Diplomasi “Soft Power” Usai Tragedi

Diplomasi “Soft Power” Usai Tragedi

(13 September 2007)

Enam tahun lalu dua menara WTC di New York dan Pentagon di Washington digempur teroris. Sejak itu aneka refleksi tentang perubahan paradigma relasi internasional dibicarakan. Namun, mengapa hasil yang dinantikan masih jauh dari harapan?

Relasi internasional selalu ditandai upaya mendapat kekuasaan, tulis Viotti dan Kauppi dalam International Relations Theory, Realism, Pluralism, Globalism, and Beyond (1998). Tiap negara berusaha menunjukkan dirinya sebagai terbaik, minimal mengeliminasi cap tidak baik.

Namun, hal itu tidak mudah dicapai. Apalagi kekuasaan bersifat relatif. Ia mengandaikan negara lain. Atau menurut Klaus Knorr dalam El Poder de las Naciones (1981), kelemahan dan ketakberdayaan negara lain memungkinkan sebuah negara disebut berkuasa atau mahakuasa.

Wajah lain

Tragedi 11 September memaksa dunia internasional mengubah paradigma dalam berelasi. Cara-cara kasar, keras, dan militeristik (hard power atau poder duro) dinilai tak lagi pas. Metode koersif yang diibaratkan menggunakan rotan (kekuatan senjata) dirasa tidak lagi sesuai. Demikian juga cara-cara induksif. Meski tidak tampak kasar, kenyataannya tidak kalah sadis. Lawan digiring hingga berada pada situasi tanpa alternatif selain mengamini kehendak sang “pengendali”.

Kesadaran ini, menurut Joseph Nye (2004), melahirkan diplomasi lebih halus, lembut, dan (katanya lebih) manusiawi yang dikenal sebagai soft power atau poder blando. Di sana kekuasaan tidak lagi digapai melalui cara-cara kejam yang menyengsarakan. Lebih dari itu, kekuasaan hadir dengan sentuhan kemanusiaan. Ada usaha untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Pendekatan baru ini tidak memandang teknologi sebagai kekuatan destruktif, seperti kerap terjadi. Wajahnya lebih ramah karena mengedepankan dimensi konstruktif dan kontributif demi peningkatan kesejahteraan. Tidak hanya itu. Pendekatan sosio- kultural yang dilaksanakan dalam iklim toleransi amat diberi tempat. Dunia (diharapkan) menjadi lebih nyaman untuk dihuni bersama. Di sana perbedaan tidak menjadi halangan, tetapi kekayaan yang dibanggakan.

Jalinan kasih

Tanpa mengingkari aneka kemajuan dalam relasi internasional, perlu diakui, diplomasi soft power belum menunjukkan kemajuan berarti. Bahkan, dalam banyak hal, niat (yang katanya baik) mengenyahkan terorisme ternyata mendatangkan ketegangan, krisis, konflik, bahkan kekerasan baru.

Kegagalan ini seharusnya menjadi perhatian AS. Di tengah pamornya kian menurun, oleh cara-cara koersif dan induksif sebagaimana terjadi di Irak, si Paman Sam seharusnya mengadakan perubahan radikal, dengan kian memberi tempat pada keikhlasan dan kejujuran. Bantuan militer yang katanya diberikan untuk menjamin perdamaian di suatu negara hendaknya tidak sekadar retorika yang membungkus promosi penjualan senjata.

Tidak hanya itu. Konsep persaudaraan dan kesatuan sejagat yang menjadi tujuan diplomasi soft power perlu dilaksanakan secara konsekuen. Yang terjadi justru berbeda. Toleransi yang begitu dibanggakan kenyataannya merupakan konsep bersyarat. Ia dimengerti sejauh sejalan dengan kehendak “Bapa Kita” di Washington, yang terungkap dalam pidato George W Bush, “barangsiapa yang berada bersama kami adalah teman, yang di luar itu adalah lawan.”

Perubahan yang diharapkan dari AS bagaimanapun juga bukan prasyarat tunggal demi terciptanya perdamaian internasional. Ia perlu didukung peran aktif tiap bangsa. Elemen-elemen perekat relasi seharusnya lebih diutamakan. Sentuhan persaudaraan yang melibatkan kedekatan historis-kultural yang menumbuhkan rasa persaudaraan seharusnya kian diberi tempat. Sementara itu, aneka insiden bahkan kejadian yang jelas melukai rasa kemanusiaan dan punya potensi eksplosif dan eskalatif perlu diantisipasi (Kompas 30/8).

Iklim ini akan kian kondusif saat ditopang oleh peran komunitas lokal. Dengan kearifan para pemimpinnya serta kesahajaan warganya, diupayakan tercipta kantong-kantong persaudaraan. Mereka membentuk kekompakan yang mengedepankan toleransi yang ikhlas, solidaritas yang tulus, dan semangat konstruktif yang dominan. Di dalamnya, berbagai bibit konflik yang kontraproduktif terhadap penciptaan masyarakat yang aman dan damai dapat dihindari. Dari mereka juga tercipta jalinan kasih yang perlahan-lahan memutus rantai balas dendam.

Bila proses ini terwujud, dunia yang kita impikan mendekati kenyataan. Atau paling tidak mendekati kebenaran ungkapan John Jung, astronot, saat berada di Bulan. Sambil menatap Bumi yang dari Bulan tampak amat kecil, ia menulis dalam catatan harian, “Bumi di atas sana tampak begitu kecil hingga dapat tertampung di telapak tangan saya. Di sana, tidak ada hitam, putih, komunis ataupun demokrat. Bumi adalah rumah kita bersama, negeri kosmos. Kita semua harus belajar mencintai planet biru dan putih karena sedang terancam”.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian, Universidad Complutense de Madrid Spanyol. Sumber: Kompas 13 September 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s