“Reengineering” Proses Pendidikan

“Reengineering” Proses Pendidikan (Kompas 17 April 2007)

Kontradiksi ujian akhir nasional atau UAN nyaris tak bergema. Hari ini, sekitar 2.075.800 SMA/SMK/MA melaksanakan ujian akhir. Hal yang sama diikuti minggu depan. Sekitar 3.180.000 siswa SMP/MTs bakal melewati proses yang sama. Sebuah momen yang dihadapi dengan “harap-harap cemas”. Tidak hanya siswa. Tidaksedikit orangtua yang, meski dalam keterpurukan ekonomi, telah berusaha menyisihkan dana demi   mimpi, pendidikan bakal membantu.

Meski demikian, terbesit pertanyaan yang menjadi latar belakang tulisan ini: apakah ujian nasional dapat menjadi indikator pengukur bobot pada pendidikan kita? Apakah ia memberikan kontribusi untuk dapat bermimpi menjadi “The Big Five” pada tahun 2030 nanti?

Rekayasa ulang

Reengineering atau rekayasa ulang proses bisnis menjadi topik penting pada awal dekade sembilan puluhan. Betapa tidak. Kebangkrutan akibat ketidakmampuan bersaing dan kelambanan mengikuti kiprah teknologi informasi yang demikian maju dan cepat, dan terutama regulasi pemerintah yang selalu datang terlambat, mendorong para pelaku usaha untuk melakukan rekayasa ulang proses bisnis (Hammer, M dan Chmapy, J: Reengineering the Corporation: A Manifesto for Business Revolution ,1993).Proses rekayasa bisnis yang notabene sangat padat teknologi tentu tidak sekadar berhenti pada evaluasi pada tahap fisik berupa mesin dan peralatan lainnya, tetapi mencakup keseluruhan sistem. Sebab, teknologi, demikian Drucker (1959), adalah sebuah sistem, yaitu suatu kumpulan dari satuan-satuan dan kegiatan kegiatan yang saling berkaitan dan saling berkomunikasi.

Dalam bahasa Sharif (1993), rekayasa mencakup empat hal, yakni fasilitas fisik (technoware), keterampilan, keahlian, bahkan kreativitas manusia (humanware). Dan tidak kalah pentingnya, rekayasa terhadap dokumen fakta (infoware) yang demi mempercepat proses belajar. Akhirnya institusi yang mengoordinasi proses produksi (orgaware) pun perlu dijamah. Keseluruhan proses ini perlu ditinjau kembali.

Tidak dapat disangkali, maksud besar di balik setiap perubahan adalah keuntungan. Jelasnya, apakah ada jaminan return atau keuntungan di balik setiap investasi yang sudah dilakukan? Atau, apakah proses kerja lama yang sering lamban dan mahal masih bisa dipertahankan untuk bersaing dengan kecepatan teknologi? Jelas, proses yang disertai prinsip: better, cheaper, faster, menjadikan dunia usaha tidak memiliki pilihan lain mengadakan rekayasa kalau tidak menerima kenyataan pahit: bangkrut.

Kontradiksi

Rekayasa ulang dunia bisnis dengan takaran keuntungan sering dijadikan alasan untuk tidak menerapkannya dalam dunia pendidikan. Keduanya berbeda substansi. Yang satu menggunakan perangkat yang bisa diukur dan diraba (tangible). Yang lainnya lebih bergerak pada level abstrak karena berusaha meneliti pengetahuan (knowledgement).

Dunia bisnis mengarah pada profit, sementara pendidikan (katanya) lebih mengacu pada aktivitas nonprofit. Meski demikian, kita sepaham, rekayasa ulang proses bisnis dapat dijadikan inspirasi mengadakan rekayasa ulang pendidikan kita. Sistem pendidikan kita yang menjadi tumpuan bertemunya pelbagai subsistem coba dievaluasi dan ditinjau. Kemampuan pendidikan kita mulai dari operatif, akuisitif, suportif hingga inovatif dicek. UN, karena itu, bila dianggap sebagai bagian dari rekayasa pendidikan, perlu mencakup keempat kompetensi.

Hanya dengan demikian ujian kita menjadi lebih pasti dalam membangun landasan untuk kemajuan yang lebih tinggi. Di sana mimpi 2030 bukan mustahil. Namun, yang terjadi justru lain. Proses pendidikan ternyata telah dikerucutkan pada sebuah momen “sakral”, 120 atau 90 menit yang digunakan untuk melaksanakan UN. Di sana para siswa kita diukur, apakah mampu menjawab pertanyaan dengan kemungkinan jawaban yang telah tersedia.

Sadar atau tidak, model evaluasi seperti itu mengindikasikan masih rendahnya kemampuan teknologi kita. Kita masih jauh untuk memiliki kemampuan inovatif dan kreatif. Jelasnya, kita masih terseok-seok dengan technoware. Hal itu memunculkan pertanyaan: apakah hal itu memungkinkan kita tampil sebagai negara yang disegani di dunia internasional pada tahun 2030 nanti? Jelas tidak. Pada saat itu, negara yang ingin kita kejar ternyata sudah memiliki

model pembangunan lain.

Berbenah

Lalu, apa yang mesti dibuat? Pertama, pendidikan perlu dilihat sebagai medium atau bahkan ruang kreativitas. Di sana para guru diberi kemungkinan untuk mengembangkan silabus pendidikan sesuai dengan realitas lokalnya sambil tidak melupakan realitas global tentunya.

Sementara itu, para siswa diberi kebebasan dan kepercayaan untuk memiliki kemampuan suportif dan inovatif serta kreatif. Pribadi seperti ini memiliki kemampuan untuk mengerti dalam rincian “pengetahuan bagaimana” (know-how) dan “pengetahuan mengapa” (know-why), yang pada akhirnya menjadi awal lahirnya kreasi berdaya saing internasional.

Kedua, kemampuan yang kreatif dan inovatif hanya bisa dicapai ketika wilayah cakupan yang lebih kecil. Pemerintah daerahlah yang mengenal konteksnya merancang ujian yang lebih pas. Atau bahkan, sekolah sendirilah yang harus bertanggung jawab meluluskan seseorang, sama seperti ia miliki dalam menaikkan seseorang ke kelas yang lebih tinggi.

Negara-negara maju, seperti Eropa dan AS, dan tidak sedikit negara di Amerika Latin bahkan sudah lama mengucapkan “adios” (selamat jalan) terhadap ujian negara. Hanya kita saja yang masih “kecantol” dengan UN. Sebuah pilihan yang bukan mustahil berkaitan dengan dana miliaran rupiah yang hanya bisa dicairkan kala ada UN. Asumsi seperti ini bisa salah. Tetapi, ketidaksiapan SDM kita dalam merebut pasar internasional yang kita rasakan kini dan realitas ekonomi yang terpuruk akibat ketidakmampuan bersaing menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan pendidikan kita. Karena itu, diperlukan keberanian untuk mengatakan “cukup sudah” pada UN. Cukup generasi ini yang dibantai dengan UN. Tahun depan kita sudah merdeka karena ingin lebih berkonsentrasi menjadikan mimpi 2030 sebuah kenyataan.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Sumber: Kompas 17 April 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s