Rindu Perdamaian

Rindu Perdamaian

(18 November 2002)

Emanuel Kant menulis anekdot berikut. Seorang pemilik bar (asal Belanda) menitipkan semboyan berikut di barnya: “Paz Perpetua” (damai abadi). Anehnya, di bawahnya terlukis kuburan. Sebuah kontradiksi. Ideal tentang damai abadi menemukan duka lara dalam realita. Damai seakan tak akan pernah digapai selagi hidup dan belum tentu juga dicapai setelah mati. Inspirasi sederhana ini kemudian dijadikannya judul dari salah satu karyanya yang paling terkenal “Sobre la paz perpetua” (tentang damai abadi).

Damai, sebuah kata paling berharga, ajaib tetapi pada saat yang sama rapuh, rawan untuk menjadi berkeping-keping bila “jatuh”. Ada kerinduan untuk memeluknya, tetapi bagai hantu ia menjauh ketika didekati. Paling didambakan oleh insan yang lagi dilanda ketidakpastian tetapi ketiadaan sarana untuk menggapainya.

Sejarah sendiri membuktikan betapa jauhnya kita dari impian akan damai. Abad yang lalu ia hanya sempat dicicipi sebagai “pause” (istirahat) antara dua perang dunia. Abad ini diawali dengan fenomen kekerasan. Kisah tragis, 11 September di New York /Washington  dan 12 Oktober di Bali adalah contoh tentang muramnya panorama perdamaian.

Mengapa damai yang dinanti, tetapi perang dan konflik yang menyelinap masuk? Inilah pertanyaan buat direfleksi kaum beragama. Umat Islam tengah memulainya di bulan Ramadhan ini. Estafet reflesi yang sama akan diteruskan umat kristiani dalam menantikan Sang Raja Damai di masa Advent yang sebentar lagi dimulai.  Duka dan lara umat Hindu dan Budah pasca tragedi Bali terarah pada tema yang sama: rindu perdamain.

*          *          *

Semua agama mengajarkan tentang perdamaian dan cintakasih sebagai pegangan hidup. Berinspirasi padanya, banyak kaum beriman menjadi begitu saleh, pengampun / pemaaf, pemurah lagi penyayang. Tetapi pada saat yang sama, agama dapat menjadi sumber konflik. Tidak sedikit teks yang mengundang pertumpahan darah bila ditafsir secara literal (hurufiah).

Kontradiksi di atas dianalisa oleh ekseget Norbet Lohfink dan R. Pesch, dalam Weltgestaltung und Gewaltlosigkeit. Kitab Suci dari agama-agama monoteis seperti Islam, Kristen, Yahudi mengandung teks-teks yang berbau teror. Allah maha rahim dilukiskan begitu angker lagi sadis. Ia mengancam dengan hukuman panggang di api neraka. Ia haus darah dan sepertinya begitu puas dengan kematian lawan.

Dalam nada yang sama, R Schwager, dalam buku Brauchen wir einen S|ndernbock, mengulas tentang kekerasan sebagai salah satu tema sentral dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Dari empat puluh enam buku, Kitab Rut dan Kidung Agung merupakan kekecualian lantaran tidak menampilkan atau mengidentikkan Allah dengan kekerasan. Selebihnya penuh dengan ungkapan penuh kekerasan. Memang ungkapan tersebut seharusnya perlu ditempatkan dalam konteksnya dan membutuhkan aktualisasi untuk menemukan bentuk aplikatif yang sesuai. Dalam kenyataan, kaum ultra kristen tak jarang jatuh ke dalam penerapan literal yang artinya ‘mengamini’ semua seruan kekerasan.

Sejarah tidak kekurangan contoh tentang penerapan teks-teks bebau “teror” yang terwujud dalam aneka perang berbenderakan agama. Peperangan dan penaklukan kembali (reconquista) Spanyol (1003-1260), peperangan antara agama Kristen Katolik dan Protestan (1520-1648), kisah tragis penaklukan benua Amerika, adalah contoh tentang bagaimana teks Kitab Suci diaplikasikan secara hurufiah dengan mengagung-agungkan kekerasan. Tak pelak, antropolog René Gerard menilai bahwa telah terjadi sakralisasi atas kekerasan itu sendiri. Insting pencari kekuasaan disakralkan atas nama agama.

Sejarah kembali terulang. Abad yang barusan pamit menitip kenangan getir tentang perang Teluk Persia. George Bush dengan “God bless America”, Allahuakbar dari Sadam Hussein  serta Yohova dari Shamir menyapa Tuhan yang sama demi melegitimasikan aksi kekerasan dan peperang. Bush yuniorpun tidak ketinggalan di abad baru ini. Atas nama Allah, ia menafsir dukungan atas dirinya sebagai ‘ada di pihaknya’. Sementara yang indiferen, tidak berpendapat disinyalir sebagai musuh bebuyutan. Agama yang seharusnya menjadi inspirasi perdamaian, dimanipulasi oleh egoisme manusia hingga menjadi sumber konflik berdarah.

*       *        *

Damai (shalom) yang dalam bahasa Yunani berarti sejahtera, suasana harmonis dengan Tuhan dan sesama, dengan diri sendiri dan alam merupakan impian setiap insan religius (homo religius) dewasa ini. Bagaimanakah mewujudnyatakan perdamaian?

Pertama, usaha hermeneutis dalam penafsiran Kitab Suci. Tanpa melupakan nuansa universal dari Sabda Allah, perlu disadari bahwa Ia diwahyukan (terlepas dari diskusi apakah bersifat langsung atau tidak) pada masa lalu (in illo tempore). Gaya pewartaannya diselaraskan dengan kemampuan receptor, serta berpadu degan kecemasan dan hasrat zamannya. Situasi konfliktif dewasa ini, menitipkan hasrat kaum beriman akan perdamaian. Karena itu menuntut usaha hermeneutis berupa aktualisasi teks agar tidak kontradiktoris. Ekspresi kekerasan sebagaimana tertulis tentunya tidak dapat dimanipulasi demi interes egoistik manusia. Pada pihak lain, dambaan manusia dewasa ini akan perdamaian perlu ditafsir sebagai hasrat Allah sendiri. Iman dan hasrat manusia  tidak bertentangan, karena demikianlah dambaan Allah.

Peran hermeneutis di atas barangkali menjadi bahan refleksi bagi para pengkhotbah (khatib) dari setiap agama. Di sebuah negara yang masih menjunjung tinggi nilai religius, para alim-ulama memiliki peran yang sangat menentukkan dalam mengorientasi tingkahlaku, menggerakan nurani mewujudnyatakan perdamaian (überzeugen) tetapi dapat juga terjerumus, membakar emosi kepada tindakan kekerasan (überrreden).  Dalam konteks ini dibutuhkan kejelian dalam pewartaan. Kata-kata dari Karl Barth barangkali masih punya hikmah. Ia menyusun khotbahnya dengan meletakan di atas meja meditasinya, Kitab Suci dan Surat Kabar. Yang satu menjadi patokan dan yang lainnya menjadi inspirasi. Tafsiran demikian akan menjadikan Kitab Suci sebagai potensi transformatif demi terwujudnya perdamaian.

Kedua, Perdamaian dan keadilan (Paz y justicia). Idealisme akan perdamaian akan semakin menjadi nyata ketika pada saat yang sama ia didukung oleh peniadaan struktur-struktur ketidakadilan. Kemiskinan, tulis John Sobrino, teolog pembebasan dari Peru, menyangkal perdamaian karena dalamnya terpateri kekerasan yang menyerang kaum miskin. Hasrat meniadakan fundamentalisme agama (yang dinilai sebagai biang keladi kekerasan) perlu diimbangi dengan renovasi atas globalisasi ekonomi yang dalam mekanisme kerjanya tidak kurang sadisnya. Perdamaian abadi akan tegak berdiri sejauh ia ditopang oleh keadilan.

Ketiga, mengembangkan sikap altruisme. Egoisme tersembunyi sering menyelinap dalam strategi licik untuk memperdayai kaum lemah.  Mereka digiring ke dalam konflik, sementara sang adidaya menuai jarahan ekonomis dari merkantilisasi senjata. Peter Franssen dan Pol De Vos dalam bukunya “Le 11 Septembre”, misalnya memberikan sebuah contoh menggelitik. Diceritakan bahwa pasukan Mujahidin, (yang oleh Amerika Serikat dicap “teroris”), pernah menjadi socius (sekutu) yang membantu melemahkan pertahanan Uni Sovyet di Usbekistan dan Tayikistan. Perseteruan kepentingan kemudian memisahkan mereka hingga saat ini.

Kisah di atas menjadi basis refleksi bagi semua tak terkecuali sang adidaya. Bahwa hasrat manusia menikmati segenggam damai lebih bernilai dari pada egoisme merampas sebarel minyak bumi di Timur Tengah. Keutuhan ciptaan (integrity of the creation) lebih mendesak dari niat memasarkan persenjataan destruktif.

Kekerasan dan konflik ternyata tidak seluruhnya “made in Indonesia”. Karena itu, reaksi emosional-destruktip yang diberinama “konflik antaragama” merupakan permaianan yang tidak perlu “ditanggapi”. Terjerat dalam perangkap kekerasan, selain mendatangkan keuntungan ekonomis bagi produsen senjata, tetapi terutama mengorbankan sesama sendiri. Janji akhirat kelak sebagaimana dijanjikan sudah pasti bukanlah milik mereka yang mensakralkan kekerasan. Perdamaian adalah ciri khas kehadiran tranformatip Allah.

Keempat, no violencia sebagai alternatip. Kekerasan telah menjadi fenomen yang menyeramkan. Berjatuhan korban dan menjalarnya  penderitaan manusia dewasa mempertanyakan keabsahan metode ini dalam menciptakan sebuah tatanan dunia yang diidamkan. Dengan kata lain, kekerasan yang ditabur hanya akan menuai kekerasan. Perang, bila terjadi, maka korban pertama yang jatuh adalah kebenaran itu sendiri. Ia dimanipulasi untuk kepentingan penguasa kini, sambil membius kaum kecil dengan janji di akhirat kelak. Jawaban minimal dari manusia adalah bercerai dengan kekerasan dan menjadikan “no violencia” (yang dapat diartikan sebagai cintakasih) sebagai teman sehidup semati.

Sejarah telah mencatat kesaksian anak bumi yang menafsir secara bijak Sabda yang Ilahi dalam contoh menggugah. Mereka itu adalah Budha Gautama, Lao-tze, Socrates, Yesus dari Nazareth,  Muhammad S.A.W, Fransiskus dan  Clara dari Asis, Martin Luther King, Gandhi, Oscar Romero, Einstein, Helder Camara, Yohanes XXIII, Teresa dari Calcuta, Rigoberto Menchu sekedar menyebut nama beberapa tokoh dunia pencinta damai. Siapa tahu nama Anda dan saya juga terukir dalam barisan berikutnya. Why not?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s