21. Atadei, Orang (Selalu) Berdiri

Atadei, Orang (Selalu) Berdiri

Laporan Flores Bangkit terakhir tentang Atadei, menarik untuk disimak. Tiga informasi tentang kecamatan di Selatan Lembata itu tentu tidak sekedar sebuah laporan pandangan mata tetapi sebuah gambaran yang hemat penulis perlu didalami.

Jelasnya, Flores Bangkit mengangkat tiga informasi yang bisa dikategorikan dalam dua masalah. Yang satu tentang kegagalan panen (Petani Desa Nubahaeraka Terancam Gagal Panen, 15/2), dan Terancam Gagal Panen, Warga Atadei Minta Pemerintah Segera Carikan Solusi, 16/2).

atadeiBatu menyerupai manusia berdiri, darinya berasal nama Atadei, selalu berdiri

Informasi lainnya tentang laporan keadan gunung Ile Werung dan Hobal. Dengan judul: Ile Werung dan Hobal, dulu Waspada Sekarang Aman (16/2), merupakan berita berbeda yang kebetulan ditampilkan dalam waktu bersamaan.

Apa kaitan dua informasi di atas dalam konteks Atadei? Bagaimana menafsirnya dalam konteks praksis hidup masyarakatnya dan realitas sosial budayanya?

Selalu “Berdiri”

Dalam buku Darah Emas di Bumi Tanahku, 2006, P. Ande Mua, SVD, menguarai realitas kekerasan dan penderitaan di Atadei dalam sebuah gambaran yang begitu menarik dan hidup.

Pada bagian: Atadei Profil Anonim, Simbol Penderitaan, Pastor yang pernah bekerja sebagai pembina di Kanda itu, mengurai realitas penderitaan itu dalam gambaran dan perbandingan-perbandingan yang menarik.

Di satu sisi, secara hurufiah berarti: orang yang sedang berdiri (ata=orang, dei=berdiri) tidak sekedar diidentikan dengan sebuah wadas atau “karang batu” yang tegak di bibir pantai di Selatan Lembata. Memang tidak dipungkiri, dari sana inspirasi nama kecamatan tersebut.

Tetapi lebih dari itu, ia memaknai sesuatu yang lebih dalam. Di musim hujan, pusar ‘sang wadas’ yang menyerupai orang yang sedang berdiri itu bila dalam keadaan lembab malah basah, memberi gambaran bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan turun hujan.

Itulah tanda alam yang paling ditunggu. Mengapa tidak. Daerah kecil tetapi dipenuhi beberapa gunung berapi yakni: Adowajo, Gripe, Hobal, dan Ile Werung, merupakan daerah yang tandus, kering kerontang. Hadirnya hujan adalah datangnya sebuah kehidupan untuk setahun lagi ke depan.

Lalu apa yang terjadi ketika ‘pusar’ wadas menyerupai manusia itu tetap mengering alias pratanda kekeringan panjang? Tidak hanya itu. Apa yang terjadi ketika bahkwa bukan saja kekeringan tetapi hamparan gunung aktif itu akhirnya mengeluarkan lava dan lahar?

Di sinilah makna lain yang akhirnya tercipta sebagai bagian dari tanggapan bencana alam. Atadei tidak sekedar wadas tetapi juga mengungkapkan kesiapsediaan masyarakat untuk “kari iler” yang artinya lari menghindari letusan gunung.

Posisi ‘sigap’ ini bukan sekedar awasan. Catatan historis telah menampilkan bukti tentang letusan yang membuat orang Atadei, khususnya yang berdiam di Lerek dan Dulir, Pantai Harapan dan Waiteba yang harus berlari menyelamatkan diri.

Peristiwa letusan dahsyat Adowajo pada tahun 1947 – 1952, atau Hobal pada tahun 974 – 1975, dan letusan ‘kecil’ sesudahnya, dan bahkan ketika tahun 2013 Ile Werung dikategorikan waspada (bersama Ile Ape dan Ebu Lobo) telah mengingatkan kembali orang Atadei bahwa ia harus selalu sigap untuk lari.

Sebuah kebajian yang luar biasa. Terhadap alam tidak bisa ‘ditawar’, apalagi dilawan. Ia punya otonomi sendiri yang tidak bisa dihadang meski dengan kekuatan gaib, yang dikira dapat melerasi ‘emosi’ gunung berapi. Yang ada hanyalah kesigapan untuk menyelamatkan diri.

Dalam arti ini gambaran ‘aman’, tentu tidak bisa diartikan selamanya aman. Ia hanya menunjukkan kondisi kini. Untuk saat ini ‘aman’, tetapi hal itu tidak bisa melepaskan kesigapan untuk tetap waspada karena ‘amukan’ itu bisa datang kapan saja.

“Dibiarkan”

Kebajian masyarakat yang nota bene merupakan sebuah kearifan lokal pada gilirannya tidak menjadi sebuah sumber inspirasi. Artinya, kesigapan masyarakat itu juga diimbangi dengan kesigapan pemerintah. Pemerintah bukan saja lamban tetapi bahkan tidak memerhatikan daerah itu karena selalu dilanda bencana.

Yang dimaksud, kondisi ‘sigap berlari’ mengandaikan juga adanya sarana dan prasarana memadai yang memudahkan proses penyelamatan diri. Anehnya, selama puluhan tahun, daerah itu terbiarkan.

Memang, pada tahun 1979 terjadi peristiwa longsoran yang menenggelamkan desa Waiteba dan Pantai Harapan (belum terhitungbeberapa korban di pesisir pantai lainnya) yang memutuskan komunikasi. Tetapi inisiatif membuka komunikasi itu tidak terjadi selama hampir 20 tahun. Itu belum menghitung masa sebelumnya dari kemerdekaan hingga bencana besar tersebut. Selama waktu itu, masyarakat daerah itu seakan dibiarkan merana.

Keadaan membaik dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya pada tahun 2000, dengan perbaikan jalan. Tetapi itu tentu tidak dilihat dalam kondisi perubahan ke arah lebih baik pratanda adanya perhatian dari pemerintah. Tidak. Pengerjaan jalan tentu tidak bisa dipikirkan tanpa angan-angan mengeruk daerah tersebut. Gas panas bumi dilihat sebagai salah satu dari tiga kekuatan di NTT.

Kondisi ini mestinya menjadi sebuah pembelajaran. Di satu pihak, kearifan lokal mesti mendatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah. Ia harus dihidupi dengan memberikan bantuan yang memadai sehingga proses evakuasi itu bisa terbantu ketika letusan gunung api itu terjadi sewaktu-waktu.

Pada sisi lain, kekayaan bumi (gas), tentu tidak bisa dimaknai sekedar kekayaan yang harus dikeruk. Memang, hal itu bisa membantu kehidupan. Tetapi itu tidak mesti melupakan kearifan dalam prosesnya. Dalam arti, masyarakat tidak sekedar dijadiakn objek. Ia harus menjadi subjek pelaku yang perlu menikmati hasilnya.

Jelasnya, bila tambang gas dianggap dapat menjadi sumber yang dapat mempercepat pembangunan, maka hal itu tidak bisa dilakukan di luar kearifan lokal. Artinya, pembangunan tidak sekedar ‘dipercepat’, tetapi rakyat, orang Atadei tidak ‘ikut lari’ dalamnya. Idealnya, kemajuan umum yang dipercepat harus juga kontributif membuat rakyat, orang Atadei ‘ikut lari’.

Robert Bala. Asal Lerek – Atadei.

Bagian Terakhi dari Dua Tulisan
Atadei, Mitigasi Bencana

Laporan tentang ancaman gagalnya panen di Atadei mestinya tidak perlu jadi berita. Orang Atadei sudah terbiasa dengan penderitaan dan ditinggalkan. Karena itu mestinya derita itu tidak perlu dilaporkan (agar tidak diketahui).

Mengapa demikian? Pengalaman penderitaan, kemiskinan, dan kemelaratan, sudah melekat erat pada desa-desa di seputar gunung berapi: Alap Atadei (Dulir), Lerek, Lusilame (Atawolo), Nubahaeraka (Waiwejak), dan Atakore (Watuwawer), Nuba Atalojo, dan Lebaata. Selama periode lima puluhan (abad yang lalu), migrasi besar-besaran kaum lelaki menjadi sebuah pemandangan yang biasa.

Masyarakat daerah ini beranjak dari kampung ke Waiwerang dan akhirnya ‘berlabuh’ di Hokeng. Tak heran, pekerja di perkebunan kopi Hokeng itu tidak sedikitnya berasal dari daerah Atadei. Mereka bahkan menempati daerah khusus dan mempertahankan bahasa daerah.

Langkah berikutnya adalah ke Maumere dan nantinya berujung di Malaysia. Perantuan menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindarkan. Di sana upaya mencari kebaikan terkadang tidak mencapai yang dimaksud. Dalam arti tertentu bisa dikatakan ‘ya’. Tetapi terputusnya hubungan karena jarak yang jauh merupakan derita.

Proses ini secara tak sadar membuat orang menganggap perantuan sebagai proses untuk ‘melarat’. Ungkapan tersebut bisa saja salah, karena yang dimaksudkan tentu ‘merantau’ tetapi juga bisa benar karena itulah yang terjadi.

Hal itu juga tidak melupakan adanya pemindahan secara massal akibat bencana alam tahun 1979 di mana masyarakat dipindahkan ke Loang, Nagawutun. Perpindahn juga terjadi pada tahun 2003 dimana masyarakat Kowa Ape dipindahkan ke Penekene, juga di Nagawutun.

Berjuang Sendirian?

Lalu, mengapa hal ini kini ‘diributkan?’ Ataukah kalau informasi itu dilihat secara ‘kebetulan’ karena FloresBangkit@ ‘lewat’ di daerah itu dan merekam bahaya kelaparan, maka apa yang mesti dilakukan sebagai tangagpannya?

Pertama, informasi ini bisa dilihat sebagai hadirnya sebuah terang kecil, bak lilin’ yang menyala di kegelapan. Artinya, ia membersitkan kesadaran akan kekeliruan yang selama ini dilakukan dalam memperlakukan daerah-daerah di Atadei (khususnya yang termasuk dalam wilayah paroki Lerek).

Daerah yang sudah akrab dengan bencana ini dibiarkan ‘berjuang sendirian’. Bencana dilihat sebagai petaka dan seakan tidak ada manfaatnya membantu. Ibarat rasa lapar yang bisa dialami lagi meski sudah makan, maka rakyat di daerah tersebut seakan dibiarkan. “Kalau pun makan, nanti mereka juga lapar lagi. Lebih baik tidak usah diberi makan”, sebuah logika yang tidak bisa diterima tetapi barangkali hal itu bisa menggambarkan kenyataan yang terjadi.

Yang lebih menyedihkan, kondisi mereka baru diperhatikan bukan karena didasarkan pada perubahan cara berpikir pemerintah, tetapi hanya karena daerah itu ternyata kaya ‘susu dan madu’ alias kandungan kekayaan bumi yang luar biasa. Di sana sebuah praksis tak elok tengah terjadi dan menjadi sebuah kenyataan yang menggelikan.

Tanggap Bencana

Ancaman gagal panen di Atadei yang tengah terjadi merupakan ‘alarm’ awal yang harus cepat ditanggapi. Ia menjadi sinyalemen bakal terjadi sesuatu yang lebih buruk kalau mitigasi bencana itu tidak dilaksanakan untuk melerai munculnya dampak yang lebih jauh.

Pada sisi lain, terbiasanya rakyat menanggung derita sendiri dan sudah ‘terbiasa’ dengan penderitaan, tetapi bila kini mengadu maka itu sebuah sinyal bahwa keresahan itu bukan hal biasa. Ia sudah memberikan gambaran tentang konsekuensi lebih jauh yang bakal dialami, darinya tindakan cepat perlu dilaksanakan.

Hal ini mengharuskan pemerintah Lembata untuk segera mengantisipasinya lewat bantuan jangka pendek. Memang jagung dan padi bukanlah satu-satunya sumber hidup. Ia masih bisa diimbangi dengan ubi-ubian dan hasil kebun lainnya. Tetapi itu tidak berarti meniadakan upaya menyiapkan tersedianya makanan berupa beras padi dan jagung.

Tuntutan tentang hal ini penting sekali. Dalam banyak hal, antisipasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Upaya penyelamatan baru dijalankan setelah adanya korban. Dalam kasus ini, ‘alarm’ ini harus sudah dianggap sebagai bencana dan tidak menunggu sampai adanya kegagalan panen total. Jelasnya, kalau kondisi hujan sudah tidak ada sampai beberapa minggu maka apa pun yang terjadi meski datangnya hujan, ia tidak akan bermanfaat karena kondisi tanaman yang sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa lagi.

Pada sisi lain, peran pemerintah tentu tidak bisa dibiarkan sendirian. Upaya yang sudah dilaksanakan oleh putera daerah, perantuan, yang nota bene selama ini memang menjadi sokongan utama bagi masyarakat (karena memang daerah itu ‘ditinggalkan), perlu lebih digiatkan dan ditingkatkan lagi.

Beberapa inisiatif dan upaya yang dilaksanakan di beberapa desa seperti: Lewokurang, Watuwawer, Atawolo, dan Lerek dalam membangun desanya dengan dukungan putera dan puteri di perantauan telah memberi harapn bahwa kekuatan itu akan menjadi lebih baik lagi kalau upaya itu lebih maksimal.

Usaha ini tentu menjadi lebih mudah dalam dunia cybermedia seperti sekarang ini lewat kehadiran media sosial (Facebook dan Twitter), yang sangat memudahkan komunikasi. Media itu tidak sekedar untuk ‘mencari dan menemukan’ sahabat lama tetapi juga mencari kekuatan baru untuk membangun lewotanah.

Media ini harus dilihat sebagai sebuah kekuatan. Disebut demikian karena ia bisa menjangkau begitu banyak orang dalam waktu yang singkat dengan biaya yang relatif murah. Tetapi juga dimensi transparansi yang sangat menonjol. Setiap usaha akan terkawal dan proses eksekusinya pun akan berjalan secepat yang direncanakan.

Pada sisi ini, bila kekuatan pemerintah dan kerukunan warga di perantuan menjadi kekuatan, proses mitigasi itu akan menjadi ringan karena dipikul bersama. Meski demikian tidak bisa dipungkiri, kekuatan putera daerah, tentu tidak bisa menggantikan peran utama pemerintah. Ia hadir sebagai sejauh bantuan yang dilaksanakan di atas kenyataan bahwa pemerintah sudah sigap dan ‘all out’ untuk membantu hal mana menjadi tanggungjawabnya.

Pada sisi lain, akan menjadi lucu ketika wilayah itu hanya diperhatiakn dan dihidupi oleh putera dan puteri di perantuan, hal mana terjadi sebelumnya sementara itu daerah tersebut ‘ditinggalkan’ hanya karena berada di daerah ‘rawan bencana alam’. Semoga hal itu tidak terjadi lagi kini dalam ancaman gagalnya panen.
Robert Bala. Asal Lerek – Atadei

Sumber: Flores Bangkit 27 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s