SPIRITUALITAS ‘BURUK RUPA’ (Homili Jumat Agung)

SPIRITUALITAS ‘BURUK RUPA’

(Homili Jumat Agung)

Semakin kerap film, telenovela, sinetron, menghadirkan 2 figur yang kelihatan berlawanan. Yang satu dengan rupa yang cantik dan elok. Parasnya yang indah, membuat banyak orang terpesona. Ia memiliki figur yang segera menarik perhatian.

Pada saat bersamaan, hadir juga ‘si buruk rupa’. Mukanya bukan saja jelek tetapi juga berbulu. Dengan segala maaf, ia tampak berbulu seperti binatang. Ia hanya pantas untuk dihina dan dijauhi.

Tetapi berjalannya waktu, kebaikan mulai terpancar sedikit demi sedikit. ‘inner beauty’ akhirnya menang karena ia hadir secara konstan, tidak terpengaruh perubahan apa pun yang terjadi.

Hal itu berbeda dengan ‘the beauty’, alias ‘si cantik’. Karena mengandalkan kecantikan lahiriah, awalnya sangat mendominasi perhatian. Tetapi dengan berjalannya waktu, terlihat keaslian diri. Rasa menyesal tentu saja datang terlambat mengakui keunggulan ‘si buruk rupa’, tetapi kehidupan duniawi terus memberikan pembelajaran tentang hal ini.

Lalu apa makna ‘si cantik’ (the beauty) dan ‘si buruk rupa’ (the beast) pada momen Jumat Agung seperti ini?

Buruk Rupanya

Yesaya menggambarkan Hamba Tuhan yang begitu tampak ‘buruk rupaNya’, bukan seperti manusia pada umumnya (Yes 52,14). Mengapa Hamba Tuhan itu memiliki wajah yang buruk? Lalu mengapa orang justru merasa tertegun pada keburukan wajah hamba Tuhan itu?

Rasa tertegun itu sangat mungkin karena adanya pengenalan akan proses atau sebab akibat yang terjadi. Artinya orang merasa tertegun karena ada perubahan wajah dari orang yang sebelumnya mereka kenal berwajah tidak seperti itu.

Bila dikaitkan dengan Yesus sebagai Hamba Allah, penderitaan yang dialami telah memunculkan rasa kasihan dan iba. Mereka merasa iba karena sudah mengenal Yesus sebelumnya. Mereka menyaksikan sendiri apa yang dilakukan selama itu. Kisah Rasul menyimpulkan dengan sangat sederhana tentang apa yang dilakukan yesus selama hidup: “Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia” (Kis 10, 38).

Dengan demikian, ketika kini mereka bertemu lagi dan menyaksikan wajah yang berubah, lebam, bengkak, dan penuh luka karena tamparan, wajah berdarah karena mahkota duri, wajah penuh ludah, dengan segera mereka tertegun dan iba.

Mereka tahu wajah yang asli tidak seperti itu. Di sana muncul komitmen untuk terus mengikuti Yesus di jalan salib meski ancaman selalu ada. Dikisahkan: sebagian besar orang terus mengikuti Yesus di jalan salibnya, di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia (Luk 23,27).

Perempuan itu menangis karena melihat dan merasakan sendiri perubahan rupa Yesus. Tetapi mereka tetap berjalan bersamaNya karena tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka turut memberi kesaksian tentang manipulasi yang terjadi.

Pertanyaan lanjutan, lalu siapa yang membuat wajah Yesus menjadi buruk? Mengapa wajahnya nyaris dikenal? Siapa yang membuat wajah Yesus sehingga tidak tampak seperti manusia lagi?

Sudah pasti, kejelekan itu disebabkan atau dibuat oleh orang lain. Mengacu kepada Hamba Allah, maka penderitaan begitu kejam, penganiayaan pada dirinya begitu tak berbelas kasih, mukanya sudah tidak bisa dikenal lagi.

Bila dikaitkan dengan Yesus, maka penganiayaan oleh orang Yahudi dan tentara Roma saat penghakiman dan penyaliban sangat besar (Mazm 22:7-9). Matius menggambarkan dengan sangat jelas: Kemudian, mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya. Dan, yang lain menampar-Nya (Mat 26, 67).

Membongkar Wajah

Jumat Agung merupakan momen membongkar rupa. Yang satu, rupa buruk yang diwakili Yesus. Wajah yang berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan meski Ia tahu harus berhadapan dengan mayoritas yang memiliki cara pandang berbeda. Yang dihadirkan Yesus adalah sebuah keaslian diri.

Pada sisi lain, kita berhadapan denga rupa lain. Rupa dari para ahli taurat, orang farisi, pemimpin  yang terkenal dengan wajah ‘ramah’, ‘sopan’, ‘bersih’, ‘menjaga aturan’, dan lain-lain.

Masih pada bagian ini, bisa saja ada yang tidak mau masuk dalam kategori dan lebih memilih netral seperti Pilatus. Tindakannya mencuci tangan adalah tanda ia tidak mau ambil risiko. Tetapi secara sosial politis, mencuci tangan sebenarnya tidak ada bedanya dengan orang yang mau mengatakan ia membiarkan kondisi yang ada terus berlangsung. Artinya ia juga menyetujui ketidakadilan.

Lalu rupa mana yang dipilih? Baik pada masa Yesus maupun masa kini, tendensi memilih wajah lebih anggun menjadi prioritas. Setelah ribuan Tahun, sikap farisi yang suka tampil anggun: berdoa panjang-panjang, duduk di tempat terhormat, menerima pujian, masih terus ada. Yang ditampilkan di sana adalah rupa bagus.

Dalam kehidupan sosial politik, kita seakan terbiasa dengan wajah dusta seperti itu. Wajah alim yagn kerap bersembunyi di balik doa panjang memuji Allah. Tetapi dalam kenyataan, bahkan rumah-rumah janda pun ditelan (Mat 23,14). Kekayaan yang ada pada mereka mestinya sudah cukup malah melebihi. Tetapi yang terjadi, secara keji masih mengambil jatah orang yang sudah miskin dan melarat.

Dengan sangat jelas Yesus mengumpamakan sikap ini seperti kubur yang di luar dilabur putih, sehingga sebelah luarnya tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kekotoran (Mat 23,27).

Lalu apa yang perlu dilakukan sebagai buah permenungan di Jumat Agung? Tentu saja sebuah peralihan. Terlepas dari masa lalu, kini saya diberi lagi kesempatan untuk memahami secara baru sebuah cara padang baru yang bisa disebut sebagai spiritualitas rupa.

Ajakan untuk melihat rupa diri, mengevaluasi secara rupa kita secara jujur. Dari evaluasi diri, secara perlahan dapat tercipta wajah yang lebih ramah pada sesama dan mengapa tidak berkembang menjadi wajah sosial politik yang lebih manusiawi. Spiritualitas rupa dimaksud memiliki 3 aspek penting.

Pertama, sebuah ajakan membaharui rupa kita. Kisah sengsara Yesus adalah sebuah panggilan personal mengevaluasi rupa kita secara pribadi. Tanpa menyangkali segala keunggulan diri, tetapi kerap aneka kepalsuan masih terus dihadirkan. Upaya membangun image positif membuat kita berbuat tak jujur pada diri sendiri. Apa yang terjadi disangkali demi tidak dinilai negatif.

Kisah sengsara justru mengajarkan keberanian menerima diri apa adanya. Sebuah keterbukaan bukan saja mengevaluasi diri tetapi juga membangun komitmen untuk mengakui diri dan membangun tekad untuk sebuah pembaharuan. Minimal kemauan untuk berjalan bersama-Nya di jalan salib ini.

Kedua, sebuah ajakan untuk mengenal wajah orang lain apa adanya. Penderitaan Yesus dengan cepat memunculkan rasa tertegun pada orang, rasa kasihan seperti para wanita Yerusalem karena mereka telah mengetahui sepak terjangnya. Istilah krennya: ‘treck and record’ sudah diketahui. Mereka tahu bahwa wajah yang kini buruk bukan mewakili wajah-Nya yang sebenarnya.

Kesaksian hidup Yesus telah menjadi contoh yang tidak terbantahkan. Pengenalan seperti ini merupakan tindakan etis awal yang dimulai dengan rasa tertegun. Sebuah sikap berbelarasa dengan orang lain yang tidak sekadar sebuah sikap simpati tetapi empati karena adanya keterlibatan yang sangat mendalam. Sikap sosial seperti inilah yang mestinya merupakan imbas dari sebuah kejujuran diri.

Ketiga, pengenalan akan sepak terjang merupakan proses mencari pemimpin masyarakat. Sebuah sikap individu dan sosial tidak bisa berhenti tetapi perlu juga hadir secara politik dalam menyiapkan pemimpin.

Hamba Tuhan yang menderita, Yesus yang memanggul salib, yang berani membiarkan wajahNya diludahi, ditampar, dan dipasang mahkota duri, adalah gambaran wajah pemimpin yang rela menderita demi orang yang dipimpin. Sebuah model kepemimpinan yang rela ‘merusak wajah’ demi membuat orang lain tersenyum.

Apakah hal ini dapat diterapkan secara paksa dalam momen pilkada DKI seperti ini? Apakah kita sekadar menampilkan ‘wajah baru’, ‘wajah santun’, ‘wajah ramah’, ‘wajah santun’, tetapi kita sudah bahkan masih menyangsikan keaslian diri? Apakah sepak terjangnya lebih penting atau janji manis lebih menawan?

Semuanya tentu kembali kepada diri kita sendiri. Tetapi yang pasti, Jumat Agung menjadi momen bertanya. Kita mempertanyakan keaslian diri, menggugat cara pandang kita terhadap sesama, dan mengapa tidak bisa mengevaluasi pemimpin atau calon pemimpin kita. Pada intinya sebuah ajakan agar kita mesti realistis mengevaluasi baik wajah kita maupun wajah orang lain. Apabila wajah pura-pura cantik dan ganteng, maka kita bisa segera mengenali kepalsuan di baliknya. Tetapi bila wajah itu asli, wajah kotor penguh pengorbanan, wajah yang sudah berbuat baik, maka itu adalah awal karena di sana kita mengenali wajah Tuhan. Inilah sebuah spiritualitas, kerohanian internal yang mesti menjadi buah permenungan di Jumat Agung seperti ini. Selamat merayakan Jumat Agung.

Robert Bala. Penulis buku HOMILI YANG MEMBUMI. Terbit Kanisius Jogyakarta 2017.