WAITEBA DAN ‘SI CAMAT BANDEL’

WAITEBA DAN ‘SI CAMAT BANDEL’

yusuf-dolu-baKisah Inspiratif Yusuf Dolu, Camat Atadei 1979. Camat muslim yang ‘Katolik’

Tragedi Waiteba sudah terjadi 37 tahun lalu. Pada hari itu, Rabu 18 Juli 1979, saat itu tanah longsor (landslide) dari sebelas Atas Waiteba, tepatnya dari Bauraja hadir ‘bersahutan’ dengan gelombang pasang setinggi 50 meter. Pusat tsunami yang berada di laut Sawu itu kemudian menghempaskan daerah pesisir pantai sepanjang 12 km dengan lebar sekitar 500 – 600 meter.waiteba5Kisah itu secara pilu didengar oleh sang camat Atadei saaat itu,  Yusuf Dolu, BA yang baru sebulan berada di Karangora. Ia memutuskan pindah Ibu Kota kecamatan dari Waiteba ke Karangora, yang berjarak sekitar 5 km. Alasannya  karena menurut keterangan para ahli geologi dari Bandung, dalam hitungan hari saja, Waiteba akan hancur lebur dilanda gelombang pasang yang dahsyat. Dengan rasa pedih, ia mendata hingga akhirnya tercatat bahwa ada 539 orang tewas dan 364 orang hilang. Bagaimana mengenang peristiwa tragis itu dan pembelajaran apa yang dapat ditinggalkan untuk dijadikan pembelajaran? Berikut hasil wawancara Robert Bala dengan Camat Atadei saat itu via telepon pada Minggu 11 September 2016.

Apa yang masih ada dalam pikiran saat terjadi Bencana Tsunami dan Longsor tahun 1979?

yusuf-dolu-ba3Sebagai camat yang hidup dan ada bersama dengan masyarakat, saya sangat mengikuti hari demi hari perubahan yang terjadi. Di daerah Bauraja, setiap saat terjadi pergerakan tanah. Tiga bulan sebelum longsor, kami kedatangan tiga ahli geologi dari Bandung, salah satunya orang Perancis. Mereka datang ke Waiteba dari Lewoleba dengan Kapal Motor dan segera meneliti kondisi tanah yang saat itu sudah retak parah.Yusuf Dolu BA (Camat Atadei 1976 – 1980).

Apa pendapat mereka tentang kondisi longsor saat itu?

Mereka ke daerah longsoran dan tanah yang pecah di daerah Batanamang Bauraja. Setelah melihat dari dekat kondisi tanah, mereka simpulkan bahwa tidak lama lagi akan ada pergerakan tanah yang akan menimpa langsung Waiteba yang ada di pesisirnya. Bagi para ahli geologi itu, yang namanya saya tidak ingat, kondisinya sangat gawat. Bahkan mereka tidak mau tidur di darat selama berada di Waiteba. Mereka memilih tidur di Kapal Motor yang lagi berlabuh di Waiteba. Waktu menghadap dengan saya mereka bilang: Waiteba itu seperti selembar daun di atas laut. Artinya, ia sudah berada di atas air laut bila terjadi longsor dan tsunami.

(Catatan ambahan kesaksian Rm Sebast Uran Bala, Pr, sesuai kesaksian orangtuanya: Para geolog dari BAndung dan Perancis juga menunjukkan kepada tentang jalur merah yang menurut mereka bila terjadi sebuah gempa yang besar, Lembata akan terbelah jadi dua mengikuti jalur merah tersebut. Zona merah itu mulai dari Leragere melalui Karangora, menjurus hingga Paulolong hingga Labala. Untuk itu orang Waiwejak mengungsi ke Paulolo, sementara orang Watuwawer, Lerek, Atawolo, Tobilolong, dan Lamanuna, akan bersatu menjadi satu pulau tersendiri)

waiteba3Apa tindak lanjut segera setelah mendengar paparan yang sangat menyeramkan dari para ahli geologi?

Saya segera mengontak bupati Flotim waktu itu Markus Weking. Setelah saya sampaikan pendapat para ahli, bupati setuju agar saya mengambil tindakan nyata. Dua sekolah langsung saya perintahkan untuk dipindahkan. SD Inpres dipindahkan ke daerah pinggiran, sebelah sungai. Sementara SMP Budi Bhakti, saya pindahkan ke Waiwejak. Hal itu dilakukan pada akhir Mei 1979 atau hanya sebulan sebelum bencana. Para pegawai awalnya sangat berkeberatan karena kondisi Karangora belum siap. Tetapi saya buat pendekatan dengan Kepala Desa Karangora dan mulai mempersiapkan rumah di Karangora. Masyarakat kemudian turun bahu membahu membongkar rumah para pegawai dan segera mendirikan rumah sementara di Karangora.

Apa reaksi masyarakat saat diperintahkan camat untuk pindah?

Tidak mudah menerima instruksi pemindahan itu. Bagi mereka, Waiteba adalah tempat yang sangat nyaman, kaya ikan, daerah dataran rendah, dekat sungai besar (Wairajan), tanahnya subur, dan sebagainya. Banyak orang yang tidak terima. Saya diserang habis-habisan. Ada seorang bapak yang bernama GN sangat menentang hal ini. Tetapi saya pun tetap tegas mengambil sikap. Sialnya, pada saat kejadian bencana, sang bapak itu tewas dan merupakan orang pertama yang ditemukan mayatnya. Dengan segala permohonan maaf, di depan mayat itu saya marah:  “Bapak kan mau mati sendiri, pdahal saha sudah berusaha. Bapak sendiri bunuh diri sendiri”. 

Apa kata Ben Mboi, gubernur NTT saat mengunjungi para pengungsi di Karangora?

Di hadapan para pengungsi, gubernur mengatakan, pemerintah daerah sudah meminta masyarakat untuk pindah tetapi mereka tidak dengarkan. Pernyataan itu langsung disambut suara ‘huy….’ sebagai protes besar.  Karena masyarakat tahu bahwa justeru sang gubernur yang tidak merestui perpindahan ibu kota kecamatan. Alasannya sederhana saja, bila ada bencana, cukup saja dengan bunyi lonceng, maka semua masyarakat bisa lari menyelamatkan diri. Gubernur sangat mempertahankan agar masyarakat tidak usah pindah ke Karangora atau Watugolok. (Catatan tambahan dari Peter Apollonarius Rohi, wartawan Sinar Harapan saat itu yang meliput dan mengawaskan bencana, menulis di Suara Pembaruan. Masyarakat menggunakn informasi itu untuk segera pindah tetapi sang gubernur bilang, jangan dengan dari wartawan. Kita harus dengar dari ahli geologi). ben-mboiSebagai camat, apa reaksi Ben Mboi, saat mengetahui bahwa bapak sudah memindahkan ibu kota kecamatan padahal pemindahan ibu kota harus melalui SK Gubernur?

Pak Ben Mboi sangat marah. Ia mengatakan saya camat banci, penakut, tidak berani berada dengan masyarakat. Camat malah lari dari kenyataan dan meninggalkan rakyat sendirian. Saya hanya diam saja. Saya ingat ada ungkapan: Hanya ada dua pasal tentang seorang pemimpin. Pasal pertama, “Ia tidak pernah salah”. Pasal 2, “Kalau pemimpin salah, maka kembali ke pasal satu”. Saya hanya tunduk saat dibentak dan dimarahi di depan masyarakat. Gubenur mencabut sebatang singkong dan mengatakan bahwa tanah Waiteba amat subur dan masyarakat harus tinggal di sana dan tidak perlu cemas. Bagi Ben Mboi, cukup saja dengan bunyi lonceng, sudah cukup masyarakat terbantu untuk bisa menyelamatkan diri. Kenyataan, di tengah malam seperti pada 18 Juli saat itu, semua orang lelap tertidur dan tidak ada bunyi lonceng sekalipun. Kalau pun dibunyikan, pasti tidak ada yang mendengarkannya.

Apakah gubernur meminta maaf setelah kejadian itu?

Saya rasa seperti saya katakan, tidak mungkin seorang pemimpin mengakui kekeliruan. Secara pribadi, saya merasa bahwa kejadian itu pasti direfleksikan secara khusus untuk gubernur. Itu bagi saya sudah cukup. Tapi yang mengherankan saya, setahun setelah bencana itu, tiba-tiba saya dipanggil untuk studi lanjut di Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta. Saya tanya bupati, kenapa saya harus pergi, padahal saya sendiri tidak mengusulkan dan juga bupati tidak mengusulkan juga? Kemudian saya tahu, bisa saja tindakan menyekolahkan saya adalah salah satu bentuk ucapan terima kasih dari pemerintah provinsi atas apa yang saya sudah lakukan di Atadei (itu tafsiran saya).waiteba2Apa pesan bapak untuk generasi muda Atadei?

Saya punya dua pesan. Yang pertama, saya sangat menghendaki agar anak muda, generasi kini ada yang mendedikasikan diri untuk mendalami geologi. Saya sangat bermimpi agar banyak anak dari Paroki Lerek khususnya mendalami ilmu mati ini karena kita memang hidup di daerah yang sangat rawan bencana. Nama ‘Atadei’, orang yang selalu berdiri menunjukkan bahwa setiap saat kita harus selalu siap karena bencana bisa datang setiap saat.

Ilmu geologi ini juga perlu diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah di Atadei supaya mereka tahu tentang kondisi alam mereka. Mereka tahu tentang tindakan mitigasi bencana dan bagaimana hidup seirama dengan alam. Contohnya saja bagaimana membangun rumah mereka. Orang Atadei punya kebajikan lokal dengan membangun rumah dari kayu tanpa bahan bangunan yang berat. Hal ini yang harus dipertahankan. Memang saya dengar sudah banyak orang yang melupakan rumah kayu dan memilih rumah tembok. Untuk Atadei, tentu sangat berbahaya kalau rumah kita seperti itu. Bila ada gempa hebat, rumah kita bisa jadi kubur kita.

Kedua, saya sangat mengharapkan agar Waiteba tidak dihuni lagi. Longsoran itu sudah tidak bisa dilawan lagi. Kondisi tanah sudah sangat rentan sehingga masyarakat tidak bisa kembali menghuni lagi. Hal ini sangat saya tentang karena saya dengar ada yang mau membuka menjadi pemukiman. Itu sangat berbahaya. Saya sangat harapkan agar pemerintah Kecamatan Atadei secara proaktif melarang pemukiman kembali Waiteba.

Ketiga, belajar dari kisah di Waiteba, saya sangat mengharapkan agar para pemimpin percaya pada ilmu pengetahuan. Para ahli geologi itu telah mempelajari gejala alam dan sudah memberitahukan bahaya yang ada di depan mata kita. Sayangnya kita yang punya kuasa kadang bertindak melampaui kompetensi kita. Tragedi Waiteba adalah salah satu contoh para pemimpin salah menafsir kompetensinya dalam kaitan dengan studi para ahli.

Apa kenangan lain tak berhubungan dengan bencana Waiteba tetapi sulit terlupakan tentang orang Atadei?

Sudah 36 tahun saya tinggalkan Atadei tetapi kenangan masih sangat segar saya ingat. Saya adalah muslim di sebuah kecamatan yang hampir 95 % Katolik. Tetapi saya tidak pernah merasa sendirian karena hubungan saya dengan masyarakat sangat baik.

Saat saya kunjungi desa-desa, masyarakat selalu menghargai dan tahu apa yang seharusnya dibuat oleh seorang pemimpin muslim. Bila mereka memotong ayam, itu harus dilakukan sendiri oleh saya dengan membacakan ‘bismillah’. Sebegitu penghargaan yang saya terima.

Yang paling saya ingat juga karena 17 hari sebelum bencana, ada peristiwa tahbisan imam baru di Lerek. Dua putera asal Paroki Lerek, Pater Paulus Pemulet Namang SVD (dari Atawolo) dan P. Andreas Mua Tolok, SVD (dari Lerek). Menjelang peristiwa itu, dua panitia dari kampung berbeda itu bercekcok. Saya mengirim surat panggilan agar kedua kepanitian itu ke Waiteba bertemu camat.

Inti pertemuan saat itu, saya ‘berhentikan dua panitia’. Saya bilang, mulai saat ini yang jadi Ketua Panitia adalah Camat Atadei. Saya juga tetapkan agar tahbisan berlangsung di Lerek sebagai pusat paroki. Dengan menjadi ketua panitia, saya juga perintahkan masyarakat di Lebala yang mayoritasnya muslim untuk menyambut uskup secara meriah di pelabuhan laut Lebala. Mereka pun melakukannya. Hal itu begitu saya ingat, sebuah contoh toleransi yang sangat menyentuh.ben-mboi1

Mengapa bapak bisa sangat diterima di wilayah yang mayoritasnya Katolik?

Ini pertanyaan yang bagus sekali. Kalau orang bilang saya ini muslim, memang itulah agama saya. Tetapi mungkin orang tidak tahu bahwa saya ini juga ‘katolik’. Mengapa? Seluruh pendidikan saya mulai dari SD sampai SMA di sekolah Katolik karena itu saya tahu dengan sangat baik hal yang berkaitan dengan agama Katolik. Saya SD di SRK (Sekolah Rayat Katolik) Kedang. Kemudian saya lanjutkan di SMP Katolik Paladya Waiwerang. Selanjutnya saya belajar di SMA Katolik Giovani angkatan pertama di Kupang. Dari seluruh perjalanan saya, banyak hal yang saya timbah dari orang katolik tentang spirit pelayanan, persaudaraan, cintakasih yang nilai-nilai itu juga ada dalam setiap agama termasuk agama saya Islam. Di sana yang diajarkan adalah tentang kebaikan. Kalau kita berbuat baik dan melaksanakan cinta kasih maka itu sudah cukup akan diterima kapan saja. Jadi tidak bergantung pada agama kita tetapi lebih pada praktik hidup kita. Itulah yang saya lakukan.

Melihat kembali peristiwa Waiteba, bisa disimpulkan bahwa Anda adalah camat bandel?
Masing-masing orang bisa berpendapat dan saya tidak berkeberatan. Kalau disebut ‘bandel’ bisa ada benarnya karena saat itu ‘hanya seorang camat’, saya melakukan tindakan berani memindahkan masyarakat tanpa restu dari gubernur. Saya melakukan hal itu karena hati nurani saya mengatakan bahwa kesaksian para ahli adalah yang harus kita dengar. Selain itu saya dengar setiap hari laporan tentang tanah retak dan saya sangat yakin bahwa kesaksian mereka itu benar.

Selain itu saya merasa bersyukur karena sebelum peristiwa itu, saya telah melakukan dalam batas-batas wewenang saya. Saya memang menyesal karena korban itu terlalu banyak dan merasa pedih dengan mereka yang ditinggal pergi oleh keluarga yang menjadi korban. Tetapi penyesalan tidak bisa seterusnya. Kita semua diajak untuk bangun kembali belajar dari peristiwa masa lalu dan berbuat sesuatu untuk tidak mengulang lagi kesalahan masa lalu. Hal terakhir yang saya tidak mau supaya dilupakan adalah ajakan agar kita tidak boleh melupakan tragedi ini. Karena kita hidup di daerah gempa, cincin api, maka bencana alam itu harus membuat kita selalu waspada. Saya sendiri berusaha mengingatkan masyarakat agar desa-desa yang tenggelam (Tubuk Rajan (Waiteba), Pantai Harapan (Botan), dan Leba Ata (Bauraja/ Atalojo)  itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Setelah gempa itu saya tetap gunakan tiga nama itu tetapi di tempat lain di kecamatan Atadei yakni: Tubuk Rajan menjadi nama desa Kolilerek), LebaAta jadi nama desa di Paulolong), dan Pantai Harapan jadi nama desa untuk Semuki, sekarang Kecamatan Wulandoni. Inilah salah satu cara kita menyegarkan selalu kenangan masa lalu agar terus diingat.

SEKILAS RIWAYAT HIDUP

Yusuf Dolu, Lahir 17 Juni 1944 di Oelea Kedang. Menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat Katolik (SRK) Kedang pada tahun 1959. Melanjutkan pendidikan di SMP Katolik Paladya Waiwerang tahun 1959 – 1962. Pendidikan SMA di SMA Katolik Giovani angkatan Pertama di Kupang.Sempat kuliah di IKIP Malang cabang Kupang. Kemudian pindah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Kupang hingga tamat pata tahun 1973.

Setelah tamat, melewati masa karya sebagai Camat Perwakilan Adonara Timur (1973 – 1976). Sebagai camat sepenuhnya di Atadei (1976 – 1980).

Setelah tuags sebagai camat, sebagai ‘apresiasi’ diberi kesempatan belajar di Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta (1980 – 1983). Saat kembali ke Larantuka, dan setelah membantu sebagai tenaga ahli, kemudian ditempatkan sebagai camat di Adonara Timur selama 6 tahun (1984 – 1990). Tugas selanjutnya sempat ditempatkan di BP7 Kabupaten Flotim hingga pensiun pada tahun 1999.

Setelah masa pensiun, dengan pengalaman yang ada, dipercayakan sebagai Ketua dan anggota KPUD selamat 10 tahun. (Sumber: Robert Bala, wawancara via telepon Minggu 11 September; Kesaksian Peter Apollonarius Rohi; dan tambahan sumber berupa kisah lisan para saksi).

Advertisements