Membaca “Perdamaian” Andina

Membaca “Perdamaian” Andina

(Kompas 27 Maret 2008)

Awal Maret nyaris menjadi bulan paling kelabu di Amerika Latin. Kolombia, Venezuela, dan Ekuador yang selalu menyebut diri paises hermanos (negara-negara bersaudara) berada di ambang perseteruan berdarah.

Bagaimana membaca konflik dan upaya penyelesaian yang harus ditempuh guna menciptakan perdamaian yang lebih ampuh?

Kekuatan lama

FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia atau Angkatan Bersenjata Revolusi Kolombia) yang salah satu pemimpinnya, Raúl Reyes, dibunuh awal Maret lalu merupakan kelompok gerilya paling tua dan berpengaruh di Amerika Latin. Dengan anggota sekitar 16.000 gerilyawan, FARC (berdiri tahun 1964) yang berhaluan marxis-lenin melancarkan kegiatan di sekitar perbatasan Venezuela, Ekuador, dan Peru.

Dengan dana sekitar satu miliar dollar AS, yang berasal dari uang tebusan tawanan, peredaran narkotika (narcotrafico), dan pencurian ternak, mereka mengadakan berbagai aksi yang meresahkan. Tidak sedikit pemimpin politik, militer, dan orang asing ditawan. Aksi kekerasan, seperti pembunuhan langsung, peledakan bom, pemerkosaan, dan aneka penyimpangan terhadap HAM terus terjadi. Tak pelak gerakan Colombia Soy Yo (Kolombia adalah saya) yang melibatkan jutaan orang lahir dari kebosanan menatap konflik dan kerinduan untuk menggenggam perdamaian.

Anggota FARC akhirnya membela diri. Aksi brutal (yang tentunya tidak dibenarkan dengan alasan apa pun) memiliki akar tragikal historis sejak tragedi ”Bogotazo” tahun 1948 yang meninggalkan kenangan pahit bagi kelompok komunis dan liberal radikal. Sejak saat itu rekonsiliasi gagal karena upaya mengutamakan ego lebih dominan. Lebih lagi, Pemerintah Kolombia bersama paramiliternya terlihat tak sabar menunggu perdamaian, meminta bantuan AS. Namun, sejak awal 1960-an hingga kini, terbukti intervensi pihak luar tak pernah menyelesaikan masalah.

Perpecahan

Dunia luar yang seharusnya sejalan menengarai konflik kenyataannya terpecah. Peru, Kanada, AS, dan Uni Eropa memilih jalur militeristik demi menggempur kekuatan gerilyawan. Aneka bantuan AS dan Spanyol (saat pemerintahan Jose Aznar) dialokasikan untuk memperkuat strategi pertahanan dan penyerangan darat guna mengepung kantong-kantong FARC.

Ekuador, Bolivia, dan Brasil memilih jalan netral untuk tidak mengatakan tidak sependapat dengan pola militer. Sementara itu, Hogo Chavez dari Venezuela memilih jalan lebih frontal membela FARC, hingga disinyalir memiliki ”kedekatan khusus”. Karena itu pula, Chavez pernah ditugaskan sebagai penengah demi membebaskan 45 tawanan politik. Namun, kecurigaan muncul dan berakhir dengan penarikan kembali mandat oleh pemerintah Kolombia.

Dengan kekuatan retorikanya, dan (katanya) didukung Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Chavez memilih jalan kemanusiaan (Acuerdo Humanitario). Baginya, penukaran tawanan hingga bantuan kemanusiaan lainnya merupakan jalan yang lebih bijak.

Namun, jalan kemanusiaan yang amat lamban disertai maraknya aksi kekerasan, sambil tidak melupakan kecurigaan di baliknya, mengakibatkan Kolombia melancarkan serangan 1 Maret lalu. Meskipun kemudian sempat dilerai, siapa pun tahu, akar historis yang lolos perhatian dan intervensi berlebihan pihak luar bukan jalan bijak. ”Perdamaian” yang dirajut berkat intervensi organisasi negara-negara Amerika atau Organización de Estados Americanos (OEA) sebenarnya hanya jeda menunggu pertikaian yang lebih eksplosif.

Kesadaran humanistik

Rentannya konflik dan rapuhnya perdamaian pada negara-negara di kawasan Pegunungan Andes hanya dapat diatasi dengan pendekatan menyeluruh.

Pertama, akar pertikaian ideologis (antara kapitalisme dan marxisme) yang selama ini mengganjal harus diimbangi kesadaran humanistik, dan derita manusia menjadi titik temu. Sementara itu, egoisme yang secara narsistik hanya menyembah kebenaran ideologis partikular perlu dijauhi. Kaum komunis sadar, idealisme kesamarataan tanpa pemberdayaan kemampuan individu dan penekanan berlebihan pada kebebasan individu tanpa disertai tanggung jawab sosial, sebagaimana diyakini kaum kapitalis (AS dan Uni Eropa), hanya akan menjadikan masa depan bangsa tak menentu.

Kedua, konflik di seputar pegunungan terpanjang di dunia itu mustahil terjadi tanpa iming- iming kekayaan alam. Venezuela dengan minyak serta Peru, Ekuador, dan Kolombia dengan kandungan mineral adalah tempat yang menggiurkan. Perbatasan antarnegara merupakan lahan konflik paling laten yang bila tidak diolah secara bijak akan melahirkan pertumpahan darah. Untuk itu, penyelesaian bilateral maupun kekompakan regional akan lebih ampuh daripada melibatkan pihak luar yang sepintas memberi kenyamanan, tetapi akan terlihat rapuh setelahnya.

Ketiga, bagi Indonesia, konflik perbatasan yang laten seperti terjadi antara Venezuela, Ekuador, dan Kolombia, menyadarkan, betapa pentingnya wawasan nusantara yang menyatukan, menjadi tempat hidup yang aman seperti diimpikan Simon Bolivar bagi seluruh Amerika Latin.

Robert Bala. Lulusan Universidad Pontificia de Salamanca. Sumber: Kompas 27 Maret 2008

2 Responses to Membaca “Perdamaian” Andina

  1. yosef says:

    Proficiat atas tulisan2mu ornag muda.
    Salam bahagia berdua.
    saudaramu di benua Amrik latin
    mapang,svd

    • robert25868 says:

      Joseph, terimakasih atas komentarmu. Maaf, saat terakhir waktu kamu datang, kita tidak sempat ketemu. Katanya kamu muncul kemudian di Cipayung, sementara saya dan Pater Nick sudah pulang. Kita ketem pada kesempatan berikutnya. Salam untuk umat Allah di Amazon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s