“Dragon” di Timor Leste

“Dragon” di Timor Leste

(Kompas, Kamis 30 Juli 2009)

”The Dragon’s Newest Friend”, demikian discussion paper Loro Horta membahasakan situasi di Timor Leste. Sambil mengutip The Australian (16/4/2008), ”Alarm at China’s Influence in East Timor”, Horta gamblang mengklaim China adalah naga yang dimaksud dan Timor Leste ”sahabatnya”.

Apa di balik persahabatan itu? Bagi Indonesia yang secara geografis dan kultural memiliki kedekatan, aneka kejadian di negara masih ”hijau” (fledging state) itu perlu ditanggapi serius.

Kawan lama

Secara historis, RRC-Timor Leste merupakan teman lama. Delapan abad lalu, Dinasti Ming sudah mendarat di Timor, mencari kayu gaharu (sandalwood).

Ikatan persaudaraan itu kian kuat saat Makau (di selatan China) dan Timor Leste sama-sama jajahan Portugal. Mobilisasi warga tak terelakkan. Hingga kini diperkirakan 1 persen warga Timor Leste adalah Tionghoa.

Jalinan itu terus terbina bahkan saat Timor Timur menjadi salah satu provinsi Indonesia. China terus menjalin kontak ”bawah tanah” dengan Ramos Horta dan Mari Alkatiri. Aneka bantuan pun diberikan.

Relasi kian jelas saat terjadi penentuan pendapat. RRC mengirimkan 55 polisi untuk menjaga perdamaian. Selanjutnya, saat Timor Leste secara resmi berdiri, China menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan itu, diikuti pembukaan hubungan diplomatik sesudahnya.

Kerja sama pragmatik

Meski secara emosional-historis dekat, hingga 2007 bantuan China kepada Timor Leste ”baru” mencapai 34 juta dollar AS. Angka itu amat rendah bila dibandingkan dengan Portugal yang membantu 472 juta dollar AS, Australia 430 juta dollar AS, Jepang 210 juta dollar AS, maupun AS sendiri 86 juta dollar AS.

China cukup cerdik. Ketika negara lain mengarahkan bantuan demi membangun pertanian, pendidikan, atau infrastruktur, China justru merebut simpati elite Timor Leste dengan membangun gedung mewah, baik istana presiden, kantor kementerian luar negeri, kantor kementerian pertahanan, maupun markas angkatan bersenjata.

Tidak hanya itu, China ingin membangun rumah sakit yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat. Yang lebih mencolok, saat kelaparan melanda, tidak kurang dari 3.000 ton beras dan 500 ton minyak goreng didonasikan. Rakyat merasakan, China adalah sahabat dalam arti sebenarnya.

Bantuan ini adalah ekspresi penggunaan soft power dalam diplomasi China, tulis Joshua Kurlantzick dalam Charm Offensive. How China’s Soft Power is Changing the World (2007). Pada saat bersamaan, hal itu juga sejalan dengan kebutuhan Timor Leste, demikian Menlu Zacarias Albano da Costa dalam kunjungannya ke China (Diplomacy Monitor, 5/6/2009).

Yang dibutuhkan di bumi Lorosae adalah model kerja sama pragmatik (pragmatic cooperation) yang menyentuh masalah nyata seperti sandang, pangan, dan papan, bukan janji atau proyek yang masih harus diwujudkan dalam jangka panjang.

Jalinan kasih

Strategi China di Timor Leste tentu saja ”mencemaskan”. Australia dan Portugal sebagai donatur terbesar, misalnya, mengharapkan untuk memonopolisasi eksplorasi minyak dan gas. Australia bahkan sudah berencana membangun pipa minyak melewati Laut Timor menuju Darwin untuk diproses di sana.

Namun, keputusan akhir ada pada elite. Jasa baik China membangun gedung pemerintah dan pendekatan kemanusiaan (seperti beasiswa dan training pegawai negeri) tidak bisa dilupakan begitu saja. Ia bisa mengarah kepada China. Terbukti sejak 2004, perusahaan minyak PetroChina sudah menjajaki kemungkinan mengeksplorasi minyak dan gas.

Untuk Indonesia, kedekatan China di Timor Leste perlu disikapi. Ada kekhawatiran, strategi China yang awalnya sekadar soft power bisa berakhir dengan hard power. Artinya, bila dipercayai, China akan membangun bandar udara dan pelabuhan laut baru. Bukan mustahil, rencana itu akhirnya bermuara pada pembangunan pangkalan militer. Impian China mengimbangi kekuatan AS di Asia Tenggara mendekati kenyataan.

Bila itu terjadi, kekuatan militer akan menjadi tandingan, bahkan melampaui kita. Belum lagi kehadiran ratusan kapal patroli laut yang akan mengawasi 873 km garis pantainya. Akibatnya sudah pasti. Posisi tawar kita terhadap Celah Timor akan melemah dan pengalaman pahit dipermainkan Malaysia dalam kasus Ambalat dapat terulang lagi.

Mengantisipasi dampak yang lebih besar, tidak ada pilihan selain berbenah. Luka lama akibat terlepasnya Timor Leste cepat dibalut, kalau perlu disembuhkan. Jalinan kasih dan aneka kerja sama pragmatik yang menyentuh relung rakyat dan elite Timor Leste perlu digalakkan. Hanya dengan demikian, mereka merasakan, ternyata lebih menguntungkan mengadakan relasi dengan Indonesia.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan di Asia Pasifik. Universidad Complutense de Madrid Spanyol. Sumber: Kompas 30 Juli 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s