REVOLUSI MENTAL DAN INFRASTRUKTUR (Surat untuk Agus Harimurti Yudhoyono)


REVOLUSI MENTAL

DAN

INFRASTRUKTUR

Surat untuk AGUS HARIMURTI YUDHOYONO (AHY)

Pak AHY Yth.

Setiap orang, menjelang perhelatan akbar pemilukada serentak Juni 2018 dan terutama pilpres 2019, berhak memberikan pernyataan apa saja tentang negara ini, apalagi Anda yang  merupakan petinggi Partai Demokrat. Pendapat, evaluasi, kritik  atau yang lebih elegan disebut ‘orasi’ adalah hal yang wajar-wajar saja. 

Untuk itu saya salut akan kritik atau lebih tepat orasi Anda terhadap pemerintahan Jokowi pada  beberapa waktu lalu (10/6). Di sana, Anda mengkritisi janji Revoluasi Mental yang (seakan) terlupakan dan dan bahkan bisa disebut telah melenceng karena lebih fokus pada infrastruktur. Kebanggaan para pendukung Jokowi akan infrastruktur diterima secara miris. Bagi Anda, hal itu merupakan sebuah ironi yang patut disayangkan.

Pernyataan lengkap Anda demikian: “Ketika pemerintah saat ini berhasil membangun ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan, dan proyek infrastruktur lainnya, lantas kita patut bertanya ‘Apa kabar, Revolusi Mental?’ Kita larut dalam hiruk pikuk pembangunan infrastruktur. Padahal, konsep ini (revolusi mental) sangat vital, sebagai upaya, mengembalikan karakter bangsa, sesuai bentuk aslinya, yaitu karakter yang santun, berbudi pekerti, dan bergotong royong. Karena perubahan, perbaikan, dan pembaharuan adalah keniscayaan yang abadi.”

Kritik seperti ini wajar-wajar saja. Tetapi apa sebenarnya yang perlu digarisbawahi agar pendapat itu benar-benar bernuansa positif dan tidak sampai menjadi boomerang bagi Anda (dan mungkin partai Anda?)?

Begini AHY…

Bagi orang yang tidak berpendidikan, pendapat Anda bisa saja menarik. Yang dijanjikan adalah perubahan mental, ‘kog kini fokusnya ke infrastruktur?’ Mestinya (menurut pemahaman itu), yang ditekankan adalah ibadah, pengajaran tentang akhlak mulia, penekanan sopan santun.

Itulah indikator yang kerap dikategoriakn sebagai orang yang bermental baik. Mental juga kerap dikaitkan dengan keberanian: “ia bermental baja”, karena berani tidak takut dan rela mengambil risiko. 

Tetapi apakah pengertian itu benar adanya? Tanpa menjawab secara langsung, saya hanya ambil contoh dari cuplikan youtube. Di sana ada seorang anak muda, gubernur di satu provinsi di Indonesia yang tengah berdemo membela agama yang dinistakan.  Ia kelihatan sebagai anak muda dengan ‘mentalitas’ yang dibanggakan negeri ini karena rela membela agama. Untuk hal ini sih mantap sekali. Ia disanjung beberapa saat. 

Tetapi apa yang terjadi kini? Beberapa bulan lalu, ia sudah mengenakan rompi oranye KPK, karena melakukan korupsi.  Orang yang dahulunya sangat dibanggakan, kini justru sebaliknya. Baginya, mungkin saja mentalitas dan korupsi itu berbeda. Nyatanya, apa yang ia sebut membela agama atau apapun hanya ‘di bibir’. Apa yang dibuat itu ‘hal lain’. Korupsi jalan terus, meski sekilas dianggap ia memiliki ‘mentalitas’ yang mengagumkan.

Saya juga tidak mau memperluas masalah ini dengan menyebut tokoh-tokoh Partai Demokrat (yang seperti anggota partai lain yang turut dalam gelombang korupsi). yang terlibat dalam korupsi. Ingat saja (semoga tidak lupa): Andi M. Mallarangeng, Anas Urbaningrum, Hartati Murdaya, Jero Wacik, Sutan Bhatoegana, Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, Amin Santono, dan masih banyak lagi.

Kita tidak sedang memersalahkan mereka, tetapi sekadar mengingatkan Anda dalam memahami korelasi antara mentalitas dan tindakan. Bahwa mereka itu pada masanya disanjung, tetapi apa yang terjadi? Kita baru memahami ‘kebenaran’ mentalitas melalui perbuatan, dan karena itu tidak bisa dilawankan, seperti Anda coba menyandingkan revolusi mental dan infrastruktur.

Di sini kata-kata harus terjawantahkan melalui perbuatan. Atau meminjam ayat-ayat suci: Sabda harus menjadi ‘daging’. Janji dalam bentuk kata harus terbukti dalam kenyataan. Jelasnya, perbuatan adalah bukti nyata dari kata yang terumuskan. Selanjutnya, orang yang telah berbuat akan mendapatkan tempat dalam masyarakat karena ia mengatakan apa yang telah dilakukan dan melakukan apa yang telah dikatakan.

AHY Yth.

Izinkan pada momen yang luar biasa ini, saya bisa mengutip tentang mentalitas.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mentalitas adalah “keadaan dan aktivitas jiwa (batin), cara berpikir, dan berperasaan”. Itu berarti mentalitas itu adalah hal batiniah. Ia tidak bisa dilihat secara kasat mata. Lebih jauh, mentalitas lebih merupakan akumulasi kebajian internal.

Ekspresi mentalitas harus dapat terlihat dan terbukti melalui pekerjaan atau perbuatan nyata. Di sana terekspresi apa yang ia rasakan, jiwa yang tengah bergejolak, dan gambaran perasaan lebih dalam serta pikiran yang ia miliki. Mentalitas juga akan menjadi cerminan konsep seseorang terhadap orang lain dan tindakan jalan keluar yang ditawarkan sebagai solusi.

Hal inilah yang ingin saya kaitkan dengan Jokowi yang Anda kritik sebagai orang yang tidak konsisten dengan revolusi mental yang digagas.  Apa artinya? Bagi Jokowi, orang Indonesia memiliki daya juang atau mentalitas yang kuat. Mereka bisa berjuang sendiri untuk ‘survive’. Lihat saja saat ‘krismon 1997’ yang lalu. Yang bertahan bukanlah pegawai dan pengusaha besar tetapi pengusaha kecil yang bisa keluar dari kemelut dnegan usaha sendiri.

Lihat juga, orang-orang di kampung-kampung, bagaimana masyarakat berjuang. Lihat saja potensi kemurahan alam melalui aneka produk lokal yang membanggakan. Sayangnya, mereka kelihatan berjuang secara ‘sendiri-sendiri’. Butuh pemimpin yang bisa membuka isolasi, mendekatkan mereka dengan konsumen, membuka ruang berusaha, memfasilitasinya sehingga mereka bisa mencapai mobilitas vertikal atau minimal bertahan hidup tetapi bukan di atas bantuan melainkan karena usaha mereka sendiri.

Inilah pemahaman mentalitas yang kemudian dijawab dengan membuat infrastruktur secara massal. Bagi orang yang berpendidikan, paham bahwa infrastruktur ini adalah ekspresi paling nyata. Sebuah kaitan yang sangat jelas. Dalam arti ini, maka indikator dalamnya mentalitas Jokowi harus diukur dari kerja yang disajikan untuk negeri ini.

Tetapi menurut Jokowi, alasan untuk membangun infrastruktur lebih dari itu. Bukan sekadar alasan ekonomis tetapi juga sebuah ekspresi membangun konektivitas demi menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Kita mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia karena itu harus ditunjukkan dalam kesatuan dan konektivitas antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Hal ini menggambarkan konsep tidak saja mentalitas berbangsa tetapi juga lebih jauh sebuah ekspresi nyata mewujudkan kesatuan. Sebuah tujuan teramat mulia karena menyatukan konsep dan mentalitas yang sangat mendalam, demikian pandangan saya yang bukan karena menjadi pengagum Jokowi dan bukan juga anggota PDIP. Hanya saya dapat merasakan perwujudan itu, hal mana juga mestinya disadari AHY, seorang anak muda yang mestinya punya pandangan kebangsaan seperti ini dan tidak sekadar melansirkan kritikan oportunis belaka.

AHY Yth.

Untuk menjernihkan lebih jauh pemahaman tentang mentalitas, saya bisa angkat apa yang dilakukan pak SBY saat jadi presiden. Bagaimana SBY memahami ‘mentalitas’ dan penerapan konsep mentalitas itu dalam perwujudan pembangunan.

Pak SBY, saat menjadi Presiden, sangat ‘menyentuh’ langsung kebutuhan masyarakat dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Tiap bulan, masyarakat miskin berbondong-bondong ke Kantor Pos untuk menerima kuncuran dana (kalau tidak salah Rp 300 ribu) yang langsung menyentuh mereka.

Dengan dana itu mereka bisa bertahan hidup. Sebuah sumbangan yang sangat berarti tentu bagi orang yang hidupnya dalam kondisi memprihatinkan. Mereka kenang pa SBY sebagai orang yang tidak hanya mendukung ‘orang kaya’, tetapi juga menyapa mereka dengan dana nyata. Tidak hanya ‘ngomong doang’, tetapi dirasakan secara nyata. 

Kegembiraan atas dana BLT itu begitu kuat sehingga pernah saya dengar iklan di radio tentang orang yang mau menikah tapi tidak ada dana. Lalu sebagai solusi, disebutkan bahwa untung saja ada BLT. Meski iklan itu tidak mendidik (demikian juga dana BLT), tetapi sangat menyentuh orang kecil karena faktanya memang demikian. Dengan dana itu, minimal mereka bisa juga berpesta dan bergembira ria.

Kebijakan pemberian BLT dari pa SBY itu tentu didasarkan pada konsep  nya tentang mentalitas dan pandangannya tentang mentalitas masyarakat Indonesia. Bagi pa SBY, seorang pemimpin harus bisa memberi secara donatif-karitatif. Ia harus memberi mereka makan kalau kenyataannya mereka sedang lapar.

Tetapi juga menggambarkan konsep pak SBY tentang  masyarakat kebanyakan hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka sudah tidak mampu lagi berusaha dan harus dikasih langsung bantuan tunai. Dan jangan lupa, bantuan itu tidak bisa hanya sekali. Harus terus menerus karena kondisi mereka memang seperti itu. Menghentikan BLT berarti menjadi ancaman akan kelangsungan hidup (tapi nyatanya setelah BLT tidak dilanjutkan, masyarakat pun masih hidup, tidak seperti yang disangka pak SBY).

Dalam arti di atas, Anda tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada pembatinan nilai (atau istilah kini REVOLUSI MENTAL). Tidak bisa Anda menilai bahwa ada pemisahan antara pembangunan dan pembenahan karakter karena apa yang dibuat itulah manifestasi dari pikiran dan konsep. Kalau istilah sedikit ‘kerennya’, saya bisa bilan, perbuatan adalah manifestasi dari kata dan kata diwujudkan dalam perbuatan. Dalam perbuatan terbaca kata yang sudah nyata, dalam pikiran terlihat juga arah perwujudannya.

AHY yang terhormat…

Saya tidak lagi membandingkan SBY dan Jokowi. Saya hanya jadikan 2 contoh di atas untuk sedikit membantu Anda memahami korelasi antara mentalitas dan perbuatan (infrastruktur) yang Anda kritik. Keduanya tidak bisa dilihat secara kontradiktoris, tetapi saling berkaitan karena yang satu merumuskan apa yang dilakukan dan mengerjakan apa yang terbenam dalam konsep mentalitas.

Demikian goresan saya. Saya berharap, semoga ke depan, pemahaman konsep mental dan perbuatan yang lebih menyatu dapat membantu banyak orang dalam memberikan penilaian. Di sana kita bisa berpacu untuk selalu mengerucutkan kata dalam perbuatan dan membuat apa yang menjadi pembatinan nilai.

Pada akhirnya, karena tulisan ini dibuat pada ‘vesper’, Idul Fitri, izinkan saya mengucapkan Taqobbalallahu Minna Waminkum, Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin, saya mengharapkan semoga bulan suci ini  menjadi momen untuk melansirkan pesan politis yang lebih mencerahkan. dan mendidik orang. Hanya dengan demikian kita semakin maju, satu dalam kata dan perbuatan. Salam hormat. (Robert Bala, 14/6/2018).

Advertisements