Di Balik Dukungan Spanyol kepada AS

Di Balik Dukungan Spanyol kepada AS

(Kompas, 19 Maret 2003)


Apa niat Spanyol di balik dukungannya atas Amerika Serikat (AS) dalam konflik di Irak? Demikian tanya Tarek Aziz kepada delegasi Spanyol dari sebuah lembaga swadaya yang memperjuangkan pembatalan embargo atas Irak (CELSI).

Ya, pertanyaan Wakil Perdana Menteri Irak itu beralasan. Ekspor Spanyol ke Irak, yang tercatat 400 juta dollar, tidaklah terlalu jelek ketika ditempatkan dalam konteks penukaran minyak bumi dengan bahan makanan. Tetapi yang lebih mengherankan Aziz, barangkali kontradiksi antara Presiden Spanyol Jose Maria Aznar dan dambaan warga Spanyol sebagaimana ditunjukkan oleh Centro de Investigaciones Sociales (CIS) baru-baru ini.

Menurut CIS, 70 persen warga Spanyol menolak perang. Hanya 13 persen setuju perang; itu pun dengan syarat asalkan ada dukungan dari PBB. Berapa yang menyatakan “ya” tanpa embel-embel? Hanya empat persen!

Tetapi aneh. Bila di Inggris, Andrew Reed dari Partai Buruh mengundurkan diri dan diikuti ancaman dari menteri Claire Short, partai Partido Popular pimpinan Aznar begitu solid mendukung Bush. Menjadi tanda tanya, ada apa di baliknya?

Mengidentikkan Sadam Hussein ke dalam “poros kejahatan” (el eje del mal) sebagai alasan merupakan argumen yang jauh dari realistis. Irak tidak lagi memiliki persenjataan berarti (sebagaimana diakui Tim Penyelidik PBB). Kini, ia seakan ompong buat menggigit kecanggihan persenjataan AS, apalagi setelah rudal-rudal Al Samoudnya didestruksi.

Selain itu, dua belas tahun, penderitaan Irak akibat embargo adalah teramat jelas untuk tidak menggolongkannya berbahaya. Warga Spanyol, karena itu, sangsi akan loyalitas presidennya yang menelan bulat setiap argumen AS dalam menuduh bahwa Irak merupakan bahaya bagi dunia. Penolakan Spanyol (mengikuti AS) atas kesimpulan Tim Penyelidik PBB sebagaimana dilaporkan oleh Hans Blix dan Mohammed ElBaradei juga merupakan pelecehan terhadap lembaga dunia itu, sekaligus mendorong dunia kepada ketegangan baru.

Aznar mungkin punya perhitungan lain. Di dalam negeri ia terkenal gigih memperjuangkan integritas bangsa. Kehadiran kelompok separatis ETA, merupakan sebuah ancaman yang serius. Untuk itu, “belas kasihan” negara Paman Sam yang cukup terlatih dalam menangani kasus terorisme amat dinantikan.

Bukan itu saja. Setelah Pacto Moncloa (1978), kiprah perusahaan-perusahaan Spanyol ternama seperti BBVA, SCH, Repsol-YPF, Telefonica, PRISA di Amerika Latin hanya akan terus meraup keuntungan berkat garansi keamanan dari AS. Pada saat yang sama, negara dari Cervantes itu menanti restu negara Paman Sam buat menjadikannya anggota G-8.

Spanyol juga memiliki kepentingan di Afrika. Meski saat ini sedang mengalami bulan madu dengan Maroko dan relasi mesra dengan Argelia dari Buteflika serta Tunisia dari Ben Ali, tetapi Spanyol sangsi akan masa depannya di Ceuta dan Melilla, dua koloninya di Afrika. Peristiwa Leila-Perejil, merupakan indikasi teramat jelas bahwa tanpa uluran tangan Amerika, rasanya sulit meramalkan kelanjutannya di bumi Afrika itu.

Tawaran Spanyol tidak disia-siakan oleh Amerika. Kini giliran AS menuntut balas budi yang setimpal, atau paling kurang berada di belakang setiap kebijakan AS. Makanya, semenjak 11 September Aznar begitu loyal terhadap setiap tesis Bush tentang terorisme.

Pidato Aznar terkesan hanya sekadar terjemahan dari kehendak politik Bush; dan ini mengingatkan orang akan konflik psikohistoris yang pernah terjadi pada tahun 1898. Saat itu Spanyol berjanji untuk selalu “setia” sehidup-semati, bergandengan tangan AS dalam politik luar negeri. Hipotesis ini tidak seluruhnya keliru, bahkan terbukti dalam beberapa kasus berikut.

Semenjak awal tahun 2001, Amerika punya ide untuk menguasai minyak di Laut Caspio, Asia Tengah, yang katanya memiliki 200.000 juta barel. Pipa minyak akan dibangun dari Kazajstán melintasi Afganistan untuk sampai ke Malta.

Untuk tujuan itu penguasaan atas Afganistan menjadi faktor penentu. Pasca 11 September, AS mendapat kesempatan masuk Afganistan dengan alasan memburu Bin Laden. Afganistan yang tak pernah membalas serangan itu begitu mudah ditaklukkan.

Namun, hasil penelitian pascainvasi mengecewakan. Kandungan minyak di laut Caspio hanya sekitar 10-20 juta barel, apalagi dengan kualitas sangat rendah.

IRAK pada gilirannya, yang mengira sudah luput dari bidikan Amerika, berusaha melancarkan politik luar negerinya ke Eropa. Perusahaan-perusahaan dari Jerman dan Perancis (ditambah juga dengan Rusia dan Cina) memperoleh tempat di hatinya (sementara perusahaan minyak Repsol-YPF dari Spanyol dianaktirikan).

Sadam yang “simpatik”, tidak selesai beraksi. Semenjak November 2000 ia menggunakan euro sebagai mata uang resmi dalam transaksi minyak bumi. Ia pun mengalihkan cadangan devisanya yang bernilai 10.000 juta dollar ke dalam euro.

Nilai dollar tak pelak jatuh dan akan semakin terpuruk kalau Iran dan Venezuela (yang lagi “dilirik” AS) juga berniat melewati jalur yang sama. Itu berarti, dollar yang semenjak tahun 1945 menjadi alat pembayaran dalam transaksi minyak bumi akan tergeser untuk tidak mengatakan ambruk.

Situasi stabilitas ekonomi yang tak pasti ini menguntungkan (paling kurang untuk sementara) Uni Eropa dengan semakin menguatnya euro. Dengan penduduk sekitar 450 juta jiwa pada tahun 2004, ia akan menjadi pemasok terbesar minyak bumi (33 persen lebih besar dari Amerika). Euro bahkan menjadi lebih kuat andaikata saja Denmark, Swiss, Norwegia, dan Inggris menggabungkan diri.

Dalam kondisi demikian, “jasa baik” Spanyol (dan Italia) dinantikan oleh AS buat mengganggu keutuhan Eropa. Aznar lantas menggunakan retorika yang disenangi oleh AS, yakni dalam pidatonya di Oxford, 20 Mei yang lalu ia menyatakan: “Uni Eropa adalah, dan akan terus demikian, kesatuan dari bangsa-bangsa yang memiliki watak, sejarah, budaya berbeda”. Itu berarti Spanyol dapat berbeda pendapat dengan Uni Eropa dalam kebijakan luar negerinya. Sebagai lanjutan, pada tanggal 30 Januari, ditandatangani “kesepakatan delapan negara Eropa” (Inggris, Spanyol, Portugis, Polandia, Den Mark, Checo, Italia, Hungaria) yang pada intinya mendukung semua tesis AS tentang Irak.

Di tengah angin segar dari negara Flamengo itu AS lantas merancang perang ke Irak. Sasaran minimal adalah menempatkan rezim yang lebih loyal terhadapnya. Irak yang dikendali, akan meningkatkan kuota produksi minyak; yang selain mengganggu otoritas OPEC, juga secara tidak langsung menendang Perancis dan Jerman yang selama ini diuntungkan oleh Saddam Hussein.

BAGI warga Spanyol, Aznar tengah menganyam sebuah ketidakpastian. Dengan keberpihakkannya kepada AS yang berdampak pada penderitaan tidak sedikit warga Arab, akan mengganggu jalinan emosional-historis yang selama ini cukup terpelihara. Peran pemersatu atau jembatan kultural guna menghubungkan dua pantai Mediteran terancam putus. Sementara Arab akan terus menjadi variabel signifikan buat Eropa bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk menjadi sebuah ancaman.

Pada level Uni Eropa, Aznar semakin tidak simpatik, khususnya dalam relasinya dengan Perancis dan Jerman. Kemajuan Spanyol yang selama dua puluh lima tahun terakhir tidak bisa terpikir tanpa investasi dari kedua negara tersebut akan mengalami nuansa lain. Sementara itu, diplomasi Spanyol dalam penerimaan negara-negara baru ke dalam Uni Eropa yang selama ini cukup didengarkan akan kehilangan gema.

Usaha Christ Pattern dan Solano dan diplomasi dari Yunani (Simitis dan Papandreu) serta tekad dari Schröder dan Chirac memasuki babak ketidakpastian. Bahkan, rencana penetapan Konstitusi Uni Eropa terancam gagal oleh politik luar negeri Aznar

Di dalam negeri, masa depan partai yang dipimpin Aznar semakin tidak populer. Zapatero dari Partai Sosial (PSOE) diperkirakan bakal meraih sukses pada pemilu mendatang. Tetapi, yang lebih penting adalah sikap skeptis warga Spanyol yang seakan tidak berhenti bertanya: Aznar, quo vadis?

Robert Bala. Mahasiswa Universidad Pontificia de Salamanca Madrid Spanyol. (Kompas 19 Maret 2003)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s