MANUSIA BERBUDAYA TIMOR

Manusia Berbudaya Timor

Sumber: KOMPAS 14 Agustus 2016 (halaman 24)

Saat Indonesia mulai meretas kembali hubungan dengan negara-negara di kawasan Melanesia, apalagi beralih dari observer menjadi Assosiate Member of Melanesian Spearhead Group (MSG), pertanyaan kritis-ironis cukup mencuat. Mengapa harus membuka relasi dengan negara-negara Melanesia? Bukankah secara ekonomis, relasi dengan Asia lebih bermanfaat ketimbang dengan negara-negara di Pasifik Selatan?NEONBASU12

Cara pandang itu tentu tidak bisa diterima begitu saja, khususnya ketika melihat dari kacamata Indonesia Timur, khususnya 11 juta warga Indonesia yang mendiami 5 propinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan NTT. Bagi ke-5 propinsi ini, mengembangkan Indonesia Timur hal mana menjadi salah satu program pemerintah meningkatkan kesejahteraan di Wilayah Timur tidak bisa dilakukan tanpa membuka relasi dengan negara-negara Melanesia. Secara geografis dan kultural, dibukanya relasi ke Pasifik Selatan akan berimbas secara signfikan bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur.NEONBASU18

Tetapi bukan terutama maksud buku ini untuk sekedar mencari keuntungan ekonomis. Buku berjudul: CITRA MANUSIA BERBUDAYA, Sebuah Monografi tentang Timor dalam Perspektif Melanesia, lebih merupakan sebuah telaah antropologis untuk menemukan akar budaya. Budaya menjadi bingkai pemersatu, hal mana mendorong Gregor Neonbasu, PhD untuk terus menguak khasanah budayanya. Tinjauan dari lingkup kecil akan menjadi pijakan untuk mengambil kesimpulan yang lebih besar untuk memersatukan budaya di Melanesia pada uamumnya.NEONBASU5

Tapi terobosan dan kesadaran ini tidak mudah dibangun. Neonbasu justeru melihat adanya sistem pendidikan yang lebih berkiblat ke luar budaya sendiri, ketimbang menukik ke kedalaman diri dan budaya dan menyibak kekayaan budayha tak terkira. Payahnya, kerap cara pandang dari luar dijadikan patokan untuk menilai budaya sendiri.

Lagu dan irama orang Melanesia sangat mirip dengan orang Indonesia Timur.

Cara pandang seperti ini, bagi sang antropolog, adalah akbiat dari penddiikan yang keliru. Model pendidikan itu memberi peluang terjadinya kekeliruan dan bahkan kesalahan kultural yang sedang dialami banyak orang. Masyarakat sepertinya diasingkan dari peta ‘harta karun budayanya’ dan lingkungannya serta aura ‘kekayaan perspektif sosial’ yang telah dimiliki sebelumnya (hlm 380).CITRA MANUSIA BERBUDAYA2Karya magistral, Citra Manuesia Berbudaya, menjasi inspirasi bagi banyak penelitia muda untuk menelusuri lebih jauh  Timor sebagai ‘ The land of the sleeping crocodile’

Kesadaran ini hadir saat penulis, dibekali dengan pemahaman antropologis dan di bawah bimbingan Prof James Fox dari The Australian National University, ANU, ia kembali meneliti budayanya sendiri. Ia terperangah menyingkap kekayaan yang ia miliki.

Pendekatan Emik

Karya setebal 520 halaman ini sesungguhnya bukan sebuah buku yang tersusun secara sistematis tetapi merupakan kumpulan makalah dan pemikiran yang disajikan dalam kesempatan berbeda.NEONBASU13Namun, buku ini, demikian pengakuan Prof Dr Frans Magnis Suseno, SJ, dalam prolog, merupakan karya magistral, sebuah tulisan yang akan merangnsang penelitian-penelitian selanjutnya (hlm xvi). Dari perspektif ini, maka terdeteksi sebuah kesatuan yang hanya bisa disingkap setelah orang selesai membacanya.

Pendapat Magnis Suseno membuka kesadaran bahwa penulis berpretensi membangun kesadaran akan harta karun budaya yang dimiliki. Ketika kesadaran itu bertumpuh, karya lanjutan akan menyusuli hadirnya buku ini. Membaca buku ini secara cermat akan secara tak sadar membangun kesadaran dan kegalauan agar seperti penulis, akan muncul peneliti muda yang bisa melanjutkan insting bak anjing pelacak untuk terus mencari dan mendalami kekayaan budaya yang tersembunyi tetapi kini tengah terhendus.NEONBASU15Lalu, di manakah letak inti dari buku yang diterbitkan ANTARA Publishing, 2016? Pertama, sebuah ulasan dengan pendekatan emik. Penulis secara emosional melibatkan pembaca dan merasuki dengan kegalauan antropologis untuk secara mendalam menangkap ungkapan rasa dari masyarakat berbudaya guna menyimak apa yang dipikirkan, dirasakan, dilakukan, dan diidam-idamkan (hlm 156).NEONBASU7Kekayaan itu memang sudah dikuak oleh tidak sedikit peneliti asing. Kekayaan studi tentang Timor, telah melibatkan tidak sedikit peneliti asing. Tanpa mengurangi rasa hormat, tidak sedikitnya didominasi oleh pendekatan etik yang menarik kesimpulan dari teori besar dan ulasan yang diwarnai oleh superioritas rasionalisme yang tinggi. Sebaliknya ulasan emik, justeru yang dilakukan oleh ‘anak budaya sendiri’ dengan pemahaman bahasa, lebih memberi ruang bagi ‘serap rasa’ yang akan menguak dimensi yang lebih dalam (hlm 140).NEONBASU17

Kedua, sebagai acuan dan contoh dalam refleksi, penulis berkonsentrasi pada Kuan Abun, sebuah kampung kecil di wilayan kerajaan Neno Biboki, Timor. Lebih kerucut lagi, penelitian berpusat pada TAUT LEU SAL NENO yang merupakan rumah adat penulis.

Paparan pada bab ini (Orang Biboki dan Agama Asli, Peta Spiritual Masyarakat Kuan Abun), pada hemat saya menjadi prototipe analisis refleksif yang sangat bernas. Di sini penulis menemukan akar budayanya yang sekaligus memberi warna pada disertasi doktoral penulis dengan judul: We Seek Our Roots: Oral Tradition in Biboki, West Timor (2005).NEONBASU2

Hal paling menarik, bagaimana masyarakat menyebut Wujud Tertinggi, tidak sebagai sebuah nama tunggal, berbagai nama yang menandakan bahwa Tuhan yang monoteis hadir secara nyata dalam keseharian dalam aneka kontak lahiriah baik dengan batu, kayu, air, maupun dalam keseharian dengan sesama (hlm 258). Di balik semuanya terbaca segera bahwa semua kegiatan, jasmani dan rohani, hati dan budi manusia selalu diarahkan pada ‘mencari akar’ (taem hita’ ba’ka).NEONBASU3Ketiga, sibakan yang hanya diambil dari satu budaya sebenarnya hanyalah contoh. Timor masih memiliki aneka budaya dengan kekayaan peta spiritual dan moral yang begitu mendalam. Beberapa kekayaan itu dikuak dan ditampilkan secara monografis baik di Timor Barat (seperti: Mutis, Pemberi Rezeki dan Revitalisasi Citra Agama Asli, dan terutama Biboki), maupun di Timor Leste (dalam tulisan: Globalisasi dan Budaya Timor Leste, Masyarakat Mambai, Timor Leste).NEONBASU6

Kekayaan ini kemudian dimaknai sebagai sebuah kekuatan, bak seekor buaya yang tengah tidur (the land of the sleeping crocodile). Penulis tidak ingin masuk dalam polemik untuk membenarkan mana yang menjadi kepala dan ekor, hal mana bisa ditafsir secacara berbeda. Yang ditekankan, kekayaan itu bila disadari dan digali, akan menjadi sebuah kekuatan riil. Di sana peneliti muda terdorong untuk menyibaknya.

Keterkaitan implisit

Lalu apa keterkaitan antara citra manusia berbudaya Timor dengan kebudayaan Melanesia pada umumnya? Sesungguhnya pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Lebih dari itu, gambaran tentang Melanesia pada khususnya dan Oceania sangat umum, oleh karena minimnya data historis dan detail kronologi (hlm 8).NEONBASU16

Pembaca yang ingin cepat menemukan jawaban atas pertanyaan ini bisa kecewa. Selain itu, tidak diindonesiakannya kata-kata asing (relative, tipos, contract, numeric, topic, system, signifcan, identic) atau kata bahasa Indonesia yang seharusnya sudah baku seperti ‘sejarawan’ (bukan sejarahwan), ‘memerhatikan’ (bukan memperhatikan), adalah detail kecil yang mestinya tidak dimungkinkan terjadi dalam karya ini.

Jawaban atas keterkaitan dengan budaya Melanesia ada tetapi begitu implisit. Dengan menghadirkan sebuah kisah dari bawah yang terekam dari tradisi lisan tentang kekayaan budaya Timor, seara tidak langsung dijadikan prototipe untuk menemukan bahwa ketika suku di bangsa-bangsa lain di Oceania seperti: Australia, Melanesia (Pepua New Guiena dan Fiji), Mikronesia, dan Polinesia melakukan hal yang sama, akan menemukan induk budaya yang sama.NEONBASU4

Kekayaan budaya Melanesia terutama di Indonesia di mana 5 propinsinya tergolong (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan NTT), dalam temuan Taufik Abudllah dalam epilognya belum banyak digagas. Kajian masih terpusat di Barat, sementara di Timur masih sangat terbata-bata (hlm 475).NEONBASU14

CITRA MANUSIA BERBUDAYA karena itu merupakan sentilan. Ia menggugah peneliti muda untuk kembali ke akarnya, menyusun budaya yang masih tercecer. Ibarat sebuah tenunan, kekayaan budaya itu bak kapas putih yang baru dilepas petani saat panen kapas. Di tangah para peneliti, ada tugas menggunakan alat tradisional yang disebut ‘ti’i mor untuk mentrasnformasi kapas jadi benang yang selanjutnya digunakan sebagai bahan penting menghasilkan sebuah tenunan. Itulah arti kata ‘ti’i mor, yang bisa dijadikan inspirasi menenun Citra Manusia Berbudaya.

(Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Pemerhati Budaya).

Advertisements