Koalisi ”Sampai Hati”

Koalisi ”Sampai Hati” (Kompas,  11 Mei 2009)

Mendekati batas akhir deklarasi nama calon presiden dan wakil presiden, komunikasi politik semakin tak dapat diprediksi. Pertanyaannya, ada apa di baliknya?

Realitas politik, demikian Gramsci (Maquiaveli  y Lênin, 1971), banyak kali dikelola secara minimalis oleh politisi oportunis. Mereka sudah puas dengan apa yang harus dibuat (el deber ser). Yang dicari adalah pemenuhan prasyarat minimal. Dalam konteks realitas dewasa ini, yang dikejar hanyalah pencapaian 25% suara untuk dapat mengajukan capres dan cawapres. Sementara itu dukungan legislatif yang kuat tidak terlalu digubris. Hal itu bisa akan ‘diatur’ kemudian.

Rasa puas juga bisa membangkitkan sikap arogan. Partai yang merasa ‘di atas angin’  mudah dihantui sikap ‘over-confidence’. Ia tahu bahwa keunggulannya menjadi daya tarik bagi partai lain untuk mendekat. Dalam bahasa VILAS, C. Democracia y Alternativas al  Neoliberalismo, 1997, alternatif dari partai lain diyakini tidak populer. Kelemahan mereka ditonjolkan demi memusatkan dukungan padanya. Lebih lagi ketika hasil survei mendukung posibilitas kemenangan.

Kenyataan ini, oleh Hinkelammert, F. dalam Cultura de la Esperanza y Sociedad sin Exclusión, 1995 disebut oportunisme. Mengapa? Politisi akhirnya hanya terbatas mengelola peluang yang mungkin. Ia lalu berpolitik ala dagang sapi. Tawar menawar dilakukan. Dukungan dilimpahkan, tetapi dengan syarat. Di sini mereka lupa bahwa politik yang benar harusnya menukik lebih dalam demi menyentuh sesuatu yang lebih dalam (el ser). Ia tidak hanya berpuas diri melainkan mengupayakan kepuasan orang yang dipimpinnya.

Upaya inilah yang oleh Vaclav Havel dalam The Art of Impossible: Politics as Morality in Practice disebut moral politik. Ia tidak berhenti menghitung untung rugi. Yang terpenting adalah terwujudnya kesejahteraan bersama. Karenanya, ia akan berupaya mengoptimalkan kesempatan yang ada. Malah hal yang kelihatan  tidak mungkin diperjuangkan.

Setengah Hati

Jika mau jujur, dinamika politik saat ini menjelang penetapan capres dan cawapres lebih mengarah kepada mengelola peluang riil tanpa etika. Mereka sampai hati berdagang sapi dan coba menyatukan ‘ideologi’ yang sebenarnya mustahil. Mereka sampai hati membiarkan sentimen ekonomi mengambang oleh ketidakpastian koalisi.

Demi kekuasaan, hubungan SBY-JK menjadi tegang. Meski kemudian keduanya bertemu ‘empat mata’ tetapi pelansiran kriteria wapres telah mengindikasikan sikap ‘over-confidence’ Demokrat yang mendikte Golkar. Pada gilirannya, Golkar terbukti begitu pragmatis-oportunis.

Sikap setengah hati juga menjadi fenomen umum partai lain. Mereka begitu gencar melakukan ‘pendekatan’ hingga terasa sulit membedakan mana kawan, mana lawan. Yang dicari sekedar peluang. Bila keadaan memungkinkan, persahabatan diteruskan. Bila tidak, talak politik bisa dilakukan kapan saja seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Koalisi yang digalang pun pun tanpa ikatan moral. Yang penting kekuasaan yang dicari didapat. Yang lain hanyalah retorika politik semasa kampanye.

Kenosis Politik

Bagaimana mengelola ‘realpolitik’ ini agar menjadi positif dan konstruktif? Pertama, utamakan moral. Para politisi mesti sadar bahwa politik dagang sapi telah membuat rakyat patah hati. Memng awalnya ia merasa tidak perlu ‘ambil pusing’. Tuntutan bertahan hidup membuatnya apatis terhadap pergolakan politik. Tetapi dalam keadaan lapar, dimana tidak ada sesuatu untuk dimakan karena sumber pekerjaan telah hilang, ia akan merasa sangat frustrasi.

Semangat yang kini patah semestinya dibangun lewat keutuhan hati para pemimpin memberikan yang terbaik untuk bangsa saat ini. Koalisi pragmatis semestinya dijauhi. Yang perlu diperoleh adalah keutuhan hati untuk mengupayakan kepentingan bersama. Mereka sadar bahwa keutusan keliru bisa mendatangkan petaka untuk negeri ini.

Kedua, utamakan kebaikan. Demokrasi prosedural yang dimiliki saat ini memang patut dibanggakan. Kita dapat menjadi temat studi banding bagi Kamboja, Madagaskar, Zimbabwe yang selama ini masih terkatung-katung dalam kehidupan demokrasi. Tetapi hal itu tidak membuat kita bangga. Arogansi bisa saja membuat kita lupa diri hingga sampai hati memanipulasi cara demi tercapainya tujuan partikuler.

Ketiga utamakan kenosis politik. Itu berarti ara politisi perlu beajar mengosongkan kepentingan diri (heauton ekenosen/‘but emptied ourselves). Ada kesadaran bahwa perjuangan kekuasaan tidak mesti mengorbankan kepentingan yang lebih besar.

Selama ini dinamika politik lebih ditandai upaya ‘mengosongkan orang lain’ demi kepentingan pribadi. Nasib yang lebih besar begitu ‘sampai hati’ dikorbankan demi memenuhi prestise diri.

Bila kita mengawali proses ini dari diri kita masing-masing, niscaya hari depan semakin cerah buat bangsa ini. Tetapi bila kita tidak juga mengawali dari diri sendiri, proses panjang mengulang kesalahan yang sama masih akan terus terjadi. Tentu kita tidak suka hal ini.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Sumber: Kompas 11 Mei 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s