Polisi: ‘Bajik’ dan ‘Bijak’

Polisi: ‘Bajik’ dan ‘Bijak’ (Kompas 1 Juli 2009)

I’m not against the police; I’m just afraid of them (Alfred Hitchcock)

Kata-kata American Filmmaker (1899-1980) ini bisa ada benarnya. Polisi amat dibutuhkan, terutama saat instabilitas, kriminalitas, dan kekerasan komunal kian merebak. Masalahnya, mengapa polisi yang dirindu itu sekaligus dibenci?

Membangun sebuah ‘image’ yang positif, bukanlah hal mudah. Ia butuh proses perjuangan yang melelahkan. Aneka elemen konstitutif sebagai ‘core values’ diciptakan untuk menyatukan perjuangan, menggugah keteladanan internal, dan menuai dukungan eksternal masyarakat.

Masalahnya, mengapa harapan itu tidak mudah terwujud? Terhadap pertanyaan ini, Saturla J dalam Vulnerabilidad, Dignidad y Justicia: Valores Éticos Fundamentales en un Mundo Globalizado, 2003 membuka rahasianya. Ia  mudah sirna karena kebijakan dalam bentuk aturan yang semestinya dibuat secara bijak sebagai kristalisasi dari nilai-nilai luhur dibuat seadanya. Akibatnya pribadi yang terbentuk tidak utuh. Hal-hal internal yang lahir sebagai kebajikan diri menjadi langka.

Pemikiran yang sama diamini Dino Pasini dalam Problemi di Filosofia della Politica 1977. Ia melihat bahwa politik sering menjenuhkan karena tidak dilihat secara utuh. Ia hanya medium untuk mencapai kepentingan jangka pendek yakni kekuasaan. Padahal inti kekuasaan timbul akibat pengakuan akan kualitas diri yang dimiliki seseorang.Martabat diri pun kian terbentuk karena dalam diri seseorang sudah ditemukan dimensi bajik dan bijak (virtuous and wise).

Lurus dan Jujur

Perpaduan antara bajik dan bijak bukan hal baru dalam Polri. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas sosok Hoegeng Iman Santoso, Kapolri: 1968-1971. Dalam buku: Pak Hoegeng, Polisi Profesional dan Bermartabat (Aris Santoso, dkk, 2003), terbitan Adrianus Noë Center terungkap secara jelas.

Martabat kepribadian Hoegeng memulainya dari hal yang kelihatan sederhana. Saat menjabat Dirjen Imigrasi, tidak ada alasan hukum yang melarangnya untuk menutup Toko Kembang yang sudah lama diretas. Namun nuraninya berkata lain. Pelanggan ‘siluman’ akan muncul secara gaib memborong bunganya.

Tidak hanya itu. Demi martabat, kerinduan puteranya, Aditya, untuk menjadi tentara terkubur. Izin dari Hoegeng sebagai orangtua, sebagai prasyarat untuk seorang putera tunggal sengaja diundur-undur. Baginya, bagaimanapun, izin itu merupakan ‘katebeletje’ karena ditandatangi oleh orangtua anak Kapolri.

Aditya begitu kecewa, tetapi kini ia sadar, itu adalah buah dari komitmen yang tidak bisa ditawar-tawar. Ia adalah contoh bahwa kalau Hoegeng masih hidup, pasti ia tidak akan mengizinkan anaknya jadi caleg seperti yang lazim dibuat pejabat.

Citra Diri

HUT Polri, perlu sekaligus menjadi momen aktualitatif terhadap nilai-nilai luhur yang pernah dimiliki negeri ini dan sekaligus menjadi acuan untuk membangun pamor Polri yang semakin baik. Pertama, citra diri Polri tidak merupakan buah dari peraturan eksternal melainkan dibentuk melalui proses penanaman nilai-nilai. Dalam bahasa John F. Kennedy, a police state finds that it cannot command the grain to grow. Itu berarti, proses itu harus dimulai dari hal-hal keseharian.

Sambil tidak melupakan kemajuan yang telah dicapai, fenomen harian masih menunjukkan praksis  yang kontradiktif. Polisi nakal yang bias diajak ‘berdamai’ di jalan hingga jajaran petinggi yang kelihatan masih belum independen dalam menyelesaikan kasus seperti pemilu menunjukkan bahwa keseharian kita masih tersendat.

Kedua, perlu kemauan untuk membangun kepercayaan. Sebagai aparat penegak hukum, Polri (semestinya) menyadari bahwa kepincangan reformasi yang kini dirasakan,  juga disebabkan oleh memudarnya kepercayaan rakyat terhadapnya. Rakyat sudah bosan dan muak oleh kesaksian tidak sedikit anggota Polri yang jauh dari harapan.

Sebaliknya, perubahan bangsa ke arah yang leibih positif akan terwujud ketika Polri menyadari bahwa kepercayaan pada korpsnya akan menjadi langkah bijak ke arah pembaharuan bangsa. Meminjam Jacques Prevet (1900-1977), penyair asal Prancis: When truth is no longer free, freedom is no longer real: the truths of the police are the truths of today.

Ketiga, perlu menanamkan kebajikan dalam kebijakan. Aturan perundangan demi mereformasi tubuh Polri sangat penting. Tetapi ia akan lengkap ketika reformasi itu dibuat di atas pijakan yang kuat yakni sikap penuh kebajikan. Itu berarti, ia harus berawal dari diri sendiri sebelum dilansirkan keluar, sebagaimana pernah dicontohi oleh Hoegeng.

Bila kita memulai dari sini, niscaya tahun depan Polri sudah selangkah lebih maju. Rakyat tidak lagi takut pada Polri melainkan kian mengaguminya. Dirgahayu Polri, 1 Juli.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian di Asia Pasifik, Universidad Complutense de Madrid Spanyol; Bekerja pada Adrianus Noe Center dan Lembaga Penghargaan Hoegeng. Sumber: Kompas 1 Juli 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s