PUISI ‘NEONATUS’

PUISI ‘NEONATUS’

Mengalami kelahiran? Sebuah pengalaman yang bagi banyak orang mencengangkan. Menunggu sebuah kelahiran yang tentu berakhir dengan tangis yang membuat gembira.

Tetapi, apa yang terjadi dengan pengalaman orang yang baginya , kelahiran terlanjur menjadi peristiwa ‘duka’? Bukan hanya satu, dua, atau tiiga kali, sebagaimana orang melihat angka tiga sebagai terbanyak?

Pengalaman pribadi membeberkan, sudah empat kali saya mengalami peristiwa duka. Peristiwa itu bermula pada tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008. Empat tahun, empat peristiwa duka, empat penantian ‘tak sampai’.

Namun di saat saat krisis seperti itu, frase Spanyol berikut selalu inspiratif: lesperanza es la última que se pierde! (Harapan adalah yang terakhir yang dapat bisa lenyap dari kita). Artinya, selagi masih ada hidup, masih ada harapan. Ketika hidup berakhir, baru harapan ikut berakhir.

Itu berarti masih ada ‘janji’. Saya pun terus berjalan hingga pertengahn tahun 2010. Ketika istri sudah memasuki bulan kelima, keenam, bahkan ketujuh (mau ke delapan), pengalaman tragis itu selalu menghantui. Saya lewatkan dengan ‘minimnya’ iman akan sebuah kehidupan. Tepatnya, minimnya iman atas sebuah kelahiran.

Dan apa yang saya takutnya, kini berada di depan mata, antara ‘ya’ atau ‘tidak’. Istri saya, sudah memiliki tekanan darah 150. Itu amat tragis karena sebelumnya terjadi sintom seperti ini. Dokter Inneke, yang menangani istriku sudah bertekad, akan berbuat yang terbaik, apa pun juga. “Inilah anak yang paling berharga”, demikian kata dokter kecil, pendek, (kelihatan keturunan chinese), coba membahasakan pengalaman pribadiku dalam kata-kata itu.

Tetapi, saya masih terus berharap, bagaimana pun juga, kehidupan yang paling baik dan nyaman (dan tentu saja murah) adalah rahim ibu. Keluar dari rahim, saat waktu belum mencukupi, selalu punya risiko. Hal itu pun terwujud. Hari berikutnya (28 Juli 2010), saat saya pergi ke sekolah (dan istriku terbaring di RS), saya diberitahu bahwa operasi akan dilakukan sore jam 4.00. “Operasi?”, tanyaku berulang kali kepada istriku jangan-jangan apa yang diucapkan salah saya dengar.

“Ya, para perawat lagi  mempersiapkan saya”, kata istriku. Saya pun serta merta berangkat dari sekolah ke RS Global Medika, yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan.

Dalam perjalanan ke RS, saya berusaha menghibur diri. Saya coba kuat, tetapi air mata jatuh tanpa hiraukan harapan saya agar tidak menangis. Saya pun coba cari-cari tulisan atau apa pun di sisi jalan yang dapat menguatkanku. Agak sulit. Musim kampanye di Tangerang Selatan begitu kuat sehingga begitu banyak ‘iklan’ tentang kandidat.

Tetapi tiba-tiba mata saya terpanah pada sebuah iklan HP. Tertulis “nomorku” NGGAK ADA MATINYA. Yang sangat dominan adalah NGGAK ADA MATINYA, sementara ‘nomorku’ ditulis dalam huruf yang cukup kecil. Saya pun menggantikan kata ‘nomorku’ dengan ‘anakku’.

Saat tiba di RS, istri saya menyambut dengan ‘senyum’. Saya pun menghiburnya (meski dia tahu bahwa di jalan tadi saya menangis). Saya bilang, ‘ma, lebih baik sekarang, daripada nanti awal September… terlalu lama menanti’. Istriku pun mengangguk tanda setuju (tetapi pasti di dalam hatinya juga ada perasaan lebur…)

Karena semuanya sudah ‘siap’, saya pun ikut mendorong tempat tidur yang membawa istriku ke ruang operasi. Saya titipkan doa. Sampai di dekat ruang operasi, saya duduk di luar. Ada ‘waiting room’,  yang cukup ‘elit’. Kita bisa duduk dengan rileks di situ.

Tetapi saya tidak lakukan itu, Saya hanya berdiri dekat kamar operasi. Pak Satpam yang memang di situ tempat jaganya, dia rasa kasihan. Mungkin dia baru lihat ‘suami’ yang begitu stress seperti saya. Dia lalu meminjamkan kursinya untuk saya tempati.

Saya pun coba meminjam buku ‘hardcover’ milik Satpam yang biasa digunakan untuk mencatat aneka peristiwa untuk menulis sesuatu. Agar bukunya tidak kotor, pak Satpam meminjamkan beberapa kertas terlepas, yang di atasnya saya goreskan beberapa puisi atau apa namanya.

Semoga ungkapan doa ini dapat menjadi sharing pengalaman dan berguna untuk pembaca.

Salam hormat.

Robert Bala.

OPERATING THEATRE*)

Di sini, hidup bagai permainan

Yang empunya kehidupan

Menghembus pinjam desah

Mengalamiahkan napas yang sebelumnya buatan

Di sini,

Tangan-tangan lincah menjurus,

Merajut mesra tugas sang Pencipta

Menjamah dengan kasih

Untuk merawat sebuah hidup

Di sini,

Harapan akan permainan berlanjut

Bukan dipenuhi kecurangan

Bukan juga kelicikan,

Juga tentu tidak dikelabui ketidaktulusan

Permainan

Jadi indah…..

Berkat hati penuh syukur

Membuat yang berbeda sadar

Yang berjauh berdekatan

Yang perang, berdamai

Yang dendam jadi pasrah

Yang iri jadi luluh

Inilah permainan

Melahirkan kehidupan

RS Global Medika, 28 Juli 2010

Jam 16.20

*) Kuikut mendorong istriku ke ruang operasi. Saya terkejut melihat nama ruang operasi: operating theatre. Ah, seperti sebuah teaterkah, tangan-tangan lincah akan memainkan perannya demi sebuah drama kehidupan. Secara spontan, saya meminjamkan buku catatan pak Satpam. Ia tahu, saya sangat galau pikiran. Ia menawarkan kursinya untuk saya tempati (padahal ada tempat yang lebih empuk di ruang tunggu). Saya lalu meminjam pulpen dan kertasnya untuk menuliskan perasaanku.

Harapanku hanya satu: semoga permainan ini berakhir gembira. Kehidupan mesti menang. Pengalaman silam mesti dikalahkan. Kucoba kuat, paling kurang untuk menulis perasaanku pada kertas ini.


NAMA*)

Kucari sebuah nama untuk mu

Dikais di antara sejarah hidup

Dipilih diantara ragam kisah

Dipungut dari serpihan kisah pahit

Dibungkus dalam aneka tanya

Tapi nama, sebuah hadiah

Datang dari Yang Empunya

Ia bias kasih, beri cinta

Buka ampun serah rahmat

Namamu,

Diego, dari Tuhan sebagai hadiah

Diego, dari aku karena Tuhan,

Diego, dari kekitaan kepada kesemuaan

Diego, dari kasih kepada cinta

Kutitip Engkau, Sabda Sang Pemilik,

Untuk membawa kasih

Kau Tahu,

Seperti hidupmu begitu bermakna,

Hidupmu begitu dinanti

Jadi tanda kehadiran Tuhan

Diegoku

RS Global Medika, 28 Juli 2010. Pukul 16.27

*) Masih di ruang operasi, siapa nama anak yang akan kuberikan? Ah, dengan istri, belum berbicara. Pikiran kita, masih sekitar dua 6 minggu ke depan untuk mencari nama yang pas. Sesuai tradisi, nama yang sempat muncul dalam mimpi dapat menjadi rujukan nama keluarga. Seminggu sebleumnya, justru ayah saya, Pius Kedang muncul dalam mimpi. Lalu, nama depan? Teringat saya, Juan Diego, orang Indian yang mendapat kesempatan melihat Bunda Maria dari Guadalupe. Untuk waktu yang lama tidak diakui karena agama identik dengan penjajah, Spanyol. Hanya mereka yang bisa ‘bergama’ Katolik. Sepintas kupikir, anakku punya kisah yang hampir sama. Ia butuh pengakuan, simbol pemersatu, dan pelbagai harapan lainnya. Jadilah: Juan Diego Pius Kedang, itulah namanya.

JANTUNG*)

Kau pusat,

Menggerak setiap perintah

Memberi makna sebuah hidup

Tempat bertanya semua kecemasan

Detak

Memberi hidup pada anakku

Membawa harapan bagi kami

Mempersembahkan ramhat berlimpah, untuk semua

Gerakanlah,

Berikanlah harapan

Persembahkanlah kelugasan

Anugerahkanlah ketenangan

Biar syukur terus terucap

Karena Kau menjadi awalnya

RS Global  Media, 28 Juli 2010. Pukul 16.35

*)

Operasi, terlalu cepat. Kelahiran pun terlampau di luar dugaan. Sekarang baru bulan kedepalan, minggu ke tiga puluh dua. Bila umur janin maksimal 40 minggu, maka masih tertinggal 6 minggu atau satu setengah bulan lagi. Nama untuk bayi, sama sekali berlum terpikirkan.Sekarang saya berada di depan ruang operasi. Barangkali dokter lagi mempersiapkan mental istriku. Dan, kalau semuanya berjalan lancar, lahirlan anakku. Lalu, siapakah akan kupanggilkan anakku? Kalau nama harus ada kesepakatan, tentu kami harus berbicara dulu. Hanya dengan kondisi istri yang sekarang, tidak tahu apa pikirannya.

Saya coba mereka-reka beberapa nama. Tiba-tiba saya ingat: Juan Diego, orang Indian, yang dipercayakan oleh Tuhan agar dapat bertemu denga Bunda Maria, Guadalupe. Ah, terasa nama ini pas untuk anakku. Seperti Juan Diego, ia membutuhkan proses pengakuan dari banyak orang. Perjuangan yang terlampau lama. Juan Diego baru digelar kudus oleh Paus Yohanes Paulus II, padahal sejarahnya sudah lama dan lama sekali.

Anakku yang kini lahir, punya kesamaan. Ia butuh pengakuan. Empat abangnya, pergi, menyiapkan tempat baginya agar bisa lahir sehat. Semoga.

MENUNGGU*)

Detik,

Sepintas terlalu cepat,

biasanya begitu

Ia boros, bagai tak bermakna

Tapi detik yang ini lain,

Detik bedetak terhitung kuat

Ia adalah hitungan berkat

Ia ungkapan syukur

Ia ekspresi bahagia

Makanya,

Ia diucap sadar

Kata begitu bermakna

Membentuk syair indah terucap bisu

Ungkapan bangga campur haru

Di sini,

Kutunggu disapa,

Jadi lengkap sebuah titel

Menyapa anak dari hati

Mendengar tersapa ayah dari relung

Oh,

Bahagia hidup,

Hanya itu kataku tulus

RS Global Media 28 Juli 2010-07-28

*) Ini yang namanya menanti dan menunggu. Baru beberapa menit, tetapi terasa terlalu lama. Semua pertanyaan muncul secara bersamaan, dan tidak ada waktu untuk menjawabnya. Yang kutunggu, banyak hal: kehidupan. Dari kehidupan itu, seluruh hidupku sebagai ayah terjawab. Akankah kerinduan ini terwujud?

BUNDA *)

Sapaan lengkap

Dinanti setiap wanita bertitel ibu

Dari anak yang dikandung gembira

Diasuh dengan kasih

Hari ini, bunda disapa suara tak terucap

Hanya tatap penuh lugu

Berucap haru bunda

Atas hidup, dijaga utuh

Kuucap syukur

Buatmu Bunda

Untuk berkat yang Kau turut beri

Biar dunia berujung

Bencana mengakhiri fisik,.

Tetapi kasih,

Kian dirundung kian bernas

Hanya itu untukmu mama

RS Global Medika 28 Juli 2010. Pukul 16.43

*) Terbayan, betapa Diego menatap ibunya yang sudah meminjamkan rahimnya sebagai tempat ‘nginap’. Kuungkapkan rasa terimakasih Diego untuk ibunya, rasa syukurku untuk istriku yang telah menjadi ibu bagi anakku. Ia memberikan nyawanya demi sebuah kehidupan baru. Jadi anak yang patuh, saleh, dan berbudi luhur. Dalam doa, aku yakin, ibunya dalam keadaan baik, banyi sudah selamat dioperasi. Dia menatap rindu pada ibunda yang memberinya ‘rahim’ untuk hidup senyaman mungkin.

PUISI*)

Kau tercipta

Bukan kata sekedar dirajut

Bukan huruf asal disambung

Bukan pikiran mesti diruntut logis

Kau lahir dari rasa

Saat jantung dan hati bersama

Berada menjawab rasa

Menancap ke kedalaman jiwa

Lalu

Melahirkan kedamaian

Menghadirkan optimisme

Mengedepankan harapan

Mengutamakan semangat

Puisi

Bermakna,

Kauh beri hidup bagi yang tak punya

Jadi hidup penuh syukur

RS Global Medika, 28 Juli 2010. Pukul 16.48

*) Selama hidup, akau belum berpuisi. Kini saya mengangkat kertas lalu menulis doa. Apakah itu yang disebut puisi? Saya sudah lupa syarat-syarat puisi. Tetapi kalau ia adalah ekspresi dengan kata apa yang dialami hati dan mengalir secara lancar, maka barangkali itu yang disebut puisi. Ia juga lahir dari keheningan. Sekarang saya diam, membisu, lalu kata mengalir secara sangat mendalam. Bila orang Spanyol bialng: “El silencio es la cuna de la palabra” (keheningan adalah rahim tempat lahir kata-kata), maka kata yang lahir kini sungguh bermakna karena lahir dari rahim keheningan.

SUARA TANGIS*)

Tagis,

Duka mentap dunia raga

Stres di luar kenyamanan

Resah, karena berat meniti hidup

Tapi

Kusuka suaramu

Kudamba tangismu

Kebersyukur air matamu

Kusembah dukamu

Kau datang

Bawa kabar

Bawa berita

Bawa harapan

Tentang hidup yang menghidupkan

RS GLOBAL MEDICA 29 Juli 2010.

*) Aku optimis, operasi sudah berjalan sejam. Pasti bayinya sudah menangis. Kalau belum, puisiku kubuat doa pada “Yang Di Atas” agar tangis segera datang. Ia menangis, tanda kerasnya dunia yang harus dialami. Tapi tangis bagi bunda yang lagi mengerang sakit operasi adalah tanda kehidupan.

AYAH*)

Sapaan mahal

Dibeli dengan cinta

Digadai dengan kasih

Dikejar  dengan korban

Saatnya,

Ditemu, usai dimohon

Diberi usai dipinta

Dikasih usai dijamah

Kujaga,

Detik demi detik

Dengan makan teladan

Dengan minum contoh

Dengan belaian kasih

Kujaga

Karena obral, beli, gadai dipulangkan

Di beri berkat

Direzeki rahmat

RS Global Media 28 Juli 2010.

*) Menjadi ayah? Sebuah hadiah yang teramat indah. Tidak ada ungkapan yang lebih mendalam dari terpanggil dari buah yang terberi dari Atas melalui kelemahanku sebagai pria. Ia hadir memberi hidup. Ini hadiah yang harus kujaga, bukan secara fisik, tetapi terutama dengan teladan dan contoh hidup.

UBAH*)

Setiap hidup ada titik

Setiap aksi ada final

Setiap tingkah ada sadar

Setiap awal, ada akhir

Titik balik sebuah hidp

Mulai langkah bagi laku baru

Mulai kasih, untuk lembar baru

Yang sudah, sudahlah

Relakan ia pergi

Demi dijamah berkat pemberi maaf

Demi diubah Sang Pemilik Hidup

Hari ini, kuubah yang tak berubah

Kutaruh tekad,

Bongkar kisah kasih duka

Ubah

Untuk hidp yang lebih bermakna

RS Global Mediak 16.53

*) Menjadi ayah adalah hadiah. Kuterima dengan senang hati. Tetapi ia juga adalah tugas. Saya harus berubah dalam banyak hal agar dapat menjadi ayah yang baik. Kubuat puisi ini.

JENGUK*)

Menunggu detik

Menjenguk kasih

Terlampau kuat

Menguji sabar

Rindu sua padamu

Mentap rindu goresan dahi

Ekspresi pikir penuh otak

Harapan cerdas dambaan bumi

Tatap polos, bawa semangat

Pulang bawa harapan

Usai jenguk, kau kian lestari

Jadi berkat untuk semua.

Jamsostek Tangerang, 29 Juli 2010. Pukul 09.43.

*) Jadi ayah, sebuah hadiah, tetapi sekaligus tugas. Anak membawa berkat, tetapi juga perubahan. Banyak hal dalam diri harus berubah. Kuharus mulai sekarang juga. Itu janjiku, ‘khaulku’ kalau semua selamat sejahtera.

DOA*)

Untaian harapan

Menukik

Memuji yang “Di Atas”

Pemberi hidup

Dambaan

Buatmu jadi anak terhormat

Tempat kasih berbuah

Harapan berwajah

Cinta berujung makna

Untaian harapan

Untumu

Memberi bobot hati

Menguak paru cinta

Biar kuat menghadapi hidup

Jamsostek, 29 Juli 2010. Pukul 09.50 Jamsostek

*) Hari berikut, aneka doa dan ucapan datang. Itulah ucapakan dan ungkapan dari tidak sedikit sahabat, kenalan yang mendoakan kesehatan Diego.

JAMSOSTEK*)

Kau ibu, ibu pertiwi

Kurasa sekarang

Kualami kini

Bukan janji, bukan gombal

Sungguh, nyata, terbukti

Kau asuh warga,

Dengan jamin hidup undur mati


Bias kasih

Untuk warga terpuruk

Kadahului

Saat sejahtera mencukupi,

Saat lengkap memiliki materi

Sisishkan kekayaan

Demi menopa derita

Sejahtera ini,

Secuil terasa mendalam

Apalgi bila ditopoang bersama

Jauh dari korupsi,

Yang menggerogot sedikit tersisa

Andai itu semua terkabul

Negara ini begitu diingat,

Pimpinannya disanjung

Wakilnya dipuja

Dibangga semesta

Karena semua satu dalam sejahtera

Jamsostek, 29 Juli 2010. Pukul 10.05

*) Hari ini, kuberada di Kantor Jamsostek Cikokol. Dengan surat dari Jamsostek, beban RS akan menjadi lebih ringan. Ah, syukur kepada pemerintah yang telah menyiapkan jaminan sosial tenaga kerja ini. Tetapi akan menjadi lebih baik, kalau aneka usaha dioptimalkan lagi, penyelewengan diminimalisir.

SABAR*)

Kauhadap,

Tabiat keras

Bagai tempok menghalang kaku

Kau tubah tekad

Ingin lembut seturut hati

Biar rapi seluruh tertata

Tapi hidup,

Butuh sabar hafap fakta

Perlu ikhlas lihat ralita,

Perlu ‘legowo’ terima beda

Ikut irama beda berderap

Kau sadar,

Hidup terasa indah

Biar yang singat jadi dikenang

Dari buah dipetik perlahan

Dan irama hidup semakin indah

Jamsostek, 29 Juli 2010.

LAMBUNG TEMBUS*)

Demi yakin yang bimbang,

Agar Otak turun ke hati,

Supaya angkuh jadi ikhlas

Kau biar lambung ditusuk sakit oleh Thomas

Kau lepas tubuh ditembuh perih

Kau rela tangan menjamah luka

Kini hadir, beda rupa

Di tabung bisu kau tunjuk lambung luka,

Memanggil sang congkak ‘tuk belajar

Buat yakin aneka tanya

Agar otak berusa hati

Demi ikhlas terwujud sudah

Kini usai dijamah,

Kuingin lambung jadi tanda

Buat retas laku baru

Kau Diego, rupa Tuhan

Jadi tandai mulai yang baru

Demi hidup jadi bermakna

Menata hidup jadi berkat

Gereja Sta. Laurentia, 01 Agustus 2010.

*) Di saat duka, terasa seorang keponakan yang hidup bersama ku tidak juga berubah. Tidak merasa sedikitkpun, apa yang dirasakan omnya adalah semua situasi yang sangat sulit. Ia hidup tanpa beban. Sudah berkali emosi menukik, peringatan diberi, tetapi mengapa tidak berubah? Aku harus sabar dan sabar?

Tabel bawah :
*) Pagi ini, hari Minggu. Istri saya masih di RS GM. Saya ke Gereja, mengucap syukur, menyerahkan intensi misa. Kenangan pembicaraan dengan dokter kemarin: lambung Diego belum bisa menerima makanan. Lambung masih belum siap. Kubayang, seperti lambung Yesus yang ditikam, buat menobatkan Thomas yang tidak percaya. Ah, lambung anakku pasti jadi tanda kepercayaanku pada ‘mukjizat’ ini dan memang demikian.

TEKNOLOGI*)

Jelajah otak

Arung tantangan

Cari solusi dikepung masalah

Buat hidup selamat terjaga

Kurasa kini manfaat,

Kulihat ananda nyaman dibelai

Bukan dalam belaian  bunda

Tetapi alat disusun bijak

Hingga serupa rahim nan lembut

Bila hari bertambah umur

Kau ingat teknologi penyelamat napas

Memberi hidup bagai hadiah

Tanda bijak menyertai khalbu

Kau syukur teknologi berjasa

Jadi anak cerdas dikejar

Biar turut member arti

Biar kian ramah dunia dihuni

RS Global Medika 01 Agustus 2010

*) Setelah misa, saya ke RS GM. Kuberdiri di samping tabung inkubator. Kukagumi, betapa manfaat yang diterima dari teknologi. Otak manusia telah berusaha mendekatkan alat ini agar menjadi rahim pengantara pemberi selamat. Kelak, anakku jadi besar, harus belajar keras, biar ia temukan teknologi yang punya manfaat untuk orang lain.

INKUBATOR*)

Kau tidur lelap dikepung mimpi

Merasa nyaman dibelai kasih

Bagai kembali di peluk bunda

Kelak dewasa kau sadar rasa

Prakarsa otak berjasa selamat

Angkat hidup di ambang krisis
jadi kuat untuk hidup berlanjut

Kelak hari membuat mungkin

Kau berbudi siapkan diri

Buat heran dunia menanti

Oleh karya selamat jiwa

Itu sukses pasti jemput

Asalkan hari disi belajar

Menyiap hati mengolah budi

Agar perlahan mimpi terwujud

RS Global Medika 1 Agustus 2010


*) Kuberdiri di samping inkubator. Alat ini begitu bermanfaat. Kulihat anakku menikmati betapa ‘enaknya’ berada di inkubator. Kelak ia tahu, inkubator adalah tempat buatan manusia yang begitu bermanfaat menyelamatkan hidupnya.

TITIP *)

Terasa berat angkatkan kaki

Tinggalkan kasih di ‘rumah’ titipan

Tempat si sakit menemuh sembuh

Tapi itu hanya sementara

Karena jenguk akan begitu kerap

Tak tahan rindu mentapa mata

Kau kuat Diego,

Sembuh lambung, tanda merdeka

Berkat air diteguk

Makanan dikecap

Agar hidup jadi mandiri

Besok ku balik jenguk

Melihat senyum sudah utuh

Tanda sehat kian mendekat

Lalu kupeluk kubawa pulang

RS Global Medika, 1 Agustus 2010.

*)  Hari ini, mamanya Diego harus pulang rumah. Tetapi bagaimana dengan bayinya? Bisa dibawa pulang? Ia terlalu kecil untuk dibawa. Ia harus berada di  tabung sampai beberapa hari ke depan. Kutitip bayi ini padamu dokter, perawat, dan semua orang yang  yang bersentuhan langsung dengan perkembangan anakku.

TANGAN LINCAH*)

(Perawat RS Global Medika)

Tangan lincah menawar jasa

Mengelus ramah bak turut  mengandung

itu  kasih diberi tulus

Tugas kasih dibagi ikhlas

Biar jauh bunda berada

Meski tak ada ayah memandang

Tapi hati berkata utuh

Mengabdi tulus itulah yang kau beri

Kurangkai kata sebisa mungkin

Buat ungkap sedalam hati

Namun jasa sebesar gunung

Hingga tangan tak bisa memeluk

Kiranya Dia pemberi hidup

Anugerah bahagia ada selalu

Melingkar hidup mewarnai abdi

agar kau terus berbagi

Serpong 1 Agustus 2010


*) Kurasakan sendiri, betapa telatennya para perawat dan dokter anak di RS Global Medika. Pelayana diberikan begitu tulus. Mereka membelai dan kasih. Kulihat mereka menggendong anak seperti anaknya sendiri. Kukirimkan syukurku untukmu.

MENANTI *)

Tunggu saat, lambung menguat

Buat serap keringat aya-bunda

Wujud makan hasil mencari

Cair air, buah mengabdi

Tiba akan esok kunanti

Tubuh akrab menyambut rasa

Tanda cocok kuatkan raga

Agar mandiri berpijak kaki

Meski berat, surut perlahan

Tapi itu perkara sebentar

Kakuatkan hati, sembuhkan lambung

Buat sendiri meniti hidup

Kuyakin harap ayah kau dengar

Kupastikan turut kau merasa

Buat satu niat esa tekad

Jadi keluarga bersatu utuh

Itu kunanti akan berwajah

Dalam berat kau beri harap

Buat serumah kau kujemput

Peluk kutawar, kau sambut rangkul

RS Global Medika 2/8/2010


*) Menunggu anakku hingga pulih bukan hal yang mudah. Detik terasa begitu lama. Hari ini kudatang menengok Diego. Kapan dan sampai kapan kunanti untuk kubawa pulang kurangkul Diego?

RINDU*)

Detak detik terlalu melambat

Membubung rindu di langit nan luas

Untuk sua kekasih kudamba

Puas batin, akrabkan semangat

Biar jenuh, tidak memangsa

Lebur kerja, layan sesama

Agar keksaih berbagi rahmat

Dari syukur diucap tulus

Senja datang, luapkan cinta,

Tatap kilat korbarkan semangat

Kuulur tangan kaki kau angkat

Buat selamat menyambut tatap

Luap cinta akan bertambah

Bila sehat sudah kupeluk

Kepak tangan menguat rangkaul

Agar hangat sellimutkan tubuh

Ananda kan jawab semua tanya

Beri pasti sehatkan tubuh

Agar besok kupeluk nyata,

Jadi utuh cinta paternal

RS GM 2/8/2010.

*) Saya bekerja di sekolah, menunggu saat untuk bisa menengok Diego. Saya lebur dalam kerja, biar terlalu merasakan lamanya menunggu. Kubuat puisi ini, biar hati tidak terasa bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi dengan anakku? Dia sehat-sehat saja kan?

BUAT TEMANKU *)

Puisi Buat Sahabatku: Matias Daton

Ka lanjut kisah pernah diretas

Jadi pembagi cinta “Sang Cinta”

Agar berwujud cinta dirasa

Agar kasih berubah nyata

Kaulepas rekan merambah di medan

Meski beda tak kau tuduh hina

Harga sama, kau beri nilai

Karena hati jadi penentu

Kini kabar lahirkan rahim

Buat lonjak semangatmu polos

Gembiar hadir keluarga utuh

Kirimkan buna ungkap hadirmu

Kaukirim doa lewat angin

Sampaikan “peniup” syukur dikirim

Oleh pengembara yang kini sadar

Bahwa hidup mestikan jujur

Kubalas doa buatmu sehat

Bagikan kasih tebarkan cinta

Biar wudu diucap lidah

Diterima dia tepat meminta

RS Global Medika 2/8/2010


*) Puisi ini kubuatkan untuk temanku, Matias Daton, pastor SVD yang lagi bermisi di Chile (15 tahun). Ia sangat dekat. Kepergianku tidak bersamanya lagi pada medan yang sama, telah melukainya. Tetapi ia ikhlas. Dan ketika dengar, ada ‘tangis’ di rumahku, tanda hadirnya Diego, kami berdua bicara 1 jam. Kuungkapkan puisi ini buat Matias.

SURAT LAHIR *)

Kuegenggam putih warna bukti

Tanda asli kau milik utuh

Kutanggung duka kubagi suka

Karena milik bersama rasa

Karena pasti kau miliki asli

Tak jadi bimbang aneka korban

Untuk utuh tubuh berkembang

Jiwa menyatu, turunkan berkat

Kauyakin pasti di tabugn nyawa

Perkuatkan lambung, topangkan tulang

Buat seger berdiri di kaki

Diarah otak segarkan tubuh

Diego sayang, kau pasti syukur

Untuk tangan beribu katub

Itulah doa kau jadi saleh

Buat harap kau jadi berbudi

Ini surat juga terpatrih,

Anugerah diterima, syukur diberi

Agar bukti kauberi dunia

Biar dunia tertegun kagum

RS GM 2/8/2010

*) Hari ini kuterima surat lahir dari Juan Diego Pius Kedang. Surat lahir ini tanda, Kau milikku. Dengan surat ini, akan kugunakan untuk mengurus Akte Kelahiran ini. Puisi ini muncul saat menerima Surat Lahir.

TERANG

Dalam tabung, mata terkatub,

Dibalut kain, penyejuk di dahi

Kau dicahayai sinar putih

Buat badan beroleh kuat

Terang cahaya bukan kabur

Benderang lampu bukan kelabu

Ia malah menambah gairah

Biar hidup berwajakah hijau

Lepas sudah, pergi cahaya

Sehat diterima badan menguat

Agar napas keluarkan polos

Tanpa kendala melewati hidup

Buka mata, lihatkan ayah

Berdiri harap di samping tabung

Doa bisu semangatkan jiwa

Agar kau beroleh pulih

RS GM 2/8/2010

*) Anakku selama 24 jam akan dicahayai. Kalau di luar, biasanya diberi panas mata hari pagi agar segar. Dia pasti merasa tersiksa karena harus ditutup matanya. Semoga proses ini berjalan dengan baik.

TERBANG*)

Kau lebar sayap biar mengepak

Mencari bebas di atas alam

Nikmati hidup, tinggalkan beban

Karena kau berserah diri

Contohkan aku, kau berakal

Ikutikan aku, kau berjiwa

Ini hidup dilewatkan ikhlas

Biar beban tak jadi petaka

Kepak sayap, kuatkan tenanga

Terbang tinggi sebisa mungkin

Serahkan butuh bagi yang empunya

Pasrah jiwa penyenang hidup

Bila hidup ringan terasa,

Beban jadi penghias hidup,

Ia tidak meniup pilu

Tapi syukur bisa terpikulu

Hidup indah akan terasa

Beban diterima, sukar dibagi

Nyawa jadi lama dinikmat

Kasih terus merawat hidup

RS GM 2/8/2010

*) Saya berada di dalam mobil, sambil menungguh hasil laboratorium untuk mengetahui keadaan Diego setelah diberi cahaya. Saya melihat burung malam beterbangan bebas. Pikirkah mereka bahwa hidup ini sangat berat? Pernahkah mereka pergi ke dokter untuk berobat? Ternyata hidup dinikmati begitu mengalir dan membuat mereka tidak pernah menderita sakit. Saya harus belajar dari mereka. Mereka ajak saya untuk belajar.

TENGKURAP

Kusaksikan ‘adegan’ baru dari drama ini

Kau perkasa menatap bumi

Dengan pijak kaki mungil

Dengan sandar tangan kecil mencari topang

Tapi ini buka ‘drama’

Tatap bumi wujud syukur

Kau sudah diberi hidup

Oleh Mama Bumi, Bapa Langit

Ini langkah baru

Dimana perjuangan mendapat langkah baru

Meski dibantu dipapah

Tetapi kehendak menjadikannya lain

Tubuh kuat kian terpaksa

Karena lambung sudah akrab terima rahmat

Diberi ibu dengan kasih memerah diri

Hanya demi setitik berkat menetes ke lambung lapar

Bila esok kan dantang lagi,

Kuyakin kisah baru terukir bangga

Karena badan kian siap

Menjarak rumah tempat kau bergantung kini

Terimakasih ananda kuucap ikhlas

Kau beri harap bagi “Thomas” si Kurang percaya

Kau sadari Ibu, terbawa sedih

Bahwa hidup mesti pasrah

Rumahku 7 Agustus 2010

Hari ini ku kembali ke RS Global Medika, hal mana saya buat setiap sore mengunjungi ‘buah hatiku’. Kali ini ada kemajuan, posisi tidur sudah dibalik. Ah, ini kemajuan luar biasa. Tapi kulihat, posisi ini adalah sebuah doa.

ASI

Air bening mengalir dari tubuh

Keluar segar dari jiwa

Bawa hidup untuk kekasih

Yang menanti rindu di balik tunggu

Ia mengalir dari korban

Karena ibu mesti biarkan tubuh

Tahan derita, demi setetes berkat

Yang mentes dari keikhlasan hati

Ini berkah dari korban

Jadikan kau hidup pernuh syukur

Pada bunda pemberi hidup

Pada ayah penyedia hati

Bila besar nanti,

Kau sadar ananda terkasih

Dari korban kauterima gratis

Beri juga seikhlas hati

Kemajuan sedikit demi sedikit akan lebih baik kalau ditopang ASI. Inilah pengalaman baru menjadi ‘ibu’ untuk istriku, mengekspresikan cinta lewat memberi ASI, makanan paling utama yang bisa dimiliki seorang ibu. Tetapi ASI, tanda korban. Ia mesti menjadi simbol bagi anakku, untuk selalu bersyukur pada ibundanya.

Rumah, 7 Agustus 2010.

CANCIÓN DE LA SELVA*)

San Diego de la selva
de los pájaros que cantan
rompiendo el silencio de la espera
tanto tiempo en el infinito
nadando en los ríos vírgenes
cuando la primera palabra aun no hecha carne
y has venido delante de la aurora
antes de que el sol brille en los bosques
tú cantas llorando
y nosotros lloramos de alegría.
Así San Diego
habitaste en el seno
de tu madre Guadalupe
mientras contamos los días
cuándo se acabe los llantos
dejando lugar a los pájaros de la selva
a cantar una canción de la vida
contigo, con tus padres.

Martín Bhisu, Paraguay

NYANYIAN RIMBA

San Diego dari rimba raya

Dari tempat burung berkicau

Kau hadir memecah sunyi penantian

Yang tak terhitung entah berapa lama

Kau berenang di sungai perawan

Bahkan ketika kata pertama belum menjadi daging

Engkau telah datang mendahului pagi hari

Sebelum matahari bersinar di rimba

Engkau menyanyi sambil menangis

Dan kami menangis gembira

Demikianlah, San Diego

Engkau diam di rahim Bunda Guadalupe

Sementara kami menghitung hari

Ketika berakhir air mata

Membiarkan burung-burung hutan

Menyanyikan lagu kehidupan

Bersamamu dan orang tua mu.

Martín Bhisu, Paraguay.

*) Puisi merupakan kiriman sahabat saya, Martin Bhisu, seorang sahabat, kakak, rekan seperjuangan. Ia sudah berkarya di Paraguay 17 tahun. Pada tahun ketiga, bermisi di negara yang dijuluki: “corazon de america” (jantung Amerika), saya beruntung melewati masa awal itu dengannya.“Kepergianku” dari Paraguay, dan terutama dari sebuah ‘kebersamaan”, telah membuatnya bersedih. Tetapi ia lihat pengabdian bisa berwajah lain.Puisi ini dituliskan secara kocak, sebagaimaan kebiasaan Martin, dibiarkan kata-kata mengalir begitu bebas dan liar, seperti burung hutan yang terbang dan berkicau sesuka hati tanpa siapa pun yang melarang.

4 Responses to PUISI ‘NEONATUS’

  1. Martín Bhisu says:

    Roberto, te la mando siguiente poesia, una simple apreciación de nuastra estadia, tan humano como aquel recien nacido que ha de pasar por encubadora, débil pero el artefacto lentamente va supliendo lo carente del seno autóctono. Todo por San Diego y nosotros. Trims teman…terjemahan puisi terdahalu indah dan tepat sekali sesuai dengan sentido poético literario. Kau hebat teman. Un abarzo del Paraguay.

    ENCUBADORA

    Me muero para nacer,
    quisiera de nuevo existir
    en la antigüedad nadando
    sin mar ni laguna
    en el Eden ilusorio
    sin Adan y Eva enamorados.
    Yo lloro para nacer
    atravesando espacio laberintico
    para que cuando llore te consuelo
    en el momento me encuentro en tus abrazos
    este cuerpo que viene antes de tiempo.
    Me muero para renacer
    del seno al incubadora
    y al fin, al corazón tuyo
    que los nuestros laten ritmicamente
    sin incubadora ni distancia.

    Martín Bhisu, Paraguay 11 de agosto de 2010

    • robert25868 says:

      Martin, saya sudah bacakan puisimu di depan istriku. Dia terharu dengan kata-kata sederhana. Waktu baca dalam bahasa spanyol, dia sudah merasakan getaran itu, penuh makna. Kutunggu puisi berikutnya.

  2. Astri Ayu says:

    Wow prof. Roberto. Rangkaian pengalaman ini sangat indah dikemas, sampai2 aku bisa merasakan ketegangan dan kegembiraan. Selamat atas kelahiran Diego. Kepingin lihat Diego. Masih di rumah sakit atau sudah pulang ke rumah?

    • robert25868 says:

      Astri, gracias. Fue realmente una experiencia ‘inolvidable’, pero muy profundo. Saya coba rangkaikan setiap hari sebuah doa. Semoga pengalaman ini berguna bagi orang yang membaca, sekaligus saya mendapatkan tempat untuk dapat mengekspresikan pengalaman ini. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s