Takut Menang

‘Takut Menang’

Kompas Sabtu, 12 Juni 2010

Genderang Piala Dunia Afrika sudah ditabuh. 32 team beradu merebut mahkota juara. Latihan fisik dimaksimalkan. Strategi disiapkan. Kesiapan batin dimantapkan. Bagi yang kuat, cepat, dan cerdas, dialah yang menjadi pemenang.

Tanpa meremehkan negara lain, prediksi pemenang mengerucut kepada Brazil, Argentina, Spanyol, Inggris, dan Italia. Hanya, apakah nanti benar demikian? Sejarah Piala Dunia mencatat, prediksi kerap meleset. Yang diandalkan, terkadang pulang dengan tangan hampa.

‘Zona Aman’

Selain alasan strategi, kekalahan sebuah team juga memiliki akar psikologis. Kesiapan mental dan cara pandang merupakan zona laten yang kian serius ditangani psikolog olahraga. Jelasnya, dalam diri pemain, terselinap rasa takut kalah. Pengalaman pernah ditundukkan, didukung statistik yang lebih berpihak pada lawan, memunculkan ketakutan untuk bermain. Ada ‘firasat’, trauma itu bakal terulang lagi.

Ketakutan seperti ini bersifat traumatis, demikian tulis Gustavo Maure, dalam Psicologia del Deporte, 2003. Ia menyebutnya“Trauma de la Oportunidad Pérdida” (trauma menyia-nyiakan kesempatan). Kemenangan yang sudah di depan mata disia-siakan. Kini, pertandingan ulang belum tentu menjamin. Ada ketakutan akan kekalahan yang bisa terulang lagi.

Meskipun ada perasaan takut kalah (lagi), tetapi menurut Tamorri Stéfano ada alasan lain yang lebih mendasar. Dalam bukunya Neurociencias y Deporte. Barcelona, 2004, ia menandaskan, sesungguhnya di balik rasa takut kalah, terselinap ketakutan lain yang lebih laten yakni takut menang, yang dalam psikologi olahraga disebut nikefobia.

Sebutan yang diambil dari mitologi Yunani ini cukup beralasan. Dewa Nike (kemenangan), hadir secara ajaib. Dengan sayapnya, ia beterbang dan hinggap membawa kemujuran. Sayangnya, hal itu hanya sebentar saja. Ia lalu terbang lagi membawa pergi kesuksesan ke orang lain.

Mengapa kekalahan itu tiba-tiba berubah? Selain trauma (bagi pemain profesional), ketakutan akan kemenangan juga menimpa para pemain amatir. Kemenangan yang sudah di depan mata, terkadang menakutkan. Ada bayangan tentang sorak-sorai menyambut ‘sang juara’. Lebih dari itu, bakal ada perubahan dalam berinteraksi. Relasi yang sebelumnya sangat familiar, kini berubah secara mekanistis lantaran telah menjadi ‘public figure’. Bayangan itu lantas mengantar para pemain untuk mengatakan ‘tidak’ pada kemenangan dan memilih ‘zona aman’ lalu membiarkan kemenangan itu pergi.

Puas Diri

Nikefobia atau rasa takut akan kemenangan tidak saja terjadi di dunia olahraga. Manusia yang kerap dijuluki ‘homo ludens’, (makhluk yang bermain), kerap secara tak sadar menghadirkan perasaan takut menang dalam dinamika sosial politik.

Rasa nyaman itu bisa terlihat saat kita mengevaluasi krisis ekonomi yang barusan kita lewati. Kita merasa puas karena keadaan ekonomi kita karena masih ‘mendingan’ daripada negara lain. Yunani dan Spanyol lebih terpuruk dari kita. Tangan dingin Sri Mulyani (waktu itu) dan kebijakan serta kebajian SBY patut kita banggakan.

Masalahnya, apakah perasaan puas diri itu segalanya? Bukankah Century masih menyimpan aneka tanya yang bila dihadapi (dengan berani), bakal menjadikan SBY sebagai pemenang sejati? Ternyata tidak. Sri Mulyani (dengan segala kepiawaiannya) dibiarkan pergi dengan begitu ‘lapang dada’. Momen historis pun dibiarkan berlalu. Kalau kita jujur, tanpa kita sadari, nikefobia (takut menang) sudah menghantui kita.

Kasus Bibit Chandra juga tidak jauh berbeda. Mestinya lembaga Yudikatif (Jaksa Agung) yang paham ‘seluk-beluk’ hukum, berani mengkahiri kasus itu tanpa membuka celah sekecil apa pun. Mereka tahu, kepentingan rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, lebih penting dari segalanya.

Sayangnya, (tampaknya) ada perasaan takut bila Bibit – Chandra menjadi pemenang final. Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) (barangkali) diterbitkan dengan setengah hati. Ia (sengaja?) meninggalkan celah yang kini sudah ketahuan lewat kemenangan Anggodo dalam praperadilan.

Pembelajaran

Sebagai ‘makhluk bermain’, kita akui, rasa takut menang menjadi salah satu momok keterpurukan sosial kita. Bayak kasus (jangan lupa kasus Susno Duaji), tidak kita tangani secara utuh dan menyeluruh. (Rasanya) Ada ketakutan, kemenangan mereka bakal merusak citra kita dan mengusik kenyamanan kita.

Yang mesti dilakukan adalah keberanian untuk membiarkan kemenangan menjadi milik mereka yang berhak atasnya. Ada kesadaran, yang dicari bukanlah kemenangan individu apalagi prestise belaka, melainkan pemberian dasar yang kokoh untuk sebuah kemajuan yang lebih utuh. Pada saat bersamaan, sportivitas untuk mengakui kekalahan dan berbenah tepat pada waktunya, merupakan tindakan heroik yang mestinya kita miliki.

Bila kita bisa berbuat demikian, ajang Piala Dunia kali ini bukan sekedar tontotan tetapi sekaligus ajang pembelajaran. Kita belajar tentang keberanian untuk menang, komitmen untuk bertarung, dan kekompakan dalam berusaha. Kita juga membenahi aneka ‘permainan’ tak ikhlas yang membuat negeri ini kian terpuruk. Hanya dengan demikian, bangsa ini akan menjadi kian disegani oleh permainan tulus, cerdas, dan bermartabat dari warga dan terutama pemimpinnya.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s