Entropi Pendidikan

Entropi Pendidikan

Kompas, Senin 18 April 2011

Hari ini, ‘marathon’ Ujian Nasional (UN) dimulai. Siswa SMA mengawalinya, kemudian diikuti SMP dan SD. Jumlahnya cukup fantastis. Hampir 10 juta anak antri guna melewati saat yang sangat menentukan ini.Tanpa mengingkari aneka modifikasi yang sudah dibuat, pelaksanaan UN masih menyisahkan tanya: apakah perubahan itu telah mendekati atau malah menjauhkan kita dari transformasi sosial yang merupakan titik tuju kita?Kekacauan

Pelaksanaan UN sekilas menggembirakan. Siswa-siswi usia ‘gaul’ yang lebih senang ada bersama teman dan susah dikontrol,  kini ‘duduk manis’ untuk belajar. Bagi yang belum mandiri, ‘dibantu’ guru privat atau ‘dibimbelkan’.

Pemerintah yang sudah begitu ‘kukuh’ mempertahankan UN pun pasti lebih ‘pede’. Suasana masyarakat yang aman oleh absennya ketidakberaturan (seperti seusai kekalahan klub kesayangannya di Liga Indonesia) yang dilakukan anak usia SMP-SMA menjadi pembenarannya. Dan tentu saja, idealisme pemetaan pendidikan di balik pelaksanaan UN mendapatkan penguatannya.

Namun, apakah kita sudah berada pada jalan yang tepat? Dalam bukunya El fin de la educación, 1999, Neil Postman punya jawaban. Dengan berkaca pada hukum termodinamika, ia membuka mata siapa pun yang berkecimpung dalam pendidikan untuk menyadari kesia-siaan yang kerap terjadi.

Jelasnya, setiap kebijakan, ibarat materi dalam fisika, akan mengalami proses entropi atau ketidakberaturan yang mengarah kepada kehancuran. Itu hukum alam. Tidak ada orang yang terbebas dari aturan itu. Yang bisa dibuat adalah upaya negentropis untuk memperlambat kehancuran.

Kebijakan pendidikan pun demikian. Bila ia tidak kontributif terhadap perubahan sosial penuaan akan menjadi fenomen yang ditakuti. Sebaliknya perlu berubah agar sejalan dengan tuntutan zaman. Di sinilah kita paham, mengapa para pengambil keputusan pendidikan bergitu gemar melakukan ‘pembaharuan’ kurikulum dalamnya UN menjadi salah satu contohnya.

Tapi, mengapa perubahan itu tidak berimbas langsung dalam perbaikan kualitas bangsa? Antonio Arboledas dalam Problemas de la Educación, 2010 punya jawaban. Pendidikan yang semestinya integratif mencakup ‘otak’, ‘hati’, dan ‘tangan’ tidak dijalankan sebagaimana diwacanakan. Dalam praksis, lebih diutamakan rasio atau yang dikenal dengan  hipertrofi rasionalitas.

Pola ini tidak seimbang, ia pincang dalam praksis. Kecerdasan otak yang semestinya amat mulia dengan mudah dibelokkan untuk hal-hal tak terpuji. Otak bukannya untuk mencari solusi tetapi sekedar ‘mengakal-akali’ orang lain. Kita punya banyak contoh. Pajak yang mestinya menjadi harga mati, ‘ditawar’ lewat mekanisme tak pantas. Malah karena terlalu kerap terjadi, upaya penipuan itu sudah ‘profesional’ hingga  menjadi mafia.

Tabungan nasabah yang mestinya dijaga, begitu mudah dibobol oleh ‘tangan lincah’. Strategi disusun rapi dan begitu hebat hingga yang dirugikan pun tidak berani angkat bicara karena mekanisme pencucian uang (bisa saja) menjadi pertimbangannya (Kompas 8/4). Adagium “jika Anda diam, Anda emas” pun diterapkan.

Seribu satu contoh masih bisa dihadirkan tanpa melupakan begitu hebatnya anggota dewan kita yang  memperjuangkan perbaikan gedungnya padahal masih bisa dipakai. Namun mentalitas menganggarkan untuk diri sendiri dirasa lumrah sambil lupa bahwa rakyat yang diwakili masih hidup menderita darinya wakil rakyat mestinya juga jadi wakil derita.

Keadaan seperti ini mestinya mencemaskan. Kita telah memasuki zona yang disebut jurnalis Spanyol Iñaki Gabilondo, sebagai sebuah ‘pacto de ceguera’ atau  pakta kebutaan. Semua orang seakan sepakat untuk tidak melihat apa yang menjadi masalah dan malah berusaha membenarkan diri.

Apakah percepatan pelapukan entropis yang menggerogoti bangsa ini dibiarkan merajalela? Apakah derita akibat ‘salah ajar’ dalam istilah Thomas Amstrong dibiarkan berlarut sambil bangsa ini melewatkan waktu tanpa adanya perubahan transformatif yang lebih mengena?

Tentu saja tidak. Duka bangsa ini sudah kerap terjadi. Ia tidak perlu diperpanjang. Karena itu butuh komitmen untuk melawan pola pemraksasaan otak dan pengerdilan hati lewat model pendidikan dan menawarkan model yang lebih kritis, kreatif, dan tentu saja konstruktif.

Melawan di sini tentu tidak sekedar diartikan menghalangi pelaksanaan UN lantaran di baliknya ada ‘mega proyek’ yang tentu saja menjadi ‘tumpuan hidup’ banyak orang. Juga bukan juga sekedar melansirkan ‘model’ UN baru yang lebih transparan lantaran pola yang kita lakukan kini terkesan ‘misterius’ dan baru disosialisasikan tiga bulan sebelumnya.

Yang sangat diharapkan adalah menata proses pembelajaran. Suasana pendidikan yang akrab dan menyenangkan elemen yang sangat diberi prioritas. Ada kesadaran bahwa implementasi standar isi (konsep pembelajaran) dalam proses belajar mengajar adalah tumpuan yang mestinya dimiliki. Kalau hal itu terlewati dengan baik maka ujian (apalagi UN), apa pun modelnya akan disambut gembira dan bukannya ‘makhluk aneh’ yang harus ditakuti.

Tidak berhenti di situ. Pembelajaran mestinya punya sokongan publik. Ia tidak dilaksanakan di ruang kelas tetapi di semua lini entah pasar, jalan, lembaga publik hingga media massa. Semua sadar bahwa apapun yang dilakukan akan menjadi panutan yang nilainya tidak kalah pentingnya dengan ujian di sekolah.

Bila kita berkomitmen demikian, niscaya bangsa ini akan lebih cepat maju. Proses entropis yang menjadi proses alamiah tidak akan dicemaskan karena semua orang yakin, pada masanya, mereka sudah berbuat yang terbaik. Itu yang kita tunggu.

Robert Bala. Pengajar Creative and Critical Thinking pada UMN Serpong.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s