Pendidikan yang “Memerdekakan”

Pendidikan yang ”Memerdekakan”

(Kompas 15 Agustus 2007)

Saat merayakan HUT kemerdekaan, pertanyaan evaluatif tentang keadaan bangsa kembali mengemuka. Apakah kematangan usia juga terekspresi dalam realitas bangsa yang kian membaik? Apa kaitannya dengan model pendidikan kita?

Paulo Freire (1921-1997), pedagog asal Brasil, mendeteksi model pendidikan pada masanya sebagai salah satu akar penyebab. Dari sana ia menyebar seperti virus dalam aneka kebijakan yang menjerumuskan.

Bisa dipahami. Pendidikan pada dekade 1960-an, dunia terlalu dipengaruhi angan-angan memasuki milenium baru. Katanya, keberadaan dan keberartian seseorang diukur dari tingkat penguasaan teknologi. Model teknologi yang bakal muncul pun sudah diprediksi. Ia meneruskan model lineal. Memang ada perubahan, tetapi tidak terjadi secara substansial.

Cara berpikir itu selanjutnya diterjemahkan dalam konsep pendidikan yang monologal. Pendidik yang dianggap mengetahui semua hal mentransfer pengetahuannya kepada peserta didik yang dianggap tabula rasa, atau papan kosong.

Sistem ini oleh Freire (Pedagogia del oppresso: 1970) dianalogkan dengan model bank. Peserta diarahkan untuk hanya menyimpan pengetahuan, kecakapan teoretis, dan kelincahan menguasai teknologi, seperti yang diajarkan guru. Daya kritis nyaris tak diberi tempat.

“Hipertext”

Sekilas, model pendidikan ala bank adalah solusi yang menggiurkan. Memberi kemampuan dan melatih keterampilan akan amat bermanfaat. Tiba saatnya, mereka menjadi pribadi terlatih yang siap memasuki dunia kerja. Kemajuan pasti digenggam apabila kriteria-kriteria seperti tertulis indah dalam buku teks diikuti secara harfiah.

Tanpa disadari, model pendidikan seperti tersebut bersifat membelenggu. Peserta didik lebih diarahkan untuk memenuhi sejumlah target kurikulum. Sementara itu, lingkungan sekitar, konteks tempat seseorang hidup, dan tanda-tanda zaman kurang diberi perhatian. Tak pelak, saat muncul model lain, yang tidak sesuai dengan skenario, akan menghancurkan tatanan sebelumnya. Kehancuran Brasil pada dekade 1980-an dan Indonesia pada akhir dekade 1990-an adalah contohnya.

Seharusnya pengalaman tragis itu tidak perlu dialami bila awasan Freire cukup mendapat perhatian. Dalam buku L’educazione come practica della libeazione: 1969, dia menawarkan model pendidikan yang lebih dialogal, yaitu guru dan murid saling mendidik. Keduanya tidak terpaku pada buku teks, yang sudah disusun begitu tematis mengikuti kurikulum.

Sebaliknya, mereka lebih diarahkan untuk mengembangkan daya nalar dan rasa serta kemampuan kreatif karsa dalam situasi apa pun.

Metode inilah yang diperjuangkan Freire, atau yang kini dirumuskan sebagai hipertex, yang oleh George P Landow ditulis dalam Hypertext: the Convergence of Contemporary Critical Theory and Technology: 1992. Di sana, setiap pribadi dipertajam pisau analisisnya, diasah nuraninya, dan dikuatkan kehendaknya, agar dalam konteks apa pun mereka sanggup mengambil keputusan yang tepat.

Ruang kreasi

Pada HUT kemerdekaan seperti ini, kita perlu ikhlas mengakui, keterpurukan yang masih dialami bangsa ini terkait model pendidikan yang kita anut. Meski de iure kita cukup merdeka dalam menentukan model pendidikan kita, namun secara de facto, praktik kolonialisme masih dominan. Pendidikan kita masih bernuansa imitatif untuk mengembangkan kemampuan operatif dan akuisitif dari teknologi. Sementara itu, kemampuan suportif apalagi inovatif produk hipertext masih jauh dari harapan.

Untuk itu dibutuhkan pembenahan. Pertama, perlu pemberdayaan ruang kreativitas. Para siswa perlu dipandang sebagai partner pendidikan dan subyek pedagogis. Bersama guru, mereka meretas relasi kerekanan yang saling memberi dan menerima. Dan terpenting, akal, nurani, dan tangannya (head, heart, hand), diberdayakan secara utuh. Di sana, diharapkan agar dalam kondisi berbeda mereka mampu menjadi pelaku. Itulah yang dikehendaki hipertext.

Kedua, kita butuh pijakan filosofis pendidikan. Ia menjadi kekuatan internal yang menjadi pedoman dan penuntun arah dalam berbagai kebijakan. Kenyataan menunjukkan, perubahan yang kerap terjadi pada level kurikulum, lebih menjadi ekspresi imitatif terhadap negara lain ketimbang buah refleksi dengan pijakan falsafah bangsa yang kuat. Kita bagai bunglon yang begitu rajin mengubah warna, tetapi tidak pernah menukik ke kedalaman batin untuk menjadikannya titik awal perubahan itu dari sana.

Ketiga, butuh kehendak politik. Rambu-rambu yang terumus dalam kurikulum amat baik karena mengikuti pemikiran pedagogis-edukatif mutakhir. Hanya saja, rancangan itu tidak disertai komitmen. Pemerintah masih setengah hati dalam perubahan hingga ada kesan masih ada neokolonialisme. Buku cetak (buku teks) masih dijadikan acuan tunggal dalam mengajar. Dan tidak dilupakan, buku cetak juga peluang bisnis, yang selalu akan terus diganti mengikuti permintaan pasar.

Untuk itu, tidak ada pilihan selain menyadari kembali pola pendidikan yang masih menindas dan menguatkan kehendak agar secara kolektif-kebangsaan kita membuat pembaruan. Hanya dengan demikian tiap tahun bangsa akan makin maju secara gradual dan kian kokoh. Dirgahayu Republik Indonesia.

Robert Bala. Lulusan Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Sumber: Kompas 15 Agustus 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s