TERSAPA PERBUATAN

TERSAPA PERBUATAN

Hal apa yang paling mendebarkan dan menjadi sumber polemik pada tahun 2016? Ada banyak hal. Tetapi bagi saya, ‘sabda’ atau ‘kata’, atau ‘firman’ merupakan hal yang paling kontradiktif dan polemik di tahun yang akan pamit ini.

Kata yang bersifat netral, ketika diucapkan dalam kondisi tertentu dengan maksud tertentu (baik langsung maupun terselubung) dapat memiliki makna berbeda dan menjebak. Kekisruan, konflik (hingga berdarah) bisa terjadi karena ucapan. Mengapa bisa terjadi demikian?ahok1

Tersipu Kata

Kata, sabda,atau firman memiliki kekuatan yang cukup dahsyat. Ini sebuah pengalaman konkrit. Isteri saya kerap marah karena saya lupa SMS atau informasi. Segala langsung ditafsir lain kalau tanpa informasi.

Yang dinantikan sebenarnya hal sederhana: perhatian. Menanyakan hal sederhana saja membuat ia sudah tersipu. Itu yang kerap saya lupa bahwa kata itu begitu dahsyat. Ia bisa menggerakan banyak hal, semuanya berawal dari kata dan sabda menggugah.ahok8

Tetapi kata juga bersifat destruktif. Ia bisa merusak tatanan yang sudah ada. Ucapan yang menjelekkan orang lain secara sengaja tak jarang menjadi sumber konflik. Tidak sedikit konflik berdarah juga hadir dari salah ucap yang segera menjadi sumber polemik.

Tetapi ada hal yang jauh lebih berbahaya. Kata atau sabda yang pada dasarnya netral, oleh niat tak tulus, segera dibelokkan menjadi sumber konflik. Konteks darinya sebuah kata diucapkan dipinggirkan lalu diberi muatan tertentu yang menguntungkan seseorang di satu pihak dan merugikan orang lain pada pihak lainnya.ahok2

Masalah inilah yang terjadi dalam kasus Ahok. Surat Al Maidah 51 yang diucapkan Ahok dengan maksud ditujukkan kepada politisi yang sengaja menggunakan ayat suci untuk menggeser yang lain sambil mengedepankan diri sebagai ‘penyelamat’, dengan mudah ditarik ke ranah penistaan agama. Pada saat singkat ratusan ribu orang mengadakan protes hal mana tentu saja bisa dipahami dan dimengerti.

Agama terlalu sensitif untuk dijadikan topik. Dalam arti ini, Ahok juga tidak bisa dibenarkan seluruhnya atas penyitiran ayat yang bukan dalam domainnya. Lebih lagi hal itu diucapkan saat sebuah kunjungan resmi yang mestinya harus dibedakan dari kampanye politik. Proses hukum yang terjadi kini harus bisa dimengerti sebagai sebuah konsekuensi dari salah ucap yang nota bene tidak terefleksi secara mendalam sebelumnya.ahok4

Dari kasus Ahok yang menjadi ‘trending topic’ 2016, kita segera disadarkan bahwa kata itu dengan mudah membuat orang tersipu (seperti isteri saya). Hanya dengan kata, seseroagn merasa diberi kekuatan untuk mencapai sesuatu yang jauh lebih besar.

Tetapi kata juga dapat menjadi sumber konflik.Hal itu bisa saja disalahucapkan. Tetapi lebih yang lebih memprihatinkan ketika kata yang netral sudah ditunggu untuk ‘dilahap’ oleh orang yang berpikiran picik. Apa yang sebenarnya menjadi konteks darinya terlahir kata dipotong, dipenggal, dan dipelintir ‘semau gue’. Di sana ia merasa nikmat karena telah ‘sukses’ memperdayai orang lain dan memberikan keuntungan pribadi.ahok7

Dalam arti ini kita segera diingatkan bahwa kata memang sensitif. Ia mudah dibelokkan ke arah yang tidak semestinya, hal mana mestinya mendorong orang untuk lebih bijaksana dalam mengucap kata agar tidak mudah disalahtafsir dan dijadikan sumber konflik.

Jadi Daging

Lalu apa yang perlu dibuat agar tidak terjadi kesalahan serupa di tahun 2017? Tidak sulit menjawabnya. Spirit Natal sebenarnya berada pada hal ini: Sabda menjadi daging. Artinya, semua kontroversi bisa dinetralkan ketika yang jadi acuan adalah laku atau perbuatan.ahok6

Penilaian pada seseorang mestinya selesai ketika orang secara lebih jauh masuk dan melihat realisasi dari kata. Orang tidak berhenti pada perkataan seseorang atau penistaan seseorang tetapi melangkah lebih jauh kepada perwujudan dari kata itu.

Kata dalam arti ini masih merupakan media atau alat. Ia mengindikasikan pada sesuatu yang akan dinilai benar tidaknya dalam perwujudan. Apa yang tidak terjadi tetapi dikatakan ada atau sebaliknya ada tetapi dikatakan tidak ada disebut berbohong. Sebaliknya sesuatu yang bermakna ganda akan terbukti ketika hal itu diwujudkan. Dalam arti ini, apa yang disampaikan akan terkonfirmasi melalui perbuatan.ahok3

Atas dasar ini, pada sidang perdana, tangisan yang polos dari Basuki Tjahaja Purnama mestinya bisa ditafsir sebagai usaha menghadirkan ke publik tentang keadaan dirinya yang sebenarnya. Ia terlahir dan dibersarkan dalam keluarga yang toleran. Hal itu sebenarnya mengarah kepada penjelasan bahwa apa yang menjadi polemik mestinya ditempatkan dalam konteks perwujudan.

Memang penegasan itu bisa dipahami sebagai sebuah usaha pembelaan diri. Logis, orang yang dalam keadaan terjepit bisa saja berbuat apa saja termasuk meminta dikasihani oleh hakim. Orang Latin menganakan: argumentum ad hominem. Masalah belas kasih dikedepankan untuk menjadi alasan pembelaan dan meminta dipahami.ahok7

Tetapi yang hendak ditonjolkan adalah perwujudan dari kata dalam perbuatan. Lebih lagi dalam proses pemilihan kepala daerah seperti ini. Begitu banyak informasi yang kebenarannya disangksikan. Usaha melempar isu begitu dahsyat sekedar mengail di air keruh. Popularitas diperoleh dengan mudah berkat manipulasi informasi. Pembaca pun terkecoh oleh minimnya usaha memverifikasi kebenaran informasi.

Hal inilah yang jadi pesan terpenting dalam Natal. Santu Yohanes membahasakannya secara sangat mendalam tentang ‘Sabda menjadi daging’. Apa yang awalnya hanyalah ‘firman’, ‘kata’, ‘sabda’ harus diwujudkan menjadi daging. Tanpa perwujudan jadi daging maka kata-kata itu kosong (melompong).

Hal itu sudah ditunjukkan oleh Yesus. Ia adalah Sabda dari Bapa. Sebagai Sabda atau firman ia sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. Melalui SabdaNya, segala sesuatu dijadikan. Tetapi ketika hendak menjamah manusia, Sabda itu dikonkritkan melalui contoh. Ia yang adalah Sabda rela jadi manusia karena ia tahu hanya dengan berbuat demikian, manusia tersapa.sby-dan-jokowi2

Ia tahu bahwa manusia tersapa hanya dengan perbuatan. Kata-kata meski setinggi langit tidak punya makna apa-apa kalau tidak diwujudkan. Sementara bagi manusia, ia memang tersipu oleh kata tetapi hal itu berlangsung sementara. Apa yang disanjung lewat kata dan membuat orang terkesima hanya momental.

Yang ditunggu adalah perwujudan dalam perbuatan. Jelasnya, orang akan lebih tersapa dengan pebuatan karena di sana justeru menjadi bukti kesungguhan orang dalam hidup. Hal itu pula mestinya jadi pembelajaran di akhir tahun 2016. Kita tidak bisa sekedar terkecoh dan tersipu, apalagi tergoda oleh kata. Lebih dari itu, perlu melangkah lebih jauh untuk melihat aksi. Kalau perbuatan jadi takaran maka dengan mudah pula kita membongkar aneka kepalsuan yang bisa saja ada dan melekat kini.

Robert Bala. Penulis buku: Homili Yang Membumi, Penerbit Kanisius, Desember 2016.

Advertisements