Yang Dinanti Guru

Yang Dinanti Guru

Kompas Epaper 13 September 2013

Apa yang paling dibutuhkan guru saat ini? Inilah pertanyaan menggelitik yang selalu hadir mengawali tahun pelajaran baru. Mustahil bertanya demikian. Sukses tidaknya pendidikan sangat bergantung pada kualitas pendidiknya. Anak  sudah terlahir dengan rasa ingin tahu.  Mereka akan ‘enjoy’ dalam pembelajaran, sejauh ditopang oleh pendidik yang profesional.

Sekilas, dikira kurikulum merupakan hal utama. Makanya aneka pembaruan dilaksanakan. Ada keyakinan, perubahan itu akan berimbas pada peningkatan kualitas pendidikan. Nyatanya, perubahan demi perubahan terjadi tetapi hasilnya belum maksimal untuk tidak mengatakan nyaris terjadi perbaikan.bangga-jadi-guru11[16]Peningkatan kesejahteraan juga diklaim sebagai kondisi penting dalam menunjang kualitas pendidikan. Sertifikasi yang berimbas pada bertambahnya penghasilan guru merupakan salah satu jawabannya. Tetapi dalam kenyataan, kinerja yang diharapkan pun belum terlihat.

Mengapa performa yang diharapkan itu tidak juga hadir? Frederich Herzberg, (1923-2000) dalam The Motivation to Work, 1967, menyibak rahasianya. Baginya, faktor ekstrinsik seperti gaji, fasilitas, dan kondisi kerja bisa sangat berpengaruh. Mustahil seseorang bisa berkonsentrasi kalau secara lahiriah belum terpenuhi kebutuhan dasarnya.

Tetapi tidak berarti bahwa dengan terpenuhinya kebutuhan yang oleh Herzberg disebut juga sebagai faktor higienis, dengan sendirinya mendatangkan kepuasan. Setelah sebuah kebutuhan terpenuhi akan muncul yang lain. Singkatnya, kepuasan menjadi relatif ketika materi dijadikan takarannya.

Yang menarik, bila faktor ekstrinsik itu tidak terpenuhi maka akan mendatangkan rasa tidak puas. Aneka protes dan demo yang kerap dilakukan lahir dari kenyataan ini. Orang menuntut agar disediakan sejumlah sarana fisik yang baginya sangat dibutuhkan untuk mencapai performa maksimal.

Kepuasan lebih bersumber dari dalam diri dan harapan-harapan yang biasanya tidak bisa diukur dengan materi. Ia lebih dikaitkan dengan: pekerjaan itu sendiri (the work itself), prestasi yang diraih (achievement), peluang untuk maju (advancement), pengakuan orang lain (recognition), dan tanggungjawab (responsibility) adalah hal-hal yang menjadi pendorong dari dalam.

Semakin seseorang menggapi nilai intrinsik di atas, ia menjadi kian nyaman untuk melaksanakan pembelajaran. Lebih lagi di sebuah negeri seluas Indonesia. Supervisi seketat apa pun tidak akan berfungsi kalau hanya didasarkan pada target pencapai eksternal. Tetapi ketika kedalaman batin guru disapa, maka usaha tak terlihat di berbagai pelosok akan cepat terlihat.

Perlu Dorongan

Perubahan dalam orientasi pendidikan mestinya lebih didasarkan pada pertimbangan yang lebih mendalam. Jelasnya, ia tidak dilakukan di atas asumsi atau rekaan atas kebutuhan (fisik atau psikis) yang barangkali dirasa perlu melainkan berdasarkan pada analisis mendalam.

Kalau hal itu dijadikan takaran, maka meski apa yang ditawarkan itu baik adanya tetapi bila tidak menyentuh realitas di lapangan maka dianggap sia-sia. Ibarat memancing ikan. Umpan bisa saja dianggap paling baik dalam perspektif si pemancing. Tetapi kalau bukan sesuatu yang diiginkan ikan maka hal itu sia-sia saja.

Karena itu perubahan, kalau ingin berhasil maka perlu didasarkan pada hal-hal esensial lagi tepat sasar. Seorang guru misalnya akan merasa puas karena pemerintah melalui institusi terkait memberikan rasa nyaman sehingga dalam iklim itu ia bisa secara kreatif mengembangkan metodologi pembelajaran yang lebih sesuai.

Ia pun merasa dihargai karena diberi tugas untuk mendidik siswa pada lingkungan terbatas, tetapi disertai  tantangan bahwa anak didiknya bisa diserahkan sebuah tanggungjawab yang sangat besar termasuk merancang ujian yang didasarkan pada realitas pembelajaran yang sudah dilaksanakan.

Pemerintah tentu saja masih diharapkan perannya. Tetapi ia tidak mengambil alih seluruhnya. Ia melatih guru agar lebih sigap dan tepat dalam merancang evaluasi yang lebih berkenan. Dalam proses itu jatuh bangun tentu saja ada. Ia tidak dilihat sebagai bencana melainkan kesempatan untuk memperbaikinya bila ada kesalahan yang dilakukan.recognitionProses itu bila berlanjut, maka rasa puas yang sebenarnya akan hadir dengan sendirinya. Betapa bangganya seorang guru menyaksikan bahwa peserta didiknya menjadi ‘orang’ dengan kualitas hidup dan penghidupan yang lebih baik. Ia rasakan bahwa tugasnya telah selesai karena sukses mengantar seseorang untuk menjadi lebih baik dari dirinya.

Bila cara padang ini kita terima maka proses pembaharuan kurikulum misalnya tidak bisa dilaksanakan sebagai sebuah kumpulan ide dari para pengamat pendidikan untuk kemudian diterapkan secara deduktif. Sebaliknya, ia adalah hasil refleksi induktif yang berpijak pada kesaksian guru lalu dijabarkan ke lingkup yang lebih luas.

Kalau kita memandangnya dalam perspektif ini maka mustahil ide pembaharuan itu ditolak. Kurikulum baru akan disambut hangat karena ia adalah pengakuan atas apa yang sudah dimiliki dan kini dijabarkan lebih luas.

Pada sisi lain, kehadiran pemerintah akan sangat dirasakan manfaatnya karena ia hadir untuk memberikan dorongan dan dukungan berupa motivasi yang nota bene pasti sangat dinatnikan. Guru sadar bahwa keterlibatannya dalam pendidikan terkadang menjadikannya selalu memberi (pengetahuan) hingga bila tidak ada pembaharuan, maka akan menjadikan ritme hidupnya monoton.

Di sini Terrell H Bell benar ketika menandaskan bahwa ada tiga hal yang paling penting dalam pendidikan yakni: Motivasi, Motivasi, dan Motivasi. Bila siswa yang sukses butuh motivasi tanpa henti dari guru, maka adalah tugas pemerintah untuk membiaskan motivasi itu pada guru sehingga mereka tidak kehabisan menyalurkannya kepada peserta didiknya.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Pendidik pada Sekolah Tunas Indonesia Bintaro.

Sumber: Kompas Epaper, Jumat, 13 September 2013

Advertisements

6 Responses to Yang Dinanti Guru

  1. wilfrid says:

    Pak Robert. Ini satu tulisan menarik. Terimaksih untuk “hidangan yang nikmat” ini.
    Tuhan memberkati.
    Wilfrid.

  2. Kleden Suban says:

    Sebuah renungan yang dalam. Menjadi guru tidak sekadar sebuah pekerjaan tapi mestinya panggilan. Kalau guru hanya pekerjaan, berapa pun besarnya anggaran tidak akan berhasil karena pendekatan ya proyek. Mesti ada panggilan karena di sana ada hati…

    Kleden, Bekasi

    • robert25868 says:

      Pak Suban, terimakasih. Pendekatan proyek menjadi sebuah kendala yagn sangat besar. Yang kita kerja adalah mengejar ‘peneyrapan’ keuangan dan bukannya dampak dari proyek itu. Itu juga yang terjadi dengan pendidikan. Anggaran banyak sekali yang diperuntukkan bagi pendidikan tetapi efeknya sangat kecil. Pendekataneksternal ini yang perlu diimbangi dengan pendekatan internal. Terimakasih bang.

  3. Jajal_SEO says:

    Artikelnya bagus banget nie.
    Saya rasa pemerintah sudah lebih maksimal dalam membina Guru .
    Mulai dari Kurikulum yang terus diperbaharui, sampai Aneka kucuran dana melalui aneka tunjangan yang diterima guru, baik tunjangan sertifikasi maupun tunjangan fungsional dan aneka tunjangan lainnya.
    Terus berkarya sob

    • robert25868 says:

      Bung Jajal SEO.

      Upaya pemerintah sudah cukup banyak membuat perubahan. Guru yang dulu punya nasib UMAR BAKRIE sudah tidak ada. Gaji guru di Jakarta sudah di atas 6 – 7 juta rupiah. Tetapi itu tidak berpengaruh pada kinerja. Guru yang sudah bersertifikasi tidak banyak berkontribusi pada pengembangan pendidikan. Harapan kita, ke depan, pemberian ruang terjak kepada guru lebih memungkinkan mereka menghasilkan out pendidikan yang lebih baik. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s