Irak, Iran, dan Peran Kaum Intelektual

Irak, Iran, dan Peran Kaum Intelektual (Kompas, 28 Juli 2003)

SETELAH “cuti” beberapa saat dari ingar-bingar perang, ancaman invasi kembali terdengar. Rumsfeld dan Gedung Putih menganyam sebuah rencana invasi atas Iran. Tetapi belajar dari “kekeliruan” invasi atas Irak, AS lantas menyusun strategi lain.Pertanyaannya, mengapa Iran menjadi bidikan AS?

Rencana serangan atas Iran sebenarnya bukan hal baru. Iran merupakan “markas” kekuatan Islam Syiah yang bagi tokoh kharismatik seperti Ayatollah Khomeini akan menjadi basis perjuangan mempersatukan Timur Tengah di tengah hegemoni Barat yang kelihatan angkuh tanpa mempertimbangkan eksistensi negara-negara lain. Khomeini secara gamblang mengungkap semboyannya yang terkenal: tidak Barat, tidak Timur. Yang dimaksudkan adalah anti-AS dan Uni Soviet saat itu.

Niat itu berusaha dihalau AS yang tidak ingin kekuasaannya ditandingi. Lantas terbersit harapan pada figur Saddam Hussein yang kelihatan berwawasan pluralistik. Terciptalah jalinan “kasih mesra”. Saddam dan kekuatannya digembleng CIA untuk secara lincah menghalau niat unifikasi Islam Syiah. Selama periode diktatorialnya, Saddam Hussein berhasil “mengontrol” Syiah di Irak yang berkekuatan sekitar 60 persen dari jumlah penduduk (14 juta jiwa) lewat pelbagai tindakan intimidasi.

Saddam yang merasa telah “lulus” dari pendidikan AS berusaha menggelar perang melawan Iran pada akhir dekade 1980-an tanpa restu AS. Dosa putra kelahiran Tikrit itu bertambah karena secara diam-diam menjalin relasi dengan Jerman, Prancis, Rusia, dan Cina yang secara tidak langsung merugikan kepentingan AS. Perang Teluk “pecah”, hubungan AS-Irak retak, terpuruknya ekonomi Irak oleh embargo tanpa akhir yang disponsori AS (sambil tidak melupakan tuduhan akan adanya senjata pemusnah) merupakan akumulasi dosa yang mengantar Irak pada invasi di medio Maret lalu.

NAMUN, bagaimana “menurunkan” sang diktator berumur 65 tahun itu? Didasarkan niat melaksanakan sebuah perang yang “singkat”, Rumsfeld lalu meminta “restu” dari kelompok Syiah Irak di bawah pimpinan Ayatolah Mohammed Baqr al Hakim. Hal inilah yang antara lain memungkinkan begitu mudahnya tentara koalisi Anglo-Amerika menguasai Irak.

Kelompok Syiah merasa diuntungkan. Mereka tidak hanya “menghemat” biaya operasional invasi (yang semuanya ditangani AS) guna menumbangkan musuh bebuyutannya: Saddam Hussein, tetapi juga menyiapkan kader-kadernya demi mengambil alih pemerintahan pasca-Saddam Hussein.

Peluang itu dengan gesit juga ditangkap kelompok Syiah di Iran dan Suriah. Kejatuhan Saddam Hussein akan memberi peluang (seperti janji AS) untuk berkuasa. Bila AS memenuhi janjinya menyelenggarakan pemerintahan yang demokratis formal, maka kemenangan kelompok Syiah merupakan peluang yang tidak diragukan. Dengan demikian, impian Ayatollah Khomeini akan unifikasi Islam Syiah (yang berasas mazhab Shiah) di Timur Tengah dapat terwujud.

Perang usai, AS dihadapkan pada situasi serba dilematis. Menyelenggarakan pemerintahan secara demokratis berarti menyerahkan kekuasaan kepada kelompok Syiah. Sebaliknya, memperpanjang kehadiran di Irak berarti membenarkan dugaan dunia internasional tentang maksud AS menguasai sumur-sumur minyak di Irak. Akhirnya, kemungkinan kedua inilah yang terpilih. AS dan koalisinya membentuk pemerintahan transisi di bawah komando Jenderal Garner.

Tindakan AS merugikan kepentingan kelompok Syiah atau paling kurang merasa telah dipermainkan AS. Kembalinya tokoh Ayatolah Mohammed Baqr al Hakim di Basora, Irak, 10 Mei lalu, yang kemudian diikuti ziarah yang melibatkan tidak kurang dari tiga juta orang ke Karbala merupakan sinyal kekuatan kelompok Syiah. Dalam pidatonya, Hakim yang berumur 63 tahun itu mengatakan ketidakpuasannya kepada AS yang berpretensi mengekalkan kehadirannya di Irak.

DALAM situasi terjepit, AS lalu mengalihkan perhatian ke dunia luar (Iran dan Suriah) ketimbang memenuhi janji kelompok Syiah Irak. Mereka diklaim sebagai antek-antek dari Saddam Hussein. Yang satu dituduh berintervensi dalam pasokan militer (Suriah), Iran dinilai lalai karena membiarkan pasukan oposisi yang tergabung Brigadir Badr membantu Irak. Lebih dari itu, tesis lama yang pernah digunakan sebagai alasan dalam invasi atas Irak kembali dihidupkan. Iran diklaim melindungi tokoh-tokoh senior kelompok teroris Al Qaeda bahkan diduga kuat menjalankan program rahasia pengembangan senjata nuklir. Iran tak pelak masuk poros kejahatan (axis of evil) bersama Irak dan Korea Utara versi George W Bush.

NAMUN, bagaimana menginvasi Iran? Belajar dari “kekeliruan” itu, rencana invasi atas Iran mengambil jalan lain yang lebih “diplomatis”. Pada tempat pertama, mencari dukungan Uni Eropa. Dalam KTT-nya baru-baru ini di Tesalonika, Yunani, Uni Eropa lebih memusatkan perhatian pada kepentingan tata ekonomi ketimbang “menyulitkan diri” dalam membela perjuangan negara-negara sedang berkembang. Dukungan yang sama telah dikantongi AS dari G-8 dalam KTT-nya di Evian, Perancis, awal Juni lalu.

Dalam negeri, AS menangkap “peluang” dari protes yang terus mengalir dari dunia intelektual, mahasiswa, dan pers. Para mahasiswa yang baginya kehidupan belum membebani amat mudah terpikat idealisme yang menggebu tentang konsep globalisasi, liberalisasi ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam konteks Iran, bukan mustahil bila idealisme itu lebih dekat dengan konsep kebebasan yang ditawarkan AS (tercermin dalam pemerintahan reformis Muhammad Khatami), ketimbang ide pembentukan pemerintahan teokratis dari Ayatollah Ali Khomeini.

Kekuatan mahasiswa mendapatkan dukungan dari dunia pers. Beridealkan kebebasan berpendapat, pers yang kadang bersifat “telanjang” terus melansirkan kritik mengidealkan sebuah pemerintahan yang multipartai, mendukung liberalisasi ekonomi, sosial, dan budaya.

Tak dimungkiri, perjuangan dari kedua kekuatan intelektual itu adalah murni. Bisa saja mereka menemukan momentum persamaan dengan kepentingan negara-negara Barat, khususnya AS. Para pemimpin lantas menuduh pers dan mahasiswa sebagai antek-antek AS.

Sejak itu keduanya “dikontrol”. Wartawan dan anggota senat yang adalah saudara Khatami, Mohamed Reza Khatami, dibawa ke pengadilan Islam karena dituduh melawan hukum Islam. Wartawan reformis Saed Hayarian, editor harian Sobh Ermuz, ditembak dua pengendara sepeda motor saat keluar dari rumahnya di Teheran. Setelah keluar dari situasi koma, ia diancam akan menutup korannya. Tindakan seperti ini mengecewakan mahasiswa sekaligus menemukan alasan untuk berjuang, bahkan kian konsisten (malah beringas) berhadapan dengan pemerintah yang intimidatif.

UNTUK Indonesia, situasi Iran merupakan sebuah fenomena yang tidak bisa dilewatkan tanpa kajian dalam menyikapi dan mewaspadai demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang marak akhir-akhir ini sambil menjadi momen refleksi dalam merumuskan peran pers di era reformasi. Jelasnya, kemampuan intelektual yang dimiliki mahasiswa perlu diimbangi sikap dan perilaku positif lagi realistis.

Adalah mustahil bagi bangsa yang sudah lama terbelenggu untuk segera berdiri mengasimilasi tawaran pembaruan dalam tempo sekejap. Perubahan radikal yang diidamkan dapat melahirkan momok baru yang tidak kurang sadisnya dari rezim sebelumnya.

Dunia pers sementara itu perlu hadir sebagai kristalisator sebelum menyajikan ide-idenya ke pasar (opini) publik. Oleh keunggulan pengalaman, ia tahu ide gemilang kebebasan berpendapat bisa bertepatan momen dengan perseteruan kepentingan seperti terjadi di Iran.

Pers yang bebas bisa saja lebih menguntungkan pertarungan kepentingan AS dalam memasarkan ide-idenya ketimbang memberikan alternatif bagi penemuan arah dari sebuah bangsa. Karena itu, tanpa menutup diri dalam konsep nasionalisme-patriotisme murah (baik tidak baik, bangsaku lebih baik), situasi Iran tidak sedikitnya menghadirkan pelajaran berharga. Baik konsep liberalisasi ekonomi, budaya, dan sosial sebagaimana dilansirkan Barat maupun tindakan menutup diri dalam sistem pemerintahan teokratis yang terkesan membelenggu merupakan jalan keluar ideal. Adalah tugas kaum intelektual (pers dan mahasiswa) mengolah nurani, menjernihkan pikiran agar ide kebebasan tidak sampai menjadi senjata makan tuan.

Robert Bala. Mahasiswa Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Sumber Kompas 28 Juli 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s