Tanda Zaman, dan Solidaritas

Tanda Zaman, dan Solidaritas

(Kompas, 20 Juli 2006)

Tragedi gempa dan tsunami datang lagi. Kali ini di wilayah pantai selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada rasa putus asa, mengapa di tanah kita selalu terjadi bencana? Apakah tingkah manusia yang menjadi biang keladinya, atau Tuhan yang menghendaki?

Reaksi ini amat wajar. Manusia berusaha mencari jawaban. Ia tidak puas dan berhenti hanya dengan analisis geologis yang menjelaskan gerakan lempengan kerak Bumi yang menimbulkan gempa dan hanyutan gelombang. Ia lalu menengadah ke langit, minta pertanggungjawaban dari yang “empunya”.

Pada waktu bersamaan manusia coba mereka-reka kesalahan yang dapat dijadikan penyebabnya. Anehnya, semakin manusia bertanya, ruang kehampaan dan kekosongan kian terbuka. Meminjam kata-kata mistikus Spanyol, Juan de la Cruz, ia memasuki noche oscura, malam gelap. Tak ada jawaban. Apa yang harus dibuat manusia?

Makna bencana

Istilah “Tanda Zaman” (signa temporum) muncul pada abad XIX. MD Chenu dalam Signos de los tiempos (Madrid: 1970) mengisahkan, aneka peristiwa yang terjadi (tragedi maupun yang mencengangkan) meninggalkan pertanyaan eksistensial, tak terjawab. Manusia bergelut untuk mencari makna yang bisa dikais di baliknya.

Berhadapan dengan tragedi, misalnya, manusia merasa tidak cukup meminta pertanggungjawaban Tuhan. Mereka yakin Ia yang Maharahim dan Mahabijaksana tidak akan membiarkan (apalagi menghendaki) tragedi. Apalagi hal itu dilaksanakan dalam kegeraman dan murka untuk menghukum. Mustahil. Apalagi jika Allah “haus darah”. Seakan Ia baru “puas” setelah melihat korban bergeletakkan.

Pada sisi lain, manusia tidak bisa membebankan dirinya dengan sebuah akibat, yang mungkin secara kasatmata tidak disebabkannya. Gempa bumi dan tsunami tidak bisa dilihat sebagai akibat dosa manusia kini. Sebab kalau paham ini diterima, bakal mendatangkan ‘pertobatan semu’. Saat bencana, tidak sedikit orang yang ‘aktif’ kembali dalam kegiatan keagamaan karena didasarkan pada asumsi bahwa tindakan ritual seperti itu bakal ‘meluluhkan’ emosi Allah.  Tetapi apa yang terjadi sesudahnya bila tidak terjadi bencana? Praksis hidup sebelumnya pun kembali dihidupi. Inilah pertobatan semu.

Dalam situasi demikian, yang perlu dikais manusia adalah maknanya. Aneka peristiwa yang terjadi dalam satu zaman dicoba dicari pesan yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya, pesan itu dapat memberi arah dan orientasi baru bagi sebuah kehidupan. Dengan kata lain, sebuah peristiwa lalu menjadi tanda zaman, karena mengarakterisasikan sebuah zaman, sambil mengungkap kebutuhan dan kerinduan manusia.

Hal senada diungkapkan teolog Spanyol, L Gonzalez-Carvajal. Dalam buku Los Signos de los Tiempos (1987) ia melihat tanda zaman sebagai peristiwa yang terjadi dalam ruang dan waktu tertentu, mengandung makna sekaligus menandai zaman itu. Ia sekaligus mengarahkan dan memberi orientasi kepada manusia yang hidup pada zamannya untuk lebih menunjukkan komitmennya pada zaman yang tengah mereka lewati.

Dengan kata lain, yang hendak ditekankan adalah kualitas peristiwa itu. Ia bukan sekadar peristiwa lepas yang kebetulan terjadi. Lebih dari itu. Peristiwa itu mengandung makna, karena di dalamnya ada pesan yang perlu ditanggapi manusia yang hidup pada zamannya.

Meningkatkan kewaspadaan

Lalu, apa pesan yang bisa dipetik dari gempa dan tsunami yang kini menimpa kita lagi? Arah kehidupan mana yang perlu dilewati setelah mendapatkan tanda zaman yang dibungkus dalam gempa bumi dan tsunami?

Pertama, pergerakan lempengan yang menjauh, mendekat, apalagi bertabrakan hingga mengakibatkan gempa dan tsunami, merupakan proses alami. Meski demikian, dalam proses itu, tanggung jawab manusia tidak bisa dipisahkan. Perlakuan sewenang-wenang terhadap alam berakibat “murkanya” alam atau mempercepat terjadinya tragedi. Karena itu, perubahan tingkah laku manusia, meski besar kemungkinan untuk meniadakan tsunami dan gempa, yang pasti dapat menjadikan kehidupan yang sementara ini lebih nyaman untuk dihadapi bersama. Kenyataannya, di tengah kian rentanya usia Bumi, tak jarang diperparah tingkah manusia yang kian egoistis dan arogan, baik terhadap alam maupun sesama. Karena itu, tragedi kali ini menjadi tanda zaman untuk mengajak kita berbenah. Hanya dengan demikian kehidupan yang sementara ini bermakna untuk semua.

Kedua, korban bencana ratusan jiwa menyadarkan kita akan tindakan antisipatif yang perlu dilaksanakan. Bumi yang kian tua akan rentan terhadap aneka “penyakit”. Penemuan geologis lempeng Euro-Asia dan Indo-Australia yang sudah “bertemu” hingga menghasilkan gempa dahsyat bergerak dari Aceh, Nias, Yogyakarta, dan kini Pangandaran. Sementara itu daerah lain menunggu giliran. Untuk itu, yang diperlukan adalah kewaspadaan, berupa penyadaran akan tanda-tanda alam disertai usaha menyelamatkan diri.

Selain itu, pemerintah perlu lebih gesit menanggapi peringatan dari Asian Pasific Tsunami Warning Centre, sambil mengupayakan sendiri alat pemantau terjadinya gempa dan tsunami. Untuk hal ini, tentu dibutuhkan biaya besar. Namun, bukankah korban yang ditelan tragedi bakal tidak sebanding dengan peralatan itu?

Ketiga, tragedi menjadi sebuah tanda solidaritas dan persaudaraan. Dunia yang kita miliki, diakui atau tidak, lebih diwarnai kompetisi, egoisme, dan nafsu untuk menang. Globalisasi dan pasar bebas yang disanjung, sadar atau tidak, telah memberlakukan hukum rimba sebagai aturannya. Di sana, yang kuat dan perkasa akan tampil sebagai pemenang. Yang kecil, miskin, dibiarkan melarat dan menanti ajal dalam kesendirian. Tidak ada tempat untuk berseminya kasih yang ikhlas.

Bencana alam justru hadir membawa solidaritas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, uluran tangan dari negara-negara asing begitu spontan ditawarkan. Mereka tidak menanti untuk berdiskusi, melainkan hadir dengan spontan, membiaskan sinar kasih.

Bukan itu saja. Dalam negeri, uluran tangan begitu spontan untuk memberi, tanpa keraguan sedikit pun terhadap penyalahgunaan. Baginya, tak jarang, sumbangan itu tidak sampai, “lenyap”, di tengah jalan. Akan tetapi, jika tidak memberi sama sekali, sumbangan itu tidak akan pernah sampai.
Robert Bala. Lulusan Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Sumber: Kompas 20 Juli 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s