Menguji Ujian

Menguji Ujian

(Kompas, 24 Oktober 2007)

Rencana menggulirkan kembali ujian nasional atau UN untuk SD perlu disimak. Selain muncul di tengah maraknya penolakan pelaksanaan UN pada jenjang lebih tinggi, perubahan itu sekaligus mempertanyakan konsep kita tentang pendidikan, darinya mengalir aneka kebijakan.

Terhadap pendidikan, ada yang melihatnya sekadar pengajaran yang dikemas dalam mata pelajaran atau bahan ajar demi mendapat gelar. Konsentrasi pengajaran lebih tercurah kepada proses di dalam kelas. Kegiatan lain di luar kelas atau ekstrakurikuler hanya pelengkap.

Kelemahan itu melahirkan konsep pendidikan sebagai pengalaman belajar (Stratemeyer, dkk, 1947). Sekolah dilihat sebagai tempat “menempa” siswa agar setelah tamat langsung diserap dunia kerja. Karena itu, berbagai hal yang terkait dengan kehidupan perlu dilatih di sekolah.

Namun, begitukah pendidikan? Bukankah yang lebih penting adalah memampukan pribadi siswa sehingga kelak dalam situasi apa pun dapat menjadi pribadi kreatif sesuai tuntutan waktu dan tempat? Pertanyaan inilah yang memunculkan kesadaran, pendidikan sebagai proses yang berpijak pada pematangan individu (learning process and the development of individual).

Dengan kata lain, yang hendak dicapai bukan pengalaman belajar sebanyak-banyaknya, tetapi dengan pendekatan cara belajar (approach to learning) siswa diharapkan dapat menemukan cara belajar terbaik. Ia pun mengasah daya intelektualnya untuk memahami bagaimana mengetahui (how do I know). Tidak kurang, bagaimana mengomunikasikan pemahaman.

Sementara itu, tentang ruang pengalaman, yang dilatih adalah kesadaran tentang mengapa dan bagaimana berkreasi (why and how do we create). Bukan itu saja. Di tengah dunia yang dilanda dampak destruktif teknologi, siswa secara dini diarahkan untuk memahami berbagai konsekuensi dari apa yang dibuat (what are the consequences).

“Core curriculum”

Pemahaman tentang pendidikan sebagai proses dengan basis pematangan individu seharusnya menjadi acuan dalam pendidikan. Tuntutan zaman yang menyajikan aneka kemungkinan hanya bisa dilewati dengan sukses oleh pribadi yang matang, kreatif, sekaligus bertanggung jawab. Dalam konteks ini, pendidikan di sekolah diharapkan memberi ruang gerak kepada siswa untuk mengembangkan pribadinya.

Karena itu, jika ujian dilaksanakan, dibuat setiap saat seirama perkembangan psikologis peserta didik. Hal itu untuk mengetahui apakah perkembangan intelek ataupun tuntutan pengalaman hidup sejalan perkembangan individu. Tidak kalah penting, ujian dilakukan dalam proses berkesinambungan.

Namun, apa yang terjadi? Digulirkannya kembali UN yang melibatkan siswa SD menjadi kenyataan yang patut disayangkan. Ternyata pemahaman kita tentang kurikulum sekadar satuan mata pelajaran. Jelasnya, karena bahan ajar sudah tergambar sistematis dalam kurikulum resmi dan berlaku nasional, ia perlu “diuji” guna mengetahui sejauh mana sebuah ide diterapkan.

Namun, konsep seperti ini masih bisa diterima jika disertai proses seleksi mata pelajaran untuk menemukan mata pelajaran inti (core curriculum) dan pilihan. Secara dini, para siswa diberi kemungkinan untuk memilih mata pelajaran sesuai minatnya.

Dalam kenyataan, proses seleksi itu tidak berjalan. Selama masa pendidikan, siswa dibebani banyak pelajaran yang kadang tumpang tindih. Namun, menjelang akhir masa belajar, mereka hanya diberi tiga mata pelajaran sebagai ujian negara. Memang ujian sekolah juga dipandang penting. Tetapi siapa pun tahu, yang diuji secara nasional akhirnya menjadi ukuran tentang kualitas dan pemetaan pendidikan.

Memantapkan proses

Kejanggalan pelaksanaan dan dana ujian yang “menggiurkan” menjadi keprihatinan. Kita bertanya, apa yang sebenarnya ingin dicari negeri ini? Pahamkah kita, sebuah bangsa hanya akan maju di masa depan saat pada masa kini (dan belajar dari masa lalu), secara konsisten membenahi proses, bukan sekadar menunggu di akhir untuk “menguji”?

Jika kenyataan ini disadari, kita tentu sepakat, dana ujian bisa digunakan untuk memantapkan proses. Tidak sedikit gedung sekolah nyaris runtuh akan diperbaiki. Dengan demikian, siswa pun merasa nyaman dalam belajar. Anak-anak yang kekurangan gizi pun bisa menikmati segelas susu. Selain itu, guru-guru yang mengajar dalam keprihatinan hidup pun bisa didukung.

Bila proses itu dilalui, kita yakin hasil itu cepat atau lambat akan datang. Sementara itu bila proses dilupakan, kita hanya akan mengulang kisah tragis yang sama setiap tahun. Sampai kapankah harapan akan pemantapan proses dapat terwujud?

Maria FK Namang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s