Timor Leste dan Dilema Komunikasi

Timor Leste dan Dilema Komunikasi (Kompas, 8 Juni 2006)

Di puncak Menara Eiffel, di antara deretan nama semua negara di dunia beserta jarak yang diperkirakan dari bangunan beton rancangan Gustave Eiffel itu, ada nama Timor Leste. Meski baru merdeka, namanya sudah terukir di atas menara setinggi 324 meter itu.

Timor Leste sudah diakui secara internasional. Biasanya, syarat deklaratif seperti ini sulit diperoleh. Indonesia, misalnya, terseok-seok karena Belanda tidak mau pamit dari sini, atau Taiwan, negara yang masih terombang-ambing tanpa pengakuan.

Namun, mengapa negara yang kemerdekaannya didamba dan didukung dunia internasional itu menghadapi bahaya sehingga mengarah pada kegagalan? Adakah ekonomi dan keamanan menjadi penyebabnya?

Dalam konteks Timor Leste, ada satu hal lebih mendasar, yakni komunikasi. Akibatnya, mau atau tidak, akan lahir aneka kekacauan, kerusuhan, pembakaran, penjarahan, dan perusakan.

Jarak generasi

Dalam artikelnya, Reconciling Worlds: The Cultural Repositioning of East Timorese Youth in the Diaspora, Crockford, Fiona (2003) menulis, Timor Leste menyimpan sebuah jurang pemisah antara generasi tua dan muda. Generasi 1975 menggunakan bahasa Portugis. Bagi mereka, sejarah Timor Leste tidak bisa dipisahkan dari agama dan budaya Portugis. Dari perspektif ini, mereka memandang generasi muda sebagai produk salah asuhan Indonesia karena mencabut mereka dari akar historis-kultural.

Pada sisi lain, generasi muda yang disebut Crockford sebagai generasi tahun 1999 memiliki pandangan amat kontradiktoris. Mereka melihat generasi tua sebagai orang yang paling tidak bertanggung jawab terhadap bangsanya. Saat negeri itu berada di bawah Indonesia, dengan aneka suka (dan terutama duka) rakyat dibiarkan menghadapi kenyataan sendiri, sementara mereka berada di kenyamanan pengasingan. Lebih tragis lagi, saat kembali, mereka menduduki pucuk kepemimpinan. Mereka adalah orang asing di negeri sendiri. Mereka juga dilihat sebagai orang yang bertanggung jawab karena menjerumuskan generasi muda dengan menjadikan bahasa Portugis sebagai bahasa resmi.

Jurang antargenerasi salah satunya dapat terlihat dari penetapan bahasa sebagai medium komunikasi. Bagi generasi 1975, tidak ada pilihan. Bahasa Portugis sebagai penjamin sejarah, agama, dan kebudayaan Timor Leste.

Hal ini berbeda dengan generasi muda. Bagi mereka, mempelajari bahasa Portugis, selain tidak relevan mengingat dalam kancah internasional sebenarnya tidak terlalu banyak yang menggunakannya (selain Brasil dan Portugal dan beberapa negara kecil di Afrika), tetapi juga karena tidak dirasakan sebagai sebuah kebutuhan.

Tidak sedikit pemuda di Baucau dan Los Palos, seperti ditulis Sian Prior dalam East Timor’s lingusitic legacy, (2004), menghadiri pelajaran bahasa Portugis. Mereka merasa membuang-buang waktu dan biaya untuk sesutu yang tidak memiliki manfaat. Lebih lagi karena dalam masa awal kemerdekaan seperti ini seharusnya orientasi lebih terarah kepada ekonomi dan keamanan, bukan membebani generasi muda dengan mempelajari bahasa Lusitano itu.

Konsensus internal

Kenyataan tentang jarak generasi sebagaimana dideskripsikan menghadirkan pertanyaan tentang masa depan Timor Leste. Adakah kehadiran tentara dari Australia, Zelandia Baru, Malaysia, dan Portugal akan membawa perdamaian di bumi Loro Sae? Apakah pengunduran diri PM Alkatiri sebagaimana diminta oleh 600 tentara yang dipecat dapat memberi pengaruh positif? Sesungguhnya tidak mudah menjawab pertanyaan ini.

Namun, perlu disadari, kehadiran dunia internasional dalam jumlah berapa pun bantuan militer (dan ekonomi) tidak akan menghilangkan peran warga negaranya untuk membangun secara internal komitmen dan konsensus nasionalnya. Mengapa? Karena bantuan (apalagi disertai iming-iming mendapat “rahmat” dari kandungan minyak di Celah Timor) sebatas bantuan eksternal. Dan mengapa tidak, bantuan keamanan yang kini diminta tentu bukan gratis. “Jasa” baik seperti ini kelak harus dibayar.

Dalam situasi seperti ini, tidak ada yang lebih baik selain membangun kembali kesadaran internal. Hal itu dimulai dengan pengakuan, Timor Leste sekarang adalah warisan masa lalu. Portugal dan Indonesia, di samping keberhasilannya, juga menyimpan luka dan duka yang kesembuhannya membutuhkan waktu.

Hal paling menonjol dapat terlihat dari disiplin. Selama proses waktu, setiap warga Timor Leste telah “dididik” dalam model disiplin berbeda. Hal seperti itu akan sangat terasa saat dianugerahi kemerdekaan. Mentalitas lama yang begitu berakar akan sulit dihapus. Untuk itu, tindakan pemecatan, misalnya, hanya akan memunculkan masalah baru.

Kesadaran seperti ini sekaligus mengingatkan, sejarah bangsa Timor Leste tidak bisa dibangun hanya dengan angan nostalgis. Hal seperti itu hanya akan menciptakan jarak karena setiap orang dan generasi memiliki acuannya sendiri. Bila hal ini tidak diterima, konflik yang melanda Timor Leste hanya merupakan awal dari deretan panjang krisis lainnya.

Dalam konteks ini, perdamaian di Timor Leste hanya bisa dibangun oleh warganya sendiri.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Sumber: Kompas 8 Juni 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s