‘UNE HENERING’, RAMAH GEMPA DAN EKOTURISME

‘UNE HENERING’, RUMAH RAMAH GEMPA DAN EKOTURISME

Sabtu, 13 Februari, Pusat Bahasa Trisakti, divisi Bahasa Spanyol mendapat berkah. Kami kedatangan seorang arsitek asal Spanyol, Argoits. Pemaparannya tentang tokoh arsitektur ternama Spanyol, Gaudi.

sagradafamilia_204139Karya arsitektura ‘Sagrada Familia’ tipe Gotik di Barcelona. Gaudi membuat karya seni sesuai apa yang ditunjukkan alam.

Ada hal menarik dari Gaudi. Karyanya sangat inspiratif. Sumber inspirasinya adalah alam. Segala sesuatu sudah tertulis di alam. Di sana tinggal kita menyibak rahasia alam dan kemudian membahasakannya dalam arsitektura kita.RUMAH ADAT5Argoits, dan mahasiswa dan dosen bahasa Spanyol Universitas Trisakti

Yang menarik, Argoits tidak berhenti pada karya klasik Spanyol. Menurutnya, rumah tradisional orang Indonesia, tidak kalah menarik. Ketika ditanya tentang kekaguman pada Borobudur, ia malah mengatakan, lebih menarik rumah tanpa paku yang dibuat di suku tertentu.RUMAH ADAT1Rumah adaat tanpa paku, luar biasa.

Mengapa rumah tradisional lebih berkenan baginya? Menurut Argoits, karena apa yang dibuat hampir sejajar dengan apa yang dilakukan oleh Gaudi. Mereka  membuat rumah adat tanpa paku. Rumah itu dibaut berdasarkan ‘bisikan’ alam. Manusia harus membangun sesuatu yang dikehendaki alam.

Pikiran inspiratif itu kemudian diteruskan dalam diskusi terbatas, Advent Tambun, Argoits, dan saya sendiri. Penulis mengisahkan tipe rumah di Atadei yang disebut ‘UNE HENERING’. Rumah itu ‘ramah gempa’. Sebuah karya luar biasa. Diskusi itupun saya rangkum lebih jauh, terutama ketika kepada penulis diminta untuk membaginya lebih dalam lagi, hal mana dituangkan dalam tulisan ini.

‘Orang Berdiri’ ‘Rumah Duduk’

Lerek, Lembata, NTT, kampung asal penulis, berada di ujung Lembata dan nyaris diketahui oleh dunia luar. Kampung ini punya banyak kekhasan karena  berada di atas potensi api dari gunung api. Ada  3 gunung api aktif, dua di pinggir pantai (Adowajo dan Gripe) dan satunya di dalam laut (Hobal).ADO WAJOEkoturisme gunung api dan ‘une henering’ (Adowajo Lerek Lembata)

Karena posisi ini maka peristiwa gunung meletus adalah hal biasa. Ia tidak ditakuti. Malah, kalau gunung dalam laut meletus, masyarakat malah ke pinggir pantai memungut ikan yang mati akibat lahar panas (semestinya tidak boleh tetapi itulah yang terjadi). Masyarakat sudah ‘terbiasa’ untuk ‘berlari’ bila ancaman itu terlalu besar. Tak heran, mereka disebut ATADEI (orang yang harus selalu berdiri, bersiap berlari kalau ada gempa.

Yang menarik, meski orangnya siap berlari, tetapi tidak sama halnya dengan rumah. Rumah bahkan didirikan dalam posisi duduk. Damianus Lewar Koban, seorang putera daerah memberi nama ‘rumah berlandas pijak’. Kandidus Latan Tolok, putera Bapak Yapet menamakan ‘RUMAH BERAKIT’.

Terjemahan ‘une henering’ ini sangat variatif.Akhirnya sebagian besar speakat, istilah itu susah diindonesiakan. Tetapi penjelasannya sederhana, kata Daminaus Lewar Koban dan Polikarpus Bala Pukay. Rumah ini diletakkan di atas batu ceper sebagai landasan pijak. Ia tidak ditanam, seperti rumah sebelumnya yang dalam bahasa daerah disebut ‘UNE KNALING’. Une Henering justeru tidak ditanam tetapi diletakkan di atas susunan batu. UNE HENERINGContoh Une henering yang masih ada hingga kini. Harus terus dilestarikan karena punya kearifan lokal yang patut diikuti

Ada yang menyebutnya sebagai UNE KENIKAT, demikian tutur Kandidus L. Tolok. Baginya, rumah tersebut dibuat dari proses ‘lape-gikat’ (pahat) sehingga bangunannya kokoh. Pada sambungan kayu, tidak digunakan paku baja tetapi paku justeru dibuat dari sejenis pohon yang cukup keras yang oleh masyarakat setempat disebut ‘rupung’. Jenis kayu kecil ini sangat keras dan dapat menyatukan berbagai bagian kayu yang digunakan membangun rumah.

Agar bagian sambungan menjadi lebih kuat, ditopang oleh penopang atau yang disebut ‘karbel’ demikian tulis Alex Bala Tolok melalui media sosial. Tak heran, ‘une henering’ ini menjadi begitu kuat. Tentang rumah ini, Thomas Ataladjar, penulis sejarah Jakarta menarik tapak ulur sejarah, menandaskan bahwa ini adalah hasil kerja para tukang tamatan ambachtschool, Larantuka. Inilah terobosan menggantikan tipe rumah sebelumnya, ‘Une Knalingei’ yang tiangnya ditanam di dalam tanah.yohanes-pelea-tolokYohanes Pelea Tolok (Yapet), Tokoh di balik ‘une henering’

Di Lerek, tipe rumah seperti ini memang sangat identik dengan tukang kayu, (1lm) Yohanes Pela Tolok (Yapet), (alm) Yohanes Kia Honi Tolok, dan Rofinus Raja Ari Tolok. Mereka merupakan generasi tukang yang disiapkan oleh Pater Conrard Beeker, SVD yakni: G.Gego Wadan, Wadan Poli Bala, A. Wua Labi, Karolus Nimo Gole, Kopo Nuba dan Y. Ratu Namang (Atawolo),  Pius Kedang Tolok,  Laba Wajin (Lerek), Dari Watuwawer tercatat Bernard Baha Luga dan Petrus Temai Ledjap, Sementara dari Waiwejak, Yohans Lapit Namang.

Para tukang ini memulai sebuah terobosan baru, membangun  ‘Une Henering’. Di Lerek, dalam beberapa dekade terakhir, pembangunan ‘une henering’  dilakukan oleh Yohaens Pelea Tolok (Yapet). RUMAH ADAT3Membangun ‘une henering’ dalam suasana gotong royong, http://rumahkayu1.com/

‘Une Henering’ memang sebuah terobosan dari para misionaris. Sebuah sumbangan yang sekaligus sebuah kearifan lokal. Rumah ini pun mudah dipindahkan bila ada perubahan atau pembangunan jalan. Pada akhir tahun 80-an, di Lerek, rumah-rumah sangat berdekatan. Bila terjadi kebakaran, maka bisa merambat ke rumah lainnya.

Atas dasar itu, mulai ditata. Kepala Desa, Pius Kedang Tolok dengan mudah membangun jalan di antara rumah penduduk. Hal itu bisa terjadi karena rumah tinggal ‘diangkat’ dan ‘disusun’ secara benar. pius-kedang-tolok4Pius Kedang Tolok: mudah menata Lerek karena rumah bisa dipindahkan

Nyaris ada protes karena selain demi menghindari kebakaran tetapi juga karena penataan itu tidak merugikan atau harus membangun rumah baru. Yang terjadi, hanya ‘meletakkan’ kembali agar indah. Inilah manfaat dan keuntungan lainnya dari ‘Une Henering’.

Ekoturisme

‘Une Henering’, kini agak sulit ditemukan lagi di Lerek, padahal gempa sudah menjadi langganan. Sebagian besar rumah justeru tidak dibuat mengikuti kearifan lokal. Kalau pun ada yang masih menggunakan idenya, tetapi tetap menggunakan paku. Paku alamiah dari pohon ‘rupung’ tidak dibuat lagi.RUMAH ADAT2Une henering yang sudah ‘dipoles’ Foto CV Rama Jaya Lewoleba http://rumahkayu1.com/

Pada sisi lain, para pembangun ‘une henering’ sudah tidak ada lagi. Kearifan mereka nyaris diikuti oleh para ‘tukang’ kini. Mereka sudah ‘didik’ di era lain yang hanya mengenal budaya instan dalam pembanguan rumah. Dengan kekuatan semen, batu pasir, mereka dengan mudah membangun apa pun yang dikehendaki. Kerap bahkan melawan alam, dalam arti melawan arah banjir, sebuah keputusan yang sangat berani. Ketika banjir datang, semua akan disapu.

Lalu apakah ‘une henering’ itu tinggal kenangan atau harus dikembalikan lagi? Tahun ini pemerintah menggelontorkan 21 triliun rupiah untuk mengembangkan Ekoturisme Holistik. Yang dimaksud tentu tidak sekedar agar pembangunan sejalan dengan isu penanganan kerusakan hutan, tetapi lebih holistik yakni sejalan dengan berbagai isu yang berorientasi pada pemeliharaan lingkunan alam.RUMAH ADAT 8Inspirasi, ‘une henering’ Foto CV Rama Jaya Lewoleba, http://rumahkayu1.com/

Memang konsep ini kerap disalahgunakan. Adanya penyelewengan yang menggunakan ekoturisme demi mencaplok tanah rakyat atas nama investasi. Konsep 4T (Telecommunication, Tourisme, Technology, Transportation) yang ada di baliknya kerap digunakan secara timpang. Pariwisata yang dikembangkan juga dikelola hanya demi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Sekilas memang tercapai keuntungan dan bisa saja memenuhi target tercapai US $ 20 juta pada tahun 2019 tetapi kebudayaan masyarakat justeru tercaplok demi keuntungan.

Ancaman itu mestinya tidak menghalangi untuk mengembangkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Pembanguanan yang berawawasan dan selaras dengan alam yang ramah gempa seperti ‘une henering’ bisa menjadi sebuah peluang. Artinya, wisata pemandangan gunung api di Selatan Lembata, terutama di Lerek dalam memandang alam, harus diikuti dengan pengembangan rumah lokal ‘une henering’.WETA HENERING‘ Wetak henering’ (gudang penyimpan makanan) ‘teman dari une henering’

Cukup beruntung bahwa desa tetangga, Atawolo, telah diangkat menjadi desa adat. Beberapa rumah adat telah dikembangkan sebagai tujuan wisata. Tetapi hal itu akan kehilangan makna ketika yang dimaksud hanyalah ‘bangunan-bangunan kecil’ sebagai rumah adat. Yang perlu dikembangkan adalah rumah penduduk yang harus kembali ke alam. Potensi inilah yang perlu mendapatkan perhatian.

Jelasnya, pengembangan ekoturisme yang dikembangkan kini mesti ditangkap sebagai peluang. Pengembangan kembali tipe rumah seperti ini perlu menjadi perhatian dan mengapa tidak menjadi sebuah peluang penting yang harus ditangkap.

Tidak hanya itu. Pengembangan ini juga harus bersifat menyeluruh. Tidak saja menangkap peluang ekonomi, tetapi harus dilihat secara holistik. Artinya, peluang yang ada hendaknya mendorong masyarakat untuk kembali ke alam. Hal itu bukan saja agar ‘une henering’ jangan sampai ditinggalkan begitu saja. Lebih dari itu mengingatkan bahwa ‘une henering’ adalah sebuah kearifan lokal.RUMAH ADAT6‘Rumah adat’ di Desa Budaya Atawolo

Generasi yang hidup kini mesti sadar bahwa kearifan dan kebijaksanaan itu sudah dimiliki leluhur. Mereka sudah mendirikan rumah yang diletakkan di atas batu dengan posisi lentur terhadap setiap gerakan. Gerakan gempa tidak dihindari tetapi justeru diikuti. Demikian juga rumah perlu mengikuti gerakan seperti ini. Itulah ‘une henering’, ramah gempa yang perlu dikembangkan.

Robert Bala, 18 Februari 2016.

Advertisements