Irak dan Paskah, Momen untuk Bertanya

Irak dan Paskah, Momen untuk Bertanya (Kompas, 19 April 2003)

INVASI atas Irak memasuki tahap final. Kota Baghdad dan Tikrit dengan mudah dikuasai pasukan Anglo-Amerika tanpa perlawanan berarti. Tetapi, berakhirnya perang tidak identik tercapainya tujuan. Ada pelbagai pertanyaan yang masih tersisa untuk dijawab. Mulai dari model demokrasi yang hendak dibangun, keberadaan Sadam Hussein, masa depan Irak, hingga tidak tertutup kemungkinan memperkirakan siapa korban berikutnya.

Demokratisasi sebagai salah satu tujuan invasi atas Irak, mendapat perlawanan sejak awal. Perancis, Rusia, dan Cina sebagai Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB mengancam bakal menggunakan hak (demokratis) veto buat mengilegitimasi maksud perang.

Uni Eropa, yang diwakili Christ Pattern dan Solano, Simitis dan Papandreu, serta duet Schröder dan Chirac memainkan peran diplomatisnya guna melerai rencana invasi. Seruan Liga Arab, permohonan negara-negara Non Blok, dan permintaan Paus Yohanes Paulus II, merupakan contoh yang mewakili usaha menghindari invasi. Tak cukup. Seluruh dunia menyatu dalam teriakan: “No War”. Perang (lebih tepat invasi) dengan demikian jauh disebut demokratis saat ia hanya memenuhi egoisme segelintir orang sambil meremehkan dambaan cinta damai dari hampir seluruh penghuni jagat.

Demokrasi sebagai tujuan kembali dipertanyakan, ketika seusai perang, kita berhadapan dengan inventarisasi atas korban yang jatuh. Menurut berita acak (karena membeberkan korban selama perang dapat menurunkan moral prajurit), ada 1.200 warga sipil, 100 tentara AS, dan 75 tentara Inggris, tewas, belum terhitung korban hilang.

ADAKAH demokrasi membutuhkan pertumpahan darah? Apakah para arwah tidak memiliki hak untuk menikmati janji demokrasi selagi mereka masih hidup? Bertanya demikian adalah beralasan, ketika yang hendak dibangun ternyata bukan demokrasi sebagai budaya, dalamnya nilai kemanusiaan yang adil dan beradab lebih dihargai, melainkan sekadar sebuah sistem eksternal yang dipaksakan. Invasi atas Irak, tak pelak telah menodai azas-azas demokratis. Bahkan orang kehilangan ide untuk membedakan antara sebuah pemerintahan demokratis dan otoriter, saat yang meraja adalah senjata dan arogansi.

Demokrasi sebagai sebuah sistem, biasanya pengejawantahannya tergantung figur tertentu. Dalam konteks Irak, Saddam Hussein, yang dianggap diktator, pemimpin otoriter merupakan penghalang. Sasaran invasi ke Irak dengan demikian tertuju penangkapan Saddam yang dalam logika AS, akan memungkinkan berdiri tegaknya demokrasi di negara yang dijuluki Negeri 1001 Malam.

Namun, di manakah Saddam Hussein berada? Jenderal Peter Pace, mengatakan, sejak bungker Saddam diperkirakan dihancurkan (20 Maret), tidak ada berita lagi tentang keberadaan pemimpin Irak berusia 65 tahun itu. Sementara menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld melihat penayangan gambar Saddam dan kedua putranya setelah itu sebagai rekaman ulang. Presiden AS George W Bush dalam kunjungannya kepada prajurit yang terluka akibat perang, hanya mengatakan, yang pasti Saddam tidak lagi ada di puncak kekuasaan.

Kemisteriusan Saddam mengingatkan dunia akan pemburuan terhadap Osama bin Laden, yang katanya sebagai “otak” tragedi 11 September 2001. Afganistan dengan mudah menjadi bulan-bulanan AS oleh sekadar tuduhan (tanpa justifikasi) sebagai tempat persembunyiannya. Muncul keanehan, agen Central Intelligence Agency (CIA) yang beranggaran tidak kurang dari 50 miliar dollar AS bukan hanya tidak mampu mendeteksi rencana serangan ke World Trade Center (WTC) dan Pentagon, bahkan kelihatan terus dipermainkan Bin Laden.

Kini Saddam mengulangi kisah yang sama hingga memberi tempat bagi mengungkapkan kecurigaan. Kemisteriusan para teroris (yang dikejar untuk tidak ditangkap) menguntungkan pemburunya. Di satu pihak, dunia tertawa saat sang pemburu (AS) yang bagai berkacamata gelap, yakin telah melihat dua ekor kucing hitam (Bin Laden dan Saddam) berlari di kegelapan malam.

Di sisi lain, “kemisteriusan” (Sadam Hussein) merupakan alasan “memperpanjang” kehadiran AS di Irak, juga terbuka kemungkinan buat melansirkan tuduhan kepada siapa pun dan negara mana pun dengan berbasiskan sekadar kecurigaan hal tersebut tengah dirasakah Suriah dan Iran. Bagi AS, kedua negara itu telah “berdosa” melawan bapa mahakuasa dari Washington. Yang satu dituduh berintervensi dalam pasokan militer (Suriah), Iran berdosa dengan pikiran, perkataan dan kelalaian, membiarkan pasukan oposisi yang tergabung dalam Brigadir Badr membantu Irak.

Presiden Bush tidak sekadar mengancam. Dalam deklarasinya, pengusaha minyak dari Texas sudah mengimbau Damaskus (ibu kota Suriah) untuk bekerja sama dengan AS dalam pemberantasan persenjataan pemusnah massal (yang mungkin disembunyikan oleh Saddam di sana?) kalau enggan mengulangi nasib sial Irak.

Sabda Bush itu menggoyang ekonomi Suriah dengan segera. Suriah sebagai agen terbesar Irak dalam era Saddam Hussein, yang menerima setiap hari 200.000 barrel minyak bumi, kini kehabisan nafkah. Perusahaan minyak Suriah telah mengomunikasikan kepada para klien internasionalnya tentang “berita duka: ini, sambil menanti ultimatum dari Washington.

Ancaman Bush memprihatinkan dunia. Rusia, melalui presidennya Vladimir Putin, Sabtu (12/4), mengimbau sang adidaya agar tidak menyerang negara lain lagi, setelah Irak. Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw, meski telah mengemukakan kepada rekannya dari Suriah, Faruk Shara tentang ketidaksetujuannya atas tuduhan AS, tetapi dunia tahu, arogansi AS tak akan begitu peduli pada saran rekannya sendiri.

DUNIA juga mempertanyakan keberadaan senjata pemusnah massal sebagaimana diumbar-umbar oleh negara Paman Sam. Setelah perang usai, Donald Rumsfeld hanya mengemukakan kecemasannya akan minimnya persenjataan yang sudah ditemukan. Mungkin sudah dipindahkan ke tempat lain, tandas petinggi militer AS.

Sementara itu, belum ada tanda-tanda memuaskan untuk menemukan 25.000 liter anthrax, 38.000 liter toksin botulinium, 2.200 liter aflatoxin, 500 ton gas saraf sarin, dan 1,5 ton VX, sebagaimana dituduhkan AS. Tetapi bila akhirnya ditemukan, sebagaimana optimisme Colin Powell, dunia menanti keikhlasan AS untuk mengakui, senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak, tidak mungkin ada tanpa bantuannya selama perang melawan Iran (1980-1988).

Akumulasi pertanyaan yang bernada curiga akan kehilangan gema, andai AS dapat memberi jawaban tepat pasca-invasi. Pasukan Anglo-Amerika tak pelak boleh digelari pembebas, saat jatuhnya pemerintahan diktator Saddam diikuti penyerahan mandat kepada PBB untuk berperan. Bahkan Bush akan menjadi pahlawan saat ia insaf bahwa warga Irak benci diktator Sadam, tetapi tidak berarti mereka mencintai AS.

Andaikan hal ini sempat direfleksi akan menjadi momen tepat buat mengangkat kaki, sambil menyerah wewenang kepada PBB yang sudah banyak kali tidak ditaati.

Namun, realitas berbicara lain. Sehari menjelang penguasaan Baghdad, Bush dan Tony Blair, dalam pembicaraannya di Kastil Hillsborough, di luar kota Belfast, Irlandia Utara, Selasa (8/4), hanya menjawab secara diplomatis. PBB, katanya akan diberi peran “vital”, tanpa penjelasan yang memuaskan.

Kecurigaan ternyata benar, saat tanpa tedeng aling-aling, Colin Powell membuka kartu. Baginya, AS enggan melepaskan Irak kepada PBB. AS, katanya perlu mengambil “peran utama”, oleh korban darah, politik, dan uang yang telah dikeluarkan buat membebaskan Irak. Jawaban AS seakan membuat dunia kehabisan ide buat bertanya. Niat AS meletakkan demokrasi di Irak ternyata bukan merupakan hadiah gratis. Ia perlu dibayar, yang harganya tentu tidak murah.

BUKAN kebetulan. Invasi Irak berakhir seminggu sebelum umat Kristen merayakan Paskah. Warga Kristen Irak dan tidak sedikit kaum Kristiani yang dipimpin Paus Yohanes Paulus II menyatu dalam derita mengais wajah Isa Al Masih yang terluka, terempas dalam diri mereka yang menjadi korban. Ia yang adalah Allah, hanya menjawab dalam teladan solidaritasnya dengan setiap drama kehidupan..

Kesaksian-Nya, ternyata sempat menggugah Pilatus, tokoh arogan untuk boleh bertanya kepada Yesus, sebelum drama ketidakadilan berakhir: apa artinya kebenaran? Ia insaf bahwa egoisme dan manipulasi, kepalsuan dan penipuan telah menjadi biang keladi dari pelbagai tragedi kemanusiaan.

Paskah, seharusnya menjadi momen bertanya, juga bagi yang masih akrab dengan keangkuhan dan egoisme: apa artinya demokrasi? Apa artinya invasi? Untuk apa minyak bumi, ketika demi “minyak”, sesama penghuni “bumi” didepak dari kebersamaan? Apa artinya hidup (baca: kebangkitan) ketika hanya bersifat destruktif? Apa artinya agama, ketika wajah Allah yang Maharahim dimanipulasi demi menonjolkan Allah Mahakuasa yang katanya berpihak pada adidaya? Apa artinya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s