih besar.

Kerangka berpikir ini akan menyadarkan yang dipilih adalah pemimpin bangsa (bukan agama). Dalam tangan pemimpin seperti itu diharapkan sebuah pertemuan dapat terjadi. Pemimpin yang oleh figurnya yang bersih, dapat memungkinkan keadilan sosial terjadi. Selamat Paskah 15/16 April 2017.  Semoga Paskah mempertemuan kita. Amin