Pendidikan, Mengelola Harapan

Pendidikan, Mengelola Harapan

(Kompas 20 Agustus 2008)

Di tengah hiruk-pikuk awal tahun ajaran baru, pertanyaan tentang pendidikan yang transformatif kembali mengemuka. Bagaimana mempercepatnya?

Mustahil bertanya demikian. Rontoknya kewibawaan lemba- ga penjamin keadilan ataupun modus operandi yang kian ”rapi” melegalkan korupsi, sekadar menyebut dua contoh, hadir memperbesar pesimisme kita.

Benar ketika Kaës René dalam Crisis, Ruptura y Superación (1979) mengatakan, manusia adalah subyek krisis. Ia selalu ada dalam ”sudah” dan ”belum”. Yang lama sudah ditinggalkan, tetapi yang baru belum tercapai. Proses alamiah seperti ini sekaligus menjadi hiburan bagi kita yang masih terkatung-katung dalam krisis. Terang pasti terbit setelah kegelapan yang dilalui. Begitu kita menghibur diri.

Namun, harapan menjadi sirna saat tidak disertai komitmen yang jelas. Dalam bahasa Jean Paul Sartre, (El Existencialismo es un Humanismo: 1999), harapan akan cepat mengendur saat resignasi (resignación) lebih dominan ketimbang keikhlasan (renuncia). Tiap orang berusaha dengan cara apa pun untuk memperoleh apa yang dikehendaki. Kacau-balau (chaos) sosial karena benturan kepentingan tidak digubris.

Polemik Pilkada Maluku Utara dan ”membengkaknya” jumlah partai dapat dijadikan contoh. Kebaikan umum terpinggirkan. Kesejahteraan dibiarkan terkatung-katung. Keikhlasan untuk mengorbankan diri (renuncia) sebagai jalan etis menuju kesejahteraan menjadi utopis. Ia diucapkan, tetapi setengah hati. Yang ada hanya upaya untuk terus bertahan karena tuntutan pribadi adalah harga mati.

Oleh Sorge B, dalam Perché tante scuole di formazione política? (1989), gejala ini disebut sebuah penyakit sosial yang terjadi akibat ketiadaan etika. Dalam konteks kita, penyakit ini bisa jadi bersifat kronis.

Defisit formasi

Ketimpangan sosial yang terus terjadi, oleh Paus Yohanes XXIII dalam Mater et Magistra, dilihat sebagai konsekuensi dari model pendidikan yang tidak tepat. Pendidikan kehilangan nyali sebagai tempat pembentukan watak. Tiga aspek: hand (tangan), head (kepala), dan heart (hati), yang seharusnya hadir sebagai tritunggal pendidikan dijabarkan secara sporadis dan terpisah-pisah. Sekolah hanya menjadi tempat menempa otak. Kreativitas psikomotorik dijauhkan. Hati yang ikhlas menjadi barang langka.

Akibat defisit pembentukan (defecto de formación) seperti ini adalah pribadi yang terbentuk tak utuh dan cenderung manipulatif. Ia akan lincah mengendus ”celah” di mana pun sejauh memberi keuntungan pribadi. Modus korupsi akan ”dimodernisasi”.

Tidak hanya itu. Kepincangan pembentukan juga bisa ”dimanfaatkan” sebagai ajang propaganda aksi-aksi destruktif. Warga yang frustrasi ditawari hiburan ajaran sempit yang membenarkan kekerasan sebagai jalan pintas. Dalam bahasa M Martini, (Farsi prossimo nella città, Milano 1986), setiap perbuatan yang sempit akan mempersulit terwujudnya masyarakat yang dipenuhi pribadi berbudi luhur dan menghambat perkembangan yang lebih integral.

Mata terbuka

Bagaimana menata pendidikan hingga dapat menjadi medium transformasi sosial? Pertama, perlu pendidikan dengan spiritualitas ”mata terbuka”. Di sana peserta didik diarahkan untuk menatap realitas apa adanya. Kelaparan, bencana alam, penderitaan, dan korupsi, termasuk kesuksesan yang diperoleh, ditelaah apa adanya. Penyebabnya digali. Jalan keluar dicari dan ditemukan dalam lingkupnya.

Selama ini, pendidikan kita lebih tepat disebut ”membutakan”. Realitas sosial yang kompleks tampak begitu mudah. Pola ujian yang hanya memilih dari alternatif yang tersedia, misalnya, dapat memberi kesan begitu indahnya kehidupan ini. Kita menguji apa yang tidak ada dalam kehidupan dan menghidupi apa yang tidak kita uji.

Kedua, pendidikan untuk menjadi ”pengalah”. Sebenarnya metode ini bertentangan dengan kompetisi demi mencari siapa yang terkuat dan tercepat. Meskipun demikian, mengalah demi sesuatu yang lebih luhur adalah tindakan patriotis dan heroik, apalagi yang dipertaruhkan adalah kebesaran bangsa.

Kita justru bergerak sebaliknya. Bangsa besar seharusnya kian kokoh oleh persatuan dan kesatuan. Kenyataannya kita menjadi amat lemah dan tak berdaya oleh nafsu egois mencari ”kemenangan partikular”.

Ketiga, selama ini kegagalan terjadi karena kita menggantungkan harapan kepada orang lain untuk menjadi ”mesianis politik” bagi kita. Nasib bangsa digadaikan di tangan politisi yang terorbit ke pentas politik bukan karena kualitas yang teruji, melainkan karena dana yang berbicara.

Pembaruan hanya bisa terwujud jika kita berani untuk tidak mengulang kekeliruan yang sama. Harapan pasti akan terwujud jika hanya kita sendiri yang mengelolanya. Peran masyarakat sipil yang bergerak dari bawah, bersifat antisipatif dan bukan reaktif, tidak akan salah dalam memilih wakil dan tidak akan lagi tersandung saat mengelus pemimpin daerah ataupun nasional.

Maria FK Namang Alumna Facoltà di Scienze dell’Educazione dell’Università Pontificia Salesiana-Roma. Sumber: Kompas 20 Agustus 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s