Menjernihkan Pendidikan

Menjernihkan Pendidikan

(Kompas 12 Juni 2009)

Mendekati Pilpres seperti ini, pendidikan menjadi salah satu isu penting. Namun terkadang debat tentang visi dam misi capres justru menimbulkan kegamangan. Falsafah pendidikan yang semestinya ‘harga mati’ dalam kenyataannya ketika berada di tangan politisi,  diganti dengan pemahaman pragmatis (Kompas 1/6). Bagaimana menjernihkannya?

Tiga elemen

Para pakar umumnya sepakat, pendidikan mesti diteropong dari tiga aspek. Ia harus memiliki rumusan konseptual baku atau ‘written curriculum’. Dalamnya tertuang   apa yang harus diketahui dan komptensi yang harus dimiliki siswa pada setiap level pendidikan.

Häyrynen dan Hautamäki, J. dalam Människans Bildbarhet och Utbildningspolitiken (1997) memperluas konsep ini. Baginya, sebuah fungsi pembelajaran bermakna bila tidak berhenti pada aspek pengetahuan (to know), dan keahlian (to be able), melainkan merambah juga kepada daya eksplorasi (to study) and harapan (to hope).

Selanjutnya dibutuhkan langkah metodologis-pedagogis atau ‘taught curriculum’ untuk mentransformasikan konsep ke dalam aksi. Ia adalah proses vital. Ide yang baik perlu diterapkan oleh pendidik yang kompeten. Namun demikian ia bukanlah akhir. Secara analogis, ia diumpamakan dengan jembatan yang menyatukan konsep dan perwujudan. Ia menginspirasi orang untuk terus berjalan dan bukannya berhenti di situ.

Bila proses ini dilalui dengan baik maka barulah kita berbicara tentang ujian atau ‘learned/assessed curriculum’. Pada level yang paling mendasar, ia bertujuan untuk mengetahui apakah proses pembelajaran sudah dilewati dengan baik atau tidak. Kegagalan atau kesuksesan menjadi takaran tentang kualitas proses itu sendiri.

Tanpa Arah

Pemahaman pendidikan sering rancu dalam kenyataan, demikian Hugo Ferreira Gonzales dalam Calidad Total en la Educación, 2002. Visi sebagai konsep baku yang harusnya melandasi cara berpikir dan bertindak, dalam kenyataan dikalahkan begitu mudah oleh pragmatisme dan pertimbangan sesaat. ‘Gonta-ganti’ kurikulum menjadi contohnya.

Kegelisahan juga terlihat dari minimnya suasana kegembiraan dalam proses belajar mengajar. Siswa terlampau dijejali aneka beban belajar. Memang sekilas hal itu menyenangkan para pejabat yang melihat berkurangnya kenakalan remaja menjelang ujian. Sayangnya, bila dikritisi, esensi pendidikan tengah dikorbankan. Yang dibuat sekedar menghafal dan bukan belajar dalam arti sesungguhnya. Bahkan menurut Cole, M. dalam Cultural Psychology. A Once and Future Discipline (1996) pendidikan sebagai bagian dari proses sosialisasi pun diingkari.

Derita dalam pendidikan akhirnya menjadi lengkap oleh ujian. Yang diuji bukan lagi pemahaman komprehensif, melainkan sekedar uji daya memori dan keahlian menjatuhkan pilihan pada alternatif jawaban yang disediakan. Realitas kehidupan yang begitu kompleks begitu disederhanakan untuk dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat terbatas. Kita lalu puas dengan meningginya grafik kelulusan. Padahal kehidupan yang rumit membutuhkan daya kreasi dan eksplorasi yang hanya muncul dari pribadi yang telah melewati proses pendidikan dengan gembira.

Membangun Harapan

Perubahan mestinya dilakukan kalau kita berkomitmen pada visi kebangsaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa demi tercapainya kesejahteraan sosial.

Pertama, perlu menghidupkan daya eksploratif yang muncul sebagai konsekuensi dari pembelajaran atraktif dan menyenangkan. Siswa terdorong untuk belajar bukan karena tekanan UN melainkan karena iklim rekreatif-pedagogis. Siswa yang gembira akan secara sosial berkolaborasi untuk membangun negerinya dan menjadikannya lebih disegani dalam kancah internasional.

Selama ini kita memahami secara keliru tentang belajar. Ia lebih terarah kepada penghafalan sejumlah teori untuk kemudian dijawab dalam pilihan ganda seakan hidup begitu mudah. Belajar seharusnya dipahami sebagai pemberdayaan daya eksplorasi agar menjadi lebih kreatif dalam karya.

Kedua, perlu kemauan (willingness) dan kesediaan (readiness) membenahi proses pendidikan, demikian Snow, R., dalam New Approaches to Cognitive and Conative Assessment in Education (1990). Para politisi mesti sadar bahwa perubahan ada dalam tangan mereka. Kemauan mereka untuk meluruskan kerancuan konseptual merupakan langkah bijak. Ia lalu diikuti oleh kesediaan mengorbankan visi pendidikan yang egoistik-pragmatis kepada pemangkuan visi pendidikan yang lebih komprehensif dan tepat sasar.

Bila proses ini dilalui maka harapan sebagai elemen konstitutif pendidikan akan hadir sebagai ganjarannya.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Bekerja pada Sekolah Tunas Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s