RANGKUMAN MATERI PEDAGOGIK UNTUK UKG

RANGKUMAN MATERI PEDAGOGIK UKG (UJI KOMPETENSI GURU)

Pengantar

Bulan November 2015 diadakan Ujian Kompetensi Guru (UKG) untuk semua guru. Bila sebelumnya UKG diperuntukkan bagi yang telah memiliki NUPTK, kali ini dilakukan untuk semua guru baik yang sudah maupun belum memiliki NUPTK.

Untuk hal ini, tentu saja guru menjadi panik. Apa yang harus dipelajari? Apa yang akan ditanayakan? Bagaimana model UKG? Belajar dari pengalaman sebelumnya, tindakan praktis adalah mencari soal. Hal itu bisa saja membantu. Tetapi mestinya ada hal yang lebih strategis. Sebagai guru, saya lakukan adalah membedah dulu kisi-kisi.DSC_0458

Dari kisi-kisi itu saya peroleh beberapa kesimpulan sementara (semoga tidak keliru). Pertama, UKG kali ini dikonsentrasikan apda dua kompetensi guru yakni pedagogik dan profesional. Kemampuan pertama mengandaikan berlaku untuk semua guru. Sebagai guru, harus diketahui pedagogi mengajar. Sementara itu kapasitas profesional mengarah kepada mata pelajaran yagn diampuh. Hemat saya kompetensi profesional mestinya tidak menjadi kendala.

Namun dari segi kompetensi pedagogi bisa menjadi masalah. Teori pendidikan harus ‘dibongkar’ lagi. Ditinjau dari acuan kisi-kisi maka ada beberapa hal penting yang menjadi materi untuk menguji kemampuan pedagogik guru. Kemampuan itu bisa diringkas sebagai berikut:

1. Persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang guru:
2. Pengertian pembelajaran dan komponennya
3. Teori-teori pembelajaran
4. Ciri-Ciri pembelajaran
5. Pendekatan dan metode pembelajaran
6. Prinsip dan pengembangan Kurikulum
7. Evaluasi Pengalaman Belajar
8. Teknik dan Instrumen Penilaian
9. Ciri-ciri tes yang baik
10. Langkah-Langkah pengembangan teori pembelajaran
11. Karakteristik peserta didik.
Semua bahan di atas diringkas berikut ini yang nota bene ‘dicomot’ dari berbagai sumber. Kelihatan belum sempurna tetapi bisa dijadikan bahan pelajaran. Selamat membaca dan menikmati.
I. PERSYARATAN YANG HARUS DIMILIKI OLEH GURU
Ada 4 komptensi pendidik yakni: Kepribadian, sosial, pedagogik, dan profesional. Dalam UKG November 2015, hanya ada dua kompetensi yang diujikan yakni pedagogik dan profesional.

1.1. Kompetensi Kepribadian:
(1) Mantap dan stabil, (2) Dewasa, (3) Arif, (4) Berwibawa (5) Teladan. Seorang guru diharapkan memiliki kestabilan dan mantap karena harus berhadapan dengan peserta didik yang justeru memiliki kondisi berbeda. Hal yang sama juga dituntut kedewasaan diri. Selanjutnya dengan kemampuan itu diharapkan guru dapat secara arif dan berwibawa memberi contoh. Kekuatan dari guru adalah menyajikan diri sebagai model. Itu berarti hal paling utama yang diajarkan guru adalah menjadi pribadi yang baik. Jelasnya, sebagai pribadi matang, iamengarahkan siswa agar menjadi pribadi yang baik pula.DSC_0473

1.2. Kompetensi Pedagogik
Kemampuan akademik meliputi (1) Memahani peserta didik. Guru perlu mengenal dengan baik siswa. Siswa adalah subyek karena itu guru tidak mengajar papan kosong tetapi pribadi yagn memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini harus dikenal dengan baik.. Di atas pengenalan itu, (2) guru dapat merancang pembelajaran. Pembelajaran itu diharapkan (3) pelaksanaan pembelajaran diharapkan sesuai sesuai dengan kebutuhan siswa.

Setelah proses pengajaran, maka (4) guru perlu mengadakan evaluasi. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah hal yang diajarkan itu sudah diterima dengan baik atau belum. Evaluasi karena itu memberikan gambaran menyeluruh. Dari evaluasi dapat diketahui kemampuan siswa selain itu juga apakah guru telah megnajar secara tepat atau tidak. Dari sini dapat muncul tindakan lanjutan.

Di atas evaluasi, hal paling penting yang mestinya jadi pertanyaan (5), apakah proses pengajaran itu telah mengolah semua kemampuan potensial siswa? Proses evaluasi terus menerus akan menjadi masukan. Tujuannya agar semua kemampuan siswa dapat dimaksimalkan.

1.3. Kompetensi profesional
Dari sisi profesionalisme, ada dua hal yang dituntut dari guru yakni menguasai substansi ilmu terkait dengan bidang studi. Untuk hal ini guru diharapkan untuk terus memampukan dirinya dengan kemampuan aktual berkaitan dengan substansi ilmu. Ilmu selalu berkembang dank arena itu guru harus menyesuaikan kemampuannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang diampunya.

Untuk hal ini kemampuan membaca menjadi hal yang sangat mendasar. Guru yang membaca akan selalu mengaktualkan pengetahuannay sehingga ia dapat memberikan arahan yang benar dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam kaitan dengan profesionalisme, ada hal yang lebih mendasar. Guru tidak sekedar menjadi ‘penyampai’ informasi dari buku cetak. Ia tidak sekedar membacakan apalagi. Yang harus dilakukan adalah guru perlu mengadakan penelitian tindakan kelas. Tujuannya agar dapat diperoleh pembaharuan yang diperoleh dari evaluasi guru denagn ruang lingkup konkritnya. Di sinilah profesionalisme guru diuji.DSC_0149

1.4. Kemampuan Sosial
Dari sisi sosial, tiga hal penting yang perlu dikembangkan guru yakni (1) komunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Komunikasi ini penting. Guru harus dapat bergaul dengan siswa. Ia tetap menjaga wibawa tetapi ia pun tidak menjaga jarak yagn terlalu jauh dengan siswa.

Komunikasi juga dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan. Sesama guru seprofesi perlu dilakukan komunikasi. Seorang guru perlu ‘gaul’ dengan teman sejawat. Hanya dengan demikian ia dapat memperoleh informasi yang baik demi meningkatkan keilmuannya.

Pada akhirnay diperlukan komunikasi dan gaul dengan orang tua / wali dan masyarakat. Hal ini penting karena dengan itu guru akan mendapatkan input dan masukan. Guru hanya mengajar siswa dalam konteks masyarakat. Lewat komunikasi dengan masyarakat dapat terjalin sebuah hasil yagn saling memuaskan. Guru dapat menghasilkan sesuatu sebagaimana diharapkan masyarakat. Pada sisi lain masyarakt juga terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri.

II. PENGERTIAN PEMBELAJARAN DAN KOMPONENNYA
Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dan karena adanya usaha.Komponen-komponennya meliputi ( 1) – Siswa (2) Guru (3) Tujuan (4) Isi pelajaran (5) Metode (6) Media (7) Evaluasi

III. TEORI-TEORI PEMBELAJARAN

a. Behavioristik
Pembelajaran selalu memberi stimulus kepada siswa agar menimbulkan respon yang tepat seperti yang kita inginkan. Hubungan stimulus dan respons ini bila diulang kan menjadi sebuah kebiasaan.selanjutnya, bila siswa menemukan kesulitan atau masalah, guru menyuruhnya untuk mencoba dan mencoba lagi (trial and error) sehingga akhirnya diperoleh hasil.

b. Kognitivisme
Pembelajaran adalah dengan mengaktifkan indera siswa agar memeperoleh pemahaman sedangkan pengaktifan indera dapat dilaksanakan dengan jalan menggunakan media/alat bantu. Disamping itu penyampaian pengajaran dengan berbagai variasi artinya menggunakan banyak metode.

YBAI LEREK5
c. Humanistik
Dalam pembelajaran ini guru sebagai pembimbing memberi pengarahan agar siswa dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai manusia yang unik untuk mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya sendiri. Dan siswa perlu melakukan sendiri berdasarkan inisisatif sendiri yang melibatkan pribadinya secara utuh (perasaan maupun intelektual) dalam proses belajar, agar dapat memperoleh hasil.

d. Sosial/Pemerhatian/permodelan
Proses pembelajaran melalui proses pemerhatian dan pemodelan Bandura (1986) mengenal pasti empat unsur utama dalam proses pembelajaran melalui pemerhatian atau pemodelan, yaitu pemerhatian (attention), mengingat (retention), reproduksi (reproduction), dan penangguhan (reinforcement), motivasi (motivation). Implikasi daripada kaedah ini berpendapat pembelajaran dan pengajaran dapat dicapai melalui beberapa cara yang berikut:
• Penyampaian harus interaktif dan menarik
• Demonstasi guru hendaklah jelas, menarik, mudah dan tepat
• Hasilan guru atau contoh-contoh seperti ditunjukkan hendaklah mempunyai mutu yang tinggi.

IV. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN

Ciri-ciri pembelajaran yang menganut unsur2 dinamis dalam proses belajar siswa sebagai berikut :
a. Motivasi belajar
b. Bahan belajar
c. Alat bantu belajar
d. Suasana belajar: (1) komunikasi dua arah (2). gairah dan gembira
e. Kondisi siswa yang belajar: (1) setiap siswa unik (2) kesamaan siswaYBAI LEREK 4

V. PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN

5.1. PENDEKATAN
1. Pendekatan Konsep (penguasaan konsep dan subkonsep, guru terlalu dominan)
2. Pendekatan Lingkungan(mengaitkan lingkungan dalam proses belajar
3. Pendekatan Inkuiri (mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dg dunia fisik)
4. Pendekatan Proses (pengamatan, menafsirkan data, mengkomunikasikan hasil pengamatan)
5. Pendekatan Interaktif (pendekatan pertanyaan anak, memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan)
6. Pendekatan Pemecahan Masalah (masalah yang dipecahkan melalui praktikum/pengamatan)
7. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)
8. Pendekatan Terpadu (Integrated Approach) – memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran.

?????????????

Guru Hebat, siswa senang

B. METODE
1. Metode Ceramah (penyampaian bahan pelajaran secara lisan)
2. Metode Tanya Jawab (pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sudah direncanakan sebelumnya)
3. Metode Diskusi Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah.
4. Metode Kooperatif (siswa berada dalam kelompok kecil 4-5 orang)
5. Metode Demonstrasi (memeragakan suatu proses kejadian)
6. Metode Karyawisata/Widyawisata (membawa siswa mempelajari materi di luar kelas)
7. Metode Penugasan (memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar)
8. Metode Eksperimen (menggunakan percobaan)
9. Metode Bermain Peran (pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep)

VI. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Asep Herry Hernawan dkk. (dalam Sudrajat, 2007) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu:

1. Prinsip relevansi
Kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sebaliknya, secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis)20150703_144440

2. Prinsip fleksibilitas
mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur, dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.

3. Prinsip kontinyuitas
adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar- jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.

4. Prinsip efisiensi –
mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.

5. Prinsip efektivitas
yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas. Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
(a) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
(b) Beragam dan terpadu
(c) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(d) Relevan dengan kebutuhan kehidupan
(e) Menyeluruh dan berkesinambungan
(f) Belajar sepanjang hayat
(g) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

VII. EVALUASI PENGALAMAN BELAJAR

1. Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh seberapa jauh pengalaman belajar berkembang dan terorganisasi yang benar-benar menghasilkan hasil yang diinginkan,
2. Evaluasi merupakan proses yang sistematis artinya dalam pengajaran kegiatan ini tentu direncanakan, berkesinambungan dari awal hingga akhir pelaksanaan program.
3. Dalam evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang nantinya akan diolah dan hasilnya akan dijadikan sebagai dasar untuk mengambil keputusan.
4. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan pencapaian hasil belajar siswa.20150703_144509

Dengan demikian evaluasi dapat berfungsi:
1. Mengetahui kemajuan, perkembangan, dan keberhasilan siswa setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Hasil evaluasi yang diperoleh itu dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa.
2. Mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran.
3. Sumber informasi atau data bagi pelayanan BK kepada siswa.
4. Untuk pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

VIII. TEKNIK INSTRUMEN PENILAIAN

1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.
2. Teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja.
3. Teknik observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.
4. Teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.
5. Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi persyaratan (a) substansi, adalah merepresentasikan kompetensi yang dinilai, (b) konstruksi, adalah memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan, dan (c) bahasa, adalah menggunakan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik.
6. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik.
7. Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk UN memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, bahasa, dan memiliki bukti validitas empirik serta menghasilkan skor yang dapat dibandingkan antar sekolah, antar daerah, dan antar tahun

IX. CIRI-CIRI TES YANG BAIK

Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki:
(1) Validitas: validitas atau daya ketepatan mengukur, sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat mengukur apa yang hendak di ukur
(2) Reliabilitas: jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali, sebuah tes dikatakan raliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. Dengan kata lain, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.
(3) Obyektivitas: apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan : menurut apa adanya
(4) Praktikabilitas: mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dilengkapi dg petunjuk jelas.
(5) Ekonomis: tidak membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga banyak dan waktu lama.EMAS LEREK 29

X. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN TEORI PEMBELAJARAN

1. Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi.
2. Analisis sumber belajar.
3. Analisis karakteristik si belajar (siswa).
4. Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran.
5. Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran.
6. Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran.
7. Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran.
8. Pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.

XI. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Sumber informasi yang dapat digunakan dalam rangka asesmen perilaku keterampilan awal siswa, antara lain: (1) dokumen yang tersedia, (2) khususnya hasil belajar yang diperoleh sebelumnya (3) siswa itu sendiri (4) orang-orang yang mengetahui kemampuan siswa tesebut.

?????????????

Keceriaan adalah hasil dari pendidikan yang baik

Teknik yang dapat digunakan dalam mengasesmen kemampuan awal tersebut, antara lain: (1) dokumentasi, (2) kuesioner, (3) observasi, (4) wawancara, (5) melakukan tes diagostik secara khusus.

Di samping mengidentifikasi perilaku keterampilan awal siswa, guru juga perlu mengenali karakteristik siswa lainnya yang berhubungan dengan perilaku belajar mereka. Beberapa di antara karakterstik ini, misalnya:
– motivasi belajar,
– kemampuan dan tingkat kecerdasan,
– minat,
– kebiasaan belajar,
– harapan dan aspirasi siswa,
– maupun daya dukung lingkungan masing-masing siswa.

Informasi-informasi seperti ini dapat menjadi acuan dalam menetapkan jenis perilaku sebagai target belajar, cakupan kegiatan belajar, maupun bentuk-bentuk pengalaman belajar yang dapat diberikan kepada siswa.
(Robert Bala, SMP STI 8 November 2015)