Rekonstruksi Semantis

Rekonstruksi Semantis

Putusan atas Tragedi Cebongan memasuki babak akhir. Secara umum (keluarga bisa saja berpendapat lain), hasilnya cukup menyejukkan. Hukuman 11 tahun dan pemecatan, meminggirkan keraguan akan imparsialitas pengadilan militer. cebongan1

Tetapi mencermati sajian media yang memberi proporsi perhatian pada tindakan heroik para tentara dalam memerangi premanisme, didukung aneka poster senada, memunculkan pertanyaan, hal mana menjadi latar belakang tulisan ini. Bisakah sebuah kejahatan dibenarkan oleh motivasi luhur di baliknya?

Imposisi Simbolis

Dalam Teoría de la Comunicación, Epistemología y Análisis de Referencia, 1982, Martin Serrano menyibak tendensi negatif sejumlah media yang diklaimnya parsial. Sebuah fakta yang secara substansial terlihat benar-salahnya, ditampilkan secara berbeda karena di baliknya ada maksud terselubung.

Pemberitaan itu bahkan begitu kuat dan masif sehingga perlahan menghadirkan makna semantis baru. Terkesan, itulah fakta sebenarnya. Jelas, ‘kebenaran’ baru yang tentu saja versial (versi kelompok tertentu), dan tidak mewakili realitas sebenarnya.

Meski dalam arti negatif tetapi mekanisme ini kerap dihalalkan dalam politik-militer, demikian tulis Armanda Mattelart. Dalam Medios de Comunicación de Masa, La Ideología de la Prensa de Chile, 1970, ia menulis, pergeseran semantis kerap dilakukan dengan alasan patriotisme. Dianggap, ia menyelamatkan negara dari hal yang lebih buruk.

Hal senada ditandaskan Zizek, S, dalam Sobre la Violencia, 2009. Baginya, fakta baru bisa saja ditampilkan apa adanya. Sayangnya, yang ditampilkan di media hanya yang lebih punya nilai berita. Kematian seorang anak AS misalnya akan lebih diangkat sebagai ‘berita’ sementara hal sama yang dialami oleh seorang anak dari Kongo didiamkan.

Strategi semantis ini, juga kerap terjadi dalam lingkup kita. Koruptor yang sudah tertangkap tangan, masih bisa membela diri. Ungkapan presumption of innocence alias praduga tak bersalah, dianggap lumrah, terutama saat seseorang telah kehilangan argumen untuk membela diri.

Tidak hanya itu. Dengan cepat, orang lain (sengaja) dihubung-hubungkan bukan untuk memperjelas tetapi malah untuk mengaburkan masalah. Ungkapan ‘tebang pilih’, misalnya kerap dilansirkan untuk keluar dari jeratan.

Tendensi di atas, oleh Marshal B Rosenberg dilihat lebih jauh. Dalam Nonviolent Communication, A Language of Life, 2003 ia menyibak akarnya dari bahasa verbal yang sudah terkondisi di rumah dan kian meluas. Di satu pihak seseorang berusaha membenarkan diri. Di lain pihak, orang lain dianggap sebagai penyebab dari penderitaannya. Baginya, itulah akar dari tidak sedikit kekerasan yang terjadi.

Membangun Makna

Analisis ini menjadi permenungan dalam menyikapi keputusan Pengadilan Militer tentang kasus Cebongan. Meminjam Serrano, ada tendensi yang cukup kuat untuk menempatkan kasus itu sebagai sebuah ekspresi patriotisme. Kesalahan tentara yang masuk dan menembak tahanan itu dianggap sebagai bagian dari menciptakan ‘rasa aman’ warga karena yang dicari adalah anggota preman.

Asumsi itu pun perlahan diarahkan menjadi sebuah makna semantis baru oleh pemberitaan media. Ungkapan Serda Ucok bahwa setelah menjalani hukuman ia akan tetap memberantas premanisme yang dikutip aneka media, mengarah kepada penciptaan makna semantis baru.

Makna baru ini dalam arti tertentu perlu diterima. Siapa pun tidak akan menerima aksi premanisme. Yang disayangkan, pemberantasan premanisme dan aksi brutal tentara itu ditempatkan dalam kesatuan hubungan kausal yang bila terus dilansirkan maka merupakan ekspresi pemaksaan simbolik. cebonnngan

Sekilas makna semantis baru ini bisa saja diterima. Tetapi tanpa disadari, makna baru itu bisa juga sekaligus memberikan pembelajaran keliru. Masyarakat bisa berkesimpulan, ketika kekerasan dilakukan demi memberantas kekerasan, maka hal itu dianggap patriotis, padahal hal itu belum tentu berpijak pada alasan kuat.

Dalam perspektif ini maka kekerasan dan kekejaman yang terjadi, belum lagi kalau menelusuri keberadaan Serka Santoso di Hugo’s Caffe hingga akhirnya menjadi korban, maka terlihat ada sesuatu yang belum disingkap seutuhnya. Karena itu terlalu cepat mengaitkan dengan pemberantasan premanisme, adalah kesimpulan yang terlalu cepat karena menyisihkan keraguan akan premis penguat yang digunakan.

Dalam perspektif ini maka yang paling dinanti kini adalah perwujudkan jiwa kekesatrian prajurit. Jiwa korso yang begitu diagungkan selama ini tentu tidak sekedar solidaritas membela korps tetapi juga secara ‘gentleman’ mengakui juga kekeliruan (kalau ada) karena sadar bahwa adalah manusiawi membuat kesalahan.

Pengakuan ini dalam bahasa Robert Kiyosaki dianggap sebagai tuntutan dasar. Saat menulis “When people are lame, they love to blame” ia tandaskan bahwa mengakui kepincangan demi membiarkan kebenaran tersibak adalah langkah bijak. Di sana kita tidak akan kehilangan energi dengan saling memersalahkan tetapi secara ksatria mengambil tanggungjawab demi nilai yang lebih tinggi dan luhur.

Inilah strategi semantis yang mestinya diutamakan. Bukan lagi mempertahankan salah satu bagian dari kebenaran hanya demi menjaga nama baik tetapi melihat lebih jauh dan menempatkan agenda reformasi nasional di atas segalanya. Bila pilihan moral ini kita utamakan maka kita sudah selangkah di depan.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian pada Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Sumber: Kompas Epaper, 12 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s