WAITEBA, TSUNAMI, DAN MEMORIA PASIONIS

WAITEBA, TSUNAMI, SEBUAH MEMORIA PASIONIS

Mengenang kembali sebuah tragedi 37 tahun lalu? Terlalu pedih untuk diungkapkan, kata seorang facebooker. Kematian orang terdekat membuatnya lebih memilih tidak mengungkit kembali. Membicarakan berarti membuka luka hal mana membuat ia tidak mau berkisah.

Tetapi apakah kenangan penderitaan (memoria pasionis) itu lebih baik dibungkam dalam-dalam? Ataukah butuh kebesaran hati untuk membukanya tentu tidak sekedar untuk saling memersalahkan tetapi membuka ruang pembelajaran? Gugatan ini penting karena tanpa sebuah refleksi mendalam, kita bisa jatuh pada kesalahan yang sama.

Kisah Tragis

Tanggal 18 Juli 1979 atau 19 Juli 1979 dini hari adalah hari yang paling mengenaskan. Di Paroki Lerek, tempat di mana Waiteba menjadi salah satu stasinya barusan dilangsungkan penahbisan dua imam sulung masing-masing dari Lerek (P. Ande Mua, SVD) dan dari Atawolo (P. Paul Pemulet, SVD).waiteba

Tidak lebih dari itu, camat Atadei yang seorang muslim, Yusuf Dolu, BA menjadi Ketua Umum Panitia Tahbisan. Sehari sebelumnya ia memerintahkan warga muslim di Lebala untuk menyambut uskup secara meriah di desanya dan mengaraknya ke Lerek.

Kisah suka itu berubah jadi duka. Dalam sekejab, tanah longsor di atas Waiteba (Batanamang Bauraja) terempas menurun disambut gelombang pasang setinggi 50 meter. Air selanjutnya menggenangi hampir seluruh permukaan teluk dan tanjung yang membujur sepanjang 12 km pantai dengan lebar 500 – 600 meter.

Korban yang berada di daerah rendah seperti Waiteba adalah yang terbanyak. Seluruhnya mencapai 539 orang tewas dan 364 orang hilang, dan 470 orang lainnya menderita. Angka yang sangat besar karena mestinya hal itu sudah bisa diantisipasi.

Setengah tahun sebelumnya, Peter Apollonarius Rohi, wartawan Sinar Harapan sudah menyusuri Lembata hanya demi membawa kabar bahwa Waiteba akan dilahap bencana. Tujuan utama kehadiran Rohi pada bulan November itu sebenarnya untuk ibadah 40 hari kepergian sang ibunda tercinta JANSE KATHIE ROHI BALENDOR yang wafat pada  31 Oktober 1978.  Tetapi tulisan yang kemudian dijadikan berita utama di Sinar Harapan itu ditanggapi sepeleh oleh Gubernur NTT, Ben Mboi. Kepada masyarakat ia sampaikan agar ‘jangan percaya apa yang dikatakan wartawan, melainkan yang dikatakan para ahli).

Camat Atadei, Yusuf Dolu BA sebagai orang lapangan justeru lebih gesit mengambil sikap. Ia memindahkan Ibu Kota kecamatan dari Waiteba ke Karangora, hal mana membuat gubernur sangat marah. Di depan rakyat ia membentak dan menghardik sang camat dan mengatainya “banci’ karena tidak berani tinggal dengan masyarakat melainkan lari.  Juga ia tidak setuju karena sekolah SD (SD Inpres) dan SMP Budi Bhakti dipindahkan.  Tetapi hal itu tidak membuat sang camat mundur selangkah. Justeru saat terjadi bencana, keberanian itu diacungi jempol.

Untuk keberanian itu, ia harus dihardik sang gubernur, Ben Mboi. Ia tunduk merendah tetapi sesudah itu ia merasa lebih bertanggungjawab atas hidup dan mati warganya dan secara gigih dengan hanya didukung bupati, memindahkan warga ke Karangora. waiteba3Kondisi Tanah Longsor setelah 37 tahun. Tanah masih labil dan setiap kali bisa diterpa kembali longsor.

Dolu punya keyakinan, para 3 geolog dari Bandung yang datang pada bulan Juni saat itu, salah seorang berasal dari Perancis begitu seram memberikan gambaran. Mereka bahkan tidak mau tinggal di darat dan hanya bermalam di atas kapal motornya karena tahu bahwa bencana tinggal tunggu hari.

Namun suara itu tidak didengar. Masyarakat ada yang sangat menentang camat. Dikisahkan Dolu, di hari yang nahas itu, ada seorang bapak yang ditemukan pertama sebagai korban meninggal. Di depan mayat ia masih marah: “Bapak telah bunuh diri sendiri karena begitu menentang supaya dipindahkan”.waiteba4

Yang tak kurang adalah sang gubernur, Ben Mboi. Selain menyepelehkan wartawan, ia juga tidak mendukung sang camat. Ia mencabut sebatang ubi singkong dan menunjukkan bahwa masyarakat tidak perlu pindah. Sebuah kecerobohan yang tidak diakui sang gubernur di hari bencana. Ia hanya terdiam sambil mengatakan bahwa pemerintah sudah memperingatkan masyarakat, hal mana disambut dengan nada ‘hurah’ dari masyarakat.

Tidak Boleh Dilupakan

Kisah tragedi itu sudah 37 tahun lalu apakah akan dilupakan begitu saja? Yang tidak boleh dilupakan adalah kesadaran bahwa kecakapan lokal yang diwakili oleh kebijaksanaan sang camat mestinya tidak boleh dianggap sepeleh. Dengan hidup dan berinteraksi di daerahnya, ia tahu tentang alam. Ia juga tahu bahwa tiba saatnya harus pergi karena bukti sudah cukup.waiteba2

Dengan sangat keras ia memindahkan ibu kota kecamatan ke Karangora padahal itu wewenang propinsi (yang baru diwujudkan setahun kemudian). Keberanian ini sangat dibutuhkan mengingat wilayah yang begitu luas tidak bisa dipimpin secara sentralis tanpa memerhitungkan kekhasan tiap wilayah.

Yang juta tidak boleh dilupakan juga adalah kesadaran tentang kondisi geografis dan geologis. Secara geografis kondisi tanah yang membentang dari Waiteba sampai puncak yang tertinggi di Bauraja adalah tanah yang mudah longsor. Kerap ada bunyi besar saat menginjakkan kaki di bagian tanah tertentu pratanda bahwa ada rongga mengaga. Secara geologis, rangkaian gunung parasiter di Ile Werung memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kondisi longsor karena berjarak di bawah 10 km.waiteba5

Kondisi itu tentu sangat rentah terhadap longsor (landslide). Dengan demikian, longsor yang terjadi pada tahun 1979 hanyalah awal dari rangkaian panjang bencana. Setelah sebauh periode tertentu, lebih lagi ketika memoria pasionis tragedi itu dilupakan, ia akan kembali lagi. Dengan demikian memoria pasionis itu mestinya tidak boleh dilupakan. Ia perlu dijadikan pembelajaran agar sebauh proses kreatif selalu tercipta sebagai tindak lanjut.

Sayangnya memoria pasionis ini kerap dipinggirkan. Waiteba, mestinya secara administratif dalam level apapun pemerintahan (misalnya RT) tidak bisa diadakan. Pemerintah perlu secara sangat keras melawan ide pemukiman kembali. Sayangnya peringatan ini kini dalam bahaya dilupakan, demikian harap sang mantan Camat Atadei, Drs Yusuf Dolu (Dolu berkisah setelah tragedi, ia dapat ‘surprise’ disekolahkan sampai jadi sarjana, padahal ia tidak pernah meminta studi lanjut. Apakah itu ‘hadiah’ dari Gubernur’ sekaligus permohonan maaf tidak langsung?)yusuf-dolu-baDrs Yusuf Dolu (Camat Atadei 1976 – 1980).

Yang paling tidak boleh dilupakan adalah komitmen mempelajari geografis dan geologi. Masyarakat Atadei khususnya di daerah Paroki Lerek mestinya tahu bahwa dari namanya “Atadei” Orang yang selalu berdiri ia sadar dirinya tidak pernah duduk tenang. Yang terjadi, ia harus siap berlari karena daerahnya akan selalu dihantui bencana alam berupa gempa dan akibat lahar panas dan abu vulkanik dari letusan gunung api.peter-a-rohi-waiteba

Peter Apollonarius Rohi dan komitmen ‘profetis’ jurnalistik. Mengingatkan sebelum bencana.

Dengan kesadaran itu masyarakat bisa membangun wilayahnya searah dengan tuntutan alam. Rumah penduduk mestinya dari kayu yang disetel begitu elastis sehingga tidak akan runtuh seperti rumah bersemen / batu. Sayangnya hal ini terlupakan. Tidak sedikit masyarakat berlomba-lomba membuat rumah ‘megah’ berdinding tembok yang disemen, dan nyaris tidak ada lagi rumah kayu. Masyarakat lupa akan kebajikan lokal dan ‘terhipnotis’ dengan tuntutan zaman yang nota bene tidak akrab dengan tuntutan alam.

Kesadaran geologis dan geografis seperti ini pun sangat minim masuk sebagai muatan lokal dalam pendidikan. Para siswa berkembang dengan mengetahui kondisi geologis yang terjadi di wilayah Jawa, tetapi nyaris mengetahui tentang kondisi geologis di mana gunung Hobal yang ada dalam laut Sawu yang merupakan gunung api teraktif di seluruh Indonesia itu bisa saja tidak diketahui.yusuf-dolu-ba3

“Jangan lagi huni Waiteba”, Drs Yusuf Dolu (Camat Atadei 1976-1980).

Bisa dibayangkan bahwa pendidikan nyaris menjadi inspirasi bagi anak. Cita-cita mendalami geologi bisa saja jauh dari harapan karena masyarakat yang membingkainya pun awam terhadap masalah itu. Dengan demikian kesadaran baru seperti ini mestinya terus dimiliki bahwa kesadaran itu harus tumbuh dari kecil. Dari awal, anak diberi pemahaman geologis hal mana memotivasi agar kelak mereka bisa juga mempelajari dan menjadi ahli.Pada akhirnya memoria pasionis ada sekedar mengingatkan bahwa pengalaman tragis tidak saja perlu diingat tetapi jadi pembelajaran. Hanya dengan demikian kenangan derita itu menyelamatkan orang kini dan tidak menjadi korban lagi.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.