SUKAR ‘NO’ HATTA

SUKAR ‘NO’ HATTA

Refleksi Kemerdekaan 17 Agustus 2016 / Jurnal Timur

Menyebut Dwi Tunggal negeri ini, sudah pasti nama Soekarno dan Hatta. Tetapi ketika menyebut siapa yang paling terkenal, sudah pasti jawabannya Soekarno. 23 tahun ia jadi pemimpin negeri ini. Ide-idenya juga begitu mendunia hingga begitu terkenal di seantero jagat. Teringat tahun 1997 di Paraguay, saat menjawab bahwa dari Indoenesia, dengan cepat orang Paraguay langsung mengidentikkan dengan Soekarno.SOEKARNO HATTA1

Hatta, bisa saja oleh kepribadiannya yang lebih berada di belakang meja tidak begitu terkenal. Lebih lagi karena ia hanya menjadi pemimpin negeri ini selama 11 tahun. Sejak 1 Desember 1956, ia memilih mengundurkan diri dari jabatan mulia ini oleh karena perbedaan prinsip. Ia mundur tanpa mencari sensasi, juga tanpa mempersalahkan Soekarno yang bagi Hatta adalah tetap menjadi presidennya, terlepas dari kelemahan manusiawinya.

Tetapi apa sebenarnya kekuatan Hatta yang semakin kita rindukan kini? Mustahil bertanya demikian. Apa jadinya negeri ini tanpa kehadiran Hatta tidak saja doeloe tetapi juga kini?

Ide dan Laku

Soekarno dan Hatta adalah ‘Dwi Tunggal’. Di mana-mana sosok keduanya begitu dihargai dan belum tersaingi sampai kini oleh pemimpin lain. Keduanya saling melengkapi diserta rasa apresiasi yang tinggi. Meski sudah tidak sejalan, Hatta tidak pernah tidak pernah mengkritik secara terbuka Soekarno. Bahkan ketika hujat hujatan begitu besar, Hatta masih menjawab bahwa baik atau tidak, Soekarno tetap jadi presidennya juga.SOEKARNO HATTA2

Jelasnya, ia tidak sekedar merendahkan orang lain demi meraup keuntungan hal mana dibuat banyak politisi. Bahkan ketika masih berkuasa, secara diam-diam membuat trik demi merendahkan pasangan politik hanya demi mendapatkan keuntungan popularitas. Demi tugas dan tanggungjawab, Hatta memberikan kritikan secara langsung, meski dalam banyak hal tidak begitu diindahkan Soekarno. Ia tulus dan ikhlas, tanpa harus menggunakan sarana yang tidak semestinya sekedar menyindir sang pemimpinnya.

Tapi harus diakui, keduanya berbeda dalam banyak hal. Soekano dikenal ‘emosional’ dan berapi-api. Ia kurang mengendalikan emosi. Koran dibreidel, lawan politik bisa dipenjara karena berseberangan dengannya. Tokoh seperti Syahrir, Hamka, HB Yassin, Mukchtar Lubis, pernah merasakan hal itu karena berbeda dengan sang presiden.

Ide-ide Soekarno lebih bersifat jangka pendek dan disampaikan dengan kekuatan demagogi yang luar biasa. Hal itu belum terhitung dengan kecendrungan Sokarno yang lebih menonjolkan diri, berpakaiwan ‘wah’ tampil bak jenderal padahal ia adalah sipil bukan militer. Bisa saja ia mau meniru Jenderal Tito dari Yogoslavia, hal mana tidak dituruti oleh Jenderal Nasution.

Hal itu berbeda dengan Hatta. Ia adalah figur yang lebih memilih berada di belakang layar mengonsepkan ide. Di dalam ketenagannya, ia menggas pikiran besar termasuk aneka diplomasi dengan Belanda. Dikatakan, ketika Konferensi Meja Bundar, Belanda tersentak dengan pikiran brilian-diplomatis Hatta hingga akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.SOEKARNO HATTA3

Sebagai pribadi, Hatta memiliki sikap ugahari. Ia tidak pamer kemewahan. Ia mengenakan pakaian yang digunakan orang pada umumnya. Meski dimudahkan dalam banyak hal dengan posisinya sebagai wapres, tetapi ia memilih hidup sederhana.

Dari sisi konsep pemerintahan, pikiran Hatta berada jauh selangkah di depan. Konsep negara Serikat yang diterapkan saat itu bagi Hatta lebih pas untuk Indonesia yang sangat luas dan beranekaragam ini. Persatuan dan Kesatuan hal mana sangat ditekankan Soekarno hanyalah cara untuk mencapai. Kita tidak bisa sekedar menekankan persatuan sementara orang lain tidak mendapatkan perhatian semestinya.

Dalam konteks ini, ide dan laku Hatta merupakan sebuah kombinasi yang sangat harmonis. Ia tidak sekedar mengonsepkan tetapi secara sistem digagas dan diwujudkan dengan langkah-langkah yang tepat. Yang paling penting, ia sanggup mengontrol diri dan kecenderungannya untuk tetap bersih.SOEKARNO HATTA4

Tentang keluarga, tentu Hatta yang sangat monogamis berbeda dengan Soekarno yang poligamis. Hatta menikah dengan Rachmi Rahim yang dipanggil Yuke baru setelah kemerdekaan tepatnya 18 November 1945. Hal itu sejalan dengan janji untuk tidak akan merdeka sampai Indonesia merdeka. Sejak saat itu, Hatta begitu komit dengan hanya satu isteri.

Rindu Hatta

Masa reformasi yang terjadi hampir 20 tahun lalu, awalnya dipenuhi oleh wacana besar. Perubahan radikal, upaya mengutuk pemerintahan otoriter Soeharto sekedar menyebut dua contoh adalah tekad yang ditanamkan waktu itu. Korupsi yang selama itu diendus bergerak sekitar istana di Cendana ingin dilenyapkan sama sekali.

Kekuatan demagogi dan wacana ‘wuah’ seperti ini mengingatkan kita akan gebrakan revolusioner dari Soekarno. Kita terpukau oleh janji para pemimpn di masa reformasi untuk memperbaiki bangsa ini dari keterpurukan. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang selama itu identik dengan ‘keluarga cendana’, (katanya) ingin dilenyapkan.

Dalam kenyataan, ide besar itu seakan gagap diwujudkan selama hampir 20 tahun pasca reformasi. Perubahan kepemimpinan nasional tidak secara drastis membawa perubahan signifikan. Hal itu terjadi karena gagasan besar tidak serta merta didukung oleh pribadi tulus dan ikhlas seperti Hatta. Di sana ide dan komitmennya lebih penting dari segalanya. Bahkan ketika menemukan kenyataan kontradiktoris, ia dengan berani mundur karena nuraninya berkata lain.

Yang terjadi rasa malu telah mengibuli masyarakat sangat jauh dirasakan dari para politisi. Yang terjadi, sangat ditekankan hal-hal formal-legal, demi menyelubungi aneka akal licik. Pemberhentian Menteri ESDM, Arcandra Tahar misalnya bisa dijadikan contoh. Komitmen membangun bangsa dihadang oleh prasyarat legal oleh orang yang mengidentikkan ‘keindonesiaan’ alasan formal. Kita tentu tidak memaafkan semuanya, tetapi ia menyadarkan bahwa komtimen mesti berada di atas segalanya. Contoh yang hampir sama terjadi dengan remaja Gloria Natapradja pulus menjadi anggota paskibra hanya karena berpaspor bukan Indonesia, padahal ia hanya sempat ‘numpang lahir’ di Perancis, sementara seluruh hidupnya di Indonesia.

Laku pemimpin pun tidak kurang mempertontonkan kepicikan. Doa yang mestinya menjadi ungkapan ketulusan, di tangan Raden Muhammad Syafii, telah diubah jadi doa politis sekedar mengkritik pemerintah hal mana benar tetapi salah tempat. Egoisme mencari nama seperti itu amat jauh dari contoh hidup Hatta yang ‘bersembunyi’ dalam kesendirian, merefleksikan dalam bisu dan mewujudkan dalam teladan menggugah.SOKEARNO-HATTA1

Kepribadian dan model kepemimpin itulah yang membuat kita rindu Hatta. Ia ‘tahu diri’, kapan harus berperan dan tidak. Bahkan Soekarno dalam banyak hal berbeda konsep dengannya, ia tetap menghargai dan tidak pernah mengambil jalur di luar wewenangnya untuk mengingatkan tanpa secara ironis menyindir orang yang masih diakui sebagai presidennya terlepas dari kekurangannya.

Kita berkesimpulan, bangsa ini akan maju ketika sikap-sikap tulus dengan visi yang luas dijadikan dasar dalam merancang ide yang lebih besar. Sebaliknya, sukar dibayangkan kalau ide-ide besar dan demagogis itu tidak dilakuakn di atas komitmen kepribadian seperti yang dimiliki Hatta. Semoga HUT kemerdekaan ke-17, membawa makna ini sebagai pembelajaran. (*)

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Diploma Resolusi Konflik dan Perjagaan Pedamaian Universidad Complutense de Madrid Spanyol. Sumber: Jurnal Timur 17 Agustus 2016.

Advertisements