Meratapi Kejujuran

Meratapi Kejujuran

(Kompas 8 Juni 2007)

Nasib tragis beberapa guru yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru amat menyentak nurani kita. Atas jasanya membongkar kebocoran ujian nasional, anggota Komunitas  Air Mata Guru bukannya mendapatkan ucapan terima kasih, tetapi justru  sebaliknya. Sebanyak 18 pengawas, 17 guru, dan seorang kepala sekolah diminta mengundurkan diri.

Muncul pertanyaan, beginikah kita menghargai kejujuran? Haruskah  kejujuran menghadapi nasib “fatal”? Bukankah ketidakjujuran dalam ujian nasional sudah seharusnya diusut tuntas?

Pembunuhan karakter

Pendidikan, kata Jack D’lors (1997), adalah sarana paling ampuh untuk  mengungkapkan cinta terhadap peserta didik. Karena itu, kematangan pribadi  menjadi sasaran yang hendak dicapai.

Jesuit pendidik Christopher Gleeson SJ dalam Striking a Balance:  Teaching Values and Freedom (1993) menandaskan, kematangan dapat dilihat  melalui perpaduan yang tepat dan kompak antara kepala (otak) yang diasah, hati yang ditempa, dan tangan yang dilatih untuk terampil.

Konsepsi pendidikan ini seakan kandas saat berhadapan dengan model  pendidikan sebagaimana dilaksanakan di negeri ini. Pendidikan tidak lagi  sebuah proses yang mencakup berbagai aspek yang coba dipadukan untuk menempa  karakter peserta didik maupun pembentuk karakter bangsa secara keseluruhan.  Evaluasi pun tidak bersifat integral, mencakup aspek intelektual,  psikomotorik, dan emosional.

Pendidikan (lebih tepat pengajaran) di(salah) mengerti sebagai proses  memberi pengetahuan teoretis, definisi, teori, dan pendapat ahli sebanyak  mungkin kepada peserta didik. Setelah itu, siswa diharapkan mampu menjawab secara tepat dalam ujian, terekspresi dalam ketelitian “menghitamkan” bulatan yang menjadi kemungkinan jawaban.

Pemahaman seperti ini secara tidak langsung membawa anak dalam proses  pembunuhan karakter paling sadis. Kemurnian nurani siswa dijejali aneka pengetahuan yang sebenarnya hanya membelenggu ketimbang membangun kepribadian mereka. Kreativitas siswa yang seharusnya dioptimalkan melalui aneka kegiatan dipasung dalam try out, bimbingan belajar, pemantapan.

Sementara itu, pembentukan watak dan nurani dikesampingkan. Pendidikan  pun menjadi timpang. Intelektualitas siswa disanjung-sanjung, tetapi watak dan energi dalam berkarya dibiarkan tetap kerdil

Sedih

Kesadaran adanya salah tafsir oleh penanggung jawab pendidikan di  negeri ini sebenarnya sudah lama. Para pendidik merasakan kehadiran ujian nasional atau UN amat kontradiktoris dengan amanah UU No 23 Tahun 2003. Dan yang lebih penting, pengalaman tentang proses pendidikan telah menjadikan mereka menyadari kemubaziran UN.

Namun apa daya? Pengambil keputusan tetap menentukan, UN bagi seluruh  bangsa tetap merupakan penentu mutu. Kenyataan ini membuat kita sedih, meratap, berduka, karena pendidikan dijalankan sebagai lawan ungkapan cinta  terhadap peserta didik. Melalui pendidikan kita ingin membentuk generasi mendatang lebih baik dari kita kini. Sayang, rasa cinta itu berhadapan dengan kehampaan dan tidak bisa kita genggam. Lebih menyesakkan lagi, ungkapan cinta itu seharusnya terwujud bukan harus dikalahkan oleh kekuasaan.

Rehabilitasi bahasa

Bagaimana kita harus menata kembali pendidikan yang mampu melahirkan harapan menggembirakan atau minimal tidak membuat kita sedih?

Pertama, kejujuran yang diartikan sebagai persesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang terjadi dalam kenyataan (adherence to the facts) perlu semakin diberi tempat. Kita tulus mengakui, model pendidikan yang kita anut selama ini telah menghasilkan realitas bangsa seperti kita rasakan kini. Jalan terbaiknya adalah bertekad untuk tidak melewati jalan yang sama, sambil membangunkan komitmen untuk membentuk masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang lebih tepat sasar.

Atau meminjam teori pemaknaan Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus, kita perlu sepakat untuk membedakan mana yang bermakna dan mana yang tidak. Lebih jauh lagi, dalam proses ini, pendekatan yang holistik-praktis seharusnya menjadi titik tolak bersama. Dengan model pendidikan seperti ini, pribadi yang utuh dan berkembang dapat lahir dari model pendidikan kita.

Kedua, pendidikan perlu dikelola dengan cinta karena ia merupakan ungkapan cinta. Pendidikan bukan sesuatu yang perlu dipolitisasi. Jika dipolitisasi, pertimbangannya pun bersifat politis. Maka, kurikulum dan juga UN tidak sekadar dilihat sebagai proyek. Memang, dari UN, tidak sedikit orang yang bisa meraup “berkah” di akhir tahun ajaran.

Karena itu, pendidikan perlu dikembalikan kepada hakikat semula, yaitu semakin memanusiakan manusia, bukan menjadikan manusia kian terasing dari keberadaannya, dari nuraninya, dari jiwanya sebagai ilmuwan yang menjunjung tinggi kejujuran. Jika hal ini kita sadari dan menjadi patokan dalam melaksanakan pendidikan, maka tahun depan kita tidak perlu meratapi lagi kejujuran yang dikorbankan  atas nama politik, ekonomi, dan pertimbangan naif lainnya.

Maria FK Namang. Alumna Facoltà di Scienze dell’Educazione dell’Università Pontificia Salesiana, Roma. Sumber: Kompas 8 Juni 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s