SURAT UNTUK ‘ANIES’ DAN ‘AHOK’

Rasa dan Akal (Sehat)

Surat untuk Anies dan Ahok

Pak Anies Baswedan dan Pak Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok). Biasanya untuk menulis surat secara terpisah untuk masing-masing, tentu saja sesuai dengan sudut pandang berbeda. Saya memberanikan diri menulis satu surat untuk berdua. Harapannya, dalam surat yang sama, masing-masing saling membantu satu sama lain dan tidak tertutup kemungkinan untuk saling belajar. Namanya manusia pak, tidak ada yang sempurna. Dari ketidaksempurnaan, saya memberanikan diri memberi sudut pandang yang bisa saja berbeda.

Saya ucapkan terima kasih untuk kemenangan Anies-Sandi di satu pihak dan kerendahan hati Basuki-Djarot yang menerima dengan lapang dada. Sebuah proses pendewasaan politik kita sama-sama saksikan di negeri ini. Yang  kalah begitu ‘legowo’ menerimanya. Malah mungkin tidak ada tuntutan lagi ke KPU, meski bisa saja ada ‘ketidaberesan’ yang terjadi.

Yang lebih menarik, sehari setelah pilkada, pertemuan ‘dua petarung’ itu terjadi. Pertemuan itu begitu penting dan bung Anies harus mengejar waktu dengan naik helikopter karena Ahon masih harus ke pengadilan. Sebuah apresiasi tentang waktu. Memang ada suara yang mengkuatirkan tanda awal ini, tetapi kita harus berpikir positif. Pak Anies orang baik dan ia tidak akan mengawali masa kepemimpinannya dengan sekedar ‘dijamu’ demi melunakan komitmennya. Pada tempat pertama, saya ingin menafsir fenomen yang terjadi dengan pak Basuki-Djarot. Cap yang selama ini menempel hingga cukup kuat menjadi Yang  menarik, beberapa hari setelah pemilihan, ada sebuah pergerakan yang cukup menarik. Ahok yang selama ini telalu mengagung-agungkan prestasi, tersadar bahwa semuanya itu bukan jaminan. Akal sehat yang dinanti dari warga Jakarta, justru dijawab dengan pendekatan rasa. Ketika rasa keagamaannya dilecehkan (sebagaimana disangkakan), maka hal itu dengan mudah menjadi pusat yang menyatukan rasa. Hasilnya terlihat dari kemenangan Anies-Sandi yang harus diakui, dari sisi prestasi pemerintahan sangat sedikit.

Tetapi hadirnya 3000an karangan, justru membawa warna baru. Ahok yang begitu ‘mengagung-agungkan’ prestasi dan kini kalah justru mendapatkan simpati. Minimal hal itu jadi hiburan bagi Ahok atau sekadar pembenaran bahwa sebenarnya Ahok tidak juga terlalu menggila-gilai akal sehat dan prestasi. Ungkapan ‘berbelarasa’ hanya menunjukkan bahwa ia juga punya rasa. Ia tidak sampai hati menistakan agama orang lain, selain ia sadari bahwa siapapun, meski pemimpin agamapun, ia belum bisa mewakili Tuhan sebagai maha sempurna. Karena itu kritikan tentu saja ditujukkan kepadamanusia yang belum utuh mewakili Tuhan, dan memang tidak ada manusia satu pun yang bisa mewakili Allah. Dengan demikian aneka kritik pun wajar adanya.Yang saya ingin sampaikan bahwa Ahok mengakhiri masa pemerintahannya dengan banyak belajar. Ia sadar bahwa perlu menjadi ‘Basuki’, yang lebih tenang, terbuka, bijaksana, dan tidak perlu jadi ‘Ahok’ yang ‘marah-marah’, semprot sana-sini, tidak jaga perasaan. Hal itu kini disadsari (meski sedikit terlambat). Tetapi pasti bagi Ahok pengalaman ini sangat berharga. Ia jadi tahu bahwa dalam berpolitik, akal sehat saja tidak cukup. Perlu membawa serta rasa yang menimbang dari indra yang lain. Inilah pembelajaran antropologis politik yang terjadi. Tidak saja mengagung-agungkan akal sehat tetapi juga mengedepankan rasa. Sayangnya rasa itu kerap cukup cerdas menyelinap. Meski ada hal yang ‘aneh’, tetapi rasa itu bisa disisipkan sehingga mendatangkan keuntungan bagi yang ‘berminat’. Itulah yang bisa terjadi dengan kasus penodaan agama yang diduga terjadi di Kepulauan Seribu.

Perubahan ini sudah terjadi pada saat putaran 1 dan kedua., Ahok sudah berusaha untuk menjadi lebih lain. Tetapi orang pun tentu masih sanksi, apakah itu ‘beneran’ dari dalam, atau sekadar ‘lip service’ belaka. Yang terutama, Ahok sudah sadar bahwa hal-hal seperti ini harus diperhitungkan. Atau minimal tidak terlalu berasumsi bahwa warga Jakarta adalah masyarakat yang paling dewasa. Mereka dapat berpandangan seperti akal sehat pada umumnya. Kenyataan justru lain. Karena itu Ahok sendiri tentu sudah belajar dan menydari hal ini (meski agak terlambat).

Untuk Anies dengan kata-kata yang sangat terukur, dengan bahasa yang sangat mengena, dengan kecakapan berpikir dan berkata yang begitu meneduhkan, sudah dipastikan bahwa hal itu telah menjadi sebuah kekuatan luar biasa. Hal-hal seperti ini bila dibandingkan dengan Ahok sangat jauh. Hal ini pula yang menempatkan Anies sebagai pemenang. Untuk hal ini harus kita akui sebagai sebuah keunggulan.

Anies telah memberi contoh bagi banyak politisi negeri ini. Bila ingin menang, harus menjaga rasa, berani membela masyarakat. Rakyat sudah terbiasa dengan kata-kata yang keras dan kini mendambakan pemimpin yang mendatangkan ketenteraman dan kenyamanan. Ada keyakinan bahwa di situlah terdapat KEBAHAGIAAN WARGA YANG SEBENARNYA.Yang tentu merupakan PR besar di depan adalah:bagaimana menerapkan strategi yang tepat sebagai gubenur? Gebrakan apa yang akan dilakukan untuk mendatangkan kebahagiaan bagi masyarakat? Nilai apa yang akan ditanamkan sebagai pendidikan sebagaimana didengung-dengungkan ini? Inilah pertanyaan yang semestinya membuat Anies banyak ‘diam’, ‘merenung’, da terutama mengumpulkan orang hebat yang bisa mendatangkan sebuah gebrakan besar untuk DKI.

Artinya, secara ‘rasa’, Anies sudah jadi pemenangnya. Karena itu setelah menang, hemat saya, tidak usaha terlalu jauh masuk dan ‘bermain dengan rasa’ lagi. Mengumbar program berupa Jomblo, atau penggunaan Monas, atau bahkan membela kaum tergusur, hingga program parkir otomatis, atau identifikasi diri dengan Jenderal Soedirman oleh gerakan gerilia sukarelawan, perlu dipikirkan secara sangat matang sebelum dikeluarkan.

Terlalu menanggapi hal-hal ‘sederhana’ hanyalah tanda bahwa Anis-Sandi masih belum ‘pede’. Tidak perlu. Pak Anies sudah peroleh. Dukungan hampir 60% masyarakat telah menunjukkan bahwa Anies-Sandi sudah mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Yang perlu dilakukan adalah bagaimana ‘memenangkan’ 40% warga yang tidak memilih bapak. Justru di sana dibutuhkan program hebat dengan terobosan luar biasa yang bisa mengalahkan kecekatan Ahok-Djarot. Inilah yang ditunggu-tunggu. Sementara itu dengan komentar lepas untuk hal-hal ‘populer’, justru Anies lebih membakar semangat para pendukung sambil menciptakan jarak dengan orang yang barangkali tidak memilih Anies-Sandi.

Karena itu untuk Anies, rasa yang sudah dimiliki dan menjadi dasar kekuatan mestinya tidak perlu ditambah-tambah lagi. Cukuplah dikuatkan dengan aneka strategi. Janji membawa Jakarta lebih baik dengan standar yang lebih tinggi pun tidak perlu diucapkan. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah akal sehat untuk menerima kelebihan dan keunggulan juga orang lain dengan memberi waktu untuk belajar. Kalau jadi Gubernur, apa yang baik benar-benar diikuti.Kritikan yang mendatangkan komentar tak sedap hendaknya dihindarkan lagi. Itulah harapan. Anies mestinya tahu bahwa di depan ada 5 tahun yang harus diisi dengan program kerja. Karena itu yang harus dilaksanakan sekarang adalah membayangkan 5 tahun lagi setelah berkuasa, tepatnya 2022. Apa yang menjadi komentar masyarakat saat itu. Sebuah komentar yang tentu saja diharapkan berdasarkan fakta dan akan kuat diingat. Sementara ungkapan perasaan akan cepat terlupakan.

Anies-Ahok. Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengharapkan agar antara berdua terdapat upaya seimbang antara rasa dan akal sehat. Ahok yang perlu belajar untuk menjadi rendah hati, sensitif, rela membawa tanda-tanda yang dimunculkan. Tidak perlu terlalu melebih-lebihkan akal sehat. Manusia itu punya akal budi dan rasa. Ketika tidak dikembangkan secara seimbang, maka bisa mendatangkan malapetaka. Ahok sudah menyadari hal itu.

Inilah proses belajar pak Ahok. Tugas mulia akan terus menunggu. Anda tidak saja akan dirindukan di Indonesia tetapi bahkan dunia. Karena itu perubahan yang terjadi hal mana harus dilakukan semua manusia, adalah wajar. Selain itu, tipikal seperti yang diwujudkan Ahok-Djarot akan memunculkan kesadaran kemudian. Prestasi dan kerja baik yang dilakukan akan disadari kemudian. Anuegerah dan jabatan sebagai apresiasi akan datang, meski untuk tidak secepat sekarang.

Untuk Anies, apa yang sudah dimiliki: sopan, santun, berbudi halus, sudah dimiliki. Kata-kata seperti: bahagia warga, jangan gusur, tidak reklamasi, memiliki pengaruh positif dalam menciptakan branding sebagai orang yang peduli masyarakat. Tetapi itu baru pada tahapan rasa dan simpati. Anies mesti tahu bahwa Anies bukan sebagai ulama yang menghibur tetapi gubernur yang akan mengambil tindakan.

Karena itu waktu yang ada perlu tingkatkan belajar lagi agar dapat menyaingi atau bahkan melebihi Ahok yang bahkan selama ini dianggap telah mengedepankan akal sehat dan keberanian dalam bertindak. Hal inilah yang harus dipelajari. Kirimkan ke Balai Kota ‘orang-orang kepercayaan’ untuk mencontek budaya yang sudah dibuat oleh Ahok. Pelajari baik-baik dan kembangkan itu. Tidak ada gunanya merubah karena hal itu akan seperti ‘menjual kepala sendiri’.

Sebaliknya, rendahhatilah untuk belajar. Belajar menjadi lebih bijaksana. Belajar menjadi eksekutor yang baik dan bukan penceramah. Belajar untuk mewujudkan kata-kata dalam perbuatan. Itu hal yang paling utama dan paling ditunggu-tunggu selama ini. Kalau Anies bisa menyeimbangkan rasa ini dengan kebijaksanaan dan strategi yang tepat tanpa peduli banyak upaya menanggapi hal-hal yang hanya menyenangkan pendukung tetapi terus mengambil jarak dengan orang yang barangkali tidak mendukung Anies selama ini.Anies perlu tahu bahwa lawan yang selama ini barangkali lebih mengedepankan dengan akal sehat. Mereka lebih mengagung-agungkan Ahok (realistis saja). Prestasi demi prestasi sudah diukir. Itulah hal yang tidak kurang juga kalau Anies mengangkatnya. Untuk mendapatkan mereka, hanyalah usaha untuk mengedepankan akal sehat dan kerja nyata. Lima tahun terlalu cepat untuk bisa mengukir prestasi tetapi terlalu lama untuk sebauh pencitraan semata. Inilah yang harus dilakukan Anies. Semakin Anies memberi ruang pada akal sehat, program teruji yang terjamin lebih baik dari Ahok, maka dengan cepat mereka akan melupakan Ahok karena telah mendapatkan orang yang ternyata lebih baik, bisa kawinkan rasa dan akal budi.

Salam hormat. Dari Robert Bala. 4 Mei 2017