Rumi, Irak, dan Seruling Perdamaian

Rumi, Irak, dan Seruling Perdamaian

(Kompas 12 Mei 2007)

Damai, sebuah kata yang kian mahal, dirindukan, dinanti, dan diminati, tetapi kian sulit diperoleh. Kekerasan (sekadar contoh), seperti masih terjadi di Irak dan Afganistan, serta ratusan konflik yang pernah melanda Indonesia membenarkan kerinduan itu.

Mengapa terjadi? Apa kekuatan historis-kultural yang dapat dijadikan inspirasi membangun kehidupan yang melampaui batas negara dan golongan?

Di tengah ketakmustahilan membangun perdamaian, kehadiran figur Rumi (Meulana Jalaladdin Rumi) mengentak. Meski hidup 800 tahun lalu, kekuatan pengaruhnya dirasakan hingga kini dan menjadi alasan bagi UNESCO untuk menjadikannya “duta perdamaian”.

Ia lahir di Asia Kecil dan selalu dikelilingi aneka konflik, baik dengan penguasa kaum Mongol maupun percekcokan antara Ordo Sufi Kubrawiyya dan pemerintah. Hal itu pula yang melatarbelakangi perpindahan keluarganya dari Balch, negeri Chorassam, Asia Tengah.

Atas realitas konfliktif, Rumi tidak menyerah. Sebagai mistikus, ia melayangkan refleksi, imajinasi, dan pemikiran kreatif melampaui tapal batas agama dan ras demi mencari jawaban paling otentik. Kekuatan itu, antara lain, ditimba dari ilmu Sufi dan Teologi Islam hingga akhirnya menjadi seorang dosen.

Sebagai pengajar, penulis Masnavi, Diwan, dan Fihi ma fihi itu tidak hanya mentransfer ilmu. Mahasiswa tak sekadar diperlakukan sebagai penerima “warisan sakti” berupa teori untuk dihapal tanpa mengetahui kegunaannya. Rumi mendidik dengan hati. Ia menggugah murid-muridnya untuk berpikir secara luas, meretas sebuah persaudaraan sejagat.

Seruling perdamaian

Alternatif penyelesaian konflik dijawab Rumi secara simbolis. Melalui Ney (seruling bambu) Rumi mencari akar penyebab konflik sekaligus menawarkan solusi. Seruling adalah alat musik yang khas dan akrab untuk orang Timur Tengah. Darinya lahir pelbagai tembang yang coba diekspresikan melalui kekuatan angin yang keluar dari mulut seseorang saat meniup alat musik itu.

Kesadaran akan pentingnya seruling melatarbelakangi semua manusia, terutama warga Baghdad saat itu untuk memilikinya. Tidak sedikit pohon bambu ditebang, dipotong, lalu dilubangi untuk menghasilkan seruling.

Hanya, adakah orang yang menyisihkan waktu untuk mendengar seruan itu? Adakah pelbagai tipe seruling dapat dipadukan harmonis, bahkan membentuk sebuah orkestra yang merdu?

Inilah masalahnya. Seruling yang hanya kedengaran lebih merdu saat ditempatkan dalam satu kesatuan dengan seruling lainnya ternyata telah diselewengkan, malah dimanipulasi. Ada begitu banyak suara sumbang yang sengaja dipaksakan. Bukan itu saja. Bunyi seruling yang merdu telah dipahami secara eksklusif dan egoistik. Tiap orang mengklaim “serulingnya” yang terbaik. Tidak ada yang mengalah, dan terjadilah konflik.

Kenyataan seperti ini menyayat hati. Dalam diamnya, Khamush (nama samaran Rumi yang artinya diam) merekam semua peristiwa, menukik ke kedalaman hati demi mencari jawaban. Di sana ia sadari, ia juga Ney, seruling itu yang tak lepas dari kecenderungan eksklusivisme. Namun, tidak ada pilihan selain ada bersama orang lain.

Inklusivisme

Kehadiran Rumi di tengah kebekuan realitas politik di Irak bukan kebetulan. Selain pengakuan akan keandalan pemikir Muslim (yang notabene tidak terlalu “utuh” dipandang AS), ia mengandung aneka pesan.

Pertama, aneka konflik, baik di Irak maupun di dunia, sungguh menyayat hati. Bahkan, mata yang awam politik dan masalah internasional pun menyadari, di dasar semuanya ada intensi menguasai sumur-sumur minyak sungguh menggelikan. Semua diramu sehingga yang hadir di permukaan adalah isu terorisme dan keamanan.

Identifikasi pelaku seperti ini tak jarang berakhir dengan menggumpalnya perasaan balas dendam. Menjamurnya kekerasan tidak bisa dipisahkan dari asumsi seperti ini. Namun, apa arti balas dendam saat hanya melahirkan kekerasan baru? Hal ini sungguh disadari Rumi. Ia memberi teladan, konflik dan kekerasan seharusnya menjadi acuan dalam mencari dunia yang lebih aman dan tidak terperangkap kekerasan baru.

Kedua, perdamaian sebagai cita-cita bersama tak jarang perwujudannya melewati jalan-jalan “terjal”, bahkan menelan korban. Ibarat seruling, ia harus rela dipotong, dilubangi, dibersihkan. Hanya dengan demikian dapat menjadi sebuah seruling. Kesadaran akan pengorbanan seperti ini amat penting. Namun, yang tidak boleh terlupakan, hasil pengorbanan perlu bersifat inklusif-universal. Artinya membuka diri untuk memberi makna kepada semakin banyak orang.

Yang kerap terjadi justru sebaliknya. Tidak sedikit orang yang mengerucutkan hasil akhir kepada kepentingan sendiri. Akhirnya konflik baru tercipta, justru dari “perseteruan” antarkonsep perdamaian yang berakhir dengan konflik berdarah.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Sumber: Kompas 12 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s