Reposisi ”Homeschooling”

Reposisi ”Homeschooling” (Kompas 9 Juli 2007)

Menjelang awal tahun ajaran baru tidak sedikit orangtua memilih homeschooling. Gencarnya promosi meyakinkan mereka bahwa morat-maritnya pendidikan perlu ditanggapi dengan terlibat lebih aktif dalam pendidikan anak-anaknya. Homeschooling dilihat sebagai alternatif. Namun, sinkronkah homeschooling dengan konteks dunia aktual?

“Estamos viviendo en un mundo roto. Hay que tener coraje para vivir en el”. Kita hidup dalam sebuah dunia yang sudah retak. Perlu ada keberanian untuk hidup dalamnya.

Ungkapan ini cukup tepat. Kita sudah tidak lagi memimpikan dunia seindah firdaus yang menyenangkan dan berkelimpahan, dengan persaudaraan, kasih, dan kemakmuran menjadi cirinya.

Hidup lebih sulit

Kini dunia lebih cocok disebut eden yang hilang (il paradiso perso). Alam sudah tidak “seramah” dulu. Tanah yang begitu murah hati memberikan hasilnya kini begitu “kikir”. Bencana alam kian kerap terjadi. Banjir, tanah longsor, dan kecelakaan transportasi sudah menjadi “langganan”.

Kemiskinan dan keterbelakangan menjadi lebih berat ketimbang sebelumnya. Hal itu bukan sekadar pada level makro. Memang data-data yang diajukan selalu mengentakkan batin (meski ada laporan “resmi” yang membanggakan adanya kemajuan luar biasa). Yang lebih memprihatinkan, situasi nyata masyarakat. Kesulitan mendapat sesuap nasi kian terasa.

Anak-anak yang lahir di dunia seperti ini harus menerima konsekuensinya. Meski tuntutan pertumbuhan amat mengandaikan pola konsumsi yang sehat, kenyataan berbicara lain. Kekurangan gizi, bahkan ancaman kematian, menyerang anak-anak.

Memang di negara makmur ada anak—terutama mereka yang hidup di kawasan elite seperti Baby Doc Duvalier— yang tidak merasakannya. Baginya, hidup begitu indah (karena “dunianya” terbatas). Namun, mereka tidak sadar, anggaran yang dipakai seorang anak di sana bisa digunakan untuk 1.000 anak (mungkin lebih) di Afrika.

Berani hidup

Realitas kemiskinan bisa saja terjadi jauh di sana. Namun, semua peristiwa dapat diketahui melalui media cetak dan elektronik. Dalam perspektif ini, tiap anak, terutama yang berkecukupan, dapat menikmati berita itu.

Oleh karena itu, homeschooling dapat menjadi tempat guna menelaah realitas yang terjadi. Secara personal-individual, anak didampingi untuk mendalami semua peristiwa. Mereka tidak hanya diajak bersimpati, tetapi diarahkan untuk berempati. Sosialisasi seperti ini dijadikan sebagai pembelaan, saat munculnya kritik tentang minimnya “kontak sosial” homeschooling.

Meski demikian, perlu disadari, dunia yang retak lebih membutuhkan keterlibatan dan terutama keberanian untuk hidup bersama (el corage para vivir juntos). Sejak dini anak-anak sudah “diakrabkan” dengan realitas yang “telanjang”. Oleh karena itu, pendidikan formal merupakan tempat anak menghadapi realitas yang amat keras. Pertemuan anak dengan rekan lain yang memiliki latar belakang beragam merupakan benturan kuat. Namun, inilah realitas kita.

Sementara itu, meski homeschooling berusaha mengisi kekosongan ini, tetapi ia sebatas peninjau. Kunjungan ke daerah kumuh yang bersifat periodik bisa membuka kesadaran peserta didik. Namun, perlu disadari, ada batas cukup lebar antara kesadaran dan praksis. Keterlibatan langsung untuk belajar bersama teman yang tidak mampu, rekan dari keluarga broken home, pengaruh narkoba, justru berusaha dihindari. Anak begitu dijaga.

Namun, tanpa disadari, pengawasan itu sekaligus mengingkari proses alamiah yang perlu dijalani tiap orang. Anak yang sudah nyaman dalam rahim ibu dihadirkan ke dunia yang keras. Perlahan-lahan, ia akan meninggalkan lingkup keluarganya. Oleh karena itu, benar, kata penyair Lebanon Khalil Gibran, “anak memang berasal dari orangtua, tetapi ia bukan milik mereka. Ia adalah miliki Dia yang di sana.”

Gibran juga menganalogkan orangtua sebagai busur dan anak-anak adalah “anak panahnya”. Ia harus ada bersama “busur” karena hanya dengan demikian ia bisa mendapat kekuatan. Namun, pada sisi lain, saat kekuatan sudah diperoleh, ia pergi melambung jauh.

Reedukasi

Pembaruan pendidikan, jika hendak dilakukan, harus dimulai melalui reposisi baik terhadap sekolah formal maupun homeschooling. Sekolah formal yang selama ini menjadi sasaran kritik, karena terlalu menekankan dimensi intelektual (itu pun secara parsial), perlu mengimbanginya dengan dimensi kelembutan kepribadian dan kesiapan motorik menghadapi dunia kerja. Sekolah amat diminati karena membiaskan jiwa seorang ibu almamater yang lebih memperhitungkan manusia ketimbang pelbagai unsur sampingan. Peran orangtua perlu lebih dioptimalkan.

Sementara itu, homeschooling tidak bisa dipahami sebagai alternatif. Ia dibuat dalam keterpaksaan ketika oleh tuntutan kerja orangtua, anak-anak tidak bisa bergabung dalam sekolah formal. Namun, dalam tataran normal, homeschooling diartikan sebagai pembangunan iklim keluarga yang selalu bekerja sama dengan sekolah formal dalam membantu pendidikan.

Oleh karena itu, bila ingin dioptimalkan, homeschooling harus lebih dipahami sebagai pendidikan ulang (reedukasi) orangtua untuk menyadari peran sebagai pendidik utama dan bukan “memenjarakan” anak dalam lingkup terbatas.

Maria FK Namang.
Alumna Facoltà di Scienze dell’Educazione dell’Università Pontificia Salesiana, Roma Sumber: Kompas: 09 Juli 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s