SIAPA GUBERNUR DKI (ANALISIS DEBAT KE-3)

SIAPA GUBERNUR DKI?
(Dari Debat ke-3 DKI)

Meski sebagai warga Tangerang Selatan, Debat DKI yang berbau pilpres selalu menarik untuk diikuti. Tiga debat menjadi sebuah tontotan pendidikan politik sambil mengetahui lebih dekat figur yang begitu dijagokan masing-masing kandidat.

Khusus dalam debat ketiga, ada beberapa ‘trik’ atau hal terselubung yang mestinya terjadi. Sayangnya, hal itu tidak terwujud. Mestinya hal itu digagas dengan lebih baik yang menjadikannya lebih menarik.

AGUS – SYLVIE

Dari sisi kejelian memahami pertanyaan, harus diakui, Agus masih berada di atas Sylvie. Meski sebagai orang baru tetapi Agus terlihat lebih cerdas, minimal untuk menjawab apa yang ditanyakan.

Sylvie banyak kali lebih ‘sibuk’ dengan apa yang ia pikirkan dan lupa menanyakan apa yang perlu dijawab. Juga Sylvie tidak memahami apa yang ia tanyakan. Ketika ia ajukan pertanyaan kepada Anies mempertanyakan konsistensinya, disampaikan begitu kabur. Anies pun menjawab secara datar saja. Bisa saja dalam pikiran Anies, pertanyaan itu seperti debat sebelumnya, untuk menyerang No 2.calon-gubernur5

Ternyata pertanyaan itu baru dijelaskan pada bagian kedua oleh Agus. Sandiaga kemudian bisa menjawabnya dengan cukup baik dengan mengisahkan rangkaian ‘tawar-menawar’ antara Gerindra dan Anies.

Hal yang tidak disadari Sylvie juga saat Anies menanyakan tentang Satpol PP. Sebenarnya ada ‘jebakan’ Anies yang tidka ditangkap Sylvie. Anies mengatakan kalau Anies jadi gubernur, bagaimaan nasihat Sylvie agar menagani PKl secara bijaksana.

Seharusnya itu kesempatan emas bagi Sylvie. Ia mestinya dapat mengatakan: untuk mengatasi Satpol PP butuh waktu pembelajaran. Dan Sylvie sudah mempelajarinya sehingga untuk kali ini, Pak Anies biarkan Agus Syvie mempraktikkan kembali apa yang sudah dipelajari daripada mengajarkan hal baru kepada pak Anies yang baru akan mempelajari. Tetapi Sylvie hanya akan memberiken ‘clue’ bukan memberi jawaban utuh (biar Anies terhibur dan tidak tersudutkan).

Selain itu, Agus-Silvy selalu mengulang perlu gubernur yang baru (kalau boleh ‘baik hati’ seperti yang dinyanyikan ayahnya Agus, SBY). Sayangnya tidak ditampilkan apa yang dimaksud dengan gubernur baru? Para ‘undicided voters’ menunggu hal itu. Tetapi kalau hanya berhenti pada ‘asal baru’, maka hal itu sama sekali tidak akan ‘menobatkan’ pemilih yang masih mengambang.

AHOK-DJAROT

Saat ditanyakan tentang ‘kekerasan verbal’, Ahok langsung naik ‘pitam’. Ahok pun balik meremehkan pertanyaan itu dengan menjawab bahwa masih banyak perempuan yang ingin berfoto dengannya. Satu kejadian (masalah KJP) tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa kekerasan verbal itu terjadi.

Jawaban ini hemat saya merugikan Ahok. Masyarakat telah megnenal Ahok bertemperamen tegas mengarah ke keras dengan ujaran yang sangat tidak baik ditiru. Itu yang mestinya diterima hal mana terjadi pada debat pertama di mana Ahok mengatakan akan lebih santun.ahok3

Mestinya dalam hal ini, Ahok mengutarakan maaf atas kekerasan verbal yang bisa saja memunculkan pembelajaran yang tidak baik. Tetapi (seharusnya Ahok mengatakan), Ahok mestinya mengatakan, saya umumnya sopan dan care terhadap orang baik. Yang berprestasi, jujur, dan pekerja keras, mendapatkan apa yang semestinya. Hanya saja satu kelemahan, Ahok tidak akan ‘bermulut manis’ dan ‘sopan’ pada orang yang tidak sopan pada rakyat. Itu soal komitmen dan konsistensi. Masyarakat pun akan menilaia, apakah kita hanya sekedar ‘bermulut manis’, sekedar ‘gubernur baru’, lalu meniadakan masalah utama?

Kekeliruan Djarot khususnya saat mengajukan pertanyaan kepada Agus-Silvy yakni terlalu banyak pertanyaan. Pemirsa TV sebenarnya lebih cocok dengan cukup satu pertanyaan. Djarot sebenarnya cukup memperlihatkan foto pembenahan kali Ciliwung dengan bukti yang ada yang mustahil tidak ada penggusuran. Sayangnya, Djarot masih menitip pertanyaan tentang ‘rumah apung’. Akhirnya gambar yang begitu ‘penting’ tidak dijawab oleh Agus. Djarot telah kehilangan momen yang sangat penting ini.

ANIES – SANDIAGA

Dari segi ‘public speaking’ dan kesiapan memahami materi, sangat terlihat Anies menyampaikan sesuatu dengan sangat tenang. Kali ini ia tidak menyerang (sebagaimana debat sebelumnya). Terlihat lebih baik.

Tetapi kembali kepada pertanyaan Sylvie tentang konsistensi yang nyatanya tidak jelas, Anies begitu ‘PEDE’. Ia berpikir Sylvie menyanjungnya dan Anies pun memberikan jawaban yang datar tentang transparansi. Anies tidak menyangka bahwa Agus-Sylvie tengah menyerangnya.

Masih tentang Anies, hemat saya gagasannya tentang kekerasan di sekolah menunjukkan bahwa Anies tidak konsisten terhadap pertanyaannya sendiri. Anies memang memberikan jawaban yang baik tentang penanganan di sekolah mulai upaya menanganinya secara terpadu. Anies lupa bahwa yang ia tanyakan adalah penanganan kasus. Itu berarti hal itu sudah terjadi dan bagaimana mengatasi masalah itu. Ahok memberikan jawaban sebagai contoh pengalaman sendiri bahwa hukuman yang edukatif bisa menghasilkan pribadi yang sungguh berbeda.ahok2

Tentang Sandiaga, sejak debat pertama, ia begitu ‘sibuk dengan OK-OC’. Pertanyaan apa saja, dijawab dalam kaitan dengan OK-OCE. Dalam debat ke3 yang ditanyakan Satpol PP, yang dijawab adalah ‘OK-OCE’. Memang kalau dikait-kaitkan, bisa ada relasinya. Tetapi pemirsa sebenarnya ingin tahu bagaimana pemahaman dan solusi Sandiaga atas masalah sosial yang lebih luas.

Tentang Anies, sejak debat 1 – 3, ia memang tampil meyakinkan dengan diksi yang sangat jelas dan santun. Dalam hal ini Anies sudah mencari perhatian begitu banyak orang. Sudah pasti pemilih yang tidak senang pada Ahok-Djarot akan mengarah kepada Anies.

Sayangnya, yang kurang ditunjukkan Anies (karena hal itu adalah kelemahannya adalah ketegasan dan kekuatan eksekusi. Selama jadi Mendikbud, Anies banyak memberi ‘nasihat’, ‘MEMO’ hal itu baik sekali. Tetapi yang dilupakan Anies, menjadi gubernur adalah soal eksekusi.

Banyak sekali orang jadi pemimpin tetapi kalau lemah terlalu dipenuhi aneka pertimbangan, maka hal itu akan menjadi sebuah kelemahan. Anies harus menyadari bahwa retorika yang disampaikan itu baik adanya. Tetapi itu belum cukup. Sebagaimana Kemendikbud yang terbatas sebenarnya lebih dibutuhkan eksekusi. Apalagi Jakarta yang lebih kompleks.

Tema ini selalu dihindari dan selalu ‘disederhanakan’. Anies terlalu menekankan ‘karakter’, ‘kesantunan’, hal mana menjadi kekuatannya dan sekaligus kelemahan Ahok-Djarot sebagai petahana. Tetapi berkutat pada hal yang sama selama 3 debat akan terlihat bahwa Anies memang sangat bagus dalam komunikasi massa tetapi eksekusi masih dipertanyakan. Sayangnya kelemahan ini tidak ditunjukkan sama sekali perubahan signifikan.

LALU PILIH SIAPA?

Menyimpulkan tiga debat sebenarnya debat bergerak pada 2 hal penting. Pertama, penantang (AGUS-SYLVIE, ANIES-SANDIADA) bergerak pada upaya melihat sisi negatif yang masih ada pada pertahana. Kelemahan dalam pembangunan yang tentu saja masih ada tetapi juga tentang karakter pemimpin yang aman, damai, atau dalam bahasa SBY memplintirkan lagu “Kekasih (Gubernur) yang Baik Hati”.

Kekurangan ini tanpa disadari mulai diperbaiki Ahok-Djarot. Meski dalam debat ke-3, Ahok kelihatan masih menyederhanakan masalah itu, tetapi dalam aneka kesempatan telah terjadi perubahan yang cukup signifikan. Menjadi pertanyaan: andaikan Ahok-Djarot berubah, maka tidak perlu ada gubernur baru. Yang ada, perubahan watak.

Sayangnya Agus sudah ‘mengunci’. Baginya, kalau soal karakter maka tidak akan ada perubahan lagi. Sebuah pernyataan yang bisa berbalik menyerang dirinya. Dalam kaitan dengan gubernur, belum ada hal yang meyakinkan bahwa Agus dan Anies belum terbukti menjadi gubernur yang efektif. Kalau itu dijadikan ‘harga mati’, maka sebenarnya bagi yang belum terbukti, mereka belum bisa dikatakan ‘bisa’ atau ‘tidak bisa’. Sementara itu menjadi gubernur bukan soal coba-coba.calon-gubernur

Penegasan ini sekaligus menjadi hal kedua yang bergerak dalam debat selama ini. Ahok-Djarot selalu menekankan bukti (bukan soal janji atau wacana). Ahok Djarot mengedepankan karya nyata yang tentu tidak bisa dibuktikan oleh Anies-Agus. Memang kata kuncinya bisa pada ‘berikan kami kesempatan’. Tetapi soal memimpin (apalagi di DKI) kita tidak lagi ‘mencoba-coba’. Harus ditunjukkan dalam karya nyata.

Karena itu antara ‘karakter’ dan ‘bukti’, hemat saya berikan kesempatan perubahan karakter yang tentu jadi pengalaman berharga bagi Ahok agar tidak mengulang hal yang sama. Sementara untuk pembuktian, bisa saja pengalaman ‘berharga’ di DKI, dapat menjadikan Agus Anies untuk mencoba ‘di luar Jakarta’ sebelum mengarah ke metropolitan. Ahok, Djarot, Jokowi, sudah melaksanakan hal ini dan mereka sukses di DKI. Anies dan Agus bisa memulainya ‘dari sana’ agar bisa ‘di sini’ di Jakarta. Robert Bala (Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian, Fakultas Ilmu Politik Universidad Complutense Madrid Spanyol).

Advertisements