Guru Terbaik

Guru Terbaik 

Robert Bala, Opini Kompas Epaper 14 Agustus 2013

Memasuki tahun ajaran baru, pertanyaan menggelitik tentang efektivitas pembelajaran yang berimbas kepada kesiapan siswa menghadapi hidup, sangat urgen. Adakah pendidikan kita memampukan anak untuk menghadapi kehidupannya?

Mustahil bertanya demikian. Kesimpangsiuran penerapan kurikulum 2013, belum lagi gejolak perekonomian global terutama di negara maju yang barangkali selama ini menjadi acuan kita, membuat kita galau.
gurukuPertanyaan itu menjadi kian penting karena orang tua merasakan bahwa mereka sudah ‘jor-joran’ dengan biaya pendidikan (yang nota bene kerap dikampanyken ‘gratis’ itu). Dalam hati mereka terus mempertanyakan efektivitas atas ‘investasi’ belajar tersebut.

Dibanding dengan behavaviorisme (yang menekankan proses internal dalam belajar) dan kognitivisme (yang menyelaraskan pembelajaran dengan cara kerja otak), para pedagog terkini melihat bahwa konstruktivisme merupakan metode belajar terbaik.

Mengapa? Proses ini dibangun di atas kesadaran bahwa siswa sudah memiliki aneka pengalaman. Tugas guru adalah merangkaikan pengalaman itu menjadi sesuatu yang bermakna. Untuk itu, pedagog seperti John Dewey dalam Democracy and Education (1950) secara jelas mengungkapkan belajar sebagai proses pemaknaan pengalaman.

Dalam kaca mata yang sama, David Kolb, pendiri Experience Based Learning, secara jelas menekankan bahwa ketika pengalaman dipadukan dengan pemahaman akan membentuk sebuah pengetahuan.

Di sini jelas, pengetahuan tidak dimaknai sesederhana sekedar menguasai beberapa teori abstrak sebagaimana kerap disalah mengerti. Ia merupakan hasil yang tercipta dari perpaduan kreatif antara pengalaman dan pemahaman. Artinya, tanpa pengalaman dan pemahaman, mustahil tercipta pengetahuan.

Masalah Mengajar

Berpijak pada pemahaman ini maka mestinya tidak ada permasalahan siswa dalam belajar. Ia terlahir dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Karena itu, mestinya tidak ada keluhan tentang masih banyaknya siswa ‘bodoh’ dalam kelas dengan motivasi belajar yang ‘sangat rendah’ demikian keluhan yang kerap terdengar dari para guru.

Apakah keluhan itu benar adanya? Bisa saja. Dengan bantuan teknologi yang memudahkan segalanya,  siswa kita lebih suka mencari jalan yang lebih mudah dan aman. Apa yang sulit yang barangkali menjadi bagian dari pengalaman orang dewasa tidak bisa dipahami. Mereka suka cari yang ‘enaknya’ saja.

Tetapi bila para tokoh pendidikan benar dalam analisis tentang potensi siswa dalam belajar, maka kita (para guru) mesti sadar bahwa masalahnya ada pada para guru.  Ada sesuatu yang salah

Jelasnya, apakah pengetahuan yang diajarkan adalah sungguh sebuah produk dari pengalaman dan pemahaman, atau sekedar beberaan teori yang tentu saja sangat tidak menarik dan membosankan bagi siswa kita?

Tidak hanya itu. Kebosanan itu juga ekspresi bahwa model pembelajaran itu sama sekali tidak mengikuti apa yang dikehendaki otak. Para peneliti organ terpenting manusia itu sepakat bahwa penerimaan informasi akan lebih mudah dan kuat bertahan apabila dikombinasikan dengan gerak. Dalam konteks ini, pembelajaran aktif merupakan cara terbaik dalam membentuk pengetahuan yang tangguh.

Kenyataannya, ada asumsi, semakin siswa ‘tertib’ dalam kelas semakin baik. Aneka gerakan selalu dianggap mengganggu. Padahal apa yang dilakukan adalah refleks dari kebutuhan otak yang butuh penyegaran oksigen demi mempermudah proses penyerapan informasi.

Tetapi itu pun guru tidak bisa dipersalahkan. Niat untuk melakukan pembelajaran menarik yang berbasis otak (brain-based-learning), tentu sangat dikehendaki guru. Guru tentu saja senang melihat siswanya senang dan bukan sebaliknya gembira melihat anak didiknya terpaku bisu dalam situasi stress.

Tapi kadang ia terpaksa melakukannya karena terkejar oleh tuntutan materi. Tujuan pembelajaran bukan lagi dihasilkannya kompetensi maksimal atau adanya outcome maksimal tetapi sekedar mengejar diselesaikannya materi.

Transformasi Pengalaman

Apa yang mesti dibuat membangun sebuah pembelajaran bermakna? Tanpa terjebak dalam aneka janji muluk seperti mengganti kurikulum sebagai solusi atau tawaran mesianik yang sekedar dibesar-besarkan demi mencapai niat terselubung, pembaharuan mesti punya pijakan yang kuat.

Yang dimaksud, rangkaian pengalaman masa silam perlu jadi pembelajaran bermakna agar kita tidak jatuh lagi ke kekeliruan yang sama.  Dalam bahasa Tony Buzon, tercipta self-recovery system dimana pengalaman itu menjadi pembelajaran sehingga apa yang tidak ada bisa diakomodir dan yang sudah baik bisa ditingkatkan lagi.

Bila proses ini terus dihidupi maka sebuah proses kreatif telah terjadi. Pengalaman di sini telah menjadi guru terbaik yang mengajarkan kita tentang apa yang mesti dibuat dihindari demi memberikan hidup lebih bermakna dan berbobot.
guru terbaik

Pada sisi lain, makna yang dibangun tentu tidak bisa diartikan secara individual belaka. Pengalaman kejatuhan bahkan sudah menjadi ciri kemanusiawian kita. Dalam konteks ini maka belajar dari kejatuhan orang lain bisa jadi sumber pembelajaran agar kekeliruan yang sama tidak diulangi lagi.

Sebagai sebuah bangsa, tuntutan itu lebih kuat lagi. Upaya selalu mengganti kurikulum tentu saja sebagai ekspresi kemajuan dan perubahan itu sendiri. Tetapi menengok masa lalu dimana meskipun sudah kerap diganti tetapi tidak banyak perubahan yang berarti, maka ia jadi pengalaman bahwa permasalahan bisa saja tidak di situ.

Yang pasti, perubahan itu harus berawal dari guru. Siswa pada gilirannya hanya membiaskan apa yang dialaminya bersama dengan guru.

Robert Bala, M.A., DiplRobert Bala. Guru pada Sekolah Tunas Indonesia Bintaro, Tangerang Selatan.

Sumber: Kompas Epaper,14 Agustus 2013

Advertisements

6 Responses to Guru Terbaik

  1. peter rohi says:

    Guru terbaik adalah yang mampu membuat murid merasa berkewajiban sebagai manusia.

  2. Andre says:

    guru yang baik mampu membuat siswa berpikir sendiri, mampu mengungkapkan pikiran/pendapat sendiri dan kreatif….

    • robert25868 says:

      Setuju bung Andre. Siswa dapat menjadi kreatif karena ‘disiapkan’ oleh guru. Selama mereka dipercayai dan diberi kesempatan, segala yang tak mungkin bisa terjadi. Salam

  3. frans kupang says:

    guru terbaik kalao suatu waktu siswi siswanya menjadi guru dalam hidupnya

    • robert25868 says:

      Pak Frans Kupang, ungkapan itu sangat tepat. Adanya kombinasi antara pengalaman antara siswa dan guru, jadilah guru yang baik mengajarkan siswa untuk mengola pengalamannya. Dengan itu, ia juga jadi guru. Ia jadi guru berkat pelajaran yang dilakukan selama hidupnya. Salam ke Filipina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s