Operating Theatre

Operating Theatre*)

OPERATING THEATRE*)

Di sini, hidup bagai permainan

Yang empunya kehidupan

Menghembus pinjam desah

Mengalamiahkan napas yang sebelumnya buatan

Di sini,

Tangan-tangan lincah menjurus,

Merajut mesra tugas sang Pencipta

Menjamah dengan kasih

Untuk merawat sebuah hidup

Di sini,

Harapan akan permainan berlanjut

Bukan dipenuhi kecurangan

Bukan juga kelicikan,

Juga tentu tidak dikelabui ketidaktulusan

Permainan

Jadi indah…..

Berkat hati penuh syukur

Membuat yang berbeda sadar

Yang berjauh berdekatan

Yang perang, berdamai

Yang dendam jadi pasrah

Yang iri jadi luluh

Inilah permainan

Melahirkan kehidupan

RS Global Medika, 28 Juli 2010

Jam 16.20

*)

Hari ini, 28 Juli 2010. Belum ada dalam benakku untuk mempersiapkan kelahiran. Istriku baru 8 bulan. Itu berarti, dalam perhitungan normal, masih harus menunggu enam minggu bahkan 8 minggu. Saya masih ada waktu untuk menjadi ‘bujangan’.
Tetapi, bel istriku pada jam 14.00 sungguh membuatku kalau. Saya harus cepat ke RS. Rencananya, lecih cepat lebih baik, istriku harus dioperasi cesar,. Mendengar itu, hati saya sudah tak karuan. Teringat pengalaman sebelumnya: terutama pengalaman terakhir. Saat berada dalam usia seperti itu juga, nasib Marcos Morientes tak tertolong.
Dalam perjalanan ke RS, saya coba menghibur diri untuk menjadi kuat. Tetapi tidak tahu mengapa, air mata terus mengalir. Tetapi saat masuk RS, saya mencuci muka, biar kelihatan ‘tegar’ dan ‘tidak terpengaruh’ apa pun pada operasi itu.
Dengan cepat kilat, saya masuk dan langsung turut menghantar istriku ke ruang operasi. Saya terkejut di ruang operasi. Tertulis di sana: operating theatre. Ah, begitukah seharusnya kita memakna ruang operasi. Di sana operasi dilaksanakan seperti sebuah theater. Ah, begitu menjanjikan?
Secara spontan, saya meminjamkan buku catatan pak Satpam. Ia tahu, saya sangat galau pikiran. Ia menawarkan kursinya untuk saya tempati (padahal ada tempat yang lebih empuk di ruang tunggu). Saya lalu meminjam pulpen dan kertasnya untuk menuliskan perasaanku.
Harapanku hanya satu: semoga permainan ini berakhir gembira. Kehidupan mesti menang. Pengalaman silam mesti dikalahkan. Kucoba kuat, paling kurang untuk menulis perasaanku pada kertas ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s