Natal, Kehidupan, dan Perdamaian

Natal, Kehidupan, dan Perdamaian

(Kompas, 24 Desember 2004)

APABILA kepada orang Amerika atau Eropa diajukan pertanyaan, “Andaikata tragedi 11 September sudah diketahui sebelumnya, apakah dibutuhkan strategi untuk melindungi diri?” Jawabannya pasti, “Ya, tentu saja.” Pertanyaan itu dinilai tak perlu karena jawabannya sudah pasti. Diperlukan antisipasi agar tidak mengorbankan jiwa.

Namun, ketika pertanyaan yang sama ditujukan ke negara-negara miskin, di mana kematian anak-anak berjatuhan, jawabannya bukan saja ambigu, bahkan tidak dirasa penting: Jutaan jiwa mati tiap tahun akibat kelaparan, kekurangan air bersih, kurang sarana dan prasarana pendidikan serta kesehatan. Apa yang terjadi? Meski sudah diprediksi, kematian di sana jauh dari intervensi internasional untuk menyelamatkan mereka. Mengapa ini terjadi? Bagaimana merayakan Natal dalam situasi kontradiktif? Apa gunanya merayakan kelahiran baru, saat kehidupan kian terancam kematian?

Tulisan ini bukan analisis sosial dan tidak menawarkan solusi, berpijak spirit Natal. Natal tidak memberi solusi siap pakai. Ia hanya menyapa batin manusia dan mengajak perubahan tata tindak.

SETIAP akhir tahun, (bersamaan dengan Natal), kita terpanggil untuk merefleksikan perjalanan yang telah dilewati. Selain mensyukuri sukses, kita diharapkan melihat dunia, melampaui batas-batas yang melingkupi. Bahkan, sampai ke tempat di mana kehidupan begitu rentan dan terancam. Ketidakadilan dan ketimpangan sosial amat tampak jelas.

Sebagai gambaran, pada tahun 1961, sebanyak 20 persen penduduk bumi yang paling kaya mengonsumsi 31 persen lebih banyak dari 20 persen penduduk yang paling miskin. Pada tahun 1998 angkanya membengkak mencapai 83 persen, demikian tulis Jean Ziegler dalam El hambre en el mundo explicado a mi hijo:1999.

Dalam karya lain, Los nuevos amados del Mundo: 2002, Ziegler menegaskan, 20 persen penduduk dunia menguasai 80 persen kekayaan alam dunia. Mereka memiliki 80 persen dari semua kendaraan dan mengonsumsi lebih dari 60 persen energi di bumi. Maka, bisa dibayangkan, anggaran untuk seorang anak di AS sebanding dengan 50 anak di Haiti. Itu pun rata-rata, karena perbandingan bakal menjadi tajam dan nyaris dipercaya, saat kita melirik kehidupan glamor seperti di Harlem dan Baby Doc Duvalier.

Perbedaan amat mencolok berpengaruh terhadap kehidupan. Di satu pihak, kaum kaya bergelimang materi, orang miskin harus berhadapan dengan ancaman kematian. Apabila di AS, Inggris, Spanyol umur rata-rata mencapai lebih dari 75 tahun, di Nigeria, Mozambik, dan Etiopia hanya mencapai 45 tahun (cfr S Cordellier dan B Didiot, El Estado del Mundo: 2002). Kematian sudah menjemput mereka pada usia terlampau dini.

Kita pun tidak habis berpikir, di sela-sela kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan, mereka masih terlibat konflik berdarah. Tahun 2002 teridentifikasi lebih dari 23 konflik tragis yang menelan korban tak terhitung. Di atas situasi konfliktif seperti itu, Sang Kaya, Adi Daya, tampak prihatin, lagi dermawan memberi pinjaman demi membeli senjata. Lebih dari seperempat GNP negara-negara miskin teralokasi untuk pertahanan, seperti laporan World Priorities Institute. Perbandingan antara tenaga para medis dan militer adalah 1:8. Padahal, kematian dan penyakit menjadi seperti makanan sehari-hari dan seharusnya lebih membutuhkan tenaga medis daripada tentara.

Yang lebih menyayat hati, bantuan itu bukan melerai konflik, tetapi menjadi pemicu dan harus dibayar tiga kali lipat. Di sana, anggota tetap Dewan Keamanan PBB, sebagai pemilik dan pemonopoli legalitas persenjataan mutakhir, diuntungkan oleh kian melejitnya permintaan pasar. Sementara itu, mereka tampak tak mau berkompromi terhadap produksi senjata di negara-negara lain.

DI tengah dunia yang kian terluka akibat kesenjangan sosial, memar akibat konflik berdarah, kian terombang-ambing oleh tamparan terorisme, kita merayakan Natal. Pertanyaannya, apa makna pesta kelahiran saat kehidupan sama sekali tidak bermakna? Inilah pertanyaan dasar yang perlu dijawab.

Pertama, kelahiran Isa Al Masih ke dunia bukan sebuah kebetulan, terlepas dari konteks sosio-historis. Ia tidak lahir tiba-tiba, “jatuh” dari langit. Sebaliknya Sang Raja Damai, Mesias, memilih masuk dinamika sejarah, menjadi manusia, tinggal di antara kita. Ia pun mengalami penderitaan seperti manusia. Dia seorang Raja yang menderita demi umat-Nya, memberi contoh bagaimana mempraksiskan kekuasaan secara benar. Ia tidak dimanipulasi demi memperkaya diri, “mumpung ada kesempatan”. Sebaliknya, ia perlu digunakan demi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Kedua, kelahiran Yesus diliputi suasana kemiskinan dan keterpinggiran. Ia hadir ke dunia sebagai seorang imigran ilegal, anak Maria-Yoseph, pasangan yang tak beridentitas jelas dan legal. Tempat lahirnya pun di kandang, hanya ditemani gembala, yang juga kelompok tersisih.

Model kesederhanaan seperti ini mengindikasikan keberpihakan Allah terhadap mereka yang miskin dan terpinggirkan. Mengapa? Karena harkat dan martabatnya terinjak-injak. Karena itu, dengan menjadi manusia miskin, Ia ingin menyadarkan kita tentang nilai tak terbatas dari tiap pribadi, terlepas apakah dia kulit putih atau hitam, pria atau wanita, kaya atau miskin. Natal adalah Allah menjadi manusia agar perlakuan kita semakin manusiawi.

Ketiga, di tengah situasi dunia yang konfliktif, dipenuhi kebencian, kecemburuan, iri hati, dan dendam, Allah hadir menawarkan perdamaian. Namun, cara yang digunakan bukan dengan perang. Adagium “si vis pacem para bellum” tidak masuk hitungan. Allah tidak pernah menghalalkan kekerasan meski sedemikian luhur tujuan yang hendak digapai. Sebaliknya, Ia memilih cara tak lazim, melawan kekerasan dengan cinta kasih. Dalam kata-kata Antonio Machado, dalam “Juan de Mairena, 1937”, jika ingin perdamaian, berusahalah agar musuhmu tidak menginginkan perang.

Saat ini dunia menantikan nilai-nilai seperti itu. Kekerasan yang dibalas kekerasan sudah menelan banyak korban. Prinsip balas dendam, “mata ganti mata”, telah meninggalkan tragedi tak terobati. Seperti kata Gandhi, apabila prinsip “mata ganti mata” diterapkan, dunia bakal menjadi buta. Dalam situasi seperti ini tidak ada tawaran lain, selain menghidupkan kembali perdamaian sebagai buah terindah Natal. Damai Natal untuk Anda semua.

Robert Bala. Lulusan Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s